Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 263


__ADS_3

Shaira kembali melanjutkan pekerjaannya itu ketika sudah berhasil memenangkan ketiga asisten pribadinya yang sudah berkerja hampir setahun itu.


Aku sangat gembira bekerja dengan kalian bertiga. Asistenku yang dulu pun Alhamdulillah juga baik-baik semua.


Sedangkan di tempat lain, masih di area lain tepatnya di depan ruang operasi. Semua orang terkejut mendengar kabar jika, Rachel Amanda kondisi kesehatannya semakin bertambah buruk setelah proses pengangkatan rahimnya.


Rachel bahkan mengalami kondisi kritis dan kehilangan banyak darah sehingga butuh transfusi darah yang banyak.


"Sust apa yang terjadi pada putriku, kenapa kalian keluar masuk tanpa mengatakan apapun pada kami?" Tanyanya Bu Karmila yang sangat khawatir dengan keadaannya Rachel putri tunggalnya itu.


Bu Karmila menghalangi langkahnya seorang perawat tersebut,"kondisi pasien parah dan kami meminta untuk banyak berdoa saja untuk pasien agar diberikan kemudahan dan segera terlepas dari masa kritisnya," Suster berucap.


Tubuhnya Bu Karmila terhuyung ke belakang beberapa langkah saking terkejutnya mendengar berita duka itu.


"Astauhfirullah aladzim, kenapa bisa seperti ini. Apa yang terjadi padamu Nak kenapa kamu mengalami kemalangan ini," cicitnya Bu Karmila yang tubuhnya luruh ke atas lantai.


"Istriku, aku mohon jangan seperti ini, seharusnya kamu mendoakan yang terbaik untuk putri kita, jangan terus meratapi nasibnya Rachel," nasehatnya Pak Ismail Fatahillah seraya memeluk tubuh istrinya itu.


"Sebaiknya Ibu Karmila duduk dulu, kasihan dia kalau sedih seperti tapi dia terus berdiri begitu saja tanpa mengistirahatkan tubuhnya," sarannya Dewi.


Bu Karmila yang mendengar perkataan dari Dewi segera melerai pelukannya dari suaminya itu.


"Apa kamu mamanya Aidan menantu kami?" Tanyanya Pak Ismail.


Dewi tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan dari besan barunya itu," iya Pak,saya sendiri yang bernama Dewi."

__ADS_1


"Oh jadi kamu mamanya Aidan pria brengsek yang tidak punya harga diri itu! Lihatlah di dalam sana putriku sedang bertaruh nyawanya demi menyelamatkan calon anaknya, tapi dia malah menghilang dan tidak muncul untuk melihat istrinya dan calon bayinya yang sudah tiada itu!" Bentaknya Bu Karmila yang menatap tajam penuh permusuhan ke arah Dewi.


"Iya Bu, maafkan anakku yang belum sempat datang ke sini karena masih dalam perjalanan. Insya Allah pasti putraku akan datang secepatnya," imbuhnya Dewi Kinanti.


"Apa kamu bilang ha! kenapa? Apa karena pekerjaannya lebih penting dibandingkan istri dan anaknya? Apa Anda tidak sadar jika putriku seperti ini karena putramu Aidan Akhtar! Jadi kalau seperti ini sebaiknya tolong larang anakmu untuk datang ke sini! Karena itu hal yang terbaik!" Hardiknya Bu Karmila.


"Istriku, tolong jaga emosimu. Ingat kita ini lagi di rumah sakit. Apa yang kamu lakukan akan mengusik ketenangan orang lain terutama pasien yang sedang sakit," bujuk pak Ismail.


Bu Karmila menghempaskan tangannya pak Ismail yang memegangi pergelangan tangan istrinya itu.


"Aku tidak akan pernah berhenti ataupun diam untuk mengatakan padanya dan mengingatkan bagaimana perlakuan mereka terhadap anakku! Aku akan mulai memperhitungkan tindakan mereka yang sama sekali tidak pernah menyayangi dan menghargai putriku seperti menantu lainnya," geramnya Bu Karmila.


Syam mengelus punggungnya Dewi istrinya itu agar tidak membalas perkataannya Bu Karmila. Beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar ICU ada yang berhenti untuk menyaksikan apa yang mereka perbuat. Bahkan ada yang sengaja merekam apa yang sedang terjadi di tempat itu.


"Hemp, seperti bakal viral nih berita kalau aku posting di sosial mediaku," ucapnya seorang perempuan yang merekam adegan dramatis perdebatan kesalahpahaman tersebut.


Dewi ingin memegangi tangannya Bu Karmila tapi segera ditepis," stop! Tolong jangan sentuh saya pakai tangan kotormu itu!" Sarkasnya Bu Karmila.


