Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 152


__ADS_3

Shaira dan ketiga saudaranya menjadi pusat perhatian sejak mereka sama-sama turun dari mobil hingga berada di dalam gedung tersebut.


"Aku sungguh menyesal menyetujui Hanz puteraku menikahi putrinya pak Irwansyah padahal Shaira adalah gadis yang paling pantas dan layak mendampingi puteraku, sedangkan Ariella Ziudith hanya tahu bersolek saja," umpatnya Bu Putri Handoko Mama kandungnya Hanzal Abdul Djailani.


Bu Putri baru tersadar dan mengetahui jika putra tunggalnya itu menikah dengan Ariella adalah kesalahan terbesar. Awalnya dia dan suaminya pak Basuki Andreas tidak setuju atas rencana pernikahan mereka. Tetapi, karena Ariela hamil sehingga mau tidak mau mereka menerima dan menyetujui dengan terpaksa permintaan Hansal.


"Pak Syam pasti bangga kepada anak-anaknya setelah meraih prestasi yang cukup gemilang dan bagus," puji Pak Reinaldo.


"Iya Pak benar sekali apa yang dikatakan suamiku, bapak Syamuel sungguh beruntung mendapatkan anak yang baik-baik,pintar dan memiliki masa depan yang cerah, sejujurnya kami turut bahagia dan juga cemburu pengen seperti anak-anak kembarnya bapak loh," ucapnya Bu Dona.


"Tapi ngomong-ngomong bagaimana sih rahasia dan resepnya memiliki anak yang masa depannya bagus dan cemerlang? Bagi kiat-kiatnya pada kami dong Pak Syam," pintanya Bu Haruna.


Syam dan Dewi tersenyum senang dan gembira dengan segala pujian yang diperoleh oleh anak kembarnya. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT.


"Syukur alhamdulilah atas segala pujian yang bapak ibu berikan untuk anak-anakku,saya sangat senang dengan apa yang mereka gapai memang sesuai dengan cita-cita dan harapan mereka sejak kecil dan kami kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak ataupun menekan mereka untuk menjadi apa yang kami inginkan, benar-benar murni dari harapan mereka sendiri yang diwujudkan oleh Allah SWT," ungkapnya Pak Syam panjang lebar.


Syam terus mengapit lengan istrinya dengan posesif di usia pernikahan mereka yang sudah tidak muda lagi.


"Benar sekali pak dan ibu-ibu kami sama sekali tidak pernah sekalipun melarang apa yang mereka inginkan dan lakukan,selama hal-hal itu positif dan bagus tidak melanggar ajaran Allah SWT kenapa kami harus melarangnya, hanya itu cara-cara kami mendidik dan membesarkan mereka hingga detik ini, begitupun juga dengan jodohnya selama kami seiman kenapa enggak yah Bang Sam untuk merestui jodohnya," imbuhnya Dewi Kinanti Mirasih.


"Makasih banyak atas penjelasannya yang sungguh sangat bagus untuk kami terapkan pada anak-anak kami kelak,tapi menurut saya yah Bu Dewi anak-anak ibu seperti ini karena, memang ibu perempuan yang baik hati Sholehah, sehingga otomatis anak-anaknya baik pula, berbeda dengan seseorang di sana yang menghalalkan segala cara untuk membahagiakan anaknya walau itu sangat salah dan keliru," tukasnya Bu Ratnasari.

__ADS_1


"Ibu Ratna bisa saja,kami tidak pernah memikirkan kehidupan orang lain apalagi membandingkan cara mengasuh dan mendidik kami,selama itu baik kenapa tidak," ucapnya Dewi lagi.


Berbagai pujian mereka dapatkan dan dengarkan langsung dari beberapa tamu undangan yang hadir malam ini. Tetapi, ada beberapa orang yang juga menyayangkan kedatangan mereka yang menjadi pusat perhatian.


"Sial! Kenapa Shaira semakin cantik dan bisa diterima bekerja di rumah sakit terbesar dan terbagus di Jakarta? Padahal perempuan itu tidak layak mendapatkan semua itu, tapi aku harus waspada jangan sampai di memiliki kesempatan untuk menggoda suamiku mas Hanz," umpatnya Ariella Ziudith.


Ariella kepanasan mendengar perkataan dari ibu-ibu itu dan para suami mereka yang mengelu-elukan nama anaknya Syam dengan begitu bangganya mereka. Sedangkan Syam dan Dewi hanya tersenyum merendah dan tidak ingin berbesar hati atas pujian itu sehingga membuatnya sombong dan songong.


