Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 124


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, satu persatu tamu sahabat, teman kuliahnya pun berdatangan. Vela mondar-mandir di depan pintu menunggu kedatangan seseorang.


Termasuk Abyasa Akhtam dan Aidan Akhtar juga sudah datang bahkan mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya di dalam rumah itu. Tempat untuk melaksanakan acara bakar-bakar ikan,sate dan ayam bakarnya juga sudah siap.


"Aira asramamu sepertinya berbeda dari biasanya," ucapnya Aidan.


"Iya sebulan yang lalu sebelum kami datang hanya bunga matahari yang ada, tapi sekarang bunga mawar, tulip serta bunga anggrek yang langka juga ada di sini," pujinya Abiyasa.


Shaira terkikik mendengar perkataan dari kakaknya itu, "Hehehe tidak tahu pagi tadi ada orang yang mengirim banyak banget bunga sampai-sampai saya tidak bisa mengatur bunga-bunganya saking banyaknya,"


"Kamu beruntung banget dek karena ada orang yang sayang sama kamu dan juga perhatian rela bela-belain kamu beliin bunga sebanyak ini, Abang yakin dia orang kaya," terkanya Aidan.


Vela sudah berdiri di ambang pintu menunggu beberapa temannya yang belum datang termasuk kekasihnya Akhsan Khaidir.


"Alhamdulillah untungnya aku menyampaikan kepada Pak Adelio sehingga semua bahan-bahannya sangat segar dan sudah tersedia tanpa kekurangan apapun, kalau kenal dengan teman bucin seperti ini pasti uang di dompet tidak terganggu, sayangnya kami setelah wisuda minggu depan sudah balik ke Jakarta, jadi nikmati kekayaan calon kakak ipar terganggu,"


Semua bahan makanan dan minuman yang diperlakukan dalam pesta itu sudah tersedia dan segalanya disiapkan oleh si duren sawit demi pendekatannya terhadap Shaira. Untungnya Vela mengetahui jika Adelio Arsene Smith menyukai Shaira Innira sahabatnya itu.


Tanpa sengaja dua minggu yang lalu, Adelio seharian penuh berada di dalam mobilnya yang terparkir di sekitar asrama putri. Vela Angelina yang curiga dengan mobil yang sudah seminggu terakhir diperhatikan selalu ada memperjuangkan asramanya itu.


Sehingga dengan keberanian diri, Vela mendekati mobil itu dan bertanya-tanya serta berbincang-bincang santai. Dari perbincangan mereka itu akhirnya Adelio mengutarakan niatnya yang sebenarnya. Tanpa berfikir panjang, Vela segera menyetujui keinginannya Adelio Arsene untuk mendekati Shaira.


Bahkan Adelia meminta secara khusus untuk bagaimana caranya agar bisa mendapatkan segala Informasi tentang Shaira melalui Vela salah satu sahabatnya perempuan muda yang dicintainya. Dengan imbalan dan iming-iming bonus gede, Vela setuju dengan persyaratan dan permintaan yang diajukan oleh Adelio.


Adelio juga meminta Vela menjaga rahasia mereka berdua agar Shaira tidak mengetahui jika mereka bekerja sama.

__ADS_1


"Ya Allah kenapa mereka belum datang juga padahal yang lainnya sudah datang,apa jangan-jangan mereka tidak jadi datang, tapi aku sudah hubungi nomor ponselnya mereka katanya sudah otw malah kesini," 


Shaira yang melihat temannya itu seperti orang yang gelisah tidak bisa tenang segera berjalan menemui sahabatnya.


"Astaughfirullahaladzim Vela, Ahksan akan datang kok dia pasti datang ke sini jadi tidak perlu seperti ini juga," candanya Shaira.


"Hehehe bukan mas Ahsan Aira yang cantik, tapi…." Ucapannya terpotong karena kedatangan tiga orang di depan pintu.


"Assalamualaikum," ucapnya Cindy.


Vela dan Shaira spontan mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara dimana ada tiga orang yang berdiri di hadapan keduanya.


"Waalaikum salam," jawab mereka semua serentak.


