Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 98.


__ADS_3

Kedua gadis beda usia itu berjalan beriringan menuju ke salah satu kafe yang menyediakan berbagai macam varian ice cream sesuai permintaan anak kecil itu.


"Aunty penen matan es krim juga?" Tanyanya gadis kecil berusia kira-kira empat tahun itu.


"Pengen sih makan, tapi aunty lagi puasa dek, hari ini hari kamis jadi aunty puasa," tolaknya Shaira dengan lembut.


Anak kecil berkepang dua itu menatap keheranan ke arah Shaira," apa itu puaca?" Tanyanya sambil menautkan kedua alisnya.


Shaira bukannya menjawab pertanyaan dari anak kecil itu malah memikirkan segala hal masalah mengenai latar belakang adat dan budaya termasuk kepercayaannya,dia tidak ingin menyinggung masalah yang lebih sensitif.


"Ya Allah apa anak ini bukan muslim, tapi itu wajar saja terjadi ini kan Inggris yang mayoritas non muslim pasti mereka akan minim pengetahuan dan pengalaman tentang puasa dan kebiasaan kami umat muslim,"


Anak kecil itu menatap intens ke arah Shaira yang terdiam sesaat," aunty baik-baik caja kan? Kok diam?" Tanyanya anak itu lagi.


"Aunty akan jelaskan apa itu puasa tapi, kita duduk disana dulu yah aunty capek soalnya," ucapnya Syaira sambil menunjuk ke arah salah satu kursi di sudut ruangan cafe yang mereka datangi tersebut.


"Ciap aunty cantik," ucap anak kecil itu sembari menaikkan jempol kirinya karena tangan kanannya dipegang oleh Shaira.


Berselang beberapa menit kemudian, Shaira membantu mendudukkan anak itu ke atas kursi khusus anak-anak dengan hati-hati.


"Ngomong-ngomong namamu siapa adek? Terus manggilnya tidak usah sebut aku aunty yah, sapa saja dengan kakak Aira saja soalnya kakak belum tua banget untuk dipanggil dengan sebutan aunty soalnya," jelasnya Shaira sembari terkekeh merasa lucu dengan apa yang dilakukannya sendiri.


Anak itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan paham dengan apa yang dikatakan oleh Shaira, "Kakak Aila," ujarnya Anak itu.


"Bukan Aila tapi Aira yah ingat Aira jadi besok-besok panggil kakak Aira kalau kita berjumpa lagi," pintanya Shaira kemudian mengangkat tangannya ke arah salah satu pramusaji di dalam cafe itu.


"Kalau kamu namanya siapa dek? Dari tadi kakak belum tau loh namamu," imbuhnya Shaira lagi yang sesekali mengarahkan pandangannya ke arah pelayan kafe.


"Brianna Adeline Smith," jawabnya Brianna.


"Ohh Masya Allah nama yang sungguh cantik seperti pemilik namanya yang juga rupawan," pujinya Shaira.


Brianna Adeline Smith yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataannya Shaira terdiam sembari mengeja kata tersebut.

__ADS_1


"Maca Allah, apa altinya kakak?" Ujarnya Brianna yang bertanya kepada Shaira.


Tapi ucapannya Shaira tidak terucapkan karena bersamaan dengan datangnya pelayan yang sudah berdiri di hadapan keduanya. Berselang beberapa menit kemudian, pesanan es krim keduanya sudah sampai bersamaan dengan hpnya Syaira yang berdering.


"Kakak angkat telpon dulu yah," ucapnya Shaira yang meminta ijin kepada Bria.


Brianna Adeline hanya menganggukkan kepalanya sambil menyantap es krimnya itu yang rasa rasa strawberry vanila.


"Assalamualaikum," salamnya Shaira.


"Waalaikum salam Dede kamu sekarang ada di mana?" Tanyanya orang yang menelponnya dari seberang telpon.


"Saya lagi di salah satu kafe dekat kampus nih bang, kenapa emang?" Tanyanya balik Shaira.


"Kebetulan Abang juga ada di sekitar kampus kamu nih,sharelock Abang akan kesana," tuturnya Hanzal Abdul Djailani.


"Tunggu yah bang Aira akan kirim alamatnya segera," imbuhnya Shaira yang raut wajahnya langsung seketika berubah menjadi semakin bahagia karena kekasihnya akan menemuinya segera di tempat itu.


"Maaf agak lama, macet soalnya," ujarnya Hanz sambil duduk tepat di samping Bria yang menikmati semangkuk besar es krimnya.


"Tidak apa-apa kok Bang, lagian ada adek juga ditemani oleh adik cantik, imut dan menggemaskan ini," jelasnya Shaira yang raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan hingga matanya berbinar binar bening seperti berlian.


