
Saking kagetnya dengan teriakan istrinya, Syam sampai lupa jika ia tidak memakai selembar benangpun yang menutupi dada sispack nya hingga membuat Dewi disela menahan rasa sakitnya itu berteriak.
"Abang pakai pakaian lengkap dulu!" Jeritnya Dewi sambil menunjuk ke arah di dadanya Syam.
Syam karena kaget ia kebingungan mau antara mau nolongin Istrinya dulu atau mengambil baju kaos oblong terlebih dahulu.
Teriakannya Dewi yang cukup melengking di subuh itu membuat kedua mertuanya yang memang sudah bangun karena sudah melaksanakan shalat subuh. Ia segera berjalan cepat ke arah bagian dalam dimana kamar sementara Dewi berada selama usia kehamilannya sudah sembilan bulan itu.
Bibi Jubaedah dan Mbak Minah pun ikut terbangun dan segera cepat bertindak berjalan ke arah kamarnya Dewi.
"Bi Juba sepertinya Nyonya Muda Dewi akan melahirkan deh?" Tebaknya Bi Mina yang segera mempercepat langkah kakinya itu.
"Iya Min, lihat tuh ibu Rina dan Pak Gilang juga sudah terburu-buru ke arah sana," timpalnya Bi Juba yang berjalan tergesa-gesa juga mengikuti langkah kedua orang itu.
"Ayo kita cepat lihat Nyonya Dewi pasti mereka butuh bantuan kita berdua, atau kamu ke depan Bi Jubah bangunin suaminya Bibi saja Mang Jono agar segera memanasi mesin mobil," perintahnya bi Mina yang mengantisipasi hal-hal yang memungkinkan bisa terjadi.
"Baiklah," balas bu Jubaedah yang berjalan terbirit-birit karena saking terkejutnya sekaligus antusias karena Dewi akan melahirkan.
"Syam kamu apa-apaan! Istrimu akan melahirkan malah mondar-mandir gak jelas seperti itu!?" Gerutunya Bu Rina Amelia yang melihat putra sambungnya ke sana kemari di depan lemari dengan tidak jelas.
Pak Gilang segera mengangkat tubuhnya Dewi dibantu dengan Istrinya dan Bu Jubaedah Laila Sari. Mereka tidak menghiraukan Syam yang kelimpungan saking paniknya sampai-sampai ia tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya itu.
Syam yang melihat mereka bergegas membawa Dewi pergi,dia pun menarik dengan asal pakaiannya di dalam lemari.
"Syam jangan lupa pakaian perlengkapan bayi kalian di dalam tas itu, ambil semuanya yah!" Teriak Bu Rina.
Bu Rina yang mengarahkan pandangannya ke tumpukan beberapa tas bayi milik Dewi agar Syam lebih paham dengan maksud teriakannya itu. Syam dengan patuh secepatnya menyambar semua tas yang dimaksudkan oleh Bu Rina mamanya.
Dewi segera dimasukkan ke dalam mobil yang sudah siap berangkat hanya tersisa menunggu mereka semuanya. Syam nampak panik melihat kesakitan yang dirasakan oleh istrinya itu.
Ya Allah ternyata seperti ini rasanya yah seorang istri yang akan melahirkan. Aku tidak menyangka jika sesakit itu dan perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya begitu besar.
Ya Allah… selamatkan lah anak-anak dan istriku, jangan biarkan terjadi sesuatu kepada mereka. Mereka adalah hidup dan nyawaku ya Allah.
"Mang Jono kamu bareng dengan yang lainnya dimobil satunya, saya yang akan menyetir mobil ini!" Perintahnya pak Gilang Iskandar yang segera masuk kedalam pintu mobil bagian kemudi supirnya.
__ADS_1
"Baik Tuan Besar," balas Mang Jono.
