
Setelah perbincangannya selesai, Dewi segera menghubungi nomor ponselnya Bu Widyawati perempuan paruh baya asal Makassar itu akan menjadi sumber informasi yang akurat untuk melakukan lamaran adat suku Bugis Makassar.
Abyasa awalnya berada di dalam kamarnya, tapi seiring waktu dia melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya sambil terus berbincang dengan perempuan yang rencananya akan dipinangnya esok hari.
Sanika Tanisha yang penat berjam-jam menatap layar komputernya itu segera melepas kacamata bacanya. Dia pun memijit pangkal batang hidungnya yang terasa kram karena terlalu lama memakai kacamata. Tangan kanannya masih memegangi ponselnya yang masih menyala.
Tanisha sama sekali belum mengetahui jika dirinya akan dilamar besok, karena semenjak selesai diner dengan kedua adik dan bapaknya yang sudah perlahan bisa berjalan walau masih tertatih.
"Hem, Pak Adelio berkas yang bapak minta untuk dikerjakan aku sudah mengerjakannya sesuai dengan petunjuk dari bapak sendiri," imbuhnya Tanisha yang tidak tahu harus berbicara apa dan memulainya dari mana terlebih dahulu.
Suasana kembali menjadi canggung karena keduanya seperti segan untuk berbincang santai, sedangkan kebiasaan mereka adalah selalu berbicara formal mengenai masalah seputar pekerjaan saja. Untuk berbincang-bincang santai sangat jarang mereka lakukan, bahkan terbilang itu bisa dihitung jari percakapan santai mereka.
"Maaf aku menelpon kamu bukan untuk menanyakan perihal pekerjaan, tapi aku menelpon kamu untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting!" Tegasnya Abiyasa.
Tanisha bergidik ngeri mendengar perkataan dari Abyasa yang seperti biasanya mode dan cara bicaranya terkesan kaku, disiplin, tegas dan dingin. Apalagi volume suaranya Abyasa cukup tinggi ketika berbicara.
Apa yang terjadi padanya? Tadi berbicara cukup formal saya dan kau, sekarang langsung berubah. Apa pria ini lagi pms yah sampai-sampai moodnya dalam sekejap mata langsung berubah drastis.
Tanisha menggeser posisi duduknya ke arah belakang hingga punggungnya bersandar ke headboard ranjangnya itu dengan tangannya masih setia memegangi hpnya yang masih tersambung dengan telpon atasannya.
Suasana nampak tenang dan hening, hanya suara dentingan jarum jam dan suara cicak yang mampu memeriahkan suasana di antara keduanya.
Tanisha sesekali mengecek layar ponselnya dengan menatap dengan teliti layar ponselnya itu. Ia mengira jika telponnya sudah terputus karena sudah tidak ada suara orang yang berbicara dari seberang telpon, hanya suara deru nafas seseorang yang terdengar hingga ke indera pendengarannya itu.
Tanisha tidak ingin memecahkan kecanggungan yang terjadi diantara keduanya ataupun mulai membuka percakapan lagi yang terjeda beberapa waktu.
"Aku ingin melamar kamu," ucapnya singkat Abiyasa.
Dag.. Dig.. Dug… Deerr..
Dugh…
Prang!!
__ADS_1
Tanisha reflek melepaskan pegangan tangannya pada benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Dia cukup kaget dengan apa yang dikatakan oleh Abyasa.
Tanisha segera memunguti gawainya yang terlepas dari dalam genggaman tangannya itu. Ia sangat kaget, ia juga tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Hingga suara tawa terbahak-bahaknya terdengar jelas dari bibir mungilnya Tanisha.
"Hahaha! Ya Allah Pak Abya apa bapak belum makan atau mungkin sedang bermimpi sampai-sampai mengatakan hal-hal lelucon seperti ini," sanggahnya Tanisha yang berusaha menahan tawanya yang sudah keceplosan menertawai atasannya itu.
Abyasa mengusap wajahnya dengan gusar mendengar tawanya Tanisha,ia tidak menyangka jika respon yang diberikan oleh Tanisha akan seperti ini.
"Apa kata-kataku sangat lucu yah? Sehingga kamu tertawa terbahak-bahak mendengarnya," ketusnya Abyasa.
Tanisha memegangi perutnya yang mulai keram karena terlalu lama tertawa. Dia pun berusaha untuk menetralkan perasaannya yang masih kesusahan menahan kelucuan yang dialaminya itu.
Tanisha reflek terdiam mendengar perkataan dari Abyasa, sosok pria yang dicintainya setelah Sang Pemilik jiwa dan raganya yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Aku sudah berusaha untuk memberanikan diriku ini untuk menyampaikan niat baikku, dan insha Allah rencananya besok siang papa mama dan keluargaku yang lain juga akan hadir di rumahmu, bahkan Mama Dewi sudah menyiapkan segala sesuatunya keperluan seperti barang-barang seserahan lamaran," ungkapnya Abyasa yang sudah menyerah dan pesimis terhadap sikap perempuan yang bernama Sanika Tanisha Hermansyah itu.
Tanisha mendengarkan dengan seksama dan menghayati apa saja yang disampaikan oleh Abyaza.
