
"Maafkan saya Mbak, ini semua salah supirku yang mengemudikan mobilnya tidak pelan-pelan," ucapnya pria yang memakai pakaian jas lengkap berwarna abu-abu itu.
Pria itu berbicara dalam bahasa Inggris dan sesekali memakai bahasa Indonesia, karena belum fasih menggunakan bahasa orang pribumi asli Jakarta.
"Kalau maaf diterima penjara sudah penuh pak, pasti semua orang setelah melakukan kesalahan langsung meminta maaf saja!" Ketusnya Vela Angelina.
"Ohh tidak apa-apa Pak hanya saja gimana dengan mobilnya temanku ini, siapa yang akan bertanggung jawab?" Tanyanya Maryam Nurhaliza yang menyela pembicaraan keduanya.
"Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan supirku, jadi Anda semua tidak perlu khawatir dengan kerusakan mobilnya," ujarnya pria itu lagi.
"Tapi Tuan Muda saya jelas-jelas tidak bersalah tapi kenapa…" ucapannya supir itu segera dipotong oleh Shaira.
Andrew menatap tajam ke arah supir pribadinya itu agar terdiam tidak banyak bicara lagi.
"Iya Tuan sebenarnya kesalahan ini ada pada kami yang kurang berhati-hati dalam mengemudikan mobil, jadi Anda tidak perlu mengganti rugi atau membiayai perbaikannya lagian hanya mobil murah kok," tampiknya Shaira yang tidak ingin memperkeruh suasana.
"Tidak apa-apa kok Mbak ini kartu namaku jika ingin sesuatu atau butuh bantuan hubungi nomor telepon aku tidak saja, kebetulan saya terburu-buru sehingga tidak bisa mengantar mobilnya ke bengkel, tapi Anda cukup ke bengkel xx di jalan X semuanya aku yang akan mengurus semuanya karena kebetulan itu bengkel punya keluargaku dan letaknya tidak jauh dari sini," ujarnya pria itu lagi.
Shanum yang mengambil kartu nama itu dan membacanya," Andrew Parker Smith,"
"Makasih banyak sebelumnya pak,kami sungguh berterima kasih kepada Anda, lagian rumahku juga sudah tidak jauh dari sini, kak Sha hubungi nomor ponselnya mang Jono katakan padanya kita butuh satu mobil, jadi mobilku biarkan Mang Jono yang antar ke bengkel," usulnya Shaira.
Andrew Parker segera meninggalkan tempat tersebut dengan tersenyum penuh maksud," pantesan Abang rela berpindah keyakinan dan mengikuti kepercayaannya perempuan itu karena memang cantik dan baik hati,"
"Hufth!! Untungnya mobilnya tidak terlalu rusak parah, padahal ini kan mobil kesayangan kamu Dede Aira, maafkan kakak yah," sesalnya Shanum Inshira.
Shaira memeluk tubuh kakaknya itu," tidak apa-apa kok kak, lagian orangnya juga ingin bertanggung jawab padahal bukan kesalahannya sendiri, tapi ia dengan senang hati menolong kita kalau menurut aku kenapa menyia-nyiakan kesempatan rezeki baik ini," tuturnya Shaira.
Shahnum segera menghubungi nomor ponselnya mang Jono. Semua masih dalam suasana terkejut dengan kecelakaan kecil tersebut.
"Alhamdulillah pria itu cukup kaya jadi tidak mempermasalahkan mobilnya sendiri yang kerusakannya lebih parah dari mobilnya Shaira, tapi sudahlah intinya kita berempat baik-baik saja," tutur Maryam.
__ADS_1
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di dalam garasi mobil rumahnya Dewi dan Syam. Mereka patut bersyukur karena selamat sampai ditujuan.
Pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan terlihatlah beberapa sanak saudara dan familynya Dewi sengaja datang dari kampung dan seluruh penjuru kota Jakarta untuk bertemu langsung dengan Shaira Innira yang baru balik dari London UK Inggris.
"Welcome selamat datang kembali kakak Shaira," teriaknya Adisti saudari kembarnya Ariela Ziudith anak kembarnya Gina Anelka Mulya dan Irwansyah.
Shaira memeluk adik sepupunya itu dengan tatapan matanya tertuju pada Shanum," ya Allah semoga Mbak Shanum menolak lamarannya mas Desta, kedua orang tuanya mas Desta semoga saja tidak jadi melamar karena aku sangat mencintai mas Desta dan sudah mengatakan terang-terangan menyatakan cintaku padanya, tapi aku selalu ditolaknya katanya ia hanya mencintai Mbak Sha dan ingin menikahi mbak Sha saja."
Shaira terkejut sekaligus bahagia melihat acara penyambutan kepulangannya. Semua nenek paman dan nenek bibinya dari kampung halaman mamanya Dewi juga hadir disana.
"Om Afiq, Om Samil kalian juga datang," teriaknya Shaira yang satu persatu menyalami anggota keluarganya itu yang sejak tadi menunggu kepulangannya.
