
Tibalah gilirannya Dewi, Nadia bukannya pergi ke apotek bersama Afiq tapi,malah berdiam diri di dalam ruangan itu untuk melihat Dewi diperiksa.
Dokter menatap ke arah Dewi," suster panggil pasien selanjutnya!" Perintahnya Bu dokter Putri Utami.
"Pasiennya sudah ada di dalam ruangan dokter, dia ibu Dewi Kinanti Mirasih yang mendapatkan giliran setelah Bu Nadia," balasnya bidan tersebut.
Dokter hanya terkekeh mendengar perkataan dari bidan asistennya itu," kalau gitu silahkan duduk Bu Dewi, untuk Bu Nadia boleh keluar dulu," pintanya Bu dokter.
"Maaf Dok, saya adalah saudarinya yang menemani ke sini jadi apa saya boleh mendampinginya di dalam sini saja?" Harapnya Nadia.
"Kalau begitu silahkan duduk, Anda bisa menemani Bu Dewi," balas Dokter Putri.
Dewi sudah berbaring di atas ranjang bangkar rumah sakit. Dokter sudah mengoleskan jel ke atas perutnya Dewi yang semakin membuncit saja dibandingkan dengan perutnya Nadia yang kelihatan kecil diusia kehamilannya sudah masuk enam bulan itu trisemester kedua.
"Bu Dewi coba ibu perhatikan ke layar, Alhamdulillah ternyata baby-nya kembar kalau dilihat dari sini insya Allah jenis kelaminnya cowok kalau yang satunya ngumpet mungkin malu-malu dilihatin orang," Ungkap Dokter Putri Utami.
Nadia yang mendengar perkataan dari dokter segera mendekat ke arah Dewi sambil mengamati dengan seksama layar komputer.
"Syukur Alhamdulillah kalau anakku kembar dokter, tapi bagaimana dengan kondisi keduanya dokte?" tanyanya lagi Dewi yang cukup penasaran dengan kondisi kedua calon baby kembarnya itu.
Dokter Utami menatap ke arah Dewi dan Nadia secara bergantian setelah menyadari jika Nadia Yulianti ada bersama mereka.
"Alhamdulillah Ibu Dewi tidak perlu khawatir dan merisaukan segalanya, semuanya yang saya amati disini semuanya normal dan sesuai dengan usia kehamilannya ibu yang jalan enam bulan, bayinya kuat, sehat, ukuran dan air ketubannya Jung normal semuanya, walaupun jenis kelaminnya yaitu satunya belum kita ketahui tapi,yang lainnya bagus dan sehat semuanya," jelasnya Bu dokter.
Dewi yang mendengar perkataan dari dokter Utami sangat bahagia, karena anaknya akan lahir kembar kedunia ini jika tidak ada halangan. Seperti adiknya Dinar dan Dinda sayangnya Dinda sakit disaat berusia tiga tahun dan meninggal dunia. Seperti bibinya juga yang terlahir kembar di dalam keluarga bapaknya Dewi.
Kenapa kedua anaknya dan Dewi baik-baik saja padahal dia hanya pembantu dan banyak bekerja juga kurang istirahat tapi kondisi kesehatan kedua bayinya normal dan sehat saja. Sedangkan aku yang makan makanan sehat dan bergizi, tidur dan istirahat cukup, tidak bekerja apapun di rumah tapi anakku malah tumbuh kembangnya tidak baik.
Sial! Apa memang dia terlahir kedunia ini akan selalu mengungguliku,kalau seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,apa aku usir saja dari rumahku, tapi gimana caranya sedangkan Mas Syam suka cara kerjanya Dewi, aku harus mencari cara yang tepat agar dia tidak kembali lagi ke dalam kehidupanku yang damai dan bahagia ini.
__ADS_1
Abang Syam pasti akan bahagia mendengar kabar baik ini, apa saya hubungi abang secepatnya kalau saya balik nanti. Pasti Abang sangat bahagia mendapatkan anak laki-laki.
Aku yang mati-matian pengen anak laki-laki kenapa malah dia yang memiliki anak kembar laki-laki lagi, apalagi papa dan mamanya Mas Syam sangat menginginkan cucu laki-laki. Kalau masalah Mas Syam sih tidak masalah mengenai jenis kelamin calon anaknya.
Nadia mengeratkan genggaman tangannya itu sambil menatap jengah ke arah Dewi yang selalu tersenyum sumringah bahagia mendengar perkataan dari dokter tersebut.
Dewi nampak bahagia sedangkan Mbak Nadia sejak tadi wajahnya selalu ditekuk dan terkadang murung, juga kesal kalau aku perhatikan dan tidak enak dipandang mata. apa yang terjadi padanya, apa jangan-jangan gara-gara kabar yang mengatakan Mbak Dewi hamil anak cowok sedangkan dia perempuan mengingat Bu Dahlia ibunya Abang Sam menginginkan anak cowok sehingga Ia bersikap seperti ini yah, semoga saja kedepannya kehidupan keduanya aman,tenang dan akur satu sama lainnya. Tetapi, kalau Mbak Nadia berulah dan bertingkah yang macam-macam, sebaiknya aku jalankan saja rencanaku sebelumnya.