Semuanya segera berangkat meninggalkan rumahnya Syam menuju rumah sakit terdekat. Hari ini adalah jadwal sebenarnya Dewi akan melakukan operasi cesar. Karena akan melahirkan anak tiga sekaligus sehingga untuk melahirkan normal tidak mereka pilih.
Ya Allah… sakitnya perutku, mungkin seperti ini juga dulu Ibu ketika akan melahirkan kami anak-anaknya. Ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku.
Saya sadari, saya bukan manusia sempurna yang terlalu banyak salah dan dosa. Maka ampunilah dosa-dosa dan kesalahanku. Lancarkanlah persalinanku dan selamatan ketiga anak-anakku.
Dewi mengelus perutnya yang semakin merasakan kesakitan. Ia terus berucap istighfar dan membaca beberapa doa yang sudah diajarkan oleh ibu mertuanya itu.
"Ma, sakit banget," keluhnya Dewi yang sekujur tubuhnya sudah bercucuran peluh keringat membasahinya.
Syam yang mendengar keluhan, rintihan dan ucapan istrinya itu semakin tidak tega melihat istrinya dalam keadaan seperti ini.
"Sayang kamu harus bertahan yah, ingat kita akan memiliki tiga orang anak loh, demi mereka kamu harus sabar dan kuat," ucapnya Syam yang menghadap kebelakang.
Syam duduk di sebelah papanya Syam memberikan dorongan moril kepada istrinya, padahal itu perkataan untuk dirinya juga secara pribadi. Sedangkan Dewi dipangku oleh mama mertuanya itu. Syam meraih punggung tangannya Dewi seraya mengelus punggung tangannya itu.
"Dewi kamu harus kuat Nak, anak-anakmu butuh kekuatan dari kamu, Mama dan suamimu selalu bersamamu menemanimu melewati persalinanmu ini," ucapnya yang menyemangati anak menantunya.
Kepergian dua mobil itu ternyata sejak tadi sudah diperhatikan oleh seseorang," akhirnya Dewi akan melahirkan, hari ini adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku sesuai dengan apa yang sudah aku perkirakan sebelumnya."
"Kemungkinannya almarhumah bundanya Syam juga waktu melahirkan anakku itu seperti ini juga, Rina juga tidak pernah aku lihat berjuang melahirkan anakku karena aku selalu bertugas di luar daerah ketika kedua istriku melahirkan," pak Gilang sesekali memperhatikan anak menantunya dari balik kaca spionnya itu.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di lobi rumah sakit. Awalnya Samuel ingin menggendong tubuhnya Dewi, tapi segera dicegah oleh pak Gilang.
"Stop Syam! Lihat itu beberapa perawat sudah berjalan ke arah kita sambil mendorong bangkar rumah sakit," cegahnya Pak Gilang.
"Bibi bawa semua perlengkapan bayinya Dewi bersama kami," perintah Bu Rina yang memerintahkan kepada kedua asisten rumah tangganya sekaligus kerabat jauhnya mendiang bundanya Syam.
Dewi tidak melepaskan pegangan tangannya Syam hingga ke depan pintu ruangan operasi.
"Suster! Cepat persiapkan operasi untuk Ibu Dewi!" Perintahnya Bu Dokter Dini yang selama ini menangani kondisi kesehatannya Dewi selama hamil.
"Baik dokter Dini," semuanya perawat bersiap dan bekerja sesuai dengan tugas masing-masing.
__ADS_1
"Maaf pak Anda tidak boleh masuk ke dalam, cukup diluar saja menunggu anak Anda lahir," cegah salah satu bidan yang memakai hijab putih itu.
Bu Rina menarik tangannya Syam agar segera duduk di bangku tunggu pasien. Bu Rina mengelus lengan kanan putranya itu.
"Sabar, kamu perbanyak berdoa untuk keselamatan mereka nak, janganlah panik, takut dan terlalu mencemaskan mereka, yakinlah kepada Allah SWT akan kebesarannya, mereka pasti selamat optimislah dan tawakal kepada Allah SWT," nasehatnya Bu Rina yang memang dia tidak pernah membedakan-bedakan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak kandungnya maupun anak tirinya itu.
