Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 217. Kembalinya Ariella dan Arabela


__ADS_3

Semua orang segera menyelesaikan acara makannya pagi itu. Untungnya hari minggu, sehingga semua orang bahu-membahu, membantu kelancaran prosesi saklar lamaran yang akan dilakukan oleh Abyasa kepada pujaan hatinya yaitu Sanika Tanisha Hermasyah.


"Kakak Abya aku mungkin enggak bisa gabung ikut dengan kalian karena aku tidak bisa meninggalkan putriku Shanaz, aku pasti akan khawatir meninggalkannya dalam beberapa jam, andaikan sudah gedean dikit mungkin aku akan ikut bareng kalian," ucapnya Shanum sambil menggendong putrinya yang diberikan nama Sahnaz Najwa Sneijder.


Shanun menatap ke arah kakak sulungnya berharap agar Abyasa memaklumi keadaannya.


Abyasa mengelus puncak hijabnya Shanum seperti yang sering dulu ia lakukan sewaktu kecil dulu, "Tidak apa-apa kok, kakak sangat mengerti dan memakluminya, kasihan dede Shanaz kalau kamu tinggal padahal usianya belum seberapa," sahutnya Abyasa.


"Sha sini aku gendong putrimu, siapa tahu aku juga ketiban rejeki segera memiliki anak,"pintanya Maryam Nurhaliza sembari mengulurkan tangannya ke arah Shanun.


Shanum yang mendengar pernyataan kakak iparnya tanpa ragu ataupun sungkan segera memberikan putrinya yang terlelap dalam dekapan hangatnya Shanum.


"Alhamdulillah makasih banyak kalau begitu Mbak, aku pamit naik ke atas dulu mau selesaikan urusan menata kamarnya Shanaz, kasihan kalau setiap bobo harus digendong atau dipangku saja," imbuhnya Sahnum yang segera berjalan ke arah tangga dan sebelumnya dia menyempatkan untuk mengecup sekilas keningnya Shanaz.


"Kamu jangan tunggu lama-lama, enggak baik juga kalau masih umur segini dibiasakan digendong mulu, karena kedepannya nanti akan merepotkan kamu cucuku, karena pasti akan mencari kebiasannya," ucap Bu Rina Amelia yang ikut nimbrung bersama beberapa cucu perempuannya.


"Iya Nek, aku pamit naik dulu. Mbak aku titip putriku yah, semoga Mbak segera hamil tapi yang paling penting harus diusahakan setiap hari," candanya Shanum sebelum melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga.


"Amin ya rabbal alamin, Mariam menghujani pipinya Shanaz dengan ciuman, "pasti mas Aidan akan bahagia jika aku juga hamil anaknya," cicitnya Maryam.


Aktifitas terus berlangsung di dalam rumah itu, Dewi sangat bersyukur karena empat anak menantunya semuanya dari daerah yang berbeda-beda. Otomatis memiliki kebiasaan, adat istiadat juga yang berbeda pula.


Shaira sibuk mengecek dan mencicipi beberapa jenis kue wajib yang harus mereka bawa. Seperti dodol (dodorok), waje, umba-umba atau klepon,kue lapis, gogosok dan macam-macamnya.


"Hem rasanya enak-enak yah Tante Widya, apa memang seperti ini yah kalau orang dari suku Bugis Makassar akan menikah?" Tanyanya Shaira yang nafsu makannya beberapa hari ini semakin meningkat saja hingga bobot tubuhnya bertambah.


"Iya nak cantik, kami memang di Makassar sering melakukan ini, ini sebenarnya masih sedikit tapi karena waktu mepet yah sebisanya saja, yang paling penting uang panaiknya banyak, kalau di daerah Banjar katanya uang jujurannya,kalau Makassar uang panaik," Bu Widya menghentikan perkataannya karena ikut mencicipi kue klepon atau umba-umba.


"Kalau di Jakarta mahar namanya, tapi seratus juta sekarang itu hitungannya tidak banyak, orang-orang dari suku kami biasanya semakin tinggi status keluarga sang perempuan semakin tinggi pula uang maharnya ataupun pekerjaannya bagus semakin banyak uang yang dipersiapkan oleh sang calon mempelai pria," jelas Bu Widya panjang lebar.


"Ternyata dilihat juga dari bibit, bebet, dan bobotnya yah untuk menentukan banyak sedikitnya uang maharnya," sahutnya Shaira.

__ADS_1


Bu Widya hanya menganggukkan kepalanya itu, sedangkan Shanum ternyata tidak mudah baginya untuk mengatur kamarnya yang cukup sempit setelah beberapa perabot furniture khusus bayi perempuan telah terpajang.


Maryam memangku putrinya Shanum yaitu Shanaz yang tak bosan-bosannya memandangi wajah imutnya Sahnaz. Dia sesekali membayangkan, jika dia memiliki anaknya sendiri. Tapi, ia sangat menyukai putri kecilnya Shanum.


"Kenapa wajahmu mirip orang bule yah cantik,apa jangan-jangan kedua orang tuamu asli luar negeri, lihatlah hidungmu yang mancungnya seperti Britney Spears, rambutmu yang hitam kecokelatan, matamu saja yang seperti orang Indonesia, kamu sungguh mampu menarik perhatianku," pujinya Maryam yang memperlakukan Shanaz seperti sebuah boneka cantik.


Aidan yang melihat istrinya sedang asyik bermain dengan bayinya Shanum yang awalnya tertidur lelap langsung membuka matanya dan tidak rewel. Karena terus dicium pipinya yang gembul sehingga bayi mungil itu terbangun.


