
Dewi segera mempercepat langkahnya ke arah Dina yang sudah tidak sadarkan diri mendengar perkataan dari orang-orang yang berbicara mengatakan jika, sore tadi mereka menemukan Arabela Aqila dan saudari kembarnya Ariella Ziudith dalam keadaan yang sangat parah.
Kondisi keduanya sangat memprihatikan, kabar terakhir yang mereka dapatkan jika Ariela harus menjalani beberapa kali operasi pada rahimnya dan kandungannya tidak bisa diselamatkan lagi.
"Tolong segera diamankan di dalam sana, agar nyonya Dina bisa beristirahat sambil menunggunya sadar," perintah dari salah satu adik sepupunya Syafiq Fatahillah.
Dewi mempercepat langkahnya menuju ke arah kerumunan orang-orang bersama Dr anggota keluarganya yang lain.
"Dina, adikku apa yang terjadi padamu? Kamu harus sabar dek,kami selalu ada membantumu jadi Mbak mohon jangan lah seperti ini," ucapnya Dewi yang berjalan dibelakang orang-orang yang mengangkat tubuhnya Dina.
"Dewi sabarlah jangan seperti ini, kamu harus tenang dan bersabar insha Allah Dina baik-baik saja," bujuknya Syam yang membujuk istrinya itu.
Dina segera direbahkan ke atas ranjang untuk dengan sangat hati-hati. Semua orang bubar dan kembali ke dalam gedung acara pelaksanaan pesta pernikahan Amar Alfarizi dan Vela Angelina.
"Makasih banyak Pak atas bantuannya," ucapnya Shahnum Inshira.
"Sama-sama Mbak ini hal biasa kami lakukan, jadi tidak perlu repot-repot untuk berterima kasih kepada kami," pungkasnya salah satu dari pria yang membantu menggendong tubuhnya Dina.
Semua orang khawatir melihat kondisinya Dina Anelka Mulya yang raut wajahnya pucat pasi.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini, dimana pria gila itu sampai-sampai tidak menyelamatkan anak-anaknya, apa jangan-jangan ketika kejadian peristiwa itu terjadi, semua orang tidak ada di rumah!" Gerutunya Syamil.
Bu Rina Amelia menatap ke arah cucu sulungnya, "Adisty tolong ambilkan nenek minyak kayu putih yang ada di dalam mobil, tadi nenek terburu-buru sehingga melupakan mengambilnya!" Perintahnya Bu Rina yang sudah duduk fi samping kanannya Dina.
"Baik Nenek," balasnya Adisti Ulfah yang segera berjalan cepat padahal memakai sandal high heelsnya.
Acara pesta resepsi tersebut sama sekali tidak terganggu dengan pingsannya Dina di dalam sana. Mereka kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Adisty menyerahkan sebuah botol kecil yang berisi minyak angin, sering kal digunakan oleh Bu Rina ketika kurang enak badan.
Bu Rina mengolesi tengkuk lehernya Dina dan pelipisnya dengan sangat hati-hati dibalik hijabnya, "Semoga dengan minyak kayu putih ini Dina bisa segera sadar," harapnya Bu Rina.
"Amin ya rabbal alamin," jawab semua orang yang hadir di dalam sana.
"Nenek tambah bantalnya agar Tante Dina tidak kesulitan bernafas, kalau bisa dipijit kakinya supaya lebih enakan dirasakan oleh Tante," usulnya Shanum yang menganjurkan demi kebaikan tante dari suaminya itu.
Maryam membantu memeriksa kondisi kesehatannya Dina, dengan teliti dia bekerja seperti layaknya seorang dokter di rumah sakit. Apalagi memang Maryam Nurhaliza adalah seorang dokter walau dokter spesialis kandungan.
__ADS_1
"Amin, Dewi kita tunggu Dina siuman terlebih dahulu atau kita langsung ke rumah sakit untuk melihat kondisinya Ara dan Ariela," ujarnya Syam.
Dewi membantu memijit tangan dan kakinya Dina yang masih belum sadar.
