
Setelah percakapan mereka lewat telpon telah selesai, Adisti segera berjalan ke arah dalam kamar mandi karena ingin bersiap.
Adisty memantapkan hatinya untuk melupakan cinta bertepuk sebelah tangannya. Dia tidak ingin terus terpasung pada kisah cintanya yang tidak mungkin berakhir bahagia.
Aku pasti bisa melupakan mas Andrew, sungguh kasihan nasibnya mas Ade jika aku tidak membuka hatiku untuknya.
Sudah cukup sampai di sini saja cintaku padanya yang tidak bertepi dan mustahil terbalas.
Berselang beberapa menit kemudian, Adisti menuruni tangga. Dia melangkahi anak undakan tangga seperti layaknya dia melangkahi kenangan dan masa lalu yang tidak boleh terus diingatnya.
Adisti tanpa sengaja sudut ekor matanya melihat seorang pria yang baru saja ingin dilupakannya bersama dengan suami kakak sepupunya.
Mereka saling beradu pandang beberapa detik dan Andre segera memutus kontak mata mereka. Dia tidak ingin orang salah paham padanya, jika mendapatinya saling bertatapan dengan Adisti sang calon mempelai pengantin perempuannya.
"Nak Adisti, Pak dokter sedari tadi menunggu kamu loh Nak," ucapnya Bu Rina Amelia sejujurnya rasa cinta dan kasih sayangnya telah berubah terhadap Adisti tapi masih tetap menyayangi Adisti walaupun tak seperti dulu lagi.
"Iya Nek, makasih banyak atas informasinya, kalau Tante Dewi ada katakan padanya aku keluar bersama mas Ade mau cek undangan pernikahan kami,apa sudah selesai," imbuhnya Adisti yang berpamitan kepada neneknya.
"Iya nenek akan sampaikan, tapi kamu harus hati-hati di jalan,kalau urusannya sudah selesai cepat pulang," pintanya Bu Rina.
Adisti hanya tersenyum simpul sambil meraih tangan wanita yang sudah uzur itu tapi, masih cukup sehat diusianya yang sudah tidak muda lagi.
Adisti mengecup punggung tangan perempuan yang telah berjasa mendidik dan membesarkannya selama ini.
"Assalamualaikum Nek," Adisti mengecup pipi kanannya Bu Rina seperti yang sering kali dilakukannya jika akan bepergian ke luar rumah.
Shaira dan Adelio berjalan beriringan ketika baru saja Adisti pergi bersama dengan Ade Nugraha calon suaminya itu.
"Nenek, mau kemana Adis?" Tanyanya Shaira