Hanz segera mengalihkan pandangannya ke arah mengikuti jari tangannya Shaira. Hans hanya menautkan kedua alisnya karena penasaran dengan anak kecil tersebut.


"Siapa dek?" Tanya Hanz.


"Entah siapa anak ini yang jelasnya bukan anakku dan kedua anak ini sepertinya tersesat dan kehilangan jejak kedua orang tuanya,tapi aku sudah nitip pesan kepada petugas yang berjaga di depan barangkali ada yang merasa kehilangan anak hubungi nomor hpku," ungkapnya Shaira sambil mengacungkan ponselnya itu.


"Oh gitu, semoga saja segera ditemukan, kasihan kamunya jika harus seharian menemaninya," tukasnya Hans yang seperti enggan dan menyukai apa yang dilakukan oleh Saira yang hanya sekedar teman karena keduanya belum ada yang berani menyatakan cinta,tapi gestur tubuh mereka memperlihatkan jika mereka saling mencintai dan menyayangi.


"Abang kapan balik ke kota Birmingham,? Semoga saja agak lama disini," harapnya Shaira.


Hanz langsung menoel hidungnya Shaira sambil tersenyum lebar," haha maunya kamu dan Abang juga memang pengennya berlama-lama tapi, sayang banget Abang harus balik sore ini juga," ungkap Hanz yang merasa sedih harus secepatnya balik ke kota asal dia menempuh pendidikannya.

__ADS_1


Memang keduanya berbeda jurusan, kampus dan juga kota tempat tinggal keduanya. Shaira menetap di pusat kota Inggris yaitu London bersama dengan kedua kakaknya sedangkan Hanzal di Birmingham city.


"Berarti Abang akan pulang lagi dong kalau gitu," cicitnya Shaira yang mimik wajahnya bahagia, tapi langsung berubah drastis seketika itu ketika Hanz mengatakan akan balik sore itu.


"Maafkanlah Abang yah, insha Allah kalau ada waktu senggang Abang akan ke sini lagi, tapi ngomong-ngomong adik sepupumu ternyata kuliah bareng aku loh dek," tuturnya Hans.


"Adik sepupu!" Beonya Shaira yang mengerutkan keningnya itu.


"Masa sih adik sepupu kau enggak kenal," tukasnya Hans lagi.


"Bang saya punya adik sepupu dan kakak sepupu juga banyak ada di Jakarta ada di desa, jadi yang mana katakan saja tidak usah repot-repot main tebak-tebakan segala," gerutunya Syaira lagi seraya memonyongkan bibirnya yang membuatnya lucu dilihatnya oleh Hans.


"Haha kamu lucu banget malah kalau seperti ini,bibir monyong ini aku pengen Ihs gemesin banget deh," ucap Hans sambil menarik bibir monyongnya Shaira.


Shaira segera mengindar karena baginya itu tidak pantas untuk dilakukan oleh Hans mengingat mereka bukan saudara kandung dan bukan mahram. Hingga kedatangan seseorang gadis muda yang cantik memakai pakaian yang cukup seksi dibandingkan dengan pakaiannya Shaira yang tertutup hijab tapi sangat modis.


"Ariella," beo Shaira.


"Hey Mbak Aira, akhirnya setelah hampir tiga bulan aku di Inggris bisa juga bertemu dengan Mbak Aira, ini nih salahnya Abang Hanz yang tidak ingin menemani saya untuk bertemu dengan Mbak," ucapnya penuh dengan nada manja sambil memeluk lengannya Hans.


Sedangkan Hans sama sekali tidak risih melakukan hal tersebut langsung di depan matanya Shaira. Ariella Ziudith Irwansyah tersenyum penuh arti menatap Shaira yang merasa janggal memperhatikan interaksi keduanya itu.


"Hari ini Shaira Innira Samuel Abidzar kamu akan melihat kedekatanku dengan pria yang katanya sangat sayang sama kamu dan setia, tapi tidak lama lagi Hansal akan bertekuk lutut dihadapanku, tunggu lah waktunya, ini hanya baru permulaan saja,"


Hans segera melerai pegangan tangannya Ariella setelah melihat raut wajahnya Shaira yang sedih dan kecewa itu.


"Aira kami pamit pulang dulu yah, insha Allah Abang akan kabari kamu lagi jika Abang ada waktu luang, kamu jaga dirimu baik-baik, assalamualaikum," pamitnya Hans.


"Waalaikum salam," lirihnya Shaira.


Brianna Adeline sama sekali tidak terusik dengan percakapan yang dilakukan oleh ketiga orang dewasa yang berdiri di depannya. ia tetap nyaman santai menikmati es krimnya tersebut.


"Ya Allah kenapa feelingku tidak enak melihat kedekatan keduanya, astaughfirullahaladzim semoga saja hanya aku yang terlalu sensitif,"

__ADS_1


__ADS_2