Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 194


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, kehadiran Tanisha di rumah itu sama sekali tidak dipermasalahkan oleh siapapun. Adelio dan Arion pulang pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan masing-masing.


Dewi Kinanti dan Syamuel Abidzar sangat bahagia melihat hubungan pernikahan ketiga putra putrinya yang selalu saja tenang,adem ayem. Kondisi kesehatannya Arabela Aqila dan Ariela Ziudith pun sudah berangsur membaik.


Mereka sudah kembali ke rumahnya Dina sedangkan rumah papanya dibiarkan kosong saja. Sedangkan Irwansyah masih bebas berkeliaran di luar sana, padahal seluruh anak buah terbaiknya Arion dan Adelio serta pihak kepolisian sudah saling bekerja sama, tapi hasilnya tetap nihil tanpa jejak.


Bagaikan ditelan bumi hingga jejaknya sama sekali tidak terendus oleh hukum apapun. Dina bersyukur karena hak asuhnya ketiga anaknya sudah berada di tangannya.


Hubungan ketiga pasutri itu semakin lengket saja. Tapi, sampai detik ini belum ada tanda-tanda akan hadirnya cucu di tengah-tengah pernikahan keempat kembar itu. Hanya Vela Angelina dan Amar Alfarizi yang menantikan kehadiran anak pertamanya yang sudah berusia tiga bulan itu.


Shaira yang baru saja mandi duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambutnya yang cukup panjang lurus hitam legam. Sedangkan Adelio masih seperti biasanya duduk di depan laptopnya yang selalu saja sibuk dengan pekerjaannya itu.


"Shaira mungkin besok Abang akan ke Inggris setelah dari Inggris Abang akan ke Paris Perancis, kamu enggak apa-apa kan Abang tinggal beberapa minggu di Jakarta?" Tanyanya Adelio yang menghentikan aktifitasnya itu.


Shaira menatap pantulan tubuh suaminya melalui cermin," kalau itu yang terbaik untuk Abang dan wajib Abang datang, sikalahkan saja Abang, aku sama sekali tidak keberatan kok, aku hanya minta padamu…" ucapannya Shaira terpotong karena segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja kerjanya Adelio.


Adelio menatap intens ke arah istrinya itu dengan tatapan yang mendamba apalagi mengingat Shaira hanya memakai pakaian baju kimono mandinya saja sore itu.


Shaira kemudian duduk di atas pangkuannya Adelio suaminya itu, dia memainkan dada bidangnya Adelio yang tertutupi pakaian baju kaos oblongnya berwarna hitam itu.


Shaira tersenyum simpul dengan terus jari-jarinya menari-nari di dada sispack nya Adelio, "Yang paling penting suamiku Adelio Arsene Smith selalu menjaga hatinya Abang untukku selalu untukku tidak boleh ada kesempatan untuk perempuan lain memasukinya," ujarnya Shaira.


Adelio tersenyum sumringah menanggapi perkataannya dari istri kecilnya, Adelio mengecup punggung tangannya Shaira dalam pangkuannya.


"Masalah itu tidak perlu kamu ragukan sayangku, karena tanpa kamu meminta dan mengatakannya abang selalu pastikan jika hatiku tulus untukmu dan selamanya hanya kamu yang berhak atas segala-galanya yang ada pada diriku selamanya dan semuanya tanpa terkecuali," imbuhnya Adelio yang mulai memutar-mutar ujung anak rambutnya Syaira.


Shaira tersenyum manis semanis gulali tanpa pemanis buatan itu tanpa aba-aba langsung mengecup bibir seksinya Adelio yang tidak pernah bersentuhan dengan rokok. Berbeda halnya dengan Arion Sneider yang terkadang merokok jika sedang banyak pikiran.


Adelio tersenyum smirk melihat senyumannya Shaira, Adelio mengendus wangi aroma sabun dan sampo yang masih tercium ditubuhnya Shaira.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik sayang, sampai-sampai aku menginginkan dirimu sore ini lagi dan lagi," cicitnya Adelio tepat di telinganya Shaira.


Hingga hembusan nafasnya Adelio serasa menggelitik di telinganya Shaira. Adelio melingkarkan tangannya ke pinggang slimnya Shaira dengan penuh posesif.


Shaira mengalungkan tangannya ke leher jenjangnya Adelio," kamu berhak melakukan apapun padaku karena kamu adalah kekasih halal ku, kenapa meski meminta ijin, bukannya Abang itu satu-satunya suamiku jadi kalau ingin itu silahkan saja, lampu hijau selalu menyala dan mengijinkan Abang untuk melakukan kewajiban dan haknya Abang," Lirihnya Shaira yang tersenyum tipis.


Adelio pun tersenyum lebar karena mendapatkan ijin dari istrinya sendiri, Adelio mulai mee luuu maat bibirnya Sahira yang selalu menjadi candu dan tempat paling ternyaman untuknya.


Adelio dengan rakusnya mengekplorasi daerah sempit itu dan seolah mengabsen satu persatu anggota mulutnya Shaira. Dia menekan tengkuk lehernya Shaira dengan pelan untuk memudahkannya memperdalam ciumannya itu.


Shaira sudah cukup mampu dan lihai mengimbangi permainan suaminya itu. Satu bulan ini cukup membuatnya terbiasa dan terlatih untuk melayani suaminya di atas ranjangnya.


Mereka menghentikan kegiatannya, mengingat nafas mereka yang ngos-ngosan dan tersengal-sengal seolah saling berebut pasokan udara di dalam ruangan itu. Adelio menyeka ujung bibirnya Shaira yang terdapat sisa saliva mereka.