Ariela segera berjalan ke arah suaminya setelah melihat jika Shaira dan kakak-kakaknya menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan dan anggota keluarganya sendiri. Bahkan pamor sang kedua mempelai kalah dengan popularitas anaknya Samuel Abidzar Al-Ghifari.


"Ibu-ibu bisa saja,kami ini hanya anak-anak biasa kok tidak punya kelebihan yang istimewa bagaimana-bagaimana,kami hanya bercita-cita sejak awal untuk membahagiakan kedua orang tua kami yang sudah berjasa besar," timpalnya Syaira yang baru muncul bergandengan tangan dengan kakaknya Abyasa Ahtark.


Shaira dan kakaknya Aidan pun tidak mau kalah memuji kedua orang tuanya itu. Mereka memuja dan memuji kedua orang tuanya dengan sanjungan yang memang pantas mereka dapatkan.


"Aku sangat menyesal mengundang mereka untuk datang, bukannya anak-anakku yang dipuji oleh mereka malah anaknya Syam yang bodoh dan kampungan yang mendapatkan kehormatan dari semua orang yang datang," umpatnya Dokter Irwansyah.


Arabela Aqila menyambut hangat dan senyuman ramah keempat kakak sepupunya dan juga paman dan tantenya itu.


"Makasih banyak Om Tante kalian sudah datang ke acara saya dengan suamiku, kami tidak menyangka jika kalian akan rombongan datang, jujur saja ini berkah dan kebahagiaan yang sangat tak terkira kalian bisa hadir," sapanya Ara sambil cipika cipiki dengan Shaira, Dewi dan Shanum.


"Insha Allah kami pasti datang lah Ara, walaupun papa kamu sudah berpisah dan menceraikan adik mama kami,tapi tali silaturahmi tidak boleh terputus juga kan," imbuhnya Shanum Inshira yang membuat Dokter Irwansyah meradang marah tapi dengan lihai dan pintarnya menyembunyikan dan menyamarkan kemarahan dan kekesalannya.

__ADS_1


"Mereka kan kakak sepupumu jadi wajarlah mereka hadir untuk memberikan ucapan doa restu untuk putriku yang cantik ini," sahutnya Bu Dina yang sama sekali tidak peduli dengan tatapan membunuh suaminya dan tanggapan miring dari beberapa mulut julid tentang keputusannya untuk meninggalkan suami dan ketiga anaknya.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Mama mertua, mereka tetaplah kerabat kau walaupun ada perpisahan dan perceraian, tapi itu tidak boleh menghalangi silaturahmi kalian," cercanya Desta Alamsyah yang tatapan matanya terus tertuju pada Shanum gadis yang akan menikah dua hari dari saat ini.


Arabela yang melihat suaminya jelalatan terus memperhatikan Shanum segera mengeratkan pelukannya pada tubuhnya Desta.


"Selamat yah Ara semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan kebahagiaan selalu memberkahi pernikahan kalian," ucap doa setulus hati diucapkan oleh Shaira Innira sambil memeluk tubuh adik sepupunya itu yang sama sekali tidak dendam dan marah merebut calon suami kakaknya.


"Amin ya rabbal alamin, makasih banyak Mbak Aira,saya dan mas Desta sangat bahagia karena kalian sudah hadir," tutur Arabela Aqila lagi.


Dina Anelka Mulya menangis tersedu-sedu melihat putri bungsunya bersanding dengan pria pilihan anaknya sendiri.


"Ya Allah semoga suami-suami anakku memperlakukan mereka sebaiknya tidak seperti papa mereka yang sungguh memperlakukan aku dengan begitu jahat dan kejamnya," Dina sesekali menyeka air matanya.


"Shaira jangan harap kamu bisa dapat pria yang lebih baik dari suamiku aku sumpahin kamu jadi perawan tua selamanya tidak laku-laku!" Sumpah serapah dari Ariella.


Hanzal terus memperhatikan Shaira dengan seksama, ia mencari kesempatan untuk berbicara berdua, tapi selalu digagalkan dan dihalangi oleh Ariella.


"Dede maafkanlah Abang yang sudah mengkhianati dan membuat kamu sedih, tapi aku akan mencari kesempatan untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Dede,"


"Kalau seperti ini aku tidak akan pernah tinggal diam melihat kebahagiaan Shaira!" kepalan tangannya tergenggam dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2