
Semua orang terharu melihat keempat pengantin baru itu melakukan sungkeman. Mereka kembali bercengkrama satu sama lainnya sambil menikmati santapan siang mereka.
Maryam memeluk tubuh maminya ibu Hafizah dan papinya pak Khalid karena mulai hari ini, dia akan tinggal bersama dengan kedua mentuanya seperti tradisi di dalam keluarga besar papinya yang asli orang Malaysia.
"Putriku ingatlah selalu mulai detik ini mereka adalah kedua orang tuamu selanjutnya, jadilah anak menantu yang selalu rendah hati dan penyayang kepada mereka, jangan kamu anggap mereka adalah keluarga suamimu tapi anggaplah seperti keluarga kandungmu Nak, insha Allah kamu akan selalu disayangi oleh mereka jika menganggap seperti itu," nasehatnya Pak Khalid.
Bu Hafizah memegangi lengan putri bungsunya itu, "Iya Nak kalau kamu memberikan kasih sayang kepada orang lain insya Allah orang lain pun akan memberikan kamu juga kasih sayang yang lebih besar dari apa yang kau berikan kepada mereka," Bu Hafizah berusaha untuk memberikan wejangan kepada Maryam seraya memeluk tubuh putrinya itu.
"Insha Allah saya akan menjalankan semua yang papi dan mami katakan, insha Allah besok pagi saya dan suamiku akan mengantar papi dan mami ke bandara," ucapnya Maryam Nurhaliza.
Awalnya rencananya akan menunggu sampai hari minggu bertepatan dengan pesta resepsinya Aidan dan balik ke Kuala Lumpur hari senin siang. Tetapi, karena kakeknya Maryam masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya, sehingga rombongan anggota keluarganya harus segera balik ke negeri Jiran.
"Percayakan putri Ibu kepada kami, insya Allah Aidan pasti akan menjaga dan melindungi istrinya sebaik-baiknya, jadi kalian berdua tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka," tampiknya Dewi.
Mereka berpamitan kepada seluruh anggota keluarganya Dewi dan Syam yang masih ada di sekitar area masjid. Mereka sedih karena harus balik secepatnya ke Malaysia tidak sesuai dengan jadwal dan rencana mereka sebelumnya.
Maryam melepas kepergian kedua orang tua dan kedua kakaknya, serta kakak-kakak sepupu dan tantenya yang sengaja datang dari negeri tetangga Malaysia ke Indonesia Jakarta. Untuk menjadi saksi langsung pernikahannya antara Aidan Akhtar dan Maryam Nurhaliza.
Aidan memeluk tubuh istrinya itu dengan posesif," kamu ikhlaskan kan tinggal bersamaku di Jakarta, di rumahnya mama Dewi dan papa Sam?" Tanyanya Aidan.
Maryam mengarahkan pandangannya ke arah Aidan seraya tersenyum," kalau aku enggak ikhlas Mas, pasti sejak awal aku tidak akan menyetujui mas Aidan melamarku," pungkasnya Maryam seraya memegangi tangannya Aidan yang masih memeluk tubuhnya Maryam dari arah belakang.
"Syukur alhamdulilah,kalau gitu saatnya kita pulang, ingat nanti malam kita masih akan menghadiri acara resepsinya Amar Alfarizi dan Vela Angelina, jadi kamu butuh banyak istirahat," Aidan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut yang sudah sepi.
Maryam berbalik badan sehingga keduanya saling berhadapan, Maryam tidak sungkan untuk mengalungkan tangannya ke lehernya Aidan.
"Kenapa bersikap seperti itu sayang, emangnya ada apa kenapa memandangi sekitar kita?" Tanyanya Maryam yang berpura-pura tidak mengerti dengan arah pembicaraannya Aidan.
__ADS_1
Aidan semakin mengeratkan pelukannya itu sehingga tubuhnya Maryam semakin mendekat saja. Kedua pasang matanya Maryam terbelalak.
"Nanti malam kamu bersiaplah karena aku tidak ingin menunda waktu untuk meminta kewajibanku sebagai seorang suami, jadi persiapkan diri dan mentalmu untuk memberikan yang terbaik untuk mas," bisiknya Aidan yang tersenyum penuh maksud.
Adisty yang melihat kakak sepupunya itu segera berjalan ke arah keduanya," hey!! Apa kalian masih mau disini atau mau nginap di masjid saja?" Teriaknya Adisti Ulfah.
Maryam segera melerai pelukannya itu dari tubuh suaminya itu, ia kemudian berjalan cepat ke arah mobilnya Aidan yang sudah dihias cantik dengan berbagai macam jenis bunga.
Adelio dan Shaira sudah berada di dalam mobil mereka menuju rumahnya Syamuel, begitupun juga dengan Sahnum dan Arion mereka juga sudah melajukan mobilnya menuju rumahnya Dewi.
Shasa nama panggilan sayang untuk Shaira yang diberikan khusus oleh suaminya, karena tidak ingin seperti yang dikatakan oleh Hanzal Abdul Djailani.
"Shasa apa kamu bahagia?" Tanyanya Adelio Arsene Smith sambil tetap fokus mengemudikannya mobilnya.
"Insya saya bahagia dengan pilihanku sendiri," jawabnya Sahira.
