
Shaira pergi ke USA New York Amerika Serikat tanpa menolehkan kepalanya ke arah belakang. Ia ingin menatap masa depannya, tanpa bayang-bayang kesedihan masa lalunya.
Selamat tinggal Jakarta, aku harus pergi dari negara asalku demi masa depan dan karirku. Bang Adelio aku pergi karena tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang kesedihan yang setiap saat menghampiri kehidupanku.
Shaira menatap ke arah luar jendela pesawat ketika pesawat itu baru take off dari landasan bandara internasional Soekarno Hatta.
Andrew Parker yang diam-diam datang mengantar kepergian Shaira hanya mampu bersembunyi dibalik tembok melihat perempuan yang disayanginya pergi melanjutkannya pendidikannya di luar negeri.
Aku tidak akan menyerah pada keputusanmu untuk menolak dan menentang keputusan amanahnya Bang Adelio.
Aku akan membuktikan padamu jika cintaku tidak kalah besarnya dengan cintanya bang Adelio padamu. Bahkan aku rela hidup seorang diri sampai kapanpun hingga kamu mengatakan setuju menikah denganku.
Shaira melewati hari-harinya dengan kesibukan. Tidak pernah sekalipun melakukan hal-hal yang seperti anak muda lainnya lakukan. Walaupun statusnya sudah menjadi janda di usianya yang masih sangat muda, tetapi tidak menyurutkan semangatnya untuk menggapai impian dan cita-citanya.
Empat tahun kemudian..
Hari-hari terus menerus berlalu tanpa disadari Shaira sudah menjalani pekerjaan sekaligus perkuliahannya di tahun terakhirnya.
"Shaira hari ini kamu ikut kami ke bioskop gak?" Tanyanya Adeline.
Shaira melirik sekilas ke arah temannya itu," maaf aku sepertinya tidak bisa, aku mau ke perpustakaan soalnya." Tolaknya Shaira secara halus.
"It's okey kalau gitu,kami duluan pulang yah bye," balasnya Adeline yang berjalan meninggalkan Shaira yang masih duduk menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit tempat dia magang.
Shaira segera membereskan barang-barang bawaannya sebelum meninggalkan ruangan prakteknya sambil merentangkan kedua tangannya ke samping sebelum keluar.
"Lumayan capek hari ini," keluhnya Shaira untuk pertama kalinya selama bekerja di rumah sakit itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Shaira memasuki ruangan perpustakaan. Dia segera mencari buku yang dibutuhkannya. Dengan seksama dia memperhatikan satu persatu tulisan yang ada di setiap rak buku.
"Ya Allah kenapa perpustakaan ini begitu besar dan rak-rak bukunya begitu tinggi," Shaira kewalahan mencari buku.
Hingga senyumannya terpatri di sudut bibirnya, ketika melihat buku yang sedari tadi dicarinya.
"Alhamdulillah itu dia buku yang aku cari, bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Shaira seraya berusaha untuk meraih buku yang terletak paling atas rak.
Shaira melompat-lompat, tetapi tetap saja tidak sanggup untuk menggapai buku itu.
"Aku terus harus mencobanya, aku tidak boleh pantang menyerah," lirih Shaira yang kembali berusaha untuk meraih buku itu.
Tetapi karena kurang hati-hati hingga pijakan kakinya tidak bertumpu dengan baik ketika mendarat.
"Agghhh!" Teriak Shaira yang tubuhnya akan terjungkal ke belakang.
Tapi, untungnya ada tangan seseorang yang segera menolongnya hingga terselamatkan dari terjatuh ke atas lantai keramik.
Shaira yang sudah pasrah dan menganggap tubuhnya sudah ambruk ke atas lantai memejamkan matanya. Tetapi, perlahan-lahan dia merasakan tubuhnya aman saja.
Shaira segera membuka matanya dengan mengerjap-ngerjap itu dan melihat sekitarnya terlebih dahulu. Dia memeriksa kondisi tubuhnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku tidak kenapa-kenapa," gumamnya Syaira yang segera bersyukur karena dirinya dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Apa kamu sudah memeriksa sekujur tubuhmu dokter Shaira?" Tanyanya seorang yang tubuhnya diduduki oleh Shaira dengan nyaman.
