Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 48


__ADS_3

Irwan menatap jengah keduanya itu,"maaf saya kesini hanya untuk mencari keberadaan Dewi Kinanti Mirasi bukan untuk mendengar perkataan kalian yang tidak bermutu itu!" Ucapnya mencemooh Dian dan Hayati.


"Dan perlu anda ketahui jika Dewi sudah tiga hari tidak masuk kerja dan tanpa kabar sedikitpun, sudah yah karena hanya itu yang Anda inginkan dengar dari kami, maafkan kami harus masuk karena jam istirahat sudah selesai, assalamualaikum," dengusnya Dian yang telah salah menilai pria tersebut.


"Kalian dasar Nenek sihir pantesan kalian tidak laku-laku karena sifat kalian tidak seperti Dewi yang baik hati, lemah lembut dan penyayang sedangkan kalian berdua wanita kasar dan tidak punya hati!" cibirnya Irwansyah yang perkataannya melebihi seorang perempuan saja.


Dian menghentikan langkahnya itu setelah mendengar perkataan cibiran dari Irwansyah kemudian berbalik arah menuju Irawansyah.


"Lebih saya jadi perawan tua dari pada harus ngotot dan menghalalkan segala cara untuk merebut istri sahabat sendiri! lebih terpandang perawan tua seperti kami ini dari pada seorang dokter muda yang tidak tahu diri dan tidak punya rasa malu terus menerus menggoda dan berusaha merebut istri orang lain!" sarkasnya Dian yang menohok hatinya langsung Irwan.


Setelah berkata seperti itu, Dewi dan Haya segera meninggalkan Syam yang raut wajahnya memerah saking jengkelnya dan marahnya mendengar segala hinaan dan cibiran dari Dian. ia mengeratkan genggaman tangannya itu saking marahnya mendengar perkataan Dian yang memang fakta dan kenyataannya seperti itu.


Samuel Abidzar Al-Ghifari segera melaporkan kasus kehilangan istrinya itu di kantor polisi. Samuel begitu prustasi karena tidak mendapatkan kabar apapun tentang Dewi. Samuel tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena melaporkan kehilangan istrinya ke pihak yang berwajib adalah jalan terakhir.

__ADS_1


Aku pulang ke rumah setelah dari kantor polisi, aku berharap setelah sampai di rumah aku melihat Dewi menyambut kedatanganku seperti biasanya yang dia lakukan. Rumah ini nampak sangat sepi, lampu depan masih menyala seakan Dewi yang menyalakan lampunya.


Sedikitpun tidak ada jejak kehidupan di dalam rumah sederhana yang aku belikan sekitar dua bulan lebih yang lalu untuk istriku. Awalnya aku merasa rumah ini terlalu sederhana dan kecil untuknya, tapi tak kuduga jika ia begitu bersyukur dan bahagia menerima pemberian ku ini.


Syam duduk di dalam mobilnya belum ada niatan untuk keluar dari balik setir mobilnya itu. Ia terus menatap intens ke arah rumahnya dan sekitarnya. Sesekali terdengar suara helaan nafasnya yang begitu panjang. Dia juga terkadang menyandarkan kepalanya ke setir mobilnya.


Aku segera meninggalkan Jakarta tanpa peduli dengan Nadia ketika aku mendapatkan kabar dan informasi dari temannya, jika Dewi masuk rumah sakit dan di rawat gara-gara ulahnya Herman, tapi apa yang aku dapatkan setelah sampai di sini, hanya kabar duka kehilangan istriku yang aku terima.


Aku tidak melihat lagi senyumannya yang termanis selalu mampu menyejukkan dan menenangkan hatiku ini. Wajah damai dan teduhnya hanya menjadi bayang-bayang semu yang aku rasakan.


Selama satu minggu Samuel berada di kampung halaman istrinya sambil setiap hari bolak balik kantor polisi untuk mengecek, bertanya kabar terakhir tentang keberadaan istrinya itu. Tapi, hasilnya masih sama belum ada tanda-tanda yang mengetahui keberadaannya.


Hari ini aku memutuskan untuk balik ke Jakarta, tapi aku menemui pak Arsyad Hakim yang menangani kasus kehilangan istriku Dewi Kinanti Mirasih. Aku ingin mengatakan padanya jika ada kabar atau informasi penting tentang istriku tidak perlu sungkan untuk menghubungi nomor hpku.

__ADS_1


Aku enggan melangkahkan kakiku masuk ke dalam area kantor polisi, karena aku sudah ada feeling jika aku akan kembali menuai dan mendengar berita kegagalan lagi dan lagi untuk kesekian kalinya.


"Selamat pagi pak Arsyad," sapaku ketika kami saling berhadapan satu sama lainnya.


"Selamat pagi Pak Syam, silahkan duduk," pintanya.


Aku pun mulai menjelaskan niat kedatanganku ke sini yaitu jika aku akan kembali ke Jakarta siang hari ini dan meminta pak Arsyad Hakim untuk mengabariku info sedikit apapun itu asalkan mengenai Dewi harus mereka kabarin.


"Baiklah kalau memang seperti itu maunya pak Syam kami pasti siap sedia 24 jam membantu Anda apapun itu, pihak kami akan menghubungi nomor hp anda jika memang pihak kami sudah mengetahui keberadaan istri anda Pak dan sedikitpun ada tanda-tanda pun kami juga akan menelpon Anda jadi tidak perlu khawatir masalah disini Anda bisa fokus dengan kerjaan Anda di Jakarta," ujarnya Pak Arsyad.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, makasih banyak Pak,"


Setelah dari kantor polisi aku melanjutkan perjalananku ke tempat kerjanya Dewi, aku ingin bertemu dengan Dian Mayang Sari dan Nurhayati Kumalasari. Aku berharap kedatanganku di swalayan tersebut mendapatkan setitik cahaya keberadaan dari Dewi.

__ADS_1


Aku sangat khawatir dan terjadi sesuatu padanya apalagi dia sedang hamil anak pertama kami. Entah apa yang terjadi padanya saat ini, aku hanya berharap dimanapun Dewi berada aku berharap dia baik-baik saja.


__ADS_2