Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 28


__ADS_3

Syam selalu merasa memiliki dua istri sekaligus pendamping hidupnya tapi, memiliki karakter yang sangat jauh berbeda. Nadia yang sejak kecil dimanja oleh kedua orang tuanya, tidak tahu menyenangkan hatinya Syam. Sedangkan Dewi begitu pintanrnya memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri seutuhnya.


Dewi sama sekali tidak seperti orang yang baru hidup dan menikah dengan Syam dilihat dari ketulusan hatinya melayani suaminya dalam segala hal. Sedangkan Nadia lebih sering melimpahkan dan memberikan pekerjaan dan tugasnya yg seharusnya dia mengerjakan kepada asisten rumah tangganya itu.


Syam mengecup sekilas keningnya Dewi hingga ke bibirnya yang sedikit membengkak akibat ulahnya sendiri, "Kamu sudah bekerja keras untuk menyenangkan hatiku, jadi saatnya sekarang abang yang menyenangkan kamu sayang, awalnya jujur aku sama sekali tidak tertarik padamu, aku sudah memantapkan hatiku jika hanya Nadia Yulianti yang akan selamanya aku cintai dan sayangi setulus hatiku, tapi ketika aku mengetahui dan melihat langsung Irwansyah mendekatimu dan berupaya untuk mendapatkan perhatianmu, hatiku marah,jengkel dan tidak menyukai kedekatan kalian, dari situlah aku sadari jika aku sudah jatuh dalam pesona kepribadianmu yang santun, sederhana, bijaksana, penyabar," Syam memuji karakter dan peringainya Dewi yang begitu mampu membuatnya jatuh cinta.


Keesokan paginya, jam di dinding menunjukkan sudah pukul lima pagi. Kemarin Dewi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bangun cepat dan akan ke pasar tradisional untuk belanja bahan makanan yang masih segar.


Tetapi, karena aktifitas keduanya yang cukup melelahkan dan menguras tenaga, Dewi sampai detik ini masih terlelap dalam tidurnya. Dewi masih bergelung dalam selimut tebalnya berwarna putih cokelat itu.


Samuel melihat istrinya masih tertidur, ia ingin membangunkan Dewi istrinya untuk shalat subuh berjamaah, tetapi ia terlalu kasihan kepada perempuan yang sudah melayaninya dengan segenap jiwa, hati dan raganya. Sam menyeka anak rambut panjangnya Dewi yang menghalangi wajahnya itu.


Sam masih berbaring di atas ranjangnya dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Dewi dengan tangannya bertumpu pada salah satu tangannya itu, "Dewi Kinanti Mirasih makasih banyak karena kamu sudah memberikan aku kesempatan yang pertama kali untuk memetik dan mencicipi semua yang kamu miliki, aku sangat bersyukur karena kamu dengan suka rela memberikan hakku sebagai suamimu,"


Syam kemudian mengecup sekilas keningnya Dewi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia juga bergerak di atas ranjang agar pergerakan dari tubuhnya itu tidak menimbulkan gerakan yang kuat hingga mengusik ketenangan istirahat dan tidurnya Dewi.


Perempuan yang awalnya aku nikahi hanya karena kasihan melihat kondisi kesehatannya yang terganggu itu ternyata sudah mampu menyentuh relung hatiku dengan senyuman tulusnya yang sering diperlihatkan padaku. Aku berjanji akan mencintaimu dengan tulus sepenuh hatiku seperti yang aku berikan kepada Nadia Yulianti istriku.

__ADS_1


Syam segera bangkit dari baringnya itu untuk bergegas ke kamar mandi. Ia ingin membersihkan seluruh tubuhnya karena akan melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu sebelum berangkat ke pasar tradisional menggantikan Dewi.


Syam hari ini berniat untuk belanja di pasar, kasihan jika harus Dewi yang berangkat sendiri dengan keadaannya yang takutnya Dewi semakin perih sakit di bagian sensitifnya itu. Karena Syam teringat dengan Nadia yang dua hari kerjaannya tiduran mulu waktu mereka untuk pertama kalinya berhubungan.