Shaira spontan mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara dan reflek bangkit dari posisi duduknya telentangnya di atas paha orang yang menyelematkannya.
"Mas Andrew," beonya Shaira yang reflek menundukkan wajahnya karena terlalu malu dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Kau baik-baik saja kan, tidak ada yang terluka ataupun sakit yang kamu rasakan?" Tanyanya Andrew yang memberondong berbagai macam pertanyaan khusus ditujukan untuk Shaira seorang.
Shaira tertunduk malu karena dalam keadaan yang sungguh membuatnya merasa canggung.
"A-nu a-ku tidak apa-apa kok," ucapnya Shaira yang sudah berdiri dari duduknya itu.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," balasnya Andrew dengan senyuman tipisnya melihat Shaira secara langsung setelah kurang lebih hampir dua tahun kemudian.
Shaira memungut beberapa buku incarannya dan tak lupa mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongannya Andre.
"Makasih banyak atas bantuannya," Shaira berucap sepatah kata dan segera meninggalkan tempat tersebut dengan berjalan tergesa-gesa.
Andrew hanya tersenyum sumringah melihat kepergian dan hanya mampu memandangi punggung perempuan yang begitu tulus dicintainya.
Andaikan kamu tidak hampir terjatuh, aku tidak mungkin menampakkan wajahku di hadapanmu Shaira Innira.
Kerinduanku padamu selama beberapa bulan dan tahun ini mampu aku tutupi dengan diam-diam memperhatikan dan menjagamu, walau dari jarak jauh.
Sejak pertemuan itu, keduanya pun tidak pernah lagi bertemu secara terang-terangan. Andrew selalu bolak balik new York Jakarta Indonesia.
Awalnya tidak ada yang mengetahuinya,tetapi setelah sehari sebelum kepulangan Shaira ke Jakarta Shaira kembali melihat Andrew Parker yang sudah dua hari dua malam berdiam diri di dalam mobilnya di depan rumah kontrakannya.
Sungguh konyol pria yang tidak mau menyerah pada kenyataan, kenapa kamu belum menyerah juga, aku tidak bisa menikah dengan pria lain lagi.
Aku belum bisa membuka hatiku untukmu atau untuk pria manapun yang mendekatiku.
Shaira memandangi figura foto yang di dalamnya ada, dia, almarhum suaminya Adelio Arsene Smith dan Andrew Parker.
Maafkan aku bang, Aku belum sanggup memenuhi amanat yang engkau berikan kepadaku.
Shaira menyeka air matanya itu sambil memasukkan ke dalam kopernya foto tersebut.
Kepulangan Shaira disambut hangat dengan meriah oleh semua orang sanak saudaranya yang ada di ibu kota Jakarta.
"Alhamdulillah akhirnya dede balik ke Indonesia setelah empat tahun tidak pulang," ucapnya Shanum.
"Iya Aunty akan balik, hore aunty Shaira akan tinggal bersama kami," ucapnya heboh Nafesa Samara putrinya Aidan dan Cindy Clara yang sudah menjadi anak angkatnya Shanum dan Arion.
"Aunty Aira bawa oleh-oleh untuk Arcello dan Arcenio kan Pah?" Tanyanya anak kembarnya Aydan.
"Insha Allah Aunty kalian akan bawa oleh-oleh yang banyak," bujuknya Maryam Nurhaliza.
__ADS_1
Adisti memegang putranya yang berusia empat tahun bersama dengan Ade Nugraha suaminya. Vela Angelina dengan Amar beserta kedua putra putrinya itu ikut hadir.
Abyasa dengan putra dan putrinya yang jarak usianya sangat dekat keduanya dalam gendongan ayah dan bundanya yaitu yang cewek dengan Abiayasa dan cowok dengan bundanya Sanika Tanisha.
Syamuel dan Bu Rina Amelia menyeka air matanya kebahagiaan ketika melihat Shaira berjalan menghampirinya.