Syam mengarahkan telapak tangannya ke arah bh Karmila sambil memeluk tubuh istrinya itu,"Hentikan! Aku mohon pak Ismail dididik istrinya dengan baik, agar bisa bertutur kata lemah lembut dan bersikap tidak kasar kepada orang lain! Apalagi aku masih ada disini dan Bu Karmila membentak keras istriku langsung di depan mataku ini!"


Samuel tidak habis pikir jika sifat kasar, arogan dan bermulut pedas menantunya, karena bawaan dari keturunan mamanya sendiri Bu Karmila. Dewi mengelus lengannya laki-laki yang sudah hampir tiga puluh tahun menemaninya dan mendampinginya dalam suka maupun duka itu.


Jika ibu masih menghina dan membentak istriku aku tidak akan akan semakin tidak menyukai sikapmu ini dan aku tidak akan tinggal diam saja!" Geram Samuel yang tidak ingin orang lain merendahkan istrinya itu.


Beberapa pihak security telah datang dan hendak ingin mengamankan dan menengahi perdebatan mereka, tapi Andrew Parker Smith segera melarang dan mencegah mereka.

__ADS_1


"Jangan ganggu mereka, aku ingin melihat bagaimana caranya Bu Karmila berapa lama untuk bertahan lagi," cicitnya Andrew yang ingin agar kejelekan Rachel segera terkuak.


Aku ingin membongkar topeng kebusukan mereka di depan umum. Aku tidak ingin mereka dibohongin terus menerus oleh kejahatan mereka.


Kasihan dokter cantik kalau keluarganya setiap hari hidup dengan wanita berbisa seperti Rachel Amanda.


"Hahaha! Kamu sungguh sangat lucu dan tukang membual yang sangat pintar dan licik! Aku sudah mengetahui bagaimana sikap kalian pada anakku. Apapun yang kamu katakan itu hanya menunjukkan bahwa kalian adalah orang-orang penuh dengan kemunafikan dan kebohongan!" Sarkasnya Bu Karmila.


Bu Karmila menatap tajam ke arah suaminya itu yang sedari tadi selalu menghalanginya untuk berbicara mengeluarkan semua uneg-unegnya dan kemarahannya itu.


"Jika kamu berani menentang dan melarangku untuk menghina dan membalas dendam atas perlakuan jahatnya pada anakku!" Kesalnya Bu Karina seraya mendorong tubuhnya Pak Ismail Fatahillah.


"Kalian itu satu keluarga penuh kemunafikan dan orang-orang sok alim yang berpura-pura berhati baik dan mulia. Kalian bersikap seperti itu karena hanya pencitraan saja! Kalian ingin dicap dan dinilai kalau kalian orang yang baik dan suci yang tidak punya kesalahan sedikitpun!" Cibirnya Bu Karmila.


Dewi dan Samuel tidak henti-hentinya mengucapkan istighfar agar tidak tersulut emosinya dan tidak masuk golongan orang-orang yang suka emosi dan bersifat kasar yang nantinya akan merugikan bagi siapapun sosok orang yang selalu menyelesaikan masalah dengan kemarahan dan kebencian.


"sayang tenanglah, jangan mudah tergoda untuk mencoba melawannya dengan membalas perkataannya dengan amarah pula, biarkanlah saja mereka seperti itu," bisiknya Syam yang terus menenangkan hatinya Dewi pasangan hidupnya.


Dewi menahan air mata sedihnya diperlakukan seperti itu, tapi berusaha untuk tidak membalas perkataannya mereka semua dengan kasar pula.


Apa bedanya saya dengan mereka, jika saya membalas sikap kasarnya Bu Karmila besanku.


Syamuel ingin membalas perlakuan kasar dan segala hinaan yang mereka dapatkan, tetapi Dewi segera memeluk tubuhnya Syamuel dan segera menggelengkan kepalanya itu untuk mencegah suaminya.


Syam naik pitam mendengar dan melihat apa yang sudah dilakukan oleh Bu Karmila.

__ADS_1


"Astaauhfirullah aladzim,ya Allah tolonglah kami lindungilah kami dari tindakan yang akan merugikan kami ini. Lapangkan lah hati kami dan tidak termasuk golongan orang-orang yang kelak akan merugi dan kekal di dalam neraka," lirih Syam.


"Apa yang papah katakan benar adanya, tolong berhenti untuk terus berbicara dengan lantangnya!l Bu Karmila kami ini masih normal dan sehat akal untuk tidak bersikap seperti kamu!" sarkasnya seseorang yang baru saja muncul dengan tatapan murkanya melihat kedua orang tuanya dihina habis-habisan.


__ADS_2