
Bu Karina kelabakan ketika pintu terbuka lebar dan terlihatlah suami dan kakak iparnya yang berdiri di ambang pintu.
"Karina! Apa yang kamu lakukan!?" Geramnya Syamil yang berjalan ke arah dalam kamar itu.
Karina secepat kilat merubah ekspresi wajahnya itu dengan berpura-pura menjadi korban. Karina segera berjalan ke arah suaminya dan tidak peduli dengan kondisi Faris dan Adisti anak-anaknya.
"Mas Adisti dan Fariz sudah mempermalukan kita, aku tidak sanggup hidup lagi dan tidak tahu harus berbuat apa karena mereka sudah mencoreng nama baik keluarga kita, hiks… hiks," kilahnya Bu Karina seraya menangis tersedu-sedu.
Syamil menepis tangannya Karina dan segera berjalan ke arah Adisti untuk menolongnya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya itu.
"Mas aku sangat sedih dan kecewa, mereka sudah berbuat tidak baik, aku terlalu malu pada semua orang akibat kelakuannya anak-anak," ucapnya Bu Karina yang merasa tersakiti dan terluka atas kesalahan anak-anaknya.
Syamil mengendong tubuhnya Adisti yang sudah tidak sadarkan diri itu, dan berhenti tepat di depan Karina.
"Aku akan mencari perhitungan denganmu jika terjadi sesuatu pada anakku, jika kamu ketahuan bersalah dan penyebab dari luka-luka yang diderita oleh mereka karena kau! Aku tidak akan tinggal diam lagi!" Ancamnya Pak Syamil.
"Shaira cepat Nak ambil perlengkapan kedokteranmu dan juga kotak p3knya, adik sepupumu harus segera diobati," titahnya Syam sambil membantu memapah tubuhnya Fariz yang tidak sadarkan diri bersama dengan Adelio.
Keduanya segera dibawa ke dalam kamar masing-masing, Aidan dan Abyasa segera membantu papanya tanpa banyak tanya. Mereka sudah paham apa yang telah terjadi di dalam kamar Tante dan pamannya itu.
"Hati-hati Pa, kasihan Fariz terlalu banyak luka lebam ditubuhnya, keningnya juga berdarah," ucapnya Maryam Nurhaliza yang segera memeriksa kondisi kesehatannya Fariz yang tidak sadarkan diri dan sudah dibaringkan ke atas ranjangnya.
"Bagaimana dengan kondisinya Adisti Pa, apa dede Aira sudah mengobatinya?" Tanyanya Abiyasa.
"Alhamdulillah sepertinya sementara diobati juga," balasnya Samuel.
Aydan, Arion serta Abyasa yang baru datang juga segera bergabung dengan yang lainnya dan membantu mengobati luka-lukanya Fariz.
"Alhamdulillah semoga saja Adisti lukanya tidak parah yah Pa," harapnya Arion yang ikut nimbrung dengan percakapan papa mertua dan kakak iparnya.
__ADS_1
Dewi pun panik melihat kedua keponakan suaminya yang seperti anak kandungnya sendiri itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Astauhfirullah aladzim apa yang terjadi padamu Nak, kenapa bisa seperti ini?" Tanyanya Dewi yang panik melihat Fariz karena dia baru datang dan tidak mendengar keributan yang terjadi.
"Nanti kita bahas dan bicarakan apa yang terjadi, intinya semua ini terjadi karena akibat dari masalah yang diperbuat dan penyebabnya oleh Ade Nugraha dengan Sheila Alona," tebaknya Syam.
Aidan melihat sekitar tempat tersebut sebelum berbicara, "Tapi Pa, aku yakin Tante Karina penyebab utamanya, karena sejujurnya aku dengan istriku tanpa sengaja mendengar keributan dari dalam kamar Om Syamil," ucapnya Aydan.
Arion dan Abiayasa hanya mendengar perkataan dari orang lain, tanpa berniat untuk meperkeruh masalah yang sudah telanjur terjadi.
"Bagaimana Nak Maryam, apa lukanya Fariz parah? Kalau parah sebaiknya kita segera larikan ke rumah sakit terdekat," usulnya Dewi yang meneteskan air matanya sedih melihat keponakannya itu yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Maryam mengembalikan ke dalam tasnya peralatan medisnya,"Alhamdulillah tidak apa-apa kok Ma, kondisinya Fariz sudah aman hanya menunggu dia siuman saja, lukanya juga tidak parah, hanya luka memar kecil saja jadi Mama jangan terlalu terbebani untuk mengkhawatirkan kondisi dari Faris," imbuhnya Maryam yang sudah membalut kepalanya Fariz karena memang harus dibalut perban yang cukup tipis untuk menghentikan pendarahannya.
"Sukur alhamdulilah kalau seperti itu, Aidan apa Mama boleh meminta padamu untuk berada sementara waktu bersama dengan dokter cantik ini? Mama dan papa mau lihat kondisinya Adisti," titahnya Dewi.