"Alhamdulillah putriku akhirnya balik juga," Sam segera merentangkan kedua tangannya itu menyambut Shaira yang sudah berlari kecil ke arah dalam pelukan Pria pertama yang disayanginya itu.
"Papah," pekik Shaira yang sudah berhamburan ke dalam pelukannya Samuel papa kandungnya.
Semua orang menangis terharu bahagia melihat kepulangan Shaira dalam keadaan yang baik-baik saja. Kedua ayah anak itu berpelukan satu sama lainnya. Hingga sebuah buket bunga mawar merah yang lumayan besar mengagetkan yang secara hadir di hadapan semuanya.
Shaira segera melerai pelukannya itu dari tubuh papanya, dia menautkan kedua alisnya saking terkejutnya melihat bunga mawar merah yang begitu besar muncul di depan matanya.
"Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari apakah kamu bersedia menikah denganku menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku kelak dan menemaniku sepanjang usiaku?" Tanyanya seseorang yang menyembulkan kepalanya ke arah luar dari balik bunga mawar itu.
Semua orang tatapan matanya tertuju pada sosok pria yang begitu gigihnya memperlihatkan dan membuktikan akan kebesaran, kekuatan dan keteguhan cinta yang dimilikinya.
Syam hanya tersenyum melihat Andrew Parker Smith yang terang-terangan melamar putrinya secara tak terduga itu.
Syam menyentuh lengan putrinya yang tertutup lengan panjangnya. Semua saudara saudari kembarnya yang hadir menatap penuh harap agar Shaira mengiyakan permintaan dari Andrew tersebut.
Andrew masih dalam keadaan berlutut sedang memohon dan meminta jawaban dari perempuan yang pernah menjadi kakak iparnya itu.
Shaira tidak menyangka jika Andrew Parker Smith bisa bertahan selama ini dan menunggu kepulangannya untuk kembali melamarnya.
Berselang beberapa menit kemudian, Shaira masih saja bungkam seribu bahasa dan tak tau dan bingung harus menjawab apa. Walau dalam hatinya sudah ada rasa cinta semenjak dia mengetahui jika Andrew diam-diam menjaga dan melindunginya selama di USA New York City.
"Dede Aira ayo dek jawab, kasihan Andrew kalau harus berlutut terus," pintanya Abyasa.
"Iya apa sedikitpun tidak ada rasa cinta yang kamu miliki untuknya dek? Terimalah dia sebagai pendamping hidupmu," Aidan berucap.
Shaira menghela nafasnya dengan cukup keras sebelum memberikan jawaban kepada pria yang kedua tangannya terulur ke arahnya dengan sebuah buket bunga mawar dan tangan kanannya sebuah kotak perhiasan emas yang di dalamnya terdapat sebuah cincin yang sungguh sangat indah dan cantik.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku bersedia menjadi istri, pendamping sekaligus menjadi sahabat dalam mengarungi suka dukamu Andrew Parker Smith." Ucapnya Shaira dengan penuh keyakinan.
"Alhamdulillah makasih banyak atas jawabannya," balasnya Andrew dengan mengambil cincin tersebut kemudian tanpa ragu menyematkan sebuah cincin tunangan ke dalam jari manisnya Shaira.
Andrew bangkit dari posisi berlututnya itu kemudian saking bahagianya langsung memeluk tubuhnya Shaira dengan erat dan penuh kebahagiaan.
Shaira melototkan matanya saking terkejutnya mendapatkan pelukan dari calon suaminya itu.
"Hemph, pelukannya stop kalian berdua belum resmi baru menjadi calon suami istri!" Tegasnya Faris Fatahillah yang berceletuk sehingga membuat semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Faris.
Shaira dan Andrew tersipu malu mendengar perkataan dari Faris yang menggendong putrinya itu.
Semua orang larut dalam lautan kebahagiaan, semua adik sepupunya dan saudara kembarnya turut berbahagia dengan rencana pernikahannya Shaira. Semua hidup bahagia dengan pasangan hidupnya masing-masing.
...********TAMAT********...
__ADS_1