Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 240


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu…


Sejak perceraian antara Karina Ranau dan suaminya Syamil Khaidir telah resmi bercerai. Sejak saat itu pula, Adisti Ulfah dan adik angkatnya Fariz Pratama tetap tinggal bersama dengan Dewi Kinanti dan Syam serta beberapa kakak sepupunya itu.


"Bunda maafkan kami sudah besar dan sudah bisa membedakan apa yang terbaik untuk hidup kami berdua, jadi kami mohon pada Mama untuk berhenti memaksa kami tinggal bersama bunda." Ucap Faris.


"Maafkan saya sama sekali tidak pernah berniat untuk mengajakmu kembali bersamaku, karena kamu bukanlah putra kandungku, kamu hadir di tengah-tengah keluargaku adalah karena keinginan mas Syamil, jadi kamu buang jauh-jauh pikiran kau itu, aku ke sini untuk mengajak putriku untuk tinggal bersamaku," sarkasnya Bu Karina yang membuang mukanya karena tidak ingin bertatapan langsung dengan anak angkatnya itu.


"Maaf, kamu memang perempuan yang telah mengandung dan melahirkan aku ke dunia ini, tapi maaf aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama di masa laluku, aku sudah memutuskan sebelum aku menikah aku ingin tinggal bersama dengan Tante Dewi dan paman Syam, keputusan aku ini sudah final," tegasnya Adisti seraya melepaskan tangannya Bu Karina bundanya dari lengannya itu.


"Tapi,kamu itu tidak punya hubungan apapun dengan mereka! Kamu dengan mereka bukan keluarga, hanya mantan keluarga saja, jadi apa kamu tidak malu tinggal seatap dengan orang asing!?" Cibirnya Bu Karina yang menatap mencemooh ke arah Dewi dan Shaira serta Shanum yang kebetulan datang menemani pamannya mengikuti perceraian mereka.


"Mungkin bagi bunda dan orang lain kami hanya orang asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, tetapi bagiku sampai kapanpun bahkan sampai aku mati mereka adalah kakak sepupuku dan Tante serta pamanku tak akan pernah tergantikan ataupun berubah, jadi aku mohon pada bunda jangan sekali-kali memintaku untuk meninggalkan mereka," ucapnya Adisti dengan mantap.


Perbincangan keduanya terhenti ketika Pak Syamil datang bersama dengan Dina Anelka Mulya. Keduanya nampak gembira sesekali tertawa dan tak peduli dengan tatapan dari orang-orang. Mereka tetap saling berbincang-bincang sambil berjalan keluar dari dalam ruangan persidangan.


Karina Ranau yang melihat kedekatan mereka mencengkeram kuat kepalan tangannya.


"Sial! Mereka tidak malu-malu lagi memperlihatkan hubungan kedekatan mereka di depan mataku langsung! Apa jangan-jangan kalian sudah lama berhubungan di belakangku!" Cibirnya Karina yang sebenarnya sangat marah melihat kedekatan keduanya.


"Tante Karina apa salahnya mereka saling dekat? Mereka sama-sama pria dan perempuan single, lagian mereka sudah lama saling kenal sebelum Tante menikahi pamanku," imbuhnya Shanum yang tanpa sengaja mendengar perkataan dari Karina.


Syamil sama sekali tidak peduli dengan perkataan ataupun kehadiran Mantan istrinya di tempat tersebut.


Sedangkan Ariela, Arabela dan Ahksan beberapa hari yang lalu, mereka bersimpuh di depan Mama, paman, Tante dan saudara sepupunya itu untuk meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang pernah diperbuatnya.


Mereka sangat menyesal atas kesalahan besar maupun kecil yang mereka telah perbuat. Dewi, Samuel, Sahira, Shahnum, Aidan, Abiyasa dan yang lainnya sama sekali tidak pernah berfikir untuk dendam ataupun membenci adik sepupunya itu.

__ADS_1


Mereka dengan hati yang ikhlas dan tangan terbuka memaafkan kesalahan ketiganya. bagi mereka dendam, benci dan marah sama sekali tidak menyelesaikan masalah dan tidak akan ada habisnya.


"Hemmph! Syamil memegangi tangannya Dina Anelka.


Semua orang dibikin terkejut dan terperangah melihat apa yang kedua janda dan duda itu lakukan. Terutama Dewi yang melihat apa yang dilakukan oleh adiknya itu.


Dewi malah tersenyum bahagia melihat hubungan mereka yang semakin dekat saja. Dina mendongak menatap intens wajahnya Syamil yang memegangi tangannya dengan erat.


