Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 211


__ADS_3

Abyasa terdiam mendengarkan perkataannya Tanisha, dia tidak sabaran menunggu apa yang akan dijawab oleh perempuan cantik asal Makassar itu yang sudah mengisi relung hatinya yang terdalam.


"Pak Abyasa Akhtam Al-Fath aku bersedia menjadi partner hidupmu, menjadi satu-satunya perempuan yang ada di dalam hati dan hidupmu yang akan menemani kamu hingga ajal menjemput,mari kita tua bersama mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga kelak," balasnya Tanisha dengan cukup panjang.


Abyasa tanpa ragu langsung melompat saking bahagianya mendengar perkataan dari perempuan yang esok hari hendak dilamarnya itu.


"Cha apa kamu serius menerima lamaran ku?" Tanyanya Abyaza yang masih tidak percaya.


Perempuan manis berusia sekitar 24 tahun itu, perempuan dengan tipikal pekerja keras,giat dan ulet serta cantik nan ayu perempuan yang menjadi primadona di perusahaan tempat dia bekerja.


Perempuan yang mampu memporak-porandakan hati dan pikirannya selama dua bulan terakhir ini. Seorang perempuan yang sederhana, berbudi pekerti luhur, sholeha walaupun belum memakai hijab, tapi pakaiannya selalu tertutup dan tidak pernah memperlihatkan keseksian dan kemolekan tubuhnya.


Tanisha yang mendengar pertanyaan lagi dari Abyasa hanya sedikit kesal karena selalu saja dianggap semua ucapannya saat ini adalah candaan semata.


"Ya Allah pak Abyasa apa aku tipe perempuan yang suka bercanda apa! Aku jujur menjawab untuk menerima lamarannya pak Abyasa, lagian niatnya lamar kenapa ngomongnya meski lewat telpon sih, seperti pak Abiyasa ada di luar negeri segala," gerutunya Tanisha yang tidak secara langsung mengatakan jika dia ingin hal ini disampaikan langsung di depannya.


Abyasa terkekeh mendengar perkataan dari calon istrinya itu, senyuman selalu tersungging di sudut bibirnya membuatnya semakin menawan dan kadar aura kegantengannya lebih terpancar lagi.


"Iya juga yah aku yang salah, kenapa meski ngomongnya lewat telpon," sahutnya Abyasa.


"Tidak apa-apa Pak mau gimana lagi, sudah telanjur juga," balasnya Tanisha seraya menepuk lembut keningnya.


"Sudah dulu kalau gitu tunggu aku di rumahmu aku akan segera ke sana dan langsung mengucapkan niat baikku ini Du depanmu untuk melamar kamu, assalamualaikum," ucapnya Abyasa yang segera mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.


Belum sempat menjawab perkataan dari Pria yang menjadi atasannya dan insha Allah besok akan melamarnya itu. Pria itu sudah mematikan sambungan teleponnya.


Ya Allah bagaimana ini,kalau dia benar-benar datang, bapak kira-kira marah enggak yah, apalagi sekarang sudah jam sebelas lewat.


Tanisha mulai panik dan menyesali perkataanya barusan. Dia merutuki perkataannya sendiri yang mengatakan kenapa melamarnya lewat telpon.


Kalau Pak Abya datang bisa gawat, aku terlalu bahagia sampai-sampai ucapanku main asal jiblak saja.


Tanisha bangkit dari posisi duduknya itu dan mondar mandir kesana kemari dengan menyentuhkan gawainya ke dagunya.


Bagaimana kalau Pak Abya menepati perkataannya itu dan datang ke rumahku tengah malam begini. Aku harus ngomong apa pada Bapak kalau ketahuan.

__ADS_1


Abyasa segera meraih kunci mobilnya, dompet dan juga gedjetnya. Dia bergegas ingin kw rumahnya Tanisha yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya itu.


Aku akan menunjukkan padamu gadisku jika aku bukan pria penakut atau pria yang hanya suka mengobral janji pada semua mahkluk yang bernama wanita.


Abyasa berjalan dengan langkah yang cukup panjang,dia tidak sempat pergi menemui mamanya untuk berpamitan. Untungnya dia melihat sosok perempuan paruh baya yang sedang menuruni tangga juga.


"Bi Siti kalau ada yang cariin katakan padanya jika aku keluar sebentar, ada urusan mendadak soalnya," ujarnya Abyasa yang berpamitan kepada asisten rumah tangganya yang dianggap seperti keluarganya sendiri.


Abyasa mempercepat langkahnya setelah menyelesaikan ucapannya itu. Dia tidak ingin berlama-lama dan menunda kepergiannya.


"Baik Tuan Muda tapi, ngomong-ngomong mau kemana?" Tanyanya bi Siti yang sudah tidak mendapatkan balasan dari Abiayasa Akhtam putra pertama di keluarga besar Abidzar Al-Ghifari dan Dewi Kinanti.