"Saya harus terus mengawasi pergerakan mereka, kapan ada waktu luang saya segera melakukannya, kamu tenanglah anakku kamu akan segera mendapatkan orang tua yang baik akan memberikan segalanya kepadamu dibandingkan dengan Mama yang sama sekali tidak mampu membiayai kebutuhan kamu, mama pun tidak mungkin menuntut tanggung jawab kepada papamu yang sudah punya istri Nak,"
Perempuan itu mengecup sekilas keningnya anaknya yang tertidur pulas dalam gendongannya sambil menunggu persalinannya Dewi dan Nadia yang kebetulan sudah dibawa juga ke rumah sakit. Setelah ia mendapatkan kabar laporan tentang berita Dewi akan melahirkan ketiga anak kembarnya itu.
Beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi memenuhi segala penjuru sudut ruangan operasi. Satu persatu anak-anaknya Dewi berhasil diselamatkan dan dilahirkan ke dunia ini.
"Syukur Alhamdulillah, semua bayinya sehat dan montok yah Sus, segera hubungi suaminya Bu Dewi untuk segera mengadzani mereka dan kalian segera bersihkan tubuhnya mereka sebelum dibedong," pintanya Bu dokter Dini.
Berita kelahiran anaknya Dewi segera disampaikan kepada keluarga besarnya Sam yang menunggui proses persalinan Dewi Kinanti Mirasih dan kelahirannya ketiga anak kembarnya yang terlahir dua jagoan satu anak dara.
Pak Gilang segera menepuk pundaknya Syam putra kebanggaannya itu, " selamat Nak kamu sudah jadi ayah sekaligus tiga orang," ucap Pak Gilang dengan penuh bahagia dan haru sampai-sampai menititkan air matanya itu.
"Aku masuk dulu lihat Dewi, Papa silahkan adzankan ketiga cucunya Papa," imbuhnya Samuel yang segera masuk ke dalam ruangan bersalin setelah sudah dipersilahkan oleh dokter.
Bu Rina memeluk tubuh suaminya itu yang menangis tersedu-sedu saking bahagianya bisa menggendong cucunya satu persatu.
"Selamat yah Pak Syamuel Anda sudah menjadi seorang Papa," tuturnya beberapa dokter yang memberikan ucapan selamat kepada Syam sembari menjabat tangannya Syam dengan penuh keramahan.
"Sukur Alhamdulillah makasih banyak Ibu Dokter dan yang lainnya sudah membantu proses persalinan Istriku tercinta," terangnya Syam yang tidak bisa menyembunyikan perasaan kebahagiaannya itu.
"Sama-sama Pak, ini sudah menjadi tanggung jawab dan tugas kami,kalau gitu saya permisi dulu Pak Syam karena masih ada pasien yang akan melahirkan bayinya," pamitnya Bu dokter Dini di hadapannya Syam.
Syam mengecup kening Dewi yang masih tertidur lelap akibat obat anestesi ketika dioperasi.
"Makasih banyak sayang kamu sudah berjuang keras melahirkan anak-anak kita bersama, aku semakin mencintaimu,tapi ngomong-ngomong kalau istriku turun mesin berarti harus puasa berapa bulan kalau seperti ini,"
Sedangkan di luar sana, suara adzan begitu menggema dan terdengar begitu syahdunya hingga siapapun yang mendengarnya suara adzan pak Gilang mampu hanyut dan terharu.
Ketiga bayinya Dewi satu persatu diletakkan di dalam box bayi dan sudah diberi masing-masing identitas sesuai jenis kelaminnya buah hatinya Dewi dan Samuel Abidzar Al-Ghifari.
__ADS_1
Besok pengumuman hasil give away untuk Minggu ini untuk readers tersetia yang dukung karyaku.