
Semoga saja tidak ada lagi pria tua bangka bangkotan menganggu ketenangannya Sanika Tanisha wanita pujaan hatiku.
Abyasa kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda ketika dipikirannya terlintas dalam benaknya wajah Tanisha yang tersenyum lembut padanya.
Perjalanan mereka cukup lancar untungnya siang hari itu kondisi jalanan tidak padat, sehingga memperlancar perjalanan mereka.
Shaira sesekali memperhatikan raut wajahnya Adelio. Seolah-olah dia menatap lekat wajah dari suaminya yang akan bepergian selama bertahun-tahun lamanya.
Abang Lio baru saja aku merasakan dicintai sepenuh hati diperhatikan dengan setulus jiwa dan ragamu bang, tapi hari ini seakan aku enggan mengijinkan kamu untuk pergi.
Adelio mengetahui apa yang terjadi pada istrinya itu, sehingga ia tersenyum melihat sikapnya Shaira yang tidak seperti biasanya yang lebih banyak diam, tapi tatapan mata dan raut wajahnya seperti menyimpan banyak asa dan rasa yang sulit untuk diungkapkan lewat untaian kata-kata.
"Sayang apa yang terjadi padamu kenapa kamu kebanyakan diam, apa kamu baik-baik saja atau kamu tidak sehat? Kita ke rumah sakit saja dulu," cercanya Adelio yang memberondong banyak pertanyaan-pertanyaan kepada istrinya itu.
Shaira bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya tapi, malah hanya tersenyum simpul saja seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja kok bang, entah kenapa aku tidak ingin berpisah dengan abang walau hanya beberapa bulan saja. Hati ini sangat sedih untuk mengijinkan Abang pergi jauh dari sisiku," imbuhnya Shaira.
Adelio bukannya sedih mendengar penuturan istrinya melainkan bahagia dan happy, karena dia sudah memastikan perasaannya sendiri tanpa terang-terangan.
Adelio mengelus puncak hijabnya Shaira yang berwarna peach blossom itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Insha Allah Abang akan segera kembali setelah perjalanan bisnisnya abang selesai juga Abang langsung balik tanpa berlama-lama di luar negeri, andaikan kamu bisa bareng dengan Abang pergi kita bisa honey moon tapi karena,ada beberapa acara penting yang harus kamu hadiri jadi bulan madu kita ditunda lagi," ujarnya Adelio yang segera membelokkan mobilnya ke arah kanan menuju parkiran bandara.
Mobil yang sedari tadi mengikuti jejak mobilnya menuju baseman parkiran khusus mobil pun berbelok arah. Yaitu mobil yang ditumpangi oleh Syamuel, Dewi, Bu Rina Amelia, Adisty. Sedangkan ketiga anak dan menantunya yang lain masing-masing sibuk dengan pekerjaannya yang tidak mungkin mereka tinggalkan sementara waktu.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ingin sekali ikut bareng abang ke luar negeri, tapi sayangnya ada acara penting harus aku ikuti di daerah Surabaya, jadi aku minta maaf yah bang, padahal pengen banget ke Paris Perancis kalau bisa keliling dunia boleh," sesalnya Shaira yang menyesal tidak bisa kali ini ikut dengan suaminya.
"Tidak apa-apa kok sayang, insha Allah kita masih punya banyak waktu bersama, mungkin perjalanan kali ini kau tidak bisa ikut gabung dengan abang insya Allah tahun depannya lagi, jadi kamu enggak perlu berkecil hati, yakin dan percayalah bahwa besok masih ada banyak waktu luang untuk bersama," tuturnya Adelio yang segera mematikan mesin mobilnya.
Hanya butuh beberapa menit saja penerbangan airline CT 5913 akan berangkat ke London UK Inggris. Rencananya disana Adelio akan menghabiskan waktunya untuk bekerja selama kurang lebih dua minggu. Selebihnya akan ke Inggris lagi selama sebulan lebih.
Shaira memeluk erat tubuhnya Adelio dengan erat, dia tidak ingin melepaskan pelukannya dipunggung suaminya itu.
"Bang Lio jangan lupa sesibuk apapun, shalat lima waktu,makan dan Istirahatnya jangan sampai terlupa, paling penting cepatlah Abang balik lagi ke Jakarta," harapnya Shaira.
