Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 213


__ADS_3

Abyasa mulai memerankan sandiwaranya. Ia ingin melihat Tanisha jika dia berpura-pura kesakitan. Padahal pukulannya Tanisha seperti menepuk nyamuk saja.


"Pak Abya maafkan saya yah, ini semua gara-gara kesalahanku yang tidak berhati-hati sehingga bapak terluka seperti ini," ratapnya Tanisha yang sangat menyesal dengan keputusannya tadi.


Tanisha membersihkan dengan alkohol seluruh lukanya Abyasa yang mulai membiru dan memar disekitar kening, pelipisnya dan juga lengannya.


Abyasa tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan Tanisha gara-gara ulahnya sendiri.


Tanisha mengobati lukanya Abyasa dengan telaten, penuh kehati-hatian agar Abyasa tidak mengeluh kesakitan.


Tanisha memberikan obat salep ke dahinya Abyasa," pasti sakit banget kan pak? Maafkan aku yah, aku tidak sengaja berbuat seperti itu," ratapnya Tanisha yang kembali menitikkan air matanya.


Abyasa hanya menggelengkan kepalanya melihat sikapnya Tanisha yang sangat peduli padanya. Tapi,dia malah mempermainkan perhatiannya calon istrinya itu.


Abyasa memegangi tangannya Tanisha yang sedang mengobati seluruh permukaan kulitnya yang terluka. Tanisha menatap ke arah dalam bola matanya Abyasa yang teduh dan menghanyutkan itu.


"Sudah cukup kamu mengobati seluruh lukaku, aku sudah baikan, aku sudah tidak apa-apa lagi, jadi stop mengobatiku," cegahnya Abyasa yang masih memegangi tangannya Tanisha.


"Tapi, luka bapak masih belum diobati sepenuhnya jadi jangan biarkan aku berhenti mengobatinya," sanggahnya Tanisha.


Abiyaza tersenyum simpul melihat raut wajahnya Tanisha yang marah. Dimatanya Abyasa, Tanisha sangat lucu dan menggemaskan karena memonyongkan bibirnya itu.


"Jangan memperlihatkan bibirmu seperti ini, kamu tahu gak kamu kelihatan sangat seksi," ucapnya Abyasa yang tidak secara langsung memuji kecantikannya Tanisha.


Tanisha yang mendengar pujiannya pria yang serius membawa hubungan sebagai atasan dan sekretaris menjadi suami istri itu malu-malu. Wajahnya seperti memanas dikedua sisinya sudah memerah seperti kepiting rebus saja.


"Bapak bisa saja, aku yakin ini hanya alasan untuk mengelak saja agar aku tidak melanjutkan mengobati lukanya bapak kan," tebaknya Tanisha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok, andaikan kamu sudah resmi menjadi istriku aku pastikan aku ingin kamu mengobatiku sampai pagi, tapi karena sudah tengah malam aku harusnya balik ke rumah," ucapnya Abyasa yang berpamitan kepada calon istrinya itu.


Tanisha segera mengarahkan pandangannya ke arah jarum jam yang terpasang di dinding kamarnya itu.


"Iya sudah jam dua belas lewat Pak, untungnya ayah enggak bangun jika tidak bapak akan mendapatkan masalah karena kesalahanku sendiri .." ucapannya Tanisha terpotong karena Abyasa menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya Tanisha.


"Semua ini bukan kesalahannya kamu, tapi aku yang sudah bersalah besar datang berkunjung ke rumahmu seorang perempuan tengah malam begini, maafkan aku yah, kamu bersiaplah besok tapi ingatlah kamu harus kelihatan lebih cantik dari semua wanita yang ada di sini besok," imbuhnya Abyasa.


Tanisha hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul karena jarinya Abyasa masih di depan bibirnya.


"Aku pamit pulang, tapi satu hal permintaanku padamu jika esok aku sudah resmi melamar mu,kamu tidak boleh memanggil namaku lagi dengan panggilan bapak, jika kita berada di luar area kantor kamu sapa namaku saja terserah kamu menyapa dengan nama apa saja asalkan dengan panggilan bukan embel-embel bapak," titahnya Abyasa yang tangannya masih berada di depan permukaan bibirnya Tanisha yang berdiri mematung di depannya langsung.


"Apa aku boleh menyapa bapak dengan panggilan daeng saja seperti almarhumah mamamu menyebut namanya ayah dengan sebutan daeng," pinta Tanisha.


Abyasa terdiam sesaat sambil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tanisha dengan memperlihatkan wajahnya yang seperti tidak menyukai permintaannya Tanisha.


