
Dinar yang baru saja sampai terenyuh melihat kondisi dari kakak satu-satunya itu. Ia juga melihat keterpurukan kedua perempuan paruh baya yang sudah berjasa besar merawat, mendidik dan menjaganya dikala kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Dinar murka dengan sikapnya Heri dan Bu Salma. Sejak awal Dewi dan Heri berpacaran,dia sudah tidak setuju tapi selalu diam saja melihat perkembangan hubungan kakaknya.
Dinar berjalan ke arah bibinya itu, "Bibi aku mohon jangan seperti ini, aku yakin Mbak Dewi akan baik-baik saja dan akan mendapatkan pria yang tulus mencintainya, tidak seperti bajingan itu yang sok menyayangi Mbak Dewi dengan tulus tapi, tau-taunya brengsek tidak bisa dipercaya?" Geramnya Dinar.
Dinar amarahnya berkobar dan memuncak jika harus kembali teringat dengan kejadian beberapa menit lalu dari beberapa orang yang menjadi saksi kunci atas perseturuan mereka. Dinar tidak ada di tempat karena sedang berada di luar daerah, jadi dia baru pulang setelah mendapatkan kabar duka tersebut.
Bu Husnah melototkan matanya ke arahnya Dinar adik bungsunya Dewi yang tidak terima dengan perkataan keponakannya itu.
"Dinar! apa kamu bilang ha!! Apa kamu lupa dimana kamu tinggal? ini bukan luar negeri yang orang-orangnya akan cuek dengan kehidupan tetangganya, kita ini tinggal di perkampungan yang masyarakatnya terlalu banyak kepo dan mengurusi hidup orang lain!" Bentaknya Bu Hasanah.
Dinar terkejut melihat reaksi dari bibinya itu,ia memakluminya karena siapapun yang berada diposisi mereka, pasti akan mengalami hal yang sama.
"Dinar keponakanku yang cantik, apa kau lupa kamu lupa dengan kejadian anaknya Pak Darmawan yang gagal menikah karena salah paham dan memilih bunuh diri!? Bibi tidak ingin melihat kakakmu bernasib seperti anaknya Pak Darmawan itu hiks… hiks…, apa lah dayaku kami hanya orang miskin sehingga tidak bisa berbuat banyak," tampiknya Bu Hasnah lagi disertai dengan deraian air matanya.
Pak Hamid Bambang pun mulai kepikiran dengan nasib keponakannya itu,dia tidak mau jika nasibnya Dewi sama halnya dengan almarhumah Sita anak gadisnya Pak Darmawan sekaligus tetangganya itu.
Pak Hamid pun frustasi dengan kondisi dan nasibnya Dewi Mirasih, "Jadi apa yang harus kita perbuat? Karena mas yakin masalah ini sudah menyebar ke seluruh kampung, pasti orang-orang sudah heboh dengan masalah yang menimpa Mirah," ucapnya Pak Bambang sendu.
Pak Hamid yang ikut memutar otak mencari solusi dan jalan keluar terbaik dari kemelut permasalahan pelik Dewi sambil mencari tahu siapa pria bejak yang ingin menodai keponakannya itu.
Semuanya terdiam seribu bahasa dan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Di tengah kesunyian tengah malam buta itu, suara seseorang mampu membuyarkan lamunan dari keempat orang lainnya yang masih setia menemani Dewi yang sudah terlelap dalam tidurnya.l setelah dibujuk oleh Samuel.
Entah keberanian dari mana Syamuel membuka suaranya dan memecahkan kesunyian dengan perkataannya yang mampu membuat semua orang dibuat terperangah dengan pernyataannya. Semua mata tertuju pada sosok pria yang berpakaian stelan jas kerjanya berwarna hitam pekat itu.
__ADS_1
"Pak Hamid dan yang lainnya saya akan bertanggung jawab untuk menikahinya, tetapi ada persyaratan yang akan saya ajukan saya berharap kalian bisa menyetujuinya," imbuhnya Syam tanpa keraguan sedikitpun.
Syam dengan menatap satu persatu dari orang-orang yang kebetulan masih setia menunggui Dewi sampai tenang.
"Syarat!" Beonya Dinar.
Bu Halimah bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan ke arah Syam. Bu Halima memegangi kedua lengannya Syam yang lebar itu.
"Tolong perjelas apa maksudnya perkataanmu Nak? Maksudnya syarat apa yang kamu ajukan Nak?" Tanyanya Bu Halimah.
Bu Husnah pun maju untuk bertanya lebih jelas kepada Samuel," Insha Allah… kami pasti akan menyetujuinya dan memenuhi apapun persyaratanmu asalkan kamu setuju dan bersedia menikahi Dewi keponakannya ibu, tapi kami mohon jangan pakai syarat yang sulit kami penuhi," pintanya Bu Husnah.
