
Dewi merangkul lengannya Maryam, "Sha kenalkan ini adalah Maryam Nurhaliza calon istrinya abangmu Aidan,"
Dewi memperkenalkan Shanum Inshira dengan Maryam Nurhaliza agar keduanya saling kenal.
"Alhamdulillah kedua orang tua Mas Aidan menerimaku dengan tangan terbuka, mereka menyambutku dengan begitu hangat dan baiknya seperti anak kandungnya sendiri," Maryam memeluk tubuhnya Dewi dengan penuh kasih sayang.
Shanum tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya ke arah Maryam," Shanum kak tapi kakak, dan yang lainnya menyapaku dengan sapaan Sha, supaya kakak lebih akrab dengan kami," ucapnya Shanum.
"Maryam sangat bahagia dan beruntung mendapatkan calon mertua yang sangat baik dan humbel, semoga saja kedua orang tuanya Mas Akhsan juga seperti mereka apalagi mereka kan saudaraan,"
"Maryam Nurhaliza Farhat temannya Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari," ucap Maryam.
"Kalau gitu kita balik secepatnya ke rumah ma, saya sungguh sangat capek dan lelah," ucapnya Shaira.
"Aira saya duluan pulangnya yah cantik, papa dan mamaku katanya sudah menuju ke sini, jadi mungkin saya nunggunya disini saja yah," tuturnya Vela Angelina yang segera memeluk sahabatnya satu persatu.
Maryam cipika cipiki dengan Vela sebelum mereka berpisah sementara waktu. Shaira tersenyum lebar melepas kepergian Vela karena kedua orang tuanya sudah datang menjemputmu.
"Assalamualaikum Tante, Paman," ucapnya Vela yang berpamitan kepada Syam dan Dewi
"Waalaikum salam, hati-hati Nak kalau ada waktu senggang datanglah ke rumah, pasti Maryam dan Shaira senang jika kau datang," imbuhnya Dewi.
"Alhamdulillah makasih banyak Tante Dewi," balasnya Vela.
"Ma, ngomong-ngomong Vela ini calon istrinya Ahksan loh, mereka tidak lama lagi pasti akan menikah," ungkapnya Shaira yang rasa lelahnya hilang sekejap mata karena ingin menggoda Vela.
"Woo seriusan Nak, alhamdulilah kalau gitu kamu akan menjadi sepupunya Aira kedepannya, karena mamanya Ahsan itu adalah adiknya Tante loh, kalau gitu kita pulang ke rumah dulu katakan pada kedua orang tuamu jemputya di rumah saja, sekalian kamu ikut gabung dengan kami diacara syukuran kecil-kecilannya Aira nak," usulnya Dewi sambil memegangi kedua tangannya Vela.
__ADS_1
"Tapi Tante, saya tidak enak kalau ikut ke rumahnya Tante pasti saya sangat merepotkan kalian," tolaknya Vela yang tidak ingin menyinggung perasaannya Dewi.
Shaira segera merangkul lengannya Vela," ayolah Vela, kali ini saja kamu datang berkunjung ke rumah kami,apa karena rumah kami kecil sehingga kamu enggan untuk datang yah," candanya Shaira.
"Ehh Aira bukan itu maksudku, tapi karena kedua orang tuaku sudah di jalan menuju bandara," sanggahannya Vela yang tidak mampu untuk menolak ataupun berdebat dengan Shaira.
Yang lainnya hanya tertawa melihat kedekatan dua perempuan itu yang seperti adik kakak saja.
"Ya Allah hubungan mereka sangat akrab dan dekat, tapi aku bersyukur karena adikku Shaira masih seperti dulu perhatian dan sikapnya kepadaku, walau banyak orang setiap harinya berganti ditemuinya dan menjadi temannya," Sahnun tersenyum melihat keakraban keduanya.
"Saya tidak ingin mendengar kata penolakan,saya akan hubungi Tante dan Om agar mereka datang langsung ke rumah menjemputmu, ingat saya tidak suka mendengar ada penolakan dari kamu, jika kamu menolak hubungan…," ucapannya Shaira terpotong jadwal segera ditutup mulutnya oleh Vela.
"Okay, baiklah saya akan ikut kalian pulang dan segera kirim pesan ke nomornya papaku cewek pemaksa dan sayangnya saya tidak mampu menolak," guraunya Vela yang pasrah dengan keadaan dan tidak sanggup berdebat dengan gadis si jenius, tomboy, cantik dan baik hati ini.