Kedua bola matanya Tanisha gadis berlesung pipi indah itu, kembali berkaca-kaca karena kecewa dengan apa yang dimintanya tidak bisa dikabulkan oleh Abyasa.


Abiayasa kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya Tanisha yang sangat lucu, tetapi segera mengecilkan suaranya karena dia tidak ingin semua penghuni rumah itu terbangun dari tidurnya dan juga tetangga sekitarnya, hingga perutnya Abyasa kram.


Abaya menangkupkan tangannya ke dagunya Tanisha, "Kamu mau menyapaku dengan sebutan daeng seperti kebiasaan orang di kampung halamannya kamu tidak masalah, bagiku mas, abang, kakak atau honey dan senyaman kamu saja aku tidak akan mempermasalahkannya," ucap Abyasa.


Tanisha tidak berkedip sedikitpun diperlakukan seperti itu oleh pria yang mampu membuat jantungnya sekarang berdendang ria.


"Aku pamit dulu, assalamualaikum, dee you gadisku besok siang," ujarnya Abiyasa yang tanpa sepengetahuan dari Tanisha dia mengecup pipinya Tanisha kemudian segera cabut dari dalam kamarnya Tanisha.


Tanisha yang mendapatkan kejutan yang tiba-tiba hanya tersenyum lebar dan menyentuh dadanya yang semakin berdetak kencang. Tanisha spontan memegang pipinya yang sudah memerah menahan bahagia, malu yang bercampur menjadi satu bagian.

__ADS_1


"Kamu berdandan cantiklah besok, aku akan datang melamarmu!" Teriak Abiyasa yang segera masuk ke dalam mobilnya setelah berteriak seperti itu.


Tanisha berjalan ke arah jendela kamarnya dan menepuk dahinya saking terkejutnya mendengar teriakannya Abyasa.


"Astauhfirullah aladzim semoga saja tidak membuat security komplen dan juga tetangga sekitar rumah,ya Allah lancarkanlah besok siang, semoga saja acara lamarannya lancar dan sukses," gumamnya Tanisha yang masih memegangi pipinya sembari menutup dan mengunci rapat jendela kamarnya itu.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di depan pintu masuk rumahnya Dewi Kinanti dan Syamuel Abidzar.


Suara tangisan seorang bayi yang tak berhenti di tengah malam, sama sekali tidak membuat penghuni rumah tersebut terjaga dan terbangun dari tidurnya.


Hingga kedua pasangan suami istri baru saja sampai di dalam carport rumahnya,tapi mereka langsung dikejutkan oleh suara tangisan bayi yang memekakkan telinga mereka.


"Bang Ar apa abang enggak dengar ada suara bayi menangis?" Tanyanya Sahnum Inshira yang berjalan ke arah sumber suara itu setelah berbicara dengan suaminya.


Arion segera mengunci rapat mobilnya dan mengikuti langkah kakinya Shanum kemanapun perginya. Hingga dia melihat istrinya megambil bayi dari dalam keranjang bayi berwarna putih.


"Sayang itu bayinya siapa?" Tanyanya Arion Sneider yang keheranan melihat Shanun yang sudah menggendong bayi mungil berbedong pink itu langsung terdiam ketika dalam gendongannya Sahnum.


Shanum berjalan ke arah Arion suaminya dengan seulas senyuman termanisnya," bayiku bang," Jawab Sahnum tanpa terpikir sebelumnya.


"Tapi siapa yang menyimpan bayi yang sangat cantik dan imut ini di depan pintu rumahnya Mama lagi, malam-malam begini? Apa dia enggak kasihan dengan kondisi kesehatan bayi ini," gerutunya Arion yang langsung jatuh cinta dan perhatian melihat bayi mungilnya.


"Itu urusan belakangan bang, yang paling penting bayi cantik ini harus menjadi putriku, aku akan menjadikan dia anaknya Arion Sneider Oesman Sapta hingga dia besar nanti," harapnya Sahnum Inshira yang sangat bahagia dengan ucapannya sendiri.


"Kalau gitu kita bawa segera masuk sayangku, Abang tidak ingin putri kita kedinginan," titahnya Arion sambil merangkul pinggangnya Sahnum yang sudah menghujani ciuman di pipi gembul bayi yang diperkirakan berusia baru dua minggu itu.


Sahnun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan mencari keberadaan orang yang dianggap mencurigakan. Dia berharap bayi ini kelak akan selamanya menjadi anaknya.

__ADS_1


__ADS_2