Sekitar sepuluh hari kemudian, Nadia yang hendak bepergian ke arisan teman sosialitanya. Ia berteriak kencang dan histeris di dalam kamarnya.
prang!!
bruk!!
Suara dari barang-barang yang dilemparkannya di sembarang arah. Dewi yang kebetulan sedang shalat duha pagi itu segera menyelesaikan shalatnya dengan terburu-buru.
Ya Allah apa yang terjadi dengan Mbak Nadia, kenapa ribut banget dari arah kamarnya?
"Bibi Siti!! Mang Udin!! Dewi Kinanti Mirasih!" teriak Nadia dengan suara menggema di depan ambang pintu kamar pribadinya itu.
Ketiga orang itu segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah kamarnya Nadia, Dewi walaupun sedikit kesusahan untuk bergerak cepat, leluasa untuk bergerak tapi ia segera mempercepat langkahnya itu menuju kamarnya Nadia Yualinti.
"Ada apa Nyonya besar,apa yang terjadi?" tanyanya bi Siti dengan nafasnya yang ngos-ngosan sambil berusaha untuk berdiri tegap saking capeknya berlari dari lantai dasar ke lantai dua rumah bertingkat itu.
"Iya Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?" tanyanya Mang Udin suaminya Bibi Siti.
Dewi hanya terdiam saja sambil memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh mereka karena ia cukup kelelahan.
Nadia menatap dengan tajam dan penuh amarah ke tiga orang yang dianggap asisten rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Katakan padaku siapa yang terakhir masuk ke dalam kamarku pagi ini?" tanyanya Nadia dengan volume suara yang cukup tinggi itu.
Matanya memerah menahan amarahnya yang sudah bergejolak di dalam dadanya hingga naik ke ubun-ubunnya itu.
Ketiganya saling bertatapan satu sama lainnya dan terakhir kalinya menatap ke arah Dewi.
"Tadi pagi saya lihat Dewi yang keluar dari kamarnya Nyonya ketika saya baru sampai di sini," jawabnya Bu Siti dengan takut.
"Apa kamu enggak salah lihat Bi Siti, mungkin saja itu bukan Dewi," sanggahnya Afiq yang tadi tidak berniat melihat kejadian tersebut tapi, ia kepo ingin melihat kemarahan kakak sambungnya itu.
"Kamu bukan siapa-siapa di sini jadi aku minta padamu untuk diam jangan ikut campur, karena kalung dan gelang yang dibelikan oleh Mas Samuel belum sebulan aku pakai hilang di dalam kotak perhiasan ku! jadi aku mencari kemana-mana tapi aku sama sekali tidak menemukannya barang milik aku itu!" kesal Nadia.
Afiq malah semakin menyukai apa yang dilakukan oleh Nadia. ia tersenyum bahagia melihat sikapnya Nadia itu.
"Tidak mungkin perhiasanku itu pindah tempat atau menghilang begitu saja,jika tidak ada orang yang mengambilnya, jadi sebelum aku melapor polisi aku minta kepada kalian semua yang mengambil perhiasanku itu aku mohon jujur saja!" ujarnya Nadia.
"Saya tidak mungkin yang mengambil emas Anda Nyonya masuk ke sini saja ini pertama kalinya, saya dan istriku berani bersumpah atas kejujuran kami Nyonya Nadia," tuturnya Mang Udin yang mulai ketakutan bukan karena bersalah ta-pi melihat amarahnya Nadia takut dipecat lagi.
"Iya Nyonya , saya juga berani sumpah apapun kalau bukan saya mencuri barang miliknya Nyonya,kalau perlu geledah dan periksa kami Nyonya agar Nyonya bisa percaya dengan apa yang kami katakan," usulnya Bu Siti lagi.
"Itu ide bagus juga, karena aku yakin pelakunya ada diantara kita ini, aku yakin dengan sangat!" ketusnya Nadia sembari menatap Dewi dengan tatapan mencemooh.
Mereka pun mulai mencari di dalam kamarnya Nadia terlebih dahulu, tapi hasilnya nihil. Kamarnya Narendra Afiq kedua, kamarnya Bu Siti dan Mang Udin pun sudah diperiksa dengan teliti dan seksama.
"Giliran kamarnya Dewi, mang Udin cepat masuk dan bongkar semuanya sampai kalian menemukan perhiasanku yang mahal itu, karena aku yakin jika dia yang mengambilnya apa lagi tadi pagi bi Siti ngomong kalau melihat Dewi keluar dari kamarku!"
"Silahkan saja diperiksa lagian emang saya masuk tadi pagi tapi hanya di depan pintu saja belum sempat masuk kok, saya bukan pencuri atau maling yang mengambil milik wanita yang sudah membantuku selama ini," sanggahnya Dewi yang entengnya mengatakan hal kebenaran.
Afiq,Mamang Udin, Bibi Siti sudah mencari keberadaan perhiasan emas itu. Hingga Mang Udin menemukan sebuah kotak buludru berwarna merah di bawah kasurnya Dewi.
__ADS_1
"Nyonya Nadia apa ini yang mungkin Anda cari?" tanyanya mang Udin seraya mengarahkan benda itu ke depannya Nadia.