Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 51


__ADS_3

Dewi mengusap perutnya yang masih sangat datar itu karena baru jalan dua bulan di trisemester pertama. Untungnya Dewi sampai detik itu tidak mengalami mual,ngidam ataupun morning sicknes, sehingga bebas beraktifitas. Inilah kesyukuran yang diterima oleh Dewi karena sangat santai ketika hamil tidak seperti author yang kalau hamil luar biasa cobaannya.


Saya melihat anak kecil itu yang sungguh malang nasibnya, saya hanya kepikiran dengan nasib anakku kelak jika selamanya saya tidak bisa bertemu dengan Abang Syam. Apa yang terjadi pada nasib kami berdua, lagian saya tidak mungkin bisa menghidupi anakku jika hanya mengandalkan gaji di swalayan yang tidak seberapa itu.


Tapi, aku berharap semoga saja ini cepat berakhir saya punya waktu untuk mencari keberadaan Abang Syamuel dan balik ke kampung halaman saja, walaupun hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri.


Nadia memperhatikan gerak geriknya Dewi sedari tadi, Nadia Yualinti sesekali diam-diam mengamati Dewi sambil menautkan kedua alisnya melihat tingkahnya Dewi.


"Aku terkadang heran melihatnya, terkadang Dewi terdiam mematung dengan tatapan matanya yang kosong, apakah dia merindukan suami dan keluarganya atau memikirkan kondisi kehamilannya? Karena aku hamil santai saja tidak seperti Dewi yang kebanyakan melamun dan sesekali memegangi perutnya, atau apa jangan-jangan dia sakit,"


Nadia hendak menyentuh lengannya Dewi untuk bertanya apa yang terjadi padanya kenapa terdiam, tapi upaya belum sempat terlaksana ponselnya Nadia Yulianti berdering dalam genggamannya. Sehingga apa yang beda dilakukannya terhenti sesaat.


Dewi dan Nadia sampai di rumahnya sebelum kedatangan suaminya Nadia. Dewi sudah bertempur di meja dapur bersama dengan berbagai macam bumbu masakan, peralatan masak memasak dan juga sayuran serta ikannya.


Nadia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya sedangkan, Dewi bukannya istirahat malah langsung memasak mengingat sudah sore sebelum suami majikannya pulang.


Berselang beberapa menit kemudian, semua masakan yang berbahan dasar ikan itu sudah siap dihidangkan. Dewi segera membersihkan seluruh perlengkapan masaknya dibantu oleh Bu Siti sebelumnya.


"Masakannya Mbak Dewi enak-enak yah, aku yakin Tuan Syam pasti menyukai semua masakannya Mbak Dewi," pujinya bibi Siti.


Dewi tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulut rekan kerjanya di rumah itu," Alhamdulillah Bi, kalau rasanya enak padahal saya cuma masak apa adanya saja kok bi syukur-syukur kalau ada yang suka," ucapnya Dewi merendah.

__ADS_1


"Andaikan Ibu Nadia juga pintar masak, tapi pegang pisaunya saja kagak bisa pasti suaminya akan semakin menyukainya dan bahagia, Bu Nadia hanya pintar bersolek dan marah-marah saja," ketusnya Bibi Siti.


"Hush jangan bicara seperti itu Bi, entar Mbak Nadia dengar lagi bibi bisa dapat marah nantinya," cegahnya Dewi.


"Seorang istri itu baiknya ini menurut bibi jangan cuma jago di kamar doang, dandan saja tapi istri harus serba bisa, bisa buat perut suami kenyang, pelayanan di ranjang juga bagus baru lah dinamakan istri sholeha yang mampu membahagiakan suaminya, insya Allah aku yakin suaminya tidak akan selingkuh, tapi kalo suami dapat istri hampir sempurna seperti itu, aku yakin suami tidak tahu diri yang seperti itu, entahlah dengan suaminya Bu Nadia apa juga akan setia dengan istri seperti itu atau malah Mbak Nadia tidak beruntung malah suaminya punya istri dua," ucapnya Bi Siti panjang lebar.


"Ish ish bibi itu sama saja bibi doakan mereka yang tidak baik, sudah ah enggak enak ngomongin orang di belakangnya," sanggahnya Dewi yang segera mempercepat pekerjaannya agar segera selesai.


