
Hehehe Shaira terkekeh melihat sikapnya dan reaksinya Adelio suaminya sendiri, " enggak kok hanya saja saya butuh tasku bang karena ada yang sangat penting ingin aku lakukan," tampiknya Shaira yang merasa risih berpakaian seksi seperti itu dihadapan suaminya sendiri pria yang baru dalam hitungan jam menjadikan istrinya.
Adelio yang mulai merasakan sesuatu dalam dirinya harus segera diurungkannya karena mengingat Shaira belum siap untuk itu sedangkan dia tergoda melihat penampilan Shaira yang hanya memakai pakaian kimono.
Adelio Arsene mengerang keras ketika mengambil handbadnya Shaira.
"Ahh!! Sial! Kenapa hanya melihat pahanya saja istriku sudah buat aku cenat cenut seperti ini!" Kesalnya Adelio.
Shaira yang mendengar teriakannya Adelio membuat Sahira segera terkejut," astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada bang Lio? Shaira segera hendak membuka pintu tapi, niatnya dia urungkan karena mengingat pakaiannya yang sungguh terbuka walaupun di hadapan suaminya sendiri.
Shaira sudah terbiasa selalu berpakaian tertutup di hadapan orang lain,baik sesama perempuan ataupun berbeda jenis kelaminnya mereka terlebih lagi.
"Aku tidak boleh keluar dengan pakaian seperti ini, aku berharap suamiku baik-baik saja," harapnya Shaira Innira.
Adelio segera menyambar tasnya Shaira kemudian berjalan cepat ke arah pintu kamar ganti milik istrinya. Tetapi, Shaira yang memang fokusnya tertuju pada tasnya saja sehingga tidak menyadari apa yang dipakai oleh suaminya itu.
Adelio segera menyerahkan tasnya itu ke dalam genggaman tangannya Shaira yang sedari tadi sudah terulur.
"Ini tasmu,kamu baik-baik saja kan? Apa mau ditemani oleh Abang?" Tanyanya Adelio yang sangat mencemaskan keadaannya Shaira yang raut wajahnya pucat pasi peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu menahan rasa sakit akibat datang tamu bulanannya.
"Sa-ya baik-baik saja kok bang, hanya perlu segera mengganti a-nu itu," ucapnya Shaira yang salah tingkah.
"Abang sangat mencemaskan kondisi kesehatanmu sayang, lihatlah kamu keringatan padahal ac-nya masih jalan kok," ujarnya Adelio lagi.
Shaira tidak lagi menjawab pertanyaan dari suaminya itu tapi segera menelpon nomor ponselnya Adisty adik sepupunya yang satu atap dengannya.
"Assalamualaikum Disty,kamu baca chat aku terus secepatnya ke sini yah, kekamarku sekarang juga!" Perintahnya Shaira kemudian segera mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Adelio masih berdiri di hadapannya Shaira yang sudah nampak tidak baik-baik saja. Hingga tubuhnya sudah terhuyung ke belakang beberapa langkah.
"Augh!!" Suara rintihan dan ringisannya Shaira terdengar jelas di telinganya Adelio.
__ADS_1
Adelio cepat tanggap segera meraih tangan kanannya Syahira agar tidak trrplanting ke belakang.
"Shasa apa yang terjadi padamu!?" Jeritnya Adelio.
Tubuhnya Shaira tertarik ke arah dada bidangnya Adelio yang sama sekali tidak tertutupi oleh kain dan benang macam apapun.
Shaira penglihatannya sudah semakin kabur, kepalanya sangat pusing, ia akhirnya terjatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya Adelio Arsene Smith.
"A-bang," lirihnya Sahira sebelum terjatuh pingsan.
"Shasa apa yang terjadi padamu!? Bangunlah katakan sesuatu pada abang, kamu kenapa?" Adelio menepuk-nepuk pipinya Shaira tapi istrinya sama sekali tidak menggubris perkataannya Adelio.
Adelio segera mengendong tubuhnya Shaira ke atas ranjangnya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya itu, hingga ada sesuatu yang basah dan sedikit lengket tanpa sengaja disentuhnya itu ketika mengendong tubuhnya Shaira ke atas ranjangnya.
Adelio mengarahkan telapak tangannya ke arah matanya dan betapa terkejutnya melihat apa yang dipegangnya berwarna merah.
"Astaughfirullahaladzim ini kan darah!" Pekik Adelio yang segera memeriksa Shaira bagian terbawahnya terutama dibagian selang*ngannya yang sudah banyak darah menetes membasahi pahanya itu.
"Ya Allah aku harus bagaimana ya Allah, kenapa dengan istriku yang mengeluarkan banyak darah, padahal tadi dia baik-baik saja?" Cicitnya Adelio yang memeriksa sekujur tubuh istrinya itu dengan seksama.