Abyasa segera mengemudikan mobilnya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga deru mesin mobilnya terdengar hingga ke atas balkon kamarnya adik bungsunya.


Sahira memperhatikan kepergian kakaknya dengan menautkan kedua alisnya melihat kepergiannya Abyasa. Letak posisi kamarnya berdekatan dengan carport mobilnya sehingga setiap ada yang bepergian dia akan melihatnya, apabila sedang duduk di balkon kamarnya itu.


"Kakak mau kemana malam-malam begini, bukannya besok akan melamar Tanisha yah?"


Shaira baru saja selesai menerima telpon dari suaminya itu, Sahira juga mengabarkan kepada suaminya jika kakaknya akan meminang Tanisha sekretarisnya sendiri.


Shaira segera berjalan ke arah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Cuacanya malam itu semakin dingin saja, sehingga Syaira tidak lagi menyaksikan secara langsung bulan purnama malam ini.


"Katanya teman kalau bulan purnama para nelayan akan panen cumi-cumi yang sangat banyak, Hemm… kenapa aku ngiler banget yah pengen makan cumi-cumi? Aku chat Risa saja minta dibelikan cumi-cumi segar, Shaira segera mengaktifkan layar ponselnya itu kemudian segera mengirimkan chat untuk rekan kerjanya di rumah sakit milik suaminya sendiri., entah kenapa aku mau makan cumi-cumi bakar dan goreng tepung tapi kenapa baru saja ngomong seperti itu aku sudah kelaparan,"


Syaira kebingungan dengan apa yang terjadi padanya, malam-malam begini tiba-tiba dia sangat ingin makan cumi-cumi.


Beberapa menit kemudian…


Tanisha yang baru saja membersihkan seluruh tubuhnya dan memakai piyama tidurnya sudah bersiap untuk naik ke kasur ranjangnya.


Tapi, gerakannya terhenti ketika jendela dikamarnya tiba-tiba berbunyi suara ketukan beberapa kali. Tanisha spontan mengarahkan pandangannya ke arah jendela.


"Siapa yang ngetuk jendela kamarku yah?" Tanisha kebingungan dan mengarahkan tatapannya ke arah dinding dimana jam dinding terpasang.


Dahi Tanisha berkerut, karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan aku saja yang berhalu saja dan menganggap itu suara ketukan di jendelaku?"


Tanisha mulai ketakutan dan panik dia berfikiran macam-macam dan mengira suara itu karena dia berhalusinasi saja.


Tok… tok..


Tanisha naik ke atas ranjangnya dan mulai merapatkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya itu,hanya dada dan kepalanya yang tidak tertutupi bedcover berwarna kuning itu.


Tubuhnya mulai bergetar hebat dan takut, peluh keringat mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu hingga ke pipinya.


Ya Allah apa jangan-jangan itu hantu yah? Tapi itu mana mungkin ada hantu di rumahku, bukannya hantunya takut sama aku.


Tanisha mulai menyibak kembali selimutnya yang sempat ditariknya. Dia berjalan ke arah jendela dan tidak lupa mengambil sapu lidi yang sering dipakainya untuk menepuk-nepuk sepreinya dari debu.


Aku yakin itu bukan hantu tapi, maling yang ingin masuk ke dalam kamarku melalui jendela.


Tanisha berjalan mengendap-endap menuju jendela sambil memegangi sapu itu dengan pegangan dan gaya yang siap untuk memukuli orang.


Aku akan menghajarnya hingga babak belur dan buat dia tidak akan pernah berniat untuk datang kemari lagi. Dalam hitungan mundur aku akan membuka jendelanya.


Tanisha menyibak tirai gorden jendela kamarnya itu dan bersiap untuk membukanya.


Satu dua tiga….


Pintu itu terbuka lebar dan Tanisha sudah mengarahkan pukulannya hingga teriakan seseorang yang sudah terkena pukulan berteriak kencang.


"Aahh!! Stop!! Jangan pukul lagi!" Jeritnya seorang pria muda gagah dan ganteng.


Tanisha sudah kepalang tanggung karena terlanjur mengerahkan segala kekuatannya untuk memukul dan menyerang pria yang disangka pencuri itu.


Tanisha terus memukuli punggung pria yang terus juga menghindar pukulannya Tanisha, "Kamu itu pencuri kan? Kenapa meski aku berhenti…" perkataannya Tanisha terpotong setelah sadar dengan siapa orang yang disangkanya maling.


Kedua pasang matanya membulat sempurna hingga dia melotot seperti melihat hantu sungguhan saja. Mulutnya menganga lebar saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya.


Bagi like, komentar, vote ,gift iklan, poin dan koinnya supaya author semakin semangat untuk menulis.

__ADS_1


Makasih banyak yang masih setia mendukung karya recehanku ini.


__ADS_2