"Mak-sudnya bapak melamarku gitu?" Tanyanya Tanisha yang ingin memastikan apa dia hanya salah dengar saja ataukah memang kenyataannya seperti itu.
Tanisha kembali tercengang hingga mulutnya menganga lebar membentuk huruf o besar.
"Oh," Tanisha hanya beroh ria saja yang masih tidak ingin mempercayai hal yang sedari dulu ditunggu-tunggunya itu.
Ya Allah apa aku harus bahagia dengan permintaan dari pak Abyasa. Semua ini sungguh terlalu cepat, tapi aku tidak menyangkal jika sejak awal aku melihatnya, harapan dan angan-angan aku itu untuk menjadi pendamping hidupnya pak Abyasa.
Ini sungguh diluar dugaan dan ekspetasiku, aku sangat bahagia ya Allah mendengar jika Abyasa akan melamar ku esok hari.
Air matanya Tanisha reflek jatuh membasahi pipinya itu, saking bahagianya dan terkejutnya dengan lamaran dadakan sedangkan mereka bukan lah pasangan kekasih seperti kebanyakan orang di luar sana.
Ia buru-buru menyekanya dan menetralkan perasaan keterkejutannya itu dan bersikap seperti tidak terjadi sesuatu padanya. Tanisha memangku bantal bobanya yang berwarna pink itu. Sesekali dia membuang nafasnya dalam-dalam saking gelisah, grogi dan nerves berbicara dengan atasannya melalui telpon seluler.
"Tapi, Pak kita ini bukan sepasang kekasih malah status kita adalah hanya sekedar atasan dan bawahan sedangkan saya ini hanya wanita biasa dan tidak pantas menjadi istrinya bapak," ucapnya sendu Tanisha.
__ADS_1
Abyasa awalnya duduk sekarang sudah berdiri dari duduknya dan bersandar ke besi pagar balkonnya itu.
"Tidak ada tapi-tapian, saya hanya ingin mendengar perkataan dan jawaban kamu itu saja! Aku tidak peduli dengan status kamu itu, ataukah bebet bibit dan bobot seperti patokan sering orang lain katakan, bagiku aku sangat mencintaimu dan karena itulah aku berniat untuk menjadikan kamu teman hidupku, teman berbagi suka maupun dukaku hingga ajal menjemput," jelasnya Abyasa yang akhirnya berani juga mengutarakan isi hatinya secara gamblang.
Tanisha yang mendengar perkataan dari pria yang diam-diam dicintainya setulus hatinya membuatnya sangat bahagia dan terharu. Air matanya pun menetes membasahi pipinya itu.
Dalam hatinya ia ingin bersorak saking bahagianya mendengar perkataan dari orang yang dicintainya itu.
Abiyasa mengerutkan keningnya karena tidak ada respon atau balasan yang dia dapatkan dari seberang telpon.
"Cha bagaimana apa kamu bersedia menjadi istriku dan menerima lamarannku ini?" tanyanya Abyasa yang tidak sabar ingin mendengar perkataan jawaban dari Tanisha langsung.
Abyasa berkecil hati karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan dan harapkan. ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu antusias dan eksaitik jika lamarannya akan berjalan mulus dan lancar seperti yang dia harapkan sebelumnya.
Abyasa menyugar rambutnya dengan kasar, "Maafkan saya karena sudah lancang untuk meminta kau menjadi istriku, tidak apa-apa kok tidak perlu dijawab, apalagi kamu itu pasti memiliki alasan khusus sehingga enggan untuk menerima lamaranku," ujarnya Abyasa yang berusaha untuk tegar.
Tanisha menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan cukup pelan pula.
"insya Allah saya bersedia menikah denganmu dan menjadi calon ibu dari anak-anak kamu kelak hingga ke Jannah Nya Allah SWT," ucap Tanisha dengan sekali tarikan nafas.
Abyasa yang sudah lesu, lemah,loyo dan lunglai reflek menyunggingkan senyumannya itu dibalik telpon seolah-olah Tanisha melihat senyumannya tersebut.
Abiyasa bernafas lega karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cintanya mendapatkan balasan yang pantas dari perempuan cantik yang tidak memakai hijab itu.
"Seriusan kamu menerima aku menjadi suamimu!?" tanyanya Abyasa yang tidak sabaran lagi.
Andaikan Tanisha berada di depannya pasti akan berteriak histeris dan memeluk tubuhnya Tanisha dengan eratnya. Untungnya mereka berjauhan sehingga hanya mereka sendiri yang melihat apa yang dilakukan oleh tubuh mereka atas kebahagiaan yang terlalu besar dalam hidupnya.
Tanisha tersipu malu mendengar perkataan terakhirnya Abyasa yang menyebut namanya sebagai sayangnya.
"Iya Bang Abyasa Akhtam Al-fattah aku mau menjadi istrimu sayangku," balasnya Tanisha yang kedua pipinya sudah bersemu merah dan kepanasan karena terlalu gembira
"Yes!! Alhamdulillah makasih banyak sayang kamu bersedia menikah denganku," tutur Abyasa yang kegembiraannya membuncah di dadanya itu.
__ADS_1
Tanisha menyentuh kedua sisi pipinya yang sudah pasti kelihatan merahnya.