Shaira menghentikan kegiatannya berselancar di dunia maya sembari menautkan kedua alisnya itu mendengar perkataan dari pria yang baru beberapa jam lalu mengikrarkan cintanya dalam ikatan suci pernikahan.
"Kalau dibilang gembira, entah apa yang aku rasakan saat ini,tapi kalau ditanya oleh Abang Adelio pastikan aku akan menjawab kalau aku bahagia menikah dengan abang, sejujurnya aku belum yakin seratus persen dengan apa yang aku rasakan pada Abang, aku hanya gembira karena kedua orang tuaku bahagia dengan pernikahannya kita berdua, tapi untuk mencintai Abang sepenuhnya itu belum aku rasakan sebelumnya, tapi aku janji akan mencintai pria yang sudah menjadi suamiku untuk seumur hidupku secara perlahan-lahan, hingga hatiku mantap untuk mengukir hanya namanya seorang dalam ingatan."ungkapnya Shaira Innira panjang kali lebar.
Adelio tersenyum bahagia mendengar kejujuran dari Shaira," saya bersyukur karena kamu sudah menjadi perempuan yang terpenting dalam hidupku, aku mohon jangan sekali-kali berniat untuk meninggalkan aku seorang diri," pintanya Adelio yang mengecup punggung tangannya Shaira.
Shaira diperlakukan seperti itu oleh istrinya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.
Sedangkan di mobil lain berwarna putih seperti mobil yang dipakai oleh Shaira bersama dengan Adelio. Yaitu sedan hitam itu melaju dengan kecepatan yang cukup rendah. Penumpang dan orang yang duduk di kursi bagian dalam mobil itu berbincang-bincang seperti yang dilakukan oleh Shaira dan Adelio.
"Sha hari ini aku buktikan pada dunia jika aku sangat mencintaimu, bahkan aku rela menvasektomi tubuhku yang paling penting dalam hidupku, hanya demi kamu seorang, jadi aku mohon ja-ngan pernah sekalipun meninggalkan aku seorang diri, aku akan gila jika kamu meninggalkan aku," imbuhnya Arion Sneider Oesman yang segera menepikan mobilnya itu di badan jalan trotoar kebetulan terkena macet.
__ADS_1
Arion menutup semua jendela mobilnya dengan rapat, Arion segera memajukan wajahnya hingga keduanya saling bertatapan tanpa berkedip. Arion menangkupkan tangannya dilehernya Sahnun istrinya itu. Shanun yang mengerti dengan apa yang hendak dilakukan oleh suaminya itu segera mengerti dan memejamkan matanya.
Arion tersenyum sumringah melihat Sahnun memberinya lampu hijau. Arion segera mee luuu maaat bibir mungilnya Shanum yang berwarna merah delima itu dengan begitu rakus. Hampir tiga tahun dia berpuasa sejak peristiwa malam panjangnya bersama Shanum dan itu adalah hari terakhir dia melakukan hal seperti saat ini.
Shanum berusaha mengimbangi permainan dari suaminya itu, tanpa ragu tangannya Arion sudah nakal dan menjalar kemana-mana hingga tak terkendali. Apa yang dilakukan oleh Arion mampu membuat lenguhan kecil dan panjang dari Shanum itu sendiri.
Tangannya Arion sudah memegangi dua buah benda kenyal yang tidak sesuai dengan ukuran tangannya Arion. Sahnum tidak menyangka jika secepat ini suaminya akan meminta haknya untuk kedua kalinya selama mereka berkenalan.
Yang pertama ketika Shanum mabuk di dalam salah satu club malam miliknya Arion yang menyebabkan ia hamil dan juga keguguran sehingga rahimnya mau tidak mau harus diangkat karena insiden berdarah itu.
Ugh!!
Hemph!!
Nafas keduanya tersengal-sengal dan ngos-ngosan, akhirnya mereka pun menyudahi apa yang akan mereka lakukan sore hari itu. Arion segera menghentikan kegiatannya itu dan tersenyum penuh arti melihat istrinya yang sudah pasrah.
"Kita lanjutkan nanti malam saja, jadi bersiaplah abang akan buktikan keperkasaan seorang pria yang sudah lama berpuasa," ucapnya ambigu Arion.
Sahnum hanya menganggukkan kepalanya itu sambil tersipu malu sedangkan Arion membantu istrinya menyeka sisa-sisa salivanya di sudut bibirnya Sahnum.
Berbeda halnya dengan ketiga pasangan pengantin baru itu, sedangkan Amar dan Vela Angelina sama-sama terdiam. Amar tanpa sengaja melihat pesan singkat chat dari pria yang menghamili Vela.
Siapa lagi kalau bukan Ahksan Haydar sang mantan kekasih. Amar mendiamkan Vela Angelina tanpa sepatah katapun. Vela merasakan keanehan pada suaminya itu,ia juga tidak paham kenapa Amar mendiamkannya tanpa sebab.
Amar tadi buru-buru menghapus semua pesan chat yang dikirim oleh Ahsan ke nomor whatshap nya Vela agar Vela tidak mengetahui hal tersebut.
Aku akan menemui kamu esok hari, aku akan menunjukkan pada kamu siapa aku sebenarnya.
__ADS_1
Amar Alfarizi bukan pria pecundang yang hanya berani lewat hp saja tanpa membuktikan apa yang seharusnya aku perbuat.