Perbincangan keduanya berakhir karena terdengar sudah adzan magrib berkumandang di toa masjid menggema seantero komplek perumahan elit tersebut.


"Saya pamit pulang dulu ya mbak, makasih banyak atas masakannya, pasti anak-anakku akan lahap makannya," ujarnya bibi Siti yang berpamitan pulang dengan menenteng sebuah rantang makanan yang penuh dengan isi dari berbagai jenis masakan.


"Sama-sama bibi, tolong tanya mang Udin yah sebelum kalian pulang tolong dicek baik pagar, pintu jangan sampai ada kelupaan yang dikunci," pintanya Dewi


"Waalaikum salam, makasih banyak bi hati-hati yah!" Teriaknya Dewi karena Bibi Siti sudah menjauh.


Dewi bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah lengket akibat banyaknya keringat yang mengucur dari tubuhnya itu. Dewi juga melaksanakan shalat magrib sebelum waktunya habis.


Beberapa jam kemudian, Dewi yang sedang bersantai di dalam kamarnya masih kepikiran dengan orang-orang di kampungnya termasuk pekerjaan, keluarga dan temannya yang paling utama kondisi dari suaminya itu.


Apakah mereka sudah sadar jika saya tidak berada di kampung? Itu mungkin pasti mereka bertanya-tanya mencariku karena nomor hpku pasti tidak bisa dihubungi lagi oleh mereka.

__ADS_1


Dinar, bibi Husnah, Dian, Hayati saya merindukan kalian, andai saya mencatat nomor hp kalian di tempat lain pasti kejadiannya tidak seperti ini. Saya pasti masih bisa berkomunikasi dengan kalian, semoga saja kalian sehat selalu, insya Allah setelah bertemu dengan Abang Syam saya pasti akan balik ke kampung.


Tidak mungkin dalam hidup saya harus menjadi koki di sini, lebih nyaman di kampung sendiri hidup sederhana tapi, santai tanpa beban sambil menunggu setiap bulannya Abang pulang.


Lamunannya buyar seketika itu setelah mendengar beberapa kali bel berbunyi. Ia tersentak terkejut dari tempat duduknya di atas sofa ruang tamu dengan televisi masih terus menyala. Bukannya Dewi yang menonton televisi tapi, televisi yang memelototin Dewi yang melamun pikirannya melalang buana.


Siapa yah malam-malam begini datang bertamu? Sudah jam sebelas malam juga, astaghfirullah aladzim kenapa bisa aku begadang sampai jam segini biasanya saya sudah tertidur.


Dewi segera memakai sandal rumahannya dengan terburu-buru, ia lalu berjalan ke arah pintu depan dengan tergesa-gesa. Sesekali ia ngomel-ngomel karena, orang dibalik pintu itu sungguh tidak memiliki kesabaran ekstra.


"Siapa malam-malam begini membunyikan bel seperti orang yang kebelet pengen ke belakang saja, apa enggak nyadar jam segini sudah bukan waktu bertamu lagi! Apa mungkin kelaparan atau minta sumbangan," Ketusnya Dewi.


Dewi melupakan jika malam ini adalah kepulangan suami majikannya saking sibuknya dan cukup kelelahan setelah seharian beraktifitas di luar rumah dan di dapur.


Dewi menarik handle pintu berdaun dua itu dengan kekuatan penuh saking jengkelnya dengan sikap tidak sabaran orang yang menekan bel pintu tanpa henti-hentinya.


"Apa tidak bisa menunggu sebentar saja! Saya pasti akan membuka pintunya, heran apa semua orang yang datang ke rumah ini selalu seperti ini, tidak mau menunggu sedetik saja, tadi adiknya Mbak Nadia entah sekarang siapa lagi yang datang," kesalnya Dewi.


Ucapannya ketusnya terhenti ketika melihat punggung seseorang yang berdiri di depan pintu membelakanginya.


"Assalamualaikum Pak, maaf kalau boleh tahu Anda cari siapa dan apa anda lihat jam sekarang bukan saat yang tepat untuk bertamu!" Tanyanya Dewi yang bernada jengkel.

__ADS_1


Orang itu membalik tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan langsung, keduanya sama-sama terkejut melihat siapa orang dilihatnya di tengah malam buta.


__ADS_2