
Ketakutan dan kekhwatiran serta kecemasan wajarlah dirasakan oleh Shanum Inshira. Karena mengingat di dalam keluarga Syamuel Abidzar Al-Ghifari dia hanya sekedar anak angkat atau saudara sesusuan dengan ketiga anak kembarnya Dewi Kinanti Mirasih.
"Ya Allah kalau memang saudara-saudariku berubah sikap, kasih sayang dan perhatiannya padaku aku akan berusaha sabar dan ikhlas untuk memakluminya karena mungkin inilah garis tangan ku,"
Shanum berjalan terburu-buru karena mobilnya terkena macet, sehingga ia paling belakang sampainya di bandara internasional Soekarno Hatta.
Baru beberapa langkah kakinya melangkah di area lobi bandara, tiba-tiba angin berhembus cukup kencang. Hingga ujung hijab pashmina sifon motif kotak-kotaknya tertiup angin.
"Astaughfirullahaladzim, kenapa sudah beberapa hari belakangan ini, anginnya bertiup cukup kencang. Apalagi kalau di siang bolong seperti ini," keluhnya Shanum yang memperbaiki ujung hijabnya yang menutupi seluruh wajahnya sehingga pandangannya terganggu.
Dari arah berlawanan seorang pria berjalan tergesa-gesa sambil memegangi ujung benda pipih yang terpasang di telinganya itu. Saking asyiknya bertelepon dengan raut wajahnya yang serius, langkah kaki yang cepat sehingga dia tidak terlalu berkonsentrasi untuk memperhatikan jalan sekitarnya.
"Non Sha!" Jeritnya Bibi Siti Aminah yang melihat tubuhnya Shanum terdorong ke belakang.
"Aghh!!" Teriak Shanum dengan suara cempreng khasnya yang cukup nyaring di tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang.
Sang pria yang menolongnya lebih mementingkan perempuan yang hampir saja terjatuh ke atas lantai keramik dari pada ponselnya. Tanpa melihat siapa perempuan yang ditabraknya itu.
"Astaughfirullah aladzim aku jatuh, tolong!" Pekiknya Shanun yang saking terkejutnya sehingga omongannya meluncur begitu saja dengan asal.
Tubuh Shanum andaikan pria itu terlambat sedikit saja, kemungkinan besarnya akan menyentuh lantai. Untungnya pelaku penabrakan sigap dan tanggap darurat untuk membantu Shanum.
"Kamu tidak akan terjatuh karena aku akan menolongmu," senyuman simpul terbit dari sudut bibirnya setelah mendengar dengan jelas suara gadis yang masih berada dalam pelukannya itu.
Angin semakin bertiup kencang, sehingga ujung hijab yang menutupi wajahnya Shanum tertiup angin yang menghalangi wajahnya pun sudah tidak ada. Sehingga keduanya saling bertatapan satu sama lainnya.
Shanum membelalakkan matanya hingga seolah kedua bola matanya itu hampir saja melompat dari dalam kelopak matanya itu.
"Akhirnya kita bertemu kembali cantik," cicitnya pria yang sedari tadi terus tersenyum melihat Shanum perempuan yang mampu membuatnya berfikiran untuk meng vasektomi dirinya sendiri demi ingin hidup layak dan bisa berdampingan dengan Shanum.
Pilihan dirinya untuk operasi vasektomi sangat ditentang keras dan dikecam oleh kedua orang tuanya dan anggota keluarganya lainnya. Tapi, Arion Sneider Oesman lebih memilih untuk melakukan hal yang sangat jarang pria tempuh cara itu.
Arion Sneider Oesman memutuskan untuk tidak memiliki keturunan kedepannya sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan menebus kesalahannya dan dosanya terhadap Shanum. Sahnum adalah perempuan yang direnggut mahkota kesuciannya yang menyebabkan hamil di luar nikah.
__ADS_1
Dan Sahnun harus mengalami keguguran dan dioperasi untuk pengangkatan rahimnya diusianya yang masih muda belia karena rahimnya yang rusak. Kesedihan dan penyesalan itu dialami oleh kedua orang tua angkatnya dan papanya pak Hanif Yahya. Tetapi, hingga detik ini, Shanum belum mengetahui kondisi kesehatannya itu.
Bu Siti menutup mulutnya saking kagetnya melihat sosok pria yang membantu Shanum.
"Ya Allah Itukan pria yang menghamilinya, ya Allah apa yang akan terjadi kedepannya jika Non Shanum tersadar," Bi Siti mulai panik, takut dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya itu.
Shanum reflek tersenyum ketika tersadar melihat wajahnya pria yang sejak dua tahun lalu selalu ia rindukan, mulai ia cintai yang tiba-tiba datang dalam hatinya. Mereka berpose layaknya orang yang sedang berdansa saja hingga beberapa menit kejadian dan kedekatan seperti itu berlangsung.
"Non Sha kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Bi Siti yang datang membuyarkan kedekatan keduanya.
Shanum segera memperbaiki posisi berdirinya dan menghempaskan tangannya Arion dari tubuhnya itu.
"Maafr, makasih banyak sudah menolongku," ucapnya Shanum seraya memperbaiki posisi hijab dan pakaian yang dipakainya itu.
"Non Sha apa kamu lupa jika hari Nak Desta akan datang menemui Non dan besok pagi rencananya keluarga Nak Desta akan datang melamar Non besok pagi," ujarnya Bibi Siti Aminah Laila Sari yang sengaja berbicara seperti itu di depan langsung Arion.
