Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 203


__ADS_3

Dewi merasakan jika ada sesuatu hal yang akan disampaikan oleh anaknya itu, tapi anaknya seperti sungkan untuk menyampaikan maksudnya.


"Ya Allah putraku yang paling ganteng dan baik hati tumbenan punya penyakit tulalit, apa penyakitnya adikmu Sahnum pindah sama kamu Nak," guraunya Dewi sembari mengelus rambut hitam kecokelatan milik salah satu putra kembarnya itu.


"Kalau gitu aku pamit yah Ma, assalamualaikum alaikum, selamat malam," ucapnya Abyasa yang tidak lupa mengecup sekilas pipi mamanya seperti yang sering kali dilakukannya itu.


Dewi hanya mengulas senyumannya melihat punggung lebar putranya yang bergegas pergi meninggalkannya.


Mama akan memberikan waktu untuk kamu siap untuk mengutarakan niiatmu Nak kepada Mama.


Tapi, feeling mama kakak ingin menyampaikan perihal yang sangat serius, apa jangan-jangan ini ada kaitannya dengan gadis yang numpang dan rumah kita.


Tetapi, gadis cantik itu akan menikah hanya saja kabur dari rumahnya. Kalau aku diposisinya pasti juga akan kabur, walaupun nasib kedua orang tua yang menjadi taruhannya.


Ini hidup, bukan masalah mudah untuk langsung diputuskan begitu saja seenaknya. Tanisha sudah tepat untuk minggat sebelum menikah dengan pria tua bangka itu.


Kalau aku amit-amit jabang bayi lah, menikah dengan pria yang sudah bau tanah seperti Pak Kirmanto.


Dewi bergidik ngeri membayangkan bagaimana wajahnya calon suaminya Tanisha.


Entah kenapa perasaanku mengatakan jika Abiayasa mencintai Tanisha dari caranya bersikap dan menatap gadis itu.


Kalau mereka saling mencintai tidak masalah, jika Tanisha sudah membatalkan secara resmi rencana pernikahannya. Apabila tidak bakal jadi masalah besar yang penyelesaiannya bakal rumit.

__ADS_1


Dewi berjalan perlahan menuruni satu persatu undakan anak tangga. Hingga sudut netra hitamnya melihat sosok putra pertamanya yang menggendong Tanisha ala bridal style yang nampak ketiduran.


Dewi mempercepat langkah kakinya, karena khawatir melihat kondisi kedua anak muda itu. Walaupun Dewi cukup yakin dan percaya kepada putranya sendiri yang tidak mungkin bakal melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama ataupun akan mempermalukan anggota keluarganya terutama kedua orang tuanya.


"Kakak apa yang terjadi pada Tanisha?" Teriaknya Dewi yang terus mengejar Abyasa yang sudah berjalan ke arah kamarnya Tanisha.


Abyasa yang mendengar teriakannya mamanya itu segera mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Dewi.


"Tanisha ketiduran di sofai depan televisi Ma, aku sudah berusaha untuk bangunkan Tanisha tapi dia tidak terbangun malah semakin mendengkur saja," jelasnya Abyasa.


"Apa yang kamu lakukan sudah tepat nak, tidak enak sama adik-adik iparmu kalau mereka melihat Tanisha tertidur di sini dengan pakaian yang seperti itu, cukup terbuka auratnya," imbuhnya Dewi.


Dewi mengekor di belakang punggung anaknya itu hingga ke dalam kamarnya Tanisha.


"Baringkan dengan pelan-pelan ke atas ranjangnya kak, kasihan Tanisha sudah tertidur dengan tubuhnya terlipat seperti tadi," pintanya Dewi Kinantii yang mempersiapkan bantal dan guling khusus untuk Tanisha.


"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Abiayasa.


Dewi segera menarik selimutnya bedcover sebagai selimut untuk Tanisha. Abyasa memandangi wajahnya Tanisha dengan tak jemu-jemu. Ia diam-diam mengangumi kecantikan Tanisha yang sudah terlelap dalam tidurnya.


"Kamu memang sangat cantik,tapi sayangnya kamu dijodohkan dengan pria aki-aki yang bau tanah itu, tapi aku berharap semoga saja dengan kejadian itu pak Kirmanto tidak akan pernah menganggu dan mengusik ketenangan hidupmu, semoga saja aku punya kemampuan dan keberanian untuk mengutarakan apa yang aku inginkan padamu, niatku ini tulus untuk…"


Dewi mengerutkan keningnya melihat tingkah laku dan perilakunya salah satu anak kembarnya itu yang tiba-tiba terdiam dengan sorot matanya yang terus tertuju pada Tanisha yang sama sekali tidak menyadari kedatangan keduanya.

__ADS_1


Apa yang terjadi padanya, kenapa anakku terus memandangi wajah cantiknya Tanisha, Hem… dugaanku kalau seperti ini memang benar tidak meleset lagi. Ada yang tidak beres dengan putraku bersama dengan perempuan manis cantik ini.


Tapi,kalau memang Abyasa mencintai Tanisha semoga bisa merubah pendiriannya segera memakai hijab untuk menutupi auratnya.


Puk…


Tepukan dipundaknya Abiayaza yang dilakukan oleh Dewi mampu menyadarkan dari khayalannya itu.


Abiyasa reflek melihat ke arah mamanya itu, dengan salah tingkah, "Egh ada apa Ma!?" Ucapnya Abyasa sontak menatap ke arah mamanya itu wanita luar biasa yang melahirkannya kedunia ini dengan banyak pengorbanan.


"Abiayasa Akhtam Al-Ghifari, Kita sebaiknya segera keluar dari sini, enggak enak berada disini terus, apa kamu enggak capek juga berdiri seperti patung dengan menatap ke arah Tanisha yang sudah damai di alam mimpinya," candanya Dewi.


Abiayasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, karena merasa tidak enak hati ketahuan oleh mamanya sendiri.


"Iya Ma, kasihan Tanisha hari inu menghadapi banyak masalah dan cobaan, jadi sebaiknya kita keluar saja biarkan dia tertidur pulas besok pagi kami ada rapat penting," ujarnya Abyasa yang segera ngacir dan cabut dari hadapan Mamanya sebelum Dewi melayangkan berbagai macam pertanyaan untuknya.


Dewi hanya tersenyum simpul menanggapi sikapnya Abyasa yang sangat mirip dengan suaminya Syamuel Abidzar.


"Kamu memang putranya bang Sam, kamu sangat malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya pada orang yang disayanginya, butuh keberanian khusus untuk mengatakan yang sesungguhnya," gumamnya Dewi.


Abiyasa bernafas lega ketika dia terlepas dari berbagai macam pertanyaan yang akan diberikan oleh mamanya itu.


Alhamdulillah untungnya Mama tidak bertanya-tanya lagi, kalau tidak aku akan ketahuan oleh Mama.

__ADS_1


Entah kenapa aku sangat sulit untuk mengungkapkan secara langsung niat baikku. Aku terlalu takut kecewa karena ditolak cintaku. Andaikan Tanisha langsung mengatakan padaku yang sejujurnya, dia mencintaiku aku akan bahagia banget.


Sudahlah aku sudah aman untuk sementara waktu, aku akan cari waktu yang tepat untuk berbicara berdua dengan mama atau dengan papa saja, mungkin aku tidak akan malu-malu mengatakan yang sesungguhnya pada papa karena kita sama-sama laki-laki.


__ADS_2