"Kalau menurut saya sebaiknya kita tunggu saja Dina sadar, setelah sadar kita akan bersama-sama ke rumah sakit untuk melihat Ara dan Ariela," Dewi membalas perkataan dari suaminya itu.
"Kalian keluarlah dan temui Amar dengan istrinya tidak enak jika kalian semua tinggal di dalam sini, nenek dan mama kalian akan menemani tantemu," usulnya Bu Rina Amelia.
Semuanya segera meninggalkan Dewi dan Bu Rina Amelia serta dengan Dina yang masih terbaring lemah tak berdaya.
"Kasihan yah Tante Dina, punya anak tiga orang tapi dua-duanya mengecewakan, padahal Tante Dina sangat baik sedangkan anak-anaknya sungguh menyakiti hatinya Tante Dina," ucapnya Shanum.
Arion hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari istrinya itu, sedangkan Abyasa dan Aydan segera menimpali perkataan dari adiknya itu.
"Memang Tante Dina sangat baik tapi, suaminya letak dasar kesalahannya semua anaknya seperti ini, untungnya Papa Syam tidak seperti Om Irwan seorang dokter tapi, hati nuraninya tidak ada, hanya keegoisan yang selalu mengisi relung hatinya dan benaknya," ucapnya Aidan.
"Kalau menurut aku Om Irwan itu seperti orang yang bisa dikatakan sehat secara pisik, tapi batinnya dan jiwanya yang terganggu, andaikan hati nuraninya bagus seperti papa semua masalah ini tidak akan terjadi," ucapnya Abyasa Akhtam yang menimpali percakapan dari adiknya.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka sudah bergerak menuju rumah sakit untuk melihat kondisi terakhirnya Arabela dan Ariela.
"Mbak ini semua salahku, aku terlalu egois meninggalkan mereka dengan papanya sehingga terjadi kejadian seperti ini, ya Allah ampunilah segala khilaf dan dosaku karena keputusan sepihak ku ini akhirnya kedua anakku menjadi korbannya," ratapnya Dina.
Dewi memeluk tubuh adiknya itu yang tidak berhenti untuk meratapi nasibnya Ara dan Ariela serta penyesalan atas keputusannya tidak memperjuangkan hak asuhnya.
"Saya seharusnya meminta pengadilan agar kedua anak kembarku hak asuhnya jatuh padaku, dan seharusnya akulah yang merawat mereka, bukannya mas Irwan akhirnya berujung seperti ini, aku tidak pantas disebut Mama, ini semua salahku Mbak, aku sendiri yang menyebabkan putriku mengalami penderitaan," keluhnya Dina.
Dewi mengelus punggung tangan adiknya itu," kamu tidak boleh berkata seperti itu dek, kamu adalah mama yang sangat baik dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati dan jiwamu, tapi mau diapa kamu tidak akan mampu melawan Irwansyah yang seorang dokter memiliki banyak koneksi dan keluarga yang memiliki nama dan jabatan yang sangat bagus sehingga kamu otomatis akan kalah melawannya," ujarnya Dewi.
"Kamu itu seorang ibu yang sangat baik Dina,kamu sudah mendidik dan membesarkan mereka dengan baik, hanya saja semua letak kesalahan ini berada di tangan mantan suamimu, kamu cukup baik menjadi mama mereka, tapi andaikan suamimu akhlaknya bagus insha Allah hari ini tidak akan pernah terjadi," sahutnya Bu Rina.
Syam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup pelan karena mengingat jalan yang dilaluinya malam itu cukup padat dilalui oleh berbagai jenis kendaraan beroda dua ataupun empat malam itu.
Syam melihat ke arah belakang melalui kaca spion mobilnya, "Tapi ngomong-ngomong kenapa bisa mereka terluka secara bersamaan dalam waktu yang sama pula di tempat yang sama? Apa ini semua dilakukan oleh pencuri atau maling yang masuk ke rumah kalian dan ngomong dimana mantan suamimu itu berada ataupun asisten pembantu rumah tangganya kalian dan security karena tidak mungkin kejadian itu tanpa mereka ketahui," ujarnya Syam.