Bu Siti bertujuan agar Arion bisa menggagalkan rencana lamarannya Shanum, karena bi Siti sangat paham betul dan mengetahui dengan jelas siapa Arion Sneider Oesman itu di dalam hati dan kehidupannya Shanum.
"Bibi ini pasti memberikan kode sinyal darurat padaku mengenai Shanum agar aku bisa menghentikan pertunangannya Sha, apa bibi ini mengenaliku sehingga dengan gamblang bercerita seperti itu di hadapanku langsung?"
Shanum tanpa basa-basi lagi segera pergi dari hadapannya Arion dengan degup jantung dan debaran hatinya yang sulit dikontrolnya.
"Dua tahun lebih aku tidak pernah melihatnya lagi dan hari ini tanpa sengaja aku bertemu kembali dengannya," Sahnum menolehkan kepalanya ke arah Arion yang masih berdiri menatap kepergian Shanum.
"Shanum kamu hanya milikku seorang, tidak boleh dan pria manapun yang merebutmu dalam genggaman dan pelukanku, aku akan menghancurkan seluruh isi dunia jika pria lain berhasil menikahimu," Arion mengepalkan genggaman tangannya itu sekuatnya hingga buki urat-urat ditangannya kelihatan dengan sangat jelas.
"Tuan Muda ada meeting penting dengan klien kita yang dari Korea Selatan Seoul jam 2.15. Tuan Muda di hotel XX,"
Arion segera berjalan tanpa berbicara sepatah katapun lagi. Hingga ia kembali berbicara di depan anak buah kepercayaannya itu.
"Selidiki siapa pria yang bernama Desta yang akan melamar esok pagi Shanum Inshira Abidzar!" Perintahnya Arion.
Shanum sejak pertemuan tak terduga dan tidak terencana itu, wajahnya selalu berseri-seri sedap dipandang mata.
__ADS_1
"Ya Allah semoga pertemuan mereka kembali adalah yang terbaik dan jalan menuju kebahagiaan untuk Shanum, kasihan harus hidup menderita karena banyaknya penolakan dari pria dan orang tua yang berniat menikahinya karena kondisinya Shanum yang tidak bisa memiliki keturunan,"
Berselang beberapa menit kemudian, Shanum yang melihat adiknya segera mempercepat langkahnya menuju Shaira yang sudah berpelukan dengan papanya dan mamanya itu.
"Aira!" Teriak Shanum.
Shaira,Vela Angelina, Maryam Nurhaliza yang berdiri membelakangi kedatangan Shanum spontan bersamaan mengalihkan pandangannya dan menoleh ke arah sumber suara dan kedatangan Shanum.
Gadis berhijab itu tidak malu-malu berlari kencang menuju adiknya. Hampir tiga tahun mereka terpisah, tanpa pernah bertemu kendala biaya sehingga Shaira tidak pernah balik ke Jakarta Indonesia.
Karena selama menempuh pendidikan di London UK Inggris. Hanya sekali saja Syaira, Aidan Akhtar dan kakaknya Abyasa Akhtam balik pulang kampung ketika idul Fitri kala itu.
"Kakak," balasnya Shaira Innira dengan suara yang cukup melengking tinggi hingga membuat beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar bandara kaget dan memperhatikan apa yang dua gadis cantik berhijab itu.
"Dede, kakak kangen banget sama kamu," teriaknya Shanum yang memeluk erat tubuhnya Shaira.
"Aira juga sangat merindukan kakak," ucapnya Shaira yang menitikkan air mata bahagianya bisa bertemu kembali dengan kakak satu-satunya perempuan di dalam keluarganya.
Dewi dan Syam bahagia melihat pertemuan kedua adik kakak itu. Mereka pun ikut terharu melihat kedekatan dan sikap keduanya yang masih sama seperti terakhir mereka bertemu sebelumnya.
"Kakak semakin cantik saja dengan pakaian tertutup seperti ini, auranya semakin memancar gitu kak," pujinya Shaira yang memutar tubuhnya Shanum seperti sebuah boneka cantik di depan mereka.
Shanum tersenyum diperlakukan seperti itu oleh adiknya," Alhamdulillah makasih banyak Dede kalau kakak cantik," balasnya Shanum yang terus tertawa cekikikan atas perlakuannya Shaira.
"Hemm! Kalian berdua kalau sudah bertemu pasti melupakan keberadaan orang lain yang ada di sekitar kalian, apa kalian tidak melihat kami ini berdiri seperti patung," candanya Samuel.
Semua orang yang mendengar candaan dari papa anak kembar itu segera tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan candaan dari Syamuel.
Akhirnya babak baru kehidupan mereka berempat yang sesungguhnya akan dimulai.
Orang tua mana yang tidak akan senang dan gembira melihat kehidupan pendidikan, karir dan kehidupan asmara anak-anaknya bagus.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah atas anugerah yang tak terhingga yang Engkau berikan kepadaku dan kepada anak-anakku keempatnya sudah semakin dewasa dan mereka akan memulai kehidupan barunya, hidup dengan pasangannya masing-masing walau besok barulah Sha yang akan dilamar, rencana Aidan akan saya akan bantu lamaran di hadapan kedua orang tuanya Maryam juga," Dewi menyeka air matanya yang menetes membasahi pipinya itu.
__ADS_1