Syamuel dan Dewi dengan yang lainnya tertawa terbahak-bahak melihat sikap pasrah dari Vela. Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di dalam mobil masing-masing.
Shaira, Vela dan Maryam serta Shanum berada di dalam mobil yang sama. Sedangkan mobil satunya Syam, Dewi serta bibi Siti. Mereka bercanda bersama di dalam mobil, keakraban mereka berempat terlihat dengan jelas.
"Ya Allah besok adalah keluarga mas Desta akan datang, apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin menikah dengan pria lain ya Allah. Apakah kedua orang tuanya juga menerimaku sebagai menantunya yang mandul, semua orang tua yang awalnya akan menikahiku tapi setelah mengetahui jika aku tidak bisa memberikan cucu untuk mereka akhirnya memutuskan untuk menolak niatnya untuk meminangku,"
Shanum yang menyetir mobil dalam keadaan melamun sehingga ia tidak berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Hingga Shaira yang duduk di belakang jok mobil segera berteriak.
"Kakak Sha hati-hati!" Teriaknya Shaira yang melihat ada sebuah mobil sedan putih yang melaju dengan kecepatan yang sedang akan menabrak mobil mereka yang dikendarai oleh Shanum.
Ciit!!
"Aahh!!" Teriak ke-tiga perempuan muda lainnya yang langsung melindungi wajah mereka secara bersamaan.
__ADS_1
Shanum segera menginjak rem dengan cepat sehingga terhindar dari tabrakan langsung.
Bruk…
Brak!!
"Kak Shanum kau baik-baik saja kan?" Tanyanya Shaira yang melihat kakaknya sudah pucat pasi panik, cemas dan juga takut.
"Astaughfirullahaladzim, ya Allah untungnya kita semua baik-baik saja, aku sudah berfikir yang aneh-aneh," keluhnya Vela sembari mengelus dadanya itu.
"Iya untungnya kita tidak kenapa-kenapa, padahal hampir saja jantungku copot loh," ujarnya Maryam sambil menghela nafasnya.
"Iih itu a-nu a-ku baik-baik saja hanya saja sepertinya mobilmu yang ketabrak oleh mobil orang itu," jawabnya Shanum dengan gagap sambil menunjuk ke arah mobil sedan merah yang berada tepat di depan mereka.
"Kakak tenang saja, ini hanya mobil tidak perlu terlalu dipikirkan, lagian masih bisa diperbaiki tapi yang jadi masalah, gimana dengan kakak, apa kak Sha baik-baik saja?" Tanyanya Shaira yang memegangi pundak kakaknya yang seperti gemetaran ketakutan.
Shanum menggelengkan kepalanya itu dan berusaha untuk tenang dan tidak banyak pikiran, karena ulahnya sehingga terjadi seperti ini.
"Kalau gitu kita cek mobilmu dulu apa terjadi sesuatu," tuturnya Shanum sehingga mereka keluar bersama.
"Apa yang terjadi! Kenapa cara nyetirmu seperti ini!" Gertaknya seorang pria yang sedang mengerjakan pekerjaan melalui laptopnya terganggu karena supir pribadinya tanpa sebab tiba-tiba merem mendadak.
"Maaf Tuan Muda itu semua gara-gara mobil itu Tuan yang mengemudikan mobilnya dengan tidak benar," balasnya sang supir pribadinya yang mulai ketakutan dan panik jika dirinya akan dipecat padahal baru saja bekerja hari ini.
Pria yang disapa tuan muda itu segera turun dari mobilnya ketika melihat beberapa perempuan keluar juga dari mobilnya untuk memeriksa kondisi mobilnya yang kemungkinannya penyok.
"Ya Allah apa yang terjadi lihatlah mobil kesayanganmu Dede," keluhnya Shanum.
__ADS_1
Pria dan supirnya mendengar teriakannya Shanum segera keluar dari mobilnya itu. Pria itu segera berjalan ke arah Shanum hendak ingin melontarkan kata-kata yang cukup tajam, pedes dan juga cukup menohok, tapi ucapannya itu terhenti ketika melihat siapa perempuan yang memakai hijab pink.
"Bukannya itu perempuan yang disukai oleh Abang Adelio, berarti gadis itu orang Indonesia rupanya, daripada dapat masalah kedepannya cari aman saja dan semua ini aku akan rekam dan minta pertanggungjawaban kepada Abang Adelio saja," senyuman menyeringai muncul dari sudut bibirnya itu.