Aidan memeluk tubuhnya Maryam dari arah samping," insha Allah kita juga akan segera punya baby, tapi ngomong-ngomong kamu maunya yang seperti ini cewek atau cowok?" Tanyanya Aidan seraya menoel hidungnya Shanaz.


Maryam melihat sekilas ke arah suaminya itu," kalau aku terserah Allah SWT saja mas Ai, mau perempuan mau anak laki-laki tidak masalah kok yang paling penting aku diberikan amanah untuk hamil dan melahirkan anakmu itu sudah cukup bagiku, banyak sedikitnya enggak masalah, karena tanggung jawabnya di dunia akhirat itu fokus kita sebagai orang tua," tuturnya Maryam.


"Entah kenapa bayi ini kehadirannya semakin menambah lengkap dan Harmonis keluarga kita kan sayang," terkanya Aidan.


Hingga pembicaraan kedua pasangan suami istri terdengar langsung oleh seseorang yang sejak tadi menatap intens mereka.


Kalian boleh berbangga diri, silahkan tertawa bahagia dan nikmati sisa masa kebahagiaan kalian, setelah hari ini aku akan mulai mengirimkan teror aku kepada kalian.


Aku akan membuat kalian terluka tak berdarah tapi seakan lebih memilih untuk mati saja.


Aku akan balas dendam atas penghinaan yang kalian torehkan padaku, terutama untuk Shaira Innira, kamu adalah target pertamaku.


Ariela mencium aroma bunga mawar merah yang kebetulan berada di dalam vas bunga yang terletak di atas meja.


Apalagi saya sudah punya bantuan dari orang yang juga membenci kalian, aku telah bekerja sama dengan orang itu.


Puk!!


Suara tepukan lembut dipunggung wanita berambut panjang itu mampu membuatnya menolehkan kepalanya ke arah orang yang menepuknya.


"Hey sayang kok hanya berdiri saja, katanya mau bantu-bantu orang,kok malah hanya berdiri bengong saja?" Tanyanya Dina Anelka yang melihat putri sulungnya itu berdiri mematung saja.

__ADS_1


Semoga saja mama enggak dengar apa yang barusan aku katakan,kalau sampai dis tahu kalau aku hanya berpura-pura baik dan taubat bisa gawat.


"Eh a-nu itu ma aku nggak mau ganggu Aidan dan Maryam menjaga bayinya Shanum," elaknya Ariella Ziudith yang salah tingkah karena panik jika apa barusan dia katakan walau lirih orang akan masih sanggup untuk mendengarkannya.


Yah benar sekali perempuan yang terus memantau perkembangan dan pergerakan anggota keluarganya Dewi dan Syam adalah Ariela Ziudith salah satu anak kembarnya Dina dan Dokter Irwansyah.


"Alhamdulillah kalian sudah datang, padahal sejak tadi aku menunggu kedatangan kalian kok," ucapnya Dewi yang menyambut kedatangan adik tunggalnya itu bersama dengan Arabela Aqila dan Ariela Ziudith yang mengapit tubuh mamanya itu.


"Maafkan kami Tante harus sedikit terlambat, karena saya tadi ada urusan dikit sehingga harus membuat mama terlambat sampai disini, Tante enggak marah kan pada kami," ujarnya Arabela sambil cipika cipiki dengan Dewi tapi tatapan matanya mencari keberadaan Arion.


Pria ganteng ku ada dimana, kenapa aku enggak lihat keberadaannya, apa dia berduaan dengan Shanum.


Aku akan mencari waktu untuk segera melancarkan rencanaku ini, tapi mama dan Ariela tidak boleh mengetahui tentang rencanaku ini.


Ariela memberikan beberapa benda dalam paper bag ketangan kakak dari mama kandungnya sendiri.


"Maafkan kami Tante Dewi, hanya bisa bawa sedikit sebagai pelengkap seserahan pinangannya kak Abiyaza," ucapnya Ariela yang merasa tidak enak hati.


"Masya Allah ini banyak loh Nak, malahan Tante tidak enak hati karena kalian sudah menyempatkan untuk datang kesini malah harus repot-repot membawa segala lagi," tukasnya Dewi yang mengambil paper bag berwarna putih itu sesuai dengan merk dari toko tersebut.


Hingga setelah ba'da shalat dzuhur, mereka segera berangkat ke rumahnya Tanisha. Abyasa sedikit merasakan grogi dan nerves menghadapi acara sakralnya.


Amar Alfarizi, Vela Angelina, Adisti Ulfah yang melihat sepupunya dalam keadaan yang panik, kebingungan dan tidak percaya diri malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya dan sikapnya Abyasa Akhtam.


"Hahaha! Sumpah baru kali ini lihat calon manten yang baru akan melamar pujaan hatinya seperti ini sikapnya, kira-kira bagaimana nantinya jika sudah berhadapan dengan pak penghulu," kelakarnya Amar.


Vela Angelina yang hubungannya dengan Amar masih terbilang seperti biasanya akan mesra dihadapan orang lain, tetapi akan bersikap cuek dan acuh tak acuh jika hanya mereka berduan saja.


"Kamu juga dulu gitu kok, padahal sebelum akad nikah kalian selalu gagah berani,tapi pas ijab kabul kalian keringatan," sarkasnya Adisti yang ikut menimpali percakapan mereka.


"Sudah-sudah okey, aku memang tidak pede, aku tidak tahu harus berbicara apa di depan Tanisha, ini kelemahan yang paling sering aku alami jika berada di dekatnya Tanisha," keluhnya Abyasa.

__ADS_1


"Abang itu calon imamnya Tanisha jadi percaya dan yakin lah jika semuanya akan berjalan lancar," tutur Vela Angelina yang ikut membuka suara untuk berbicara.


__ADS_2