Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 72


__ADS_3

Puji syukur selalu diucapkan oleh kedua pasangan suami istri itu. Mereka bersyukur karena ternyata tidak lama lagi akan memiliki tiga anak kembar sekaligus.


Syam tak henti-hentinya mengecup punggung tangannya Dewi. Walaupun tangan satunya selalu memegangi setir kemudi mobilnya itu.


Aku tidak menyangka ya Allah jika dalam hidupku, aku akan mendapatkan empat anak sekaligus. Semoga saja kelak aku bisa membimbing mereka menjadi anak sholeh dan sholehah.


Saya mampu dan bisa menjadi ayah yang baik untuk keempat anakku nantinya dan tidak membeda-bedakan kasih sayang antara mereka.


Minah yang sedari tadi hanya bisa pasrah melihat kebucinan kedua suami istri dari belakang mobil. Bi Minah hanya tersenyum simpul menanggapi sikap dari kedua pasangan suami istri itu.


Alhamdulillah betapa bersyukurnya dan bahagianya mereka bisa dikaruniai momongan, andai aku dengan suamiku juga dulu kami punya anak mungkin kami tidak akan berpisah dan bercerai.


Maafkan saya ya Allah bukannya saya cemburu dan iri melihat kebahagiaan majikanku,hanya saja saya juga ingin merasakan punya anak. Bibi Jubaedah dengan Mang Jono punya anak tiga, kakak sama adikku yang lain juga mereka punya keturunan, apa hanya saya yang ditakdirkan seperti ini.


Bu Minah menyeka air matanya jika harus kembali mengingat apa yang terjadi di dalam pernikahannya. Karena ia bercerai lah penyebab ia menerima tawaran dari Syam untuk menjadi asisten rumah tangganya itu.


Bi Minah dan Bu Jubaedah adalah keluarga jauh dari almarhumah bundanya Syam yang tinggal di daerah Sumatera. Mereka dengan senang hati dan sukarela menjadi art di rumahnya Dewi dan Syam. Mereka juga selalu memuji kebaikan kedua pasangan suami istri itu selama beberapa bulan terakhir ini mereka tinggal bersamanya.


"Sayang katanya Mama dan Papa akan datang hari ini ke rumah, mereka sangat bahagia karena mendengar jika kamu akan melahirkan anak kembar tiga sekaligus," ujarnya Syam sebelum mematikan mesin mobilnya karena mobilnya sudah sampai di depan pintu carport rumahnya itu.


Dewi menatap intens ke arah suaminya seraya tersenyum bahagia karena akan bertemu langsung dengan kedua mertuanya yang selama ini mereka sering berkomunikasi lewat telpon saja.


Kedua netra hitamnya Dewi berbinar terang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu, "Seriusan Abang kalau papa dan mama akan datang hari ini juga?" Tanyanya antusias Dewi.


Syam menganggukkan kepalanya sembari membantu Dewi melepaskan seatbelt ditubuhnya Dewi yang semakin membesar saja.


"Iya mereka sangat bahagia mendengar berita yang Abang sampaikan hingga mereka langsung buru-buru ke Jakarta, mereka itu sangat antusias menunggu kelahirannya kamu loh sayang," imbuhnya Sam.

__ADS_1


"Alhamdulillah saya sangat bahagia mendengar kabar baik ini Abang, aku akan buatkan Mama dan papa kue kesukaannya, Mbak Minah tolong bantuin saya yah Mbak ke supermarket beli bahan-bahannya karena sepertinya bumbu-bumbu kue yang mau saya buat kebetulan stoknya sudah habis," ujarnya Dewi yang mengarahkan pandangannya ke arah bi Minah yang hanya terpaut sepuluh tahun dengannya itu.


"Siap Nyonya Muda, kalau begitu saya langsung saja berangkat ke swalayan takutnya bapak sama Ibu keburu datang lagi," pungkasnya Bu Mina lagi.


"Hati-hati kalau begitu Mbak, ini uangnya kalau ada yang kurang hubungi nomor ponselku yah mbak," pintanya Dewi lagi yang selalu tersenyum bahagia hingga senyumannya tidak pernah pudar dari wajahnya itu.


"Insha Allah nyonya, assalamualaikum," ucapnya Bi Minah yang segera keluar dari dalam mobil melalui pintu belakang.


Syam dan Dewi bergandengan tangan ke dalam rumahnya. Kedua pasutri itu sangat bahagia. Walaupun sesekali Dewi meringis menahan sakit di perutnya jika ketiga anaknya bersamaan menendang. Dia hanya mengelus perutnya sambil selalu berdzikir kepada Allah SWT untuk menenangkan ketiga calon buah hatinya.


Berselang beberapa menit kemudian, Dewi sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan sedangkan Syam sudah berangkat ke kantornya, karena akan mengadakan rapat yang cukup penting yang sudah ditundanya beberapa jam yang lalu karena mengantar istrinya ke rumah sakit untuk periksa.


"Nyonya Dwi ini sudah saya siapkan seperti yang Anda inginkan," ucap Bu Mina sembari mengarahkan bener baskom plastik yang berisi bumbu kue.