Semua orang terdiam sesaat tanpa ada yang berbicara sepatah katapun, mereka memikirkan segala kemungkinan besar yang bisa terjadi diantara mereka.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Irwansyah sendiri yang melakukan semua ini?! Entah kenapa aku merasa semua insiden ini terjadi karena ada sangkut pautnya dengan Irwansyah Hatif yang gila nya kambuh lagi sehingga dengan tega menganiaya anak kandungnya sendiri," tebaknya Bu Rina.
"Mama jangan shuuzon dulu sebelum mengetahui dengan pasti bagaimana kejadiannya itu bisa terjadi," sanggahnya Syam.
"Maafkan Mama bukannya hanya asal menebak saja, karena ini feelingku mengatakan bahwa Irwansyah mengetahui dengan pasti kejadian yang terjadi pada anakmu, tapi semoga saja aku salah," tuturnya Bu Rina.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka seolah berlomba ke arah resepsionis atau bagian administrasi rumah sakit untuk meminta informasi dikamar mana Ara dan Ariela dirawat.
"Malam Mbak maaf pasien yang atas nama Arabela Aqila dan Ariela Ziudith berada di mana?" Tanyanya Shanum.
"Kalau kedua pasien itu masih berada di dalam ICU, setelah dilakukan tindakan operasi sebanyak dua kali," jawabnya Perawat perempuan itu.
"Makasih banyak kalau begitu Mbak," imbuhnya Shanun.
"Kita langsung ke ruangan ICU untuk melihat mereka langsung," ucapnya Dewi.
Semuanya belum berjalan menjauh dari meja admin, sehingga pembicaraan mereka masih terdengar ke rombongannya Dewi.
"Kasihan kedua pasien kembar itu, masa baru datang anggota keluarganya sedangkan suaminya pun sampai detik ini belum nongol juga, untungnya pembantu rumah tangganya segera menolong mereka dan mengantarnya ke rumah sakit, tapi itu juga sudah percuma karena pasien satunya harus diangkat kandungannya dan mustahil untuk mempunyai keturunan lagi," jelasnya perawat itu.
Dewi dan Sahnum menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari perawat yang tidak sengaja mereka dengarkan.
"Astaauhfirullah aladzim dimana Hanzal Abdul dan Desta Alamsyah perginya? Kenapa bisa istri-istri mereka mengalami hal yang sangat menyedihkan seperti ini," gerutunya Dewi Kinantii Mirasih.
"Kalau Hansal kan masih di kantor polisi setelah kejadian mengacaukan ketenangan acara akad nikah kami, sedangkan Desta entahlah kemana perginya," ungkapnya Aidan.
Abyasa mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut apakah Dina berada di sana atau tiga ada, "Maafkan saya sebelumnya bukannya saya ingin menghancurkan hati dan perasaannya Tante Dina, tapi info terakhir yang aku dapatkan Desta Alamsyah katanya berada di salah satu hotel bintang lima bersama dengan perempuan lain, itu kabar yang aku dapatkan dari teman kerjanya langsung yang melihat Desta," terangnya Abiyasa yang sedikit mengecilkan suaranya itu.
Semuanya sedikit memperlambat langkahnya karena ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Abiayasa.
"Astauhfirullah aladzim kenapa bisa seperti ini!? Tapi saya bersyukur untungnya cucuku Sahnum Inshira tidak menjadi istrinya Desta pria brengsek dan luknut itu!" Kesalnya Bu Rina.
Abyasa sangat marah, karena bagaimanapun juga mereka masih tetap adik sepupunya. sampai kapan pun hal itu dan fakta itu tidak akan berubah sampai dunia kiamat pun.
"Kalau aku ketemu dengan Desta pria sialan itu aku akan menghajarnya sampai babak belur hingga wajahnya tidak dikenali!" geramnya Aidan Akhtar.
__ADS_1