"Aku sangat bahagia istriku aku berharap dengan hubungan kita hari ini aku bisa mendapatkan calon penerus keluarga besar Smith," cicit Adelio kemudian menggendong tubuhnya Shaira ala bridal style.


"Amin ya rabbal alamin, aku juga bang pengen banget secepatnya hamil dan melahirkan anak-anaknya Abang, pasti rumahnya mama bakal ramai dengan suara tangisan bayi kita ini dan akan berkejar-kejaran bersama dengan sepupunya yang lain," tuturnya Shaira yang sudah memimpikan hal itu.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga saja istriku segera hamil kalau bisa calon anak kami kembar, aku sangat berharap akan hal itu padaMu ya Allah,"


Adelio pun mulai memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami sore itu. Dia seperti mengambil jatah untuk beberapa bulan kedepannya. Hingga seperti dia orang yang tidak puas sekali, dua kali bahkan banyak kali dia menyemburkan cairan lava panas di dalam dinding rahimnya Shaira.


"Hemmph!! Abang aahh!" Shaira mencengkeram kuat rambutnya Adelio ketika Adelio menggoyang tubuhnya untuk merasakan kebahagiaan duniawi.


Adelio seperti tidak merasakan kelelahan sama sekali bahkan dia memanjakan istrinya dengan penuh kelembutan sore hari menjelang magrib itu.


Keduanya saling membahagiakan satu sama lainnya hingga tidak ada yang ingin berhenti saling mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang mereka.


Adelio naik turun di atas tubuh pol*s istrinya itu yang menggelinjang kegelian akibat ulahnya Adelio. Shaira sesekali menggenggam kuat badcover bergantian dengan sepreinya yang berwarna merah itu. Ia juga terkadang menggigit bibir bawahnya saking nikm*tnya yang dia rasakan.

__ADS_1


Keduanya bergantian saling memacu diri sendiri, hingga lenguhan kecil meluncur dari sudut bibir keduanya itu yang mampu menggetarkan hati keduanya. Dee saa haann dan suara nafas yang memburu terdengar jelas di dalam kamar tersebut.


"Aah sayang, Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari kamu sangat cantik sayang kamu sungguh mampu membuatku terbang tinggi melayang hingga ke langit tertinggi di dunia ini," Adelio mee reee maass dua buah puncak mount Everest itu


Racaunya Adelio ketika jari jemarinya Shaira memainkan tiang bendera yang masih berkibar di angkasa raya.


"Aku janji akan buat abang hari ini tidak akan pernah bisa melupakannya selama hidupnya Adelio Arsene Smith, aku akan membuat abang tidak bisa berkutik dibawahku, aku akan mendominasi permainan kita kali ini," tuturnya Shaira yang l*dahnya mengecup sesuatu dibawah sana.


Adelio hanya hanya mampu mengerang keras saking enaknya yang dirasakannya akibat dari tangan lembutnya Shaira yang membelai dengan penuh kelembutan belalai gajah itu.


"Ohh sayang kamu sungguh luar biasa, Abang semakin mencintaimu, kalau seperti ini Abang sangat sulit untuk meninggalkan kamu seorang diri di Jakarta," ucap Adelio yang untuk pertama kalinya mendapatkan kehangatan yang sungguh tak tertandingi dari istrinya seorang.


"Abang diam saja karena gilirannya aku untuk bekerja," ucapnya Shaira yang segera mengambil alih tampuk kekuasaan sore itu.


Shaira tersenyum malu-malu, sebenarnya segan dicap perempuan yang aneh tapi, demi keharmonisan rumah tangganya dia akan bersikap seperti perempuan lon*e demi keutuhan dan kebahagiaan suaminya itulah yang menjadi tanggung jawab seorang istri.


Hingga adzan isya berkumandang mereka baru menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Adelio tubuhnya ambruk di atas tubuhnya Shaira setelah yang kesekian kalinya melepaskan rudalnya yang menikam dan menghujam bagian inti paling bawahnya Shaira.


Keduanya sama-sama melewatkan makan malamnya,tapi karena anggota keluarganya mengerti, mereka sama sekali tidak berniat untuk menganggu aktifitas suami istri itu.


Adelio membantu menyeka keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya Shaira dengan sekotak tissue. Dia duduk disampingnya Shaira tanpa ragu ataupun segan melakukannya.


"Abang Lio istirahat saja, nanti kita sama-sama bersihkan di dalam kamar mandi jadi sebaiknya Abang istirahat terlebih dahulu temani Shasa," cegahnya Shaira mencegah apa yang sudah dilakukan oleh suaminya itu.


Adelio tidak mendengarkan perkataannya Shaira, "Gilirannya Abang untuk melakukannya,abang Lio yakin kamu sangat lelah dan capek karena berusaha untuk membahagiakanku sebagai suamimu," tolaknya Adelio.


"Terserah abang saja, tapi aku sangat malu Abang jika diperlakukan seperti ini," ucapnya Shaira yang segera menutupi wajahnya yang sudah memerah bak buah apel yang siap dipanen.


"Sayang selama Abang pergi, yang akan mengantar jemput kamu adalah Andrew Parker, Abang sudah memerintahkan dan menugaskan kepada adikku untuk menjagamu selama Abang pergi," terang Adelio yang terus melakukan tugasnya sambil berbicara.

__ADS_1


"Terserah abang saja, karena Andre adik ipar yang cukup baik dan bisa diandalkan," sahutnya Shaira yang sesekali mengalihkan pandangannya ke arah tembok ketika Adelio membersihkan seluruh tubuhnya itu dari atas hingga ujung kaki.


__ADS_2