Maryam dan Vela terkejut dan kaget melihat penyambutan Shaira yang cukup ramai, heboh tentunya.
"Apa kamu sudah melupakan kami Mbak Aira mentang-mentang sudah lama tinggal di London," ucap kedua gadis cantik yang baru muncul di hadapannya Shaira dengan memeluk tubuhnya Shaira langsung.
"Mana mungkin kakak melupakan kamu dua adik-adikku yang paling cantik dan centil sedunia,"
"Sudah-sudah kangen-kangenannya kasihan kedua temannya Shaira cucu-cucuku mereka sepertinya sangat capek dan kemungkinannya juga lapar," candanya Bu Rina Amelia ibunya Samuel dan Samil.
Semua orang masuk kedalam ruangan tengah yang sudah didesain khusus untuk menyambut kedatangan Shaira dan Maryam. Berbagai makanan sudah terhidang di atas meja khusus.
"Mama kenalkan ini Maryam Nurhaliza calon istrinya Aidan," ucapnya Dewi sambil merangkul pinggangnya Maryam penuh dengan kasih sayang.
Ibu Rina tersenyum ramah mendengar perkataan anak menantunya itu," Masya Allah cantiknya,kamu enggak kalah cantiknya dengan cucuku Shaira nak, selamat datang di Jakarta dan rumah kami yang kecil ini," ujarnya Bu Rina.
"Alhamdulillah makasih banyak atas pujiannya nenek, Tante Dewi terlalu berlebih-lebihan kok," pungkasnya Maryam yang tersipu malu mendengar pujian dari orang-orang.
Sejak suaminya meninggal dunia Bu Rina diajak oleh kedua anaknya untuk tinggal bersamanya di Jakarta.
"Kalau gitu semuanya kita nikmati lezatnya masakan nenekku yang cantik ini yang selalu awet muda diusianya," tuturnya Shanum sambil memeluk tubuh Bu Rina dari belakang.
__ADS_1
"Iya nak ayo kita makan sepertinya cucuku satu ini juga sudah kelaparan mengalahkan tamu-tamu kita," gurauannya Bu Rina.
Hari itu semua bahagia dan gembira karena bisa berkumpul bersama keluarga besar mereka seperti mereka ketika masih kecil. Dina Anelka Mulya bahagia melihat kegembiraan dan keceriaan dari anak dan keponakannya itu.
"Ya Allah bukakanlah pintu hatinya Suamiku dan segera menerima kenyataan yang ada jika Mbak Dewi Kinanti Mirasih sudah menikah dengan pria lain yang sangat dicintainya, kehidupan mereka juga sungguh bahagia dan harmonis dibandingkan dengan kehidupan rumah tanggaku,"
Tapi, disisi lain ia sedih karena suaminya dokter Irwan belum berubah juga masih seperti dulu. Sikap dan perilaku suaminya belum berubah. Terkadang ia ingin mengakhiri pernikahannya itu, tetapi disisi lain ia mengingat anak-anaknya yang tiga orang itu.
"Ingat besok acara lamarannya Shanum jadi nenek meminta kalian untuk tinggal satu hari lagi disini untuk melihat acara pentingnya Sahnum," pintanya Bu Rina.
"Kalau Amber mah tidak akan balik lagi ke Bandung nenek kan sudah tinggal bareng dengan Tante Dewi dan Om Syam," tampik Amber Rosemalia.
"Iya cucuku satu ini sudah dua tahun disini karena memilih kuliah di Jakarta dari pada kampung halamannya," jelasnya Bu Rina.
Vela merasakan keanehan pada tubuhnya ketika mencium wangi aroma bumbu dapur dari semua sajian makanan yang tersaji di atas meja.
"Kenapa baunya menyengat banget yah, kenapa hidungku tumben tidak suka dengan bau bawang, ini sungguh menyiksaku hingga kepalaku pusing sekali," cicitnya Vela yang reflek menutup hidungnya di depan makanan yang sungguh menggugah selera makan.
Maryam dan Shaira yang melihat tingkah aneh Vela saling bertatapan satu sama lainnya. Padahal semua orang yang hadir sangat menyukai wangi racikan bumbu halus yang tercampur dengan berbagai bahan daging dan sayuran.
Maryam menyentuh tangannya Vela," hey Vel! Kau baik-baik saja kan?" Tanyanya Maryam yang khawatir melihat kondisinya Vela yang sudah pucat pasi yang berusaha menahan rasa mual-mualnya.
"Vela kamu kenapa? Kalau kamu tidak sehat kita ke kamarku saja untuk istirahat," bujuk Syaira.
Belum selesai berbicara tubuhnya Vela sudah ambruk ke atas lantai.
Bruk!!
Semua orang kaget melihat tubuhnya Vela terjatuh ke atas lantai keramik dan tidak sadarkan diri lagi.
"Vela Angelina!!" Teriak Maryam dan Shaira bersamaan.
__ADS_1