
Syam bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya itu dia malah memeriksa dengan secara seksama layar komputernya itu. Kemudian mematikannya, sedangkan Dewi sudah was-was dan pastinya cemas. Padahal awalnya tadi Syam tidak keberatan dan malah senang dengan pilihan dan cara mengelola keuangannya Dewi.
"Uang lima juta perbulan saja yang bagiku sangat sedikit itu yang aku sisihkan dari uang bonus bulananku baginya sangat besar, alhamdulilah engkau memberikan aku istri yang sangat pengertian, berbakti kepada suami, baik hati, sholehah dan selalu bersyukur dengan pemberian yang aku berikan tanpa mengeluh sedikitpun," Syam menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu tanpa terganggu dengan kegiatan dan kehadirannya Dewi.
"Ya Allah… semoga saja abang Syam tidak mempermasalahkan keputusan sepihakku itu, aku melakukannya demi masa depan kami juga lagian aku harus bisa menjadi istri yang mandiri tidak hanya terus-terusan bergantung pada uluran tangan dari suamiku," Dewi mulai nampak cemas dan khawatir.
"Begitu mulia hatimu Dewi, padahal uang yang aku berikan sangatlah kecil dibandingkan dengan uang bulanan Nadia, aku sangat ingin melebihkan uang belanjamu tapi aku harus pintar-pintar mengatur keuanganku sendiri, tapi terkendala dengan Nadia yang mengetahui slip gajiku itu, aku akan terus berusaha untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai suamimu, kamu memang pantas jadi menantunya Bu Gina bundaku, aku yakin bunda kalau tahu punya menantu cantik dan sebaik Dewi pasti akan sangat gembira, tunggu aku balik ke Jakarta aku pasti akan menyampaikan rahasia terbesarku,"
Dewi menyentuh punggung tangan suaminya itu," maaf yah abang jika gara-gara keputusan bodohku itu yang memakai uangnya abang tanpa ngomong terlebih dahulu, membuat Abang marah, aku tidak bermaksud seperti itu," sesalnya Dewi.
Syam tersenyum lebar ke arah Dewi," kenapa kamu berfikir seperti itu? Abang tidak pernah berbicara seperti itu kepadamu,abang sepenuhnya menyerahkan segalanya ditanganmu, satu saja yang pesanku kelola saja sebaiknya, agar uang kamu bermanfaat dan tentunya akan menghasilkan pada masa depan anak-anak dan tentunya untuk kita berdua, malah aku memuji keputusanmu yang sangat bagus dan kamu cerdik memanfaatkan kesempatan," pujinya Syamuel yang membalas memegangi punggung tangannya itu.
__ADS_1
Dewi langsung sumringah bahagia, kedua bola matanya berbinar terang saking bahagianya mendengar perkataan dari mulut suaminya itu.
"Alhamdulillah, betapa bahagianya diriku punya suami yang ganteng, rajin shalat magrib pintar lagi," Dewi dengan lugas memuji langsung kebaikan sifat suaminya itu.
"Kalau begitu kita berangkat, takutnya kemalaman sehingga beberapa barang kebutuhanmu tidak kebeli semua," tuturnya Syam kemudian berlalu dari hadapan Dewi yang masih menghayati perkataan dari mulut pria yang bernama Syamuel Abidzar Al-Ghifari.
"Aku ambil dompet sama ponselku dulu, Abang tunggu bentar saja sekalian mau ganti pakaian juga enggak enak kalau pakaian rumahan saya pakai ke Mall," ucapnya Dewi.
"Kamu tidak perlu ganti pakaian, hijab kamu saja yang diganti tidak usah repot-repot ganti pakainmu sudah cantik kok," ucapnya Syam yang selalu memuji kecantikannya Dewi tanpa menyadarinya jika dia memuji kecantikan alami yang dimiliki oleh Dewi Kinanti Mirasih.
Dewi menutup pintu kamarnya itu dengan perlahan kemudian bersandar pada dinding pintunya, ia memegangi dadanya yang berdebar kencang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipinya semakin memerah jika harus kembali mengingat ucapannya Syam.
__ADS_1
"Ya Allah… apa Abang Syam tadi memujiku? Kenapa hatiku berasa gembira dan senang banget mendengar segala pujiannya Abang, perasaan yang aku rasakan sangat berbeda dengan Mas Heri Ismail Fatahillah yang jika kami jalan hanya seperti biasa saja yang aku rasakan tapi, dengan suamiku sendiri debaran ini semakin berdebar-debar saja," lirih Dewi yang spontan menutupi wajahnya itu dengan telapak tangannya seperti anak abg yang baru mengenal cinta dan indahnya jatuh cinta.
Syam melihat ke arah pintu kamarnya, ia menautkan kedua alisnya saking herannya dengan apa yang dilakukan oleh Dewi di dalam sana.
"Ini orang ganti pakaian,tidur atau pingsan lagi di dalam sana sebaiknya aku cek dan periksa apa dilakukannya di dalam," gumam Syam lagi.
Tok… tok.. tokk..
"De, kamu sudah siap? Cepat sebelum larut malam, lagian banyak loh yang harus kita beli takutnya kita terlambat lagi," ucapnya Syam yang membesarkan dan meninggikan sedikit suaranya itu.
Dewi yang mendengar teriakannya Syam segera mempercepat kegiatannya, ia hanya mengambil pakaiannya secara acak yang paling diatas lipatannya di dalam lemari itu. Syam tidak mengetahui jika Irwansyah membelikan begitu banyak pakaian wanita untuk Dewi tanpa sepengetahuannya itu.
__ADS_1
"Maaf saya sudah membuat Abang terlalu lama menunggu, saya ke toilet tadi soalnya," kilahnya Dewi yang menutupi apa yang terjadi padanya itu sebelum Syam berteriak memanggilnya.
Dewi berulang kali memeriksa pakaian dan hijabnya itu sambil mengikuti langkah kakinya Syam ke arah luar. Mereka tidak lupa mengunci rapat pintu rumahnya dan mematikan beberapa lampu yang tidak terpakai. Memutuskan stok kontak dari beberapa peralatan elektroniknya kecuali kulkas nya saja yang tersambung ke stok kontak listrik.