Adelio pun membalas memeluk istrinya," insha Allah Abang akan melakukannya segalanya sesuai dengan yang kamu ajarkan pada Abang, seperti makan harus tepat waktu, jangan banyak begadang dan shalat ketika sudah masuk waktu shalat, Itukan yang paling penting," ucap Adelio yang selalu mengingat pesan dan nasehat istrinya itu.
Shaira tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Adelio itu yang seperti seorang anak kecil saja yang akan berpergian berkemah dengan guru-guru dan teman sekolahnya saja.
Bulir bening sudah berada diujung pelupuk matanya Shaira hingga hanya menunggu waktu saja cairan bening itu akan luruh juga.
"Doakan saja saya Papa, insha Allah saya akan balik ke Jakarta secepatnya, saya titip Sahira ya Pa,kalau nakal cubit saja," candanya Adelio yang berusaha mencairkan suasana melihat istrinya yang sudah terisak dalam tangisnya.
"Kamu fokus dengan pekerjaan kamu saja Nak, Adelio ada mama dan yang lainnya akan menjaga istrimu yang tercinta, kamu tidak perlu merisaukan masalah apapun di sini karena ada kami," timpalnya Dewi.
"Mas Adelio enggak akan pergi berperang di daerah Gaza Mbak Shaira, jadi selow dan perbanyak stok sabar dan ikhlas saja selama perpisahan kalian," guraunya Adisty Ulfa.
Semua orang tersenyum dan ada yang tertawa terbahak-bahak mendengar candaan dari Adisty, orang yang paling termuda dalam keluarga besar Samuel Abidzar Al-Ghifari.
Shaira tidak ingin melepaskan tangannya dari genggaman Adelio tepat di depan pintu keberangkatan. Dia sangat keberatan melepas kepergian suaminya itu. Dia juga tidak mau menghalangi kepergian suaminya. Hanya saja hatinya seakan tidak rela melepas kepergian Adelio.
__ADS_1
Adelio segera memeluk tubuhnya Shaira," abang pasti akan kembali lagi, kamu jangan sedih seperti ini jika kau seperti terus Abang bisa ketinggalan pesawat," bujuknya Adelio.
Dewi sedih melihat putri bungsunya itu,dia juga merasakan sesuatu yang janggal dan seperti akan berpisah selamanya saja.
"Dede Aira apa kamu ingin menggambar karir dan pekerjaan suamimu jika kamu bersikap seperti ini terus-menerus? Ingat ini adalah resiko kamu memiliki suami seorang pengusaha yang banyak cabang perusahaan-perusahaannya,mau tidak mau kamu harus terima Nak, tapi yakinlah dihatinya Adelio hanya ada Shaira Innira tidak akan ada perempuan lain lagi, Iya kan Nak Adelio apa yang Mama katakan," Dewi menasehati putrinya dengan dibarengi gurauannya.
Shaira pun segera melerai pelukannya itu,semua orang ikut hanyut dan terharu melihat kedua suami istri itu.
Ya Allah ikhlaskan hati ini dan sabarkan diri ini, memang sulit melihat kepergian suamiku. Bukannya aku takut karena adanya pihak ketiga ataupun wanita idaman lain,tapi entah kenapa hatiku sungguh merasakan kebimbangan dan ketakutan.
Astaughfirullahaladzim, maafkan aku ya Allah aku melupakan kodratku sebagai seorang istri. Aku telah berdosa karena terlalu berharap pada sesama manusia.
"Pergilah suamiku, aku akan sabar menunggu kepulanganmu," cicitnya Shaira yang melepas pegangan tangannya dari Adelio.
Neneknya Shaira pun memeluk tubuhnya Shaira yang bergetar hebat itu dan terisak dalam tangisannya itu.
Semua orang satu persatu menenangkan dirinya Shaira yang terlalu bersedih melepas kepergian suaminya itu menuju Inggris negri Ratu Elizabeth.
Semuanya pun balik ke rumah setelah pesawat yang ditumpangi oleh Adelio lepas landas dan bertolak ke Inggris London meninggalkan bandara internasional Soekarno Hatta.
Shaira menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu, dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Baru kali ini berpisah dengan seseorang dalam keadaan yang sangat sedih.
Sedangkan waktu dia putus dengan Hanzal Abdul apa yang dirasakannya dengan saat ini sangatlah berbeda jauh. Shaira meremas pakaian yang disekitar dadanya itu.
Ya Allah tenangkan hatiku ini dan semoga saja suamiku sampai dengan selamat di Inggris tanpa kekurangan apapun sama sekali.
__ADS_1