Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 215


__ADS_3

Fajar menyingsing, ayam berkokok lantang saling bersahut-sahutan pertanda pagi telah menyapa, seluruh umat manusia yang masih rehat dari segala rutinitasnya selama beberapa jam lamanya.


Seperti halnya yang terjadi di dalam kediaman keluarga besar Abidzar Al-Ghifari. Sejak adzan berkumandang satu persatu anggota keluarganya sudah terjaga dan bangun dari tidurnya.


Semua penghuni terbangun dan bergegas mengerjakan kewajibannya terlebih dahulu kepada Sang Khalik, Sang Maha Pencipta dan sang maha pemilik raga.


Dewi dan Syamuel melaksanakan shalat berjamaah di dalam mushola kecil di dalam rumahnya. Baru saja hendak mengucapkan beberapa kata dalam doa setulus hati yang dipanjatkan oleh mereka seperti biasanya. Tetapi, segera terhenti ketika mendengar suara tangisan anak bayi yang sungguh nyaring dan lantang di pagi buta itu.


Owek… oek…


Dewi menajamkan pendengarannya itu dan memasang baik-baik indera pendengarannya. Dewi mempercepat doanya karena penasaran dengan suara tangisan tersebut.


"Bukannya itu suara anak bayi, tapi ngomong-ngomong bayinya siapa dan kenapa suara tangisan itu terdengar di sekitar kamar anakku?" Cicitnya Dewi.


Sam yang mendengar suara dari istrinya yang sangat lirih itu pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Dewi. Dia juga buru-buru menyelesaikan doanya yang cukup panjang.


"Ada apa sayang, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Syam.


Dewi membuka kemudian melipat mukenah dan sajadahnya itu kemudian menaruh perlengkapan shalatnya ke dalam lemari.


Oek… oek…


"Coba perhatikan dan dengarkan dengan seksama, apa Abang mendengar suara tangisan anak bayi?" Tanyanya Dewi sembari berdiri dari duduk tahiyatnya itu dan berjalan ke arah pintu keluar mushola.


"Bang Syam tidak perlu ribut, coba abang ikut saja, karena saya yakin akan hal tersebut," ucapnya Dewi yang berjalanke arah luar dan mencari dimana suara bayi itu berasal.


Syam tidak mengerti kenapa bisa ada suara bayi di dalam rumahnya, sedangkan ketiga anaknya belum ada yang menandakan jika akan segera dikaruniai dan dianugerahi momongan buah hati mereka.


"Tapi, sumber suaranya dari mana, kenapa kok bisa ada bayi di dalam rumah kita ini? Atau apa jangan-jangan itu hanya suara dari televisi atau ponselnya Shanum atau Shaira," tebaknya Syam.


Syam tidak lagi mendapatkan tanggapan dari istrinya yang sudah berjalan mencari suara itu. Hingga dahinya Dewi saling bertautan karena sumber suara tangisan bayi itu tepat berasal dari dalam kamarnya putri sulungnya itu.


Dewi pun tanpa banyak pikir langsung mengetuk pintu kamar putrinya itu yang berharap tidak terjadi sesuatu padanya Sahnum dengan Arion.

__ADS_1


Aku yakin dengan sangat kalau suara itu dari dalam kamarnya puteriku, Shanum tapi apa benar ada bayi di dalam sana..apa jangan-jangan aku saja yang salah dengar.


Dewi menghentikan usahanya untuk memutar kenop pintu kamarnya Sahnum,tapi dia juga sangat penasaran dengan siapa yang membawa bayi tersebut.


Dewi awalnya tangannya menggantung di udara, terkadang juga dis segera menyentuh handel pintu itu. Tetapi, keraguan selalu datang menghantui benak dan pikirannya itu.


Tok… tok…


"Shanum apa yang terjadi padamu nak? Kenapa ada suara bayi yang menangis?!" Teriaknya Dewi sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Arion dan Shanum saling bertatapan satu sama lainnya. Bayi itu tidak berhenti menangis, padahal Arion sudah membuatkan susu formula untuk bayinya. Arion segera berjalan ke arah pintu dan memutar kenop pintu kamarnya.


Ceklek…


"Sha apa yang terjadi padamu Nak? Kenapa ada suara…" ucapnya Dewi terhenti ketika melihat dengan jelas Sahnun menggendong tubuh seorang bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu dalam gendongannya Shanum.


Arion hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya mama mertuanya sedang Shanum berusaha untuk menenangkan bayinya.


"Bayi!" Beonya kedua pasangan suami istri itu secara bersamaan.


"Cup… cup cucunya nenek yang cantik dan imut, ada apa sayang kok menangis mulu?" Dewi berusaha untuk menenangkan bayi yang belum diberi nama itu.


"Mama ini dotnya mungkin saja lapar," ucapnya Sahnum.


Arion hanya menatap keduanya tanpa berniat untuk ikut campur ke dalam perbincangan dan kegiatan keduanya. Untungnya semalam sebelum jam tiga subuh, Antoni sudah membawa berkas adopsinya dan juga beberapa kotak dos susu sehingga jika mereka bertanya sudah tidak kelimpungan dan kebingungan lagi.