Dewi segera mempercepat langkahnya menuju ke arah meja dapur," Alhamdulillah Mbak Minah memang selalu bisa diandalkan, semua pesanan yang saya minta sudah ada, kalau begitu kita buat beberapa jenis kue hari ini," ucapnya Dewi lagi.


Dewi mengarahkan pandangannya ke arah Minah," katanya mereka suka makan kue brownies panggang, putu ayu, kue lapis legit jadi rencananya kita akan buat ketiga macam kue itu, apa Bu Minah siap buat kue itu?" Tanyanya Dewi lagi.


"Kalau kue itu insya Allah saya bisa buat dan bantuin nyonya Dewi, karena memang Bu Rina dan pak Gilang suka kue itu sih waktu saya masih di kampung pernah dengar mereka suka banget dengan ketiga jenis kue itu," timpalnya Minah.


"Syukurlah kalau seperti ini, jadi kita mulai saja masaknya karena dua jam lagi kemungkinannya beliau sudah sampai di rumah, bibi Jubaedah juga bantuin kami yah," ujar Dewi yang tersenyum ramah kepada kedua artnya itu.


Ketiga perempuan beda usia itu segera mengerjakan tugasnya masing-masing. Tubuhnya yang besar dan perutnya yang buncit itu tidak menghalangi Dewi untuk beraktifitas. Mereka dengan cekatan membuat kuenya. Dewi sesekali mencicipi adonan yang keduanya buat.


Terkadang mereka sesekali bercanda bersama sambil membuat kue sehingga suasana sedikit santai dan heboh serta penuh kekeluargaan. Karena itu lah Bu Jubaedah dan Bu Minah sangat menyukai dan betah tinggal di rumah itu untuk bekerja.


Berselang beberapa menit kemudian, kue tersebut sudah matang satu persatu dan terhidang di atas wadah piring khusus kue. Bi Jubaedah membereskan semua perabot dapur yang sudah dipakainya, sedangkan Dewi berpamitan karena cukup gerah dan tubuhnya lengket karena peluh keringat bercucuran membasahi pipi dan sekujur tubuhnya itu.

__ADS_1


"Ni saya pamit dulu yah,mau mandi bau acem soalnya," ucap Dewi seolah mencium aroma wangi tubuhnya sendiri.


"Silahkan Nyonya kami akan melanjutkan pekerjaan disini, nyonya banyak istirahat saja sebenarnya dan tunggu nenek dan kakeknya si kembar Nyonya duduk cantik saja," sahutnya Bu Juba.


Dewi terkekeh mendengar perkataan dari Bu Jubaedah," saya itu enggak bisa diam Bi, entah kenapa saya merasa tidak nyaman jika hanya duduk dan rebahan saja pekerjaanku setiap hari, makannya saya terkadang cari aktifitas ringan saja, lagian kalau berat-berat saya nggak sanggup cukup tubuh saya yang berat," candanya Dewi sebelum meninggalkan dapur tersebut.


Kedua artnya hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Dewi. Keduanya bersyukur karena istri pertama majikannya cukup baik. Mereka tidak menyangka jika Dewi itu perempuan baik-baik dan sholehah yang ada di dalam bayangan pikiran mereka adalah, Dewi itu tidak baik seperti Nadia Yulianti istri keduanya Samuel Abidzar Al-Ghifari.


Beberapa jam kemudian,bel pintu rumahnya berbunyi. Bu Jubaedah yang kebetulan ada di sekitar ruang tamu segera berjalan ke arah pintu utama untuk membukakan pintu tersebut.


"Mungkin itu ibu Rina dan pak Gilang,"


Tebakannya Bu Jubaedah benar sekali, tamu yang datang menekan tombol bel adalah kedua orang tuanya Syamuel. Mereka datang dengan banyak membawa oleh-oleh untuk anak menantunya terutama untuk cucu pertama mereka.


"Assalamualaikum Jubaedah," ucapnya Bu Rina.


"Waalaikum salam Mbak Rina, silahkan masuk Mbak dan mas Gilang," imbuhnya Bu Juba yang memang mereka sudah saling kenal karena saudara jauh.


"Dewi mana Jubaedah,kok kami tidak melihatnya?" Tanyanya Pak Gilang sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling penjuru rumah itu.


"Waalaikum salam Mama," sahutnya Dewi yang baru saja muncul dibalik tembok ruangan tengah pemisah ruangan tamu dengan senyuman lebarnya.


Bu Rina segera berjalan cepat ke arah menantunya karena Dewi kesusahan untuk berjalan.


"Maafkan Dewi yah Ma tidak sempat untuk menjemput kedatangan kalian," ucap sesalnya Dewi yang meraih punggung tangannya ibu mertuanya itu.


"Tidak apa-apa kok Nak, kami berdua memakluminya karena kamu itu hamil besar," pungkasnya Pak Gilang.

__ADS_1


Bu Rina memperhatikan dengan seksama istri dari anak sambungnya itu." Dewi memang sangat jauh berbeda dengan Nadia, kecantikannya Dewi mampu mengalahkan Nadia yang tidak tahu apa-apa, aku salut dengan sikapnya Dewi Syam sungguh beruntung dapat istri cantik sekaligus baik hati sholeha lagi."


__ADS_2