"Sekedar informasi kami akan menikah di hari dimana anak-anakku juga akan menikah, kami meminta restu kepada Mbak Dewi,mas Sam dan juga Mama Rina. Semoga saja kalian merestui niat baik kami dan mengijinkan kami menikah dan membina hubungan yang lebih serius," ujarnya Syamil seraya mengecup punggung tangannya Dina yang semakin malu-malu hingga wajahnya memerah merona.


Ariela Ziudith, Arabela Aqila serta Ahsan yang datang bersama dengan pasangan masing-masing pun mendengarkan dengan seksama perkataan dari calon pendamping hidup mamanya itu.


"Saya sangat senang dan setuju jika Mama menikah lagi, karena saya ingin melihat mamaku bahagia dan melupakan kenangan pahit dan buruknya ketika membina hubungan rumah tangga bersama dengan mendiang almarhum papaku Irwansyah Hatif," Ariela berujar.


Ariella baru sekitar dua hari yang lalu terbebas dari tahanan atas bantuan Adelio dan Arion. Sehingga Ariela terbebas dengan jaminan.


"Mbak sangat bahagia mendengar niat tulus kalian dan kami tidak punya alasan untuk menolak rencana kalian berdua, dan Mbak hanya berharap dan selalu berdoa untuk kalian semua berbahagia lah dengan pasangan kalian masing-masing," tuturnya Dewi yang memeluk tubuhnya Dina adik semata wayangnya itu.


"Jadi sudah diputuskan pernikahan nantinya akan ada tiga pasangan calon pengantin yang akan menikah, saya sangat senang mendengar kabar baik ini, dan semoga saja anak-anakku yang belum dikaruniai keturunan segera hamil dan yang menantikan kelahiran calon bayinya segera melahirkan seperti Maryam, Tanisha, Vela, Arabela dan istrinya Akhsan Cut Daniah dan yang belum menikah segera dibukakan pintu jodohnya, karena kalian pantas untuk bahagia," terangnya Bu Rina Amelia perempuan yang paling tua diantara mereka.


Semua mengaminkan apa yang dikatakan oleh semua orang yang turut hadir di depan pengadilan agama.


"Amin ya rabbal alamin," ucap semuanya bersamaan.


Ariella memeluk tubuh Dewi dan bergantian dengan mamanya itu.


"Mama aku doakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian nantinya, doakan aku Juga semoga aku segera menyusul kalian berdua," Ariela berucap dengan sesekali menyeka air mata bahagianya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian…


Hari ini, Adisti dan Ade Nugraha berencana untuk memesan undangan dan mengecek perhiasan emas yang rencananya akan dipakai mereka sebagai cincin tunangan dan juga cincin pernikahannya.


"Assalamualaikum," ucapnya Ade dari seberang telpon ketika sambungan teleponnya tersambung.


Adisti masih enggan untuk meladeni apapun yang dilakukan oleh Ade. Hatinya masih tetap mencintai Andrew Parker adik iparnya Shaira.


"Halo, Adisti kamu baik saja kan?" Tanyanya Ade dari balik telpon.


Ade khawatir dengan keadaannya Adisti yang terdengar seperti orang yang banyak pikiran dan masalah.


Hugh..


Aku harus melupakan mas Andrew, apalagi mas Ade adalah pria yang megambil mahkotaku, tidak mungkin aku mencintai pria yang sama sekali tidak mencintaiku pula.


Ya Allah bantu aku untuk melupakan dan menghapus jejak cinta yang ada di dalam hatiku ini.


Adisti menyeka air matanya mengunakan ujung jarinya itu dan menjauhkan telpon selulernya dari wajahnya agar Ade tidak mendengar suara Isak tangisannya itu.


"Maaf Mas, aku tadi kelilipan jadi aku tidak sempat membalas salamnya mas Ade," kilahnya Adisti Ulfah yang tidak mungkin dia jujur dengan apa yang terjadi padanya.


Aku paham apa yang terjadi padamu, aku yakin kamu masih mencintai pria itu. Tapi, aku berjanji dengan segala cinta yang aku miliki aku akan menghapus dan menggantikan posisinya di dalam hatimu.


Adisti sesekali menghela nafasnya yang cukup berat itu. Dia harus berusaha lebih keras dan kuat lagi untuk melupakan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya.


"Apa kita jadi ke tempat pemesanan undangan pernikahan kita sayang?" Tanyanya Ade dokter spesialis mata yang cukup ganteng itu yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi pada calon istrinya itu.

__ADS_1


"Tentu saja mas jadi,kalau gitu kita perginya pakai mobil mas saja, kebetulan aku sudah dijalan ini mau jemput kamu,"


__ADS_2