Maryam sendiri malu mendengar pujian dari ibu mertuanya itu dan tersenyum simpul sebelum membalas perkataan dari ibu mertuanya itu.
"Oh tentu saja mamaku yang paling tersayang, serahkan kepada kami akan menjaga Faris melebihi dari pelayanan dari perawat kamar VIP di rumah sakit," ucapnya Aidan yang sedikit bercanda untuk menghilangkan rasa takut dan cemas mereka.
"Kalau gitu Mama, Arion dan papa akan ke kamarnya Adisti, tapi Arion kamu lihat saja Shahnaz putri kecilmu dengan Shanum, jangan sampai istirahat mereka terganggu ada kami yang akan menjaga mereka," pintanya Syam yang tidak enak hati dengan menantunya itu.
"Baik Ma, Papa saya ke kamar atas dulu," pamitnya Arion.
Dewi, Abyasa Akhtam dan papanya Samuel segera berjalan ke arah kamarnya Adisti apalagi setelah mendengar suara teriakannya dari dalam kamar tersebut.
Shaira dengan teliti memeriksa kondisinya Adisti dan sangat hati-hati karena dia tidak ingin adik sepupunya itu terbangun dan tengganggu dari istirahatnya.
"Dia memang pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu! Perempuan tapi tidak menjaga kehormatannya!" Cibirnya Bu Karina yang langsung menghina putrinya di depan orang lain.
__ADS_1
"Astaughfirullahaladzim, dimana hati nurani kamu simpan ha!?" Syamil menunjuk ke arah Adisti yang belum siuman.
"Dia itu adalah anakmu darah dagingmu sendiri! Kenapa kamu tega banget memperlakukan mereka seperti ini?!" Geramnya Syamil.
Bu Karina semakin marah dan geram karena semua kejadian ini kesalahannya dilimpahkan kepada dirinya seorang diri.
"Aku sudah cukup muak dengan kelakuan kamu yang tidak mencerminkan seorang ibu! Dulu aku masih memaafkan kamu ketika dengan mata kepalaku sendiri kau menyiksa anak-anakku, karena alasan itu pula aku terpaksa mengantar mereka untuk tinggal bersama dengan kakakku dan Mbak Dewi, aku tidak tega melihat mereka terus-menerus kamu siksa setiap hari!" Kesalnya Syamil.
Shaira, Adelio Arsene Smith terkejut mendengar perkataan dari Om dan tantenya tersebut. Mereka membelalakkan matanya saking kagetnya melihat Tante yang penuh lemah lembut dan baik dimata mereka selama ini, ternyata aslinya seperti saat ini.
Sedangkan Bu Rina Amelia tertidur pulas di dalam kamarnya setelah meminum obatnya itu sehingga tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
"Aku memang bukan papa kandungnya mereka, tapi aku tidak ingin melihat masa depan mereka hancur berantakan di tangan ibu kandungnya! Aku sudah cukup baik menerima anak-anak hasil perselingkuhan kamu, tapi bukan berarti kamu dengan seenaknya menyakiti mereka," ungkapnya Syamil.
Kenapa bisa mas Samil mengetahui jika Adisti adalah bukan anaknya dan Fariz hanya anak angkat saja.
Ini gawat dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut akibatnya akan berbahaya.
Bu Karina terkejut mendengar perkataan dari suaminya itu, jika rahasianya terbongkar dan diketahui oleh suaminya itu.
"Mak-sudnya a-pa mas, sa-ya ti-dak mengerti kenapa Mas berbicara seperti itu?" Elaknya Karina.
"Kamu pasti sangat paham betul apa yang aku katakan, jika Adisti adalah anak dari kekasih kamu bernama Pak Bayu dan Fariz adalah hanya anak angkat saja, Karina bagaimana caranya saya bisa punya anak sedangkan saya itu divonis mandul, kebohongan dan penipuan yang telah kamu lakukan padaku aku terus menyimpan dan menjaga rahasia besar ini, tapi hari ini aku sudah tidak sanggup lagi, kamu sudah kelewatan batas," ungkapnya Syamil yang sebenarnya malu membongkar masalah rumah tangganya di depan khalayak umum.
"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin, Abang pasti salah dengar kan, Dewi?" Cicitnya Syamuel yang baru saja muncul bersama dengan putra dan suaminya itu.
"Kenapa aku memutuskan secara sepihak aku membawa kedua anakku ke rumah ini untuk dibesarkan, karena aku lebih percaya dan yakin jika anakku akan hidup lebih baik, aman dan bahagia jika diasuh oleh mas Sam dan Mbak Dewi, dari pada harus hidup menderita di bawah asuhanmu, karena inilah alasannya mengapa aku percaya dengan mereka saudaraku dari pada kamu," kesalnya Samil.
Karina semakin murka karena melihat kedatangan Samuel dan Dewi iparnya yang sedari dulu tidak disukainya itu.
__ADS_1
"Baiklah Karina aku sudah menyerah dengan keadaan ini, aku tidak ingin hidup terus menderita dan terkekang seperti ini, jadi sebaiknya kita bercerai saja," putusnya Syamil.