Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 161


__ADS_3

"Dede kalau menurut kakak yah, kamu tidak boleh meragukan ketulusan hatinya Adelio, karena aku yakin dia itu serius dan tulus mencintaimu dan menyayangimu, contohnya dia bersedia meninggalkan keyakinannya yang lama dan beralih ke dalam kepercayaan yang sama seperimu, kalau pria tidak tulus dia pasti akan berfikir untuk tidak mengikuti jejak langkahmu," nasehatnya Shahnum.


"Iya dek contohnya Arion dia juga saking cintanya kepada Shanum, sampai-sampai dia menvasektomi dirinya sendiri, kalian sungguh beruntung punya calon suami yang benar-benar pengorbanannya mereka sungguh besar," timpalnya Abyasa Akhtam yang bangga dengan sikap dan perangai dari calon adik iparnya.


Shaira terdiam mendengarkan semua seksama perkataan dari ketiga saudara-saudarinya itu tanpa berniat untuk memotong pembicaraan ataupun menimpali percakapan ketiga kakak-kakaknya.


"Kalau menurut aku setuju, memang awalnya kami menentang Adelio si duren sawit itu menikah denganmu, tapi kami melihat kegigihannya dalam memenuhi tantangan kami yang cukup sulit, tapi dengan penuh keyakinan dan hatinya yang mantap sehingga ia mampu memenuhi tantangan yang kami berikan, benar kan bang," tanyanya Aidan Akhtar yang menatap ke arah kakaknya yang fokus menyetir mobil.


Shaira terdiam sembari berfikir memang semua yang dikatakan oleh ketiga kakaknya memang benar adanya.


Mungkin sudah saatnya aku membuka hati untuk seorang pria setelah mas Hanzal yaitu pria yang kelak akan menjadi suamiku. Pasangan hidupku kelak, semoga Pak Adelio bisa menjadi mualaf yang benar-benar sejati dan bukan hanya sekedar hanya memenuhi tantangan semata.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Shaira terduduk di balkon kamarnya sambil memandangi cahaya rembulan malam ini. Dia mengarahkan tangannya ke arah bulan seolah akan menggapai bulan itu yang kebetulan malam ini bulan purnama atau satu lingkaran penuh.


Mas Hansal selamat tinggal untuk selamanya, selamat tinggal masa lalu. Insha Allah besok saya akan memulai hidup baru bersama dengan pria yang bernama Adelio Arsene Smith.


Pria yang hanya aku anggap sebagai teman biasa, tapi kebaikannya melebihi orang yang kucintai. Tak pernah terpikirkan olehku, jika pak Adelio besok akan mengikrarkan hubungan kami ke jenjang tali pernikahan yang sangat suci dan sakral.


Tiba-tiba deringan hpnya mengagetkan Shaira dari lamunannya itu. Dia segera mengangkat gawainya itu dan melihat dilayar ponselnya dengan mengerutkan keningnya ketika melihat ada nomor baru yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamualaikum,halo," sapanya Saira.


Shaira segera memperbaiki posisi duduknya itu sambil berkomunikasi dengan pria yang menelponnya.

__ADS_1


"Maaf kalau boleh tahu Anda siapa dan apa ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya Shaira yang masih mengarahkan tangan kanannya ke arah bulan seperti yang dilakukannya sebelum menelpon.


Dewi hendak mengetuk pintu kamar putrinya, tapi melihat pintu tersebut tidak tertutup rapat. Sehingga, ia langsung memutar kenop pintu kemudian segera masuk. Dia mendengar perkataan putri tunggalnya itu sambil berjalan diam-diam tanpa berniat mengusik ataupun menganggu apa yang dikerjakan oleh anaknya.


"Saya Andrew Parker Smith adiknya pria insha Allah besok akan menikahimu," jelasnya Andre.


"Oh pak Andrew yah,ada apa Pak Andre?" Tanyanya Sahira.


"Saya hanya ingin bertanya mengenai masalah seserahan pernikahan yang akan kami bawa," ujarnya Andre.


"Kenapa memang dengan seserahannya pak Andrew?" Tanyanya balik Shaira seraya mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Andrew.

__ADS_1


"Sebelum saya menjawab pertanyaan dari kakak ipar, sebaiknya kata sapaannya itu diganti kak jangan pakai pak seperti saya ini ketuaan saja," candanya Andrew.


Shaira tersenyum simpul mendengar perkataan dari Andre," baiklah ada apa dengan seserahannya?"


__ADS_2