Syam menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya karena bersiap untuk melaksanakan shalat subuh. Tapi, tanpa sepengetahuannya diluar dugaan Dewi sudah berdiri di depan ambang pintu tanpa mengetuk pintu kamar mandi hanya berdiam diri menunggu suaminya selesai.


Syam terkejut melihat Dewi yang sudah bangun dari tidurnya itu. Dia tidak menduga jika kelihatannya Dewi sama sekali tidak mengalami hal yang dirasakan oleh Nadia sebelumnya. Syam langsung mengubah raut wajah keterkejutannya dengan senyuman menyambut istrinya.


Syam hendak meraih pinggangnya Dewi tapi teringat kembali kalau dia akan shalat subuh sehingga ia mengurungkan niatnya yang tergoda melihat Dewi yang hanya memakai handuk melilit disekujur tubuhnya yang seksi. Syam pun membelalakkan matanya melihat begitu banyak tanda kissmark hampir keseluruhan tubuhnya Dewi.


"Kamu sudah bangun, kalau masih ngantuk tidur saja dulu sayang takutnya kamu kelelahan atau mungkin ada yang sakit," ujarnya Syam.


Dewi tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulut suaminya itu," insya Allah kalau sakit seperti ini aku masih bisa hadapin Abang, shalatku ibadahku lebih utama dibandingkan dengan bermanja-manja di tempat tidur, lagian hanya perih kok aku bisa tangani jadi Abang tidak perlu khawatir begitu juga," pungkasnya Dewi.


"Kalau gitu kamu cepat sana mandi ambil wudhu aku tungguin kamu kita shalat berjamaah bareng," usulnya Sam di depan istrinya itu.


Dewi hanya tersenyum malu-malu karena kilatan bayangan apa yang keduanya lakukan semalaman masih terekam jelas di dalam kepalanya hingga dipelupuk matanya. Hingga Dewi tak sanggup untuk melihat langsung kedalam kedua bola matanya Syam.

__ADS_1


Syam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dewi istrinya itu,ia pun tersenyum melihat senyuman kikuknya Dewi yang menurutnya lucu, apalagi wajahnya Dewi yang blushing memerah dikedua sisi pipinya itu.


"Kamu sangat lucu seperti anak abg saja,tapi inilah yang aku sukai dari kamu istriku,"


Syam tidak menyangka jika, Dewi akan terbangunnm cepat padahal semalam hanya tidur beberapa jam saja karena mereka untuk pertama kalinya saling membahagiakan dan memenuhi tanggung jawab masing-masing untuk menuju kebahagiaan dalam berumah tangga setelah hampir empat bulan menikah.


Dewi mengguyur tubuhnya dengan air hangat, karena sudah terbiasa mandi di jam seperti itu, Dewi sama sekali tidak merasakan kedinginan apalagi mandinya pakai air hangat.


Dewi sesekali tersipu malu ketika melihat tubuhnya yang putih mulus itu terkena sinar cahaya lampu dan langsung menyoroti tubuhnya yang terdapat tanda kemerahan yang sudah hampir berubah warna menjadi kebiru-biruan itu.


Sedangkan Syam kembali terperangah takjub dengan kelakuannya Dewi. Ia mendapati dua stelan pakaian khusus untuknya. Pertama adalah pakaian baju koko muslim lengkap kopiah dan juga juga pakaian santai yang akan dipakainya setelah melaksanakan shalat subuh.


"Aku begitu tersanjung dan bahagia mendapatkan perlakuan istimewa dari istriku, aku bagaikan raja saja yang serba disediakan dari segala hal, aku takutnya ketergantungan pada hal-hal kecil seperti ini jika aku balik ke Jakarta,"


Berselang beberapa menit kemudian Dewi pun sudah selesai dan siap untuk shalat sunnah terlebih dahulu sebelum shalat subuh.


Keduanya untuk pertama kalinya melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama. Mereka melaksanakan shalat dengan khusyuk, tanpa terduga suaranya Syam begitu merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an terutama surah Al-fatihah. Dewi terkagum-kagum dan memuji kemampuan yang dimiliki oleh Syam setelah mendengar suaranya Syam membaca satu persatu ayat suci Al-Quran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2