Dewi segera menimang bayi tersebut dan memberikan susu formula melalui dotnya sambil meninabobokan cucunya.


"Sha tangisannya langsung reda setelah mama gendong padahal mama belum berikan dotnya loh, bahkan sudah kembali tidur malahan," imbuhnya Dewi yang bahagia melihat tingkah bayinya itu.


Dewi kembali melanjutkan menyayikan beberapa lagu khas untuk menidurkan bayi dan terutama shalawat dan bacaan surah-surah pendek Alquran 


"Syukur alhamdulilah akhirnya bisa kembali tertidur," ucapnya Sahnum yang bisa bernafas lega.

__ADS_1


Dia terus memandangi apa yang dilakukan oleh mamanya itu, tanpa disadarinya air matanya menetes membasahi pipinya.


Mungkin seperti ini lah dulu aku semasa kecilku dulu. Menangis di tengah larut malam karena lapar, atau buang air. Perjuangan seorang ibu memang sungguh luar biasa tiada tandingannya.


Shanum berlari kecil ke arah mamanya kemudian memeluk tubuhnya Dewi setelah menidurkan bayinya ke atas ranjangnya.


"Makasih banyak mama sudah membesarkan aku, sudah merawat aku hingga sampai detik ini, tanpa mama entah apa yang terjadi padaku, hiks… hiks…," ucapnya sendu Sahnum.


Dewi tersenyum teduh mendengar perkataan dari putri angkatnya itu sembari mengelus lengannya Sahnun.


"Kamu adalah putrinya Dewi Kinanti Mirasih jadi tidak perlu mengucapkan kata terima kasih, dalam hubungan anak dan orang tua, tidak ada namanya makasih." Tampiknya Dewi yang mengerti dengan apa yang dialami oleh Sahnum.


"Arion, ngomong-ngomong kamu mengadopsi seorang bayi kenapa enggak mengatakan kepada kami kalau kalian akan ke panti asuhan mengambil seorang anak nak?" Tanyanya Syamuel.


Arion mengarahkan pandangannya ke arah Sahnum istrinya sebelum menjawab pertanyaan dari papa mertuanya.


"Kami sebenarnya sudah punya niat untuk mencari anak bayi yang cocok sih ma, tapi kemarin malam ada teman yang mengatakan jika ada bayi yang cocok dengan kriteria dan persyaratan kami dan akhirnya kami berdua kesana, tapi katanya Sha dia ingin memberikan kejutan kepada kalian sehingga kami membawa ke rumah ketika kalian sudah tertidur," tuturnya Arion.


"Alhamdulillah kalau kalian punya niatan untuk mengadopsi anak nak, hati kalian berdua memang benar-benar mulia, Mama bangga pada kalian berdua, semoga dengan kehadiran bayi cantik ini bisa semakin mempererat hubungan tali pernikahan kalian berdua dan keberkahan hidup selalu menyertai setiap langkahmu," imbuh Dewi yang membalas memeluk putrinya itu.


"Syukur alhamdulilah kalian memang mama dan papa ter the best lah karena kalian selalu ada disaat kami sedih, bahagia dan selalu mengerti dan mendukung apapun itu demi kebaikan kami semua anak-anakmu," tuturnya Shanum yang masih memeluk tubuhnya Dewi.


Dewi menggoyangkan ayunannya baby princess, "Tapi apa kalian sudah memberikan nama kepada cucu pertamanya Mama nak?"


Arion dan Shanum sama-sama kebingungan dan melupakan memberikan nama yang cantik untuk putri angkatnya.


"Kami belum dapat sih, karena sejujurnya lupa soalnya," ucap Shanum yang tersipu malu karena telah melupakan hal-hal penting seperti pemberian namanya.


"Gimana kalau hari Jumat nanti kamu adakan aqiqahannya sambil mencari nama yang bagus dan indah, tapi sarannya Papa berikanlah nama yang terbaik untuk anak-anak kalian karena nama itu adalah doa dan harapan kalian kepada penerus keturunanmu," nasehatnya Syam dengan bijak seraya ikut menoel pipi dan hidung mancungnya bayi tersebut.


Walau bayi itu asal usulnya tidak jelas, tapi Sam dan Dewi sejak pertama melihatnya merasakan ada gelenyar aneh yang muncul dari dalam lubuk hatinya yang paling terdalam. Seolah anak itu adalah cucu kandungnya sendiri. Mereka bergantian menggendong bayi itu hingga pagi hari.


Perbincangan mereka terhenti mengingat masih banyak pekerjaan yang akan mereka lakukan pagi itu hingga menjelang siang hari.

__ADS_1


Hari ini bertepatan dengan hari ahad, mereka akan berangkat ke rumahnya Sanika Tanisha untuk melamarnya gunakan adat istiadat suku Bugis Makassar.


__ADS_2