Dinar pun berjalan ke arah Syam dan berniat untuk memohon kepada Samuel untuk menikahi kakaknya apapun yang terjadi.
"Pak Syam saya mohon nikahi kakakku, kami tidak ingin melihat Mbak Dewi bertambah menderita yang penting Anda bersedia menikahi kakakku saya akan setuju dengan persyaratan yang Anda ajukan kepada kami apa pun itu," ujarnya Dinar.
Ibu Halimah, Bu Husnah Aminah,ibu Siti Hasnah dan Pak Bambang ikut bersujud memohon belas kasihnya Syamuel.
Keempat orang itu meneteskan air matanya yang tidak kuasa menahan kesedihannya itu melihat kehancuran kehidupan anggota keluarganya.
"Kami tau memang kamu bukan laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar dan mencoba menganiaya Dewi, tapi kami mohon dengan sangat tolong dengarkan permintaan kami ini dan saya mohon kabulkan lah Nak, kepada siapa lagi saya memohon kalau bukan Nak Syam," bujuk Bu Halimah yang berharap agar keinginannya terkabul.
Syam terkejut melihat orang-orang pada berlutut di hadapannya itu. Ia tidak menyangka mereka akan melakukannya. Syam tidak tau harus berbuat apalagi,dia bimbang, bingung, pikirannya kacau memikirkan Nadia dan juga masa depannya bersama perempuan yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Syam sibuk dengan pemikirannya sendiri terlalu banyak hal yang dipertimbangkan oleh nya agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Semuanya terdiam menunggu dan menantikan apa yang akan dikatakan oleh Syam selajutnya apa kah setuju atau tidak.
Syam seperti terpojok dan tersudutkan tidak mampu lagi untuk menolak keinginan mereka semua. Lagian jika hari ini ia menolak maka besok bapak-bapak yang telah menggerebek mereka akan kembali datang dan menuntut keadilan untuk Dewi.
"Ya Allah… aku tidak mungkin mengecewakan mereka, tapi aku lebih tidak mungkin mengkhianati cinta dan kepercayaannya Nadia kepadaku, ya Allah… kalau memang ini adalah jalan terbaik satu-satunya yang aku bisa perbuat maka lancarkan lah dan ridhoi keputusanku ini," Syam membatin dan melihat mereka secara bergantian.
"Kami berharap keputusan yang kamu ambil nantinya berdampak baik bagi masa depan dan kesehatannya Dewi nak," ujar Bu Halimah.
"Paman, Bibi kalian tidak boleh seperti ini, saya mohon berdirilah tidak sepatutnya kalian berlutut di hadapanku," cegah Syam yang merasa tidak sopan dan berdosa jika mereka berlutut terus seperti itu.
Samuel tak mampu lagi mengelak kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan agar pikirannya bisa tenang dan jernih.
Samuel kebingungan pastinya dimana masa depannya bersama Nadia menjadi taruhannya, "Syaratnya saya hanya akan menikahinya secara siri dan mungkin setelah kami menikah, saya tidak akan tinggal bersama dengannya di sini kalau ada kesempatan saya akan jalan-jalan ke daerah ini untuk menjenguk Dewi," ungkap Syam.
Bu Hasnah cukup dibuat terkejut dengan persyaratan yang dijelaskan oleh Syam, tapi ia tidak mungkin menolak ataupun menentang keputusannya Samuel mengingat hanya itu solusi yang paling tepat dilakukan.
"Semoga saja Bapak dan ibu-ibu memaklumi dan menerima keputusanku ini, karena menurut saya ini jalan yang terbaik, lagian saya juga bukan lah pelaku yang mencoba menganiaya keponakannya kalian jadi menurutku ini sudah sebanding dengan permintaan kalian," jelas Syam.
"Kenapa hanya menikah siri saja Nak?" Tanyanya Bu Husnah yang mulai kepo.
"Sejujurnya saya dua hari lagi akan menikah dengan perempuan yang aku cintai di Jakarta,saya datang ke daerah ini dalam rangka kerja tapi entah kenapa saya harus terseret dalam keadaan yang sungguh membingungkan dan nantinya akan merubah takdirku, semoga saja persyaratan yang saya ajukan bisa kalian terima atau mungkin bisa kalian diskusikan dan pertimbangkan sebelum menjawabnya," jelasnya Syam panjang lebar.
Pak Bambang tersenyum tipis," kami tidak akan menolak ataupun menentang pilihan yang kamu pilih ini,saya sebagai pamannya sangat bahagia karena kamu bersedia menikah dengan Dewi dan mengenai apa yang kamu katakan tadi kami jamin akan merahasiakannya dari siapapun juga termasuk Dewi sendiri."
__ADS_1