Cindy segera merangkul lengannya Adelio, "Maafkan kami yah sedikit terlambat ini semua gara-gara kakak aku yang harus kami tunggu sampai pulang kerja jadi kami harus telat, tapi enggak apa-apa kan kalau aku ajak kakak aku juga kasihan dia kalau sendirian di rumah saja," tuturnya Cindy berharap Vela dan Shaira tidak keberatan.


Cindy tidak mengetahui jika Adelio sudah bekerja sama dengan Vela. Bahkan orang lain pun tidak mengetahui rencana mereka tersebut.


"Saya tidak masalah kok Mbak lagian semakin banyak orang semakin bagus kan ramai jadinya dan tali silaturahmi semakin akrab dan erat juga," imbuhnya Shaira dengan senyuman manis tersungging di bibirnya itu.


"Alhamdulillah, Aira kenalkan ini teman kelas aku namanya Cindy Clara Smith dan ini Adeline Amalia Hamilton, kalau yang ini kakaknya Cindy," ucapnya Vela yang memperkenalkan diri ketiga teman kelasnya itu kampusnya satu persatu ke hadapan Shaira.


Cindy segera mengulurkan tangannya ke arah Shaira bergantian dengan Adeline hingga yang terakhir adalah Adelio.


"Shaira Innira Samuel Abidzar, bukannya pak Adelio yang pernah menolong aku kan ketika hujan waktu itu," tebaknya Shaira yang baru teringat ketika melihat Adelio ketika berkenalan dan Shaira langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


"Kamu rupanya masih mengingat saya, padahal kita baru sekali bertemu," kilahnya Adelio.


"Sudah dulu berbincang-bincangnya gimana kalau kita masuk saja ke dalam teman yang lain juga sudah datang," pintanya Vela yang melupakan jika Ahsan belum datang karena terlalu bahagia dengan iming-iming hadiah bonus gede dari Adelio sang duda keren yang haus kasih sayang itu.


Aidan karena memerlukan sesuatu segera berjalan ke arah depan mencari adiknya itu.


"Rumah ini ada tiga penghuninya yang cukup sibuk, tapi selalu kelihatan rapi dan bersih saja," pujinya Aidan sambil berjalan ke arah depan.


 Aidan tidak terlalu sering datang berkunjung berbeda dengan Abyasa yang memang jika memiliki kesempatan pasti akan meluangkan waktunya untuk berkunjung ke London dari Manchester.


"Aira, Abang butuh bumbu seperti masih kurang, apa ka…"


Ucapannya Aidan terpotong karena wajah yang pertama dilihatnya adalah sosok gadis yang pernah singgah dalam hidupnya tapi karena kepergian perempuan itu yang tak terduga ke luar negeri hingga mereka tidak bisa bersama dan putus karena komunikasi yang terputus.


"Aidan Akhtar Abidzar Al-Ghifari," beonya Cindy Clara Smith.


Semua orang yang kebetulan ada disana menatap kedua orang itu secara bergantian. Mereka satu persatu memperhatikan gerak gerik dari kedua pria dan wanita itu.


"Chaca," cicitnya Aidan Akhtar yang tidak menyangka jika kekasih putih abu-abunya kembali bertemu dengannya walau Cindy dulu adalah kakak tingkatnya di SMA.


Shaira berjalan ke arah Abang keduanya," Abang kenapa cari dede, apa mungkin butuh sesuatu?" tanyanya Shaira yang langsung melingkarkan tangannya ke lengannya Aidan.


Aidan segera mengalihkan perhatiannya dari Cindy Clara ke arah adiknya," ehh iya dede, Abang masih butuh es batu sepertinya sudah habis deh es batunya," jawabnya Aidan.


"Apa jangan-jangan mereka saudara kandung atau itu adik kembarnya yang sering dia sampaikan kalau dulu lahirnya kembar empat, ternyata gadis yang disukai Abang Adelio calon adik ipar rupanya, tapi ngomong-ngomong Abang Adelio enggak punya keyakinan apapun gimana caranya mau bersatu dengan Shaira dimana mama dan papanya bang Aidan itu orangnya sholeh dan sholehah, sepertinya mereka sedikit sangat sulit untuk bersatu,"

__ADS_1


__ADS_2