Adelio mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya Shaira dan mencari keberadaan kotak p3k. Ia akan mencari tisu basah maupun obat yang tidak mengetahui obat apa yang akan diberikan olehnya khusus untuk Shaira.
Penyebab Shaira berdarah saja tidak diketahuinya. Ia hanya berjalan ke arah kotak yang berbetuk balok itu berwarna dominan putih.
"Kamu akan baik-baik saja sayangku, istriku abang tidak akan biarkan sesuatu hal jelek terjadi padamu," cicitnya Adelio hingga pintu kamarnya Shaira terbuka lebar dari arah luar.
Adisti Ulfah Syafira yang memang sering kali masuk ke kamarnya Shaira tanpa permisi sehingga ia langsung masuk saja, padahal sejak hari ini semuanya sudah berubah tak seperti dulu lagi.
"Mbak Aira apa yang terjadi?" Tanyanya Adisti Ulfah yang kedua matanya mmebelalak saking terkejutnya melihat Adelio yang berada di atas tubuhnya Shaira.
Posisi yang cukup canggung tidak seperti biasanya. Adisty segera menutup kedua pasang matanya itu saking terkejutnya melihat penampilan kedua pasutri tersebut.
__ADS_1
"Aahhh!!" Pekiknya Adisty yang spontan berpaling dan berbalik badan.
Adelio yang menyadari kedatangannya Adisty dengan teriakkannya yang cukup membahana dan melengking tinggi membuat Adelio reflek secepatnya turun dari atas tubuh istrinya yang masih belum sadar dari pingsannya.
Adelio ngacir ke dalam kamar ganti untuk segera memakai pakaian lengkap. Karena cukup malu dilihat dalam keadaan seperti itu. Sedangkan Adisty segera memeriksa kondisi dari Shaira sambil memakaikan secepat mungkin roti tak bersayap itu.
Pem*lut dengan merek yang cukup terkenal segera disiapkan oleh Adisty Ulfa dan memakaikan kepada tubuh paling bawah kakak sepupunya itu.
"Astauhfirullah aladzim mbak Aira, pasti kalau lagi pms kondisinya akan seperti ini, apa jangan-jangan belum sempat minum obat sehingga harus pingsan? Aku harus mengatakan kepada bang Adelio masalah yang cukup pribadi ini agar kedepannya tidak terulang kembali," cicit Adisty seraya terus membersihkan seluruh kakinya Sahira yang ada bekas darahnya yang cukup banyak dihari pertamanya itu.
Adelio segera berjalan perlahan menuju ke arah ranjang setelah berhasil memakai pakaian santainya. Dia agak malu-malu karena kedapatan dalam posisi yang sungguh ambigu. Andaikan masih dalam kepercayaan dan keyakinannya yang dulu baginya itu hal yang biasa terjadi.
Tapi, Adelio Arsene bukan pria yang seperti dulu lagi yang sering mengumbar auratnya di hadapan siapapun. Adelio berdehem untuk menetralkan perasaannya dan mencairkan suasana yang tampak canggung.
"Ada apa dengan istriku?" Tanyanya Adelio yang sudah duduk di tepi ranjang dan melihat Shaira sudah berganti pakaian sehari-hari.
Adisty mengarahkan tatapannya ke arah kakak iparnya itu," kakak iparku yang baik hati dan ganteng seperti Zein Malik, Mbak Aira kalau datang tamu bulanannya akan seperti ini, jadi sebelum terjadi hal-hal yang begini kedepannya, Mbak Aira harus minum obatnya," ungkapnya Adisty sambil mengarahkan ke hadapannya Adelio sebotol obat untuk meredakan rasa sakitnya Shaira.
Adelio mengusap wajahnya dengan gusar," astaughfirullahaladzim pantesan tadi aku sempat tanpa sengaja memegangi banyak darah, ternyata itu darah kotor rupanya,kalau seperti ini harus gagal total belah durennya," lirih Adelio yang sangat pusing karena kepala atas bawah sudah nyut-nyutan tapi, mendadak sang istri harus palang merah terlebih dahulu.
Adisty memegangi perutnya saking lucunya sikap dan perkataannya Adelio CEO dengan banyak perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan itu.
Apa yang dikatakan oleh Adelio masih sanggup terdengar jelas di indera pendengarannya Adisty adik sepupunya Shaira.
"Hahaha!! Ya Allah abang Adelio sampai segitunya," Adisty tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahnya Adelio yang sangat prustasi itu.
Adelio hari senin nanti akan bertolak ke Paris Perancis dalam rangka urusan bisnis.
"Tapi kira-kira kalau Shasa haid seperti ini berapa lama?" tanyanya Adelio yang sangat ingin mengetahui jawabannya.
"Kalau enggak salah sih tujuh hari bang," jawab Adisty yang masih berusaha menahan tawanya itu.
__ADS_1