
Shanum histeris di depan klinik bersalin. Banyak pengunjung rumah sakit yang memperhatikan apa yang dilakukannya. Tubuhnya Shanum gemetar hebat dan ketakutan melihat Arion. Apalagi mengingat kejadian malam terpahit dan terkelam dalam hidupnya.
"Pergi! Kamu menjauh dariku jangan dekati aku lagi!" Jeritnya Shanum yang terus mendorong tubuhnya Arion.
Kedua pasang matanya Shanum menatap tajam ke arah Arion, seolah kedua bola matanya akan meloncat dari dalam kelopak matanya itu.
Sedangkan Arion tidak takut sedikitpun, bahkan tidak mengurungkan niatnya untuk terus mendekati Shanum. Sedang Shanum terus menjauh agar tidak bersentuhan lagi dengan Arion, cukup yang telah lalu kesalahan yang diperbuatnya, dia tidak ingin mengulangi kesalahan, dosa dan khilafnya yang paling terbesar dalam hidupnya selama ini.
"Tolong jangan memberontak, sebaiknya kita cari tempat khusus untuk berbicara untuk menyelesaikan permasalahan kita ini," bujuknya Arion yang ingin menyentuh tangannya Shanum.
Shanum segera menggemaskan tangannya Arion," maaf tidak ada yang perlu kita bicarakan, karena kita tidak ada hubungan apapun!" Ketusnya Shanum dengan deraian air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.
Arion tidak menyangka jika Shanum akan menolak perkataannya, Shanum mendorong tubuhnya Arion sekuat tenaganya hingga Arion yang tidak bersiap dengan serangan tiba-tiba itu hampir saja terjungkal ke arah belakang.
Shanum memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya,ia tidak ingin berlama-lama bersama dengan Arion ayah biologis dari janin yang dikandungnya itu.
__ADS_1
Perdebatan mereka juga di dengar oleh beberapa orang yang kebetulan berada di sana, dengan tatapan mencemooh hingga tatapan mata yang sulit diartikan dari banyaknya pengunjung klinik.
Tetapi, Shanun dan Arion malah tidak peduli dengan tatapan mereka bahkan desas desus yang didengarnya langsung hingga mereka meninggalkan tempat tersebut dengan tatapan mata dari orang-orang masih tertuju pada keduanya.
Shanum segera berlari cepat dari hadapannya Arion, ia tidak ingin berhubungan lagi ataupun mengenal pria yang telah menghancurkan kehidupannya dan masa depannya itu.
"Shanum Inshira Abidzar Al-Ghifari, aku mohon berhentilah aku hanya ingin berbicara sebentar saja denganmu," teriak Arion yang terus tetap mengejar kemana perginya Shanum.
Shanum segera menolehkan kepalanya ke arah Arion," saya tidak akan pernah mendengarkan semua perkataanmu apapun itu, andaikan bisa saya ingin selamanya saya tidak ingin melihat kamu lagi muncul di hadapanku!" Pekik Shanum yang berlari sambil mengangkat rok rempelnya yang berwarna cokelat itu.
Sedangkan Shanum yang tidak menduga dan menyadari arah kedatangan motor tersebut sudah terlambat, untuk menghindar dari tabrakan motor berwarna biru itu.
"Aahh tidak!! Tolong!!" Jeritnya Shanum yang tubuhnya terpelanting ke arah atas aspal pagi menjelang siang hari itu.
"Sha!! Tidak!" Pekiknya Arion sembari berlari cepat ke arahnya Shanum yang sudah terkapar di atas aspal yang terpapar langsung sinar matahari.
__ADS_1
Semua orang yang kebetulan berada di tempat area kejadian ikut berlari ke arah Shanum yang sudah terbaring di atas aspal dengan darah yang mengucur dari kepala melalui dari balik hijabnya dan juga dibagian pahanya semakin deras darah yang mengalir.
Arion sudah memangku tubuhnya Shanum yang kedua kelopak matanya akan tertutup. Arion menangis melihat kondisinya Shanum yang hampir saja kehilangan kesadarannya.
"Sha ini Abang, aku mohon bangunlah, sadarlah maafkan aku," ratapnya Arion.
Hingga tanpa sengaja telapak tangannya menyentuh hijab bagian belakangnya dengan berlumuran darah.
"Ini kan darah!" cicitnya Arion yang semakin menangis tersedu-sedu dan terisak dalam tangisannya.
"Pak kalau hanya menangis saja sepertinya tidak akan membantu, kasihan Mbaknya," ucapnya salah satu bapak-bapak.
"Iya betul sekali, lihat semakin banyak kehilangan darah, cepat bawa masuk ke dalam klinik sebelum terlambat," perintah salah satu dari ibu-ibu yang kebetulan berada di sana.
Saking terkejutnya dan paniknya Arion tidak bisa berfikir jernih dengan apa yang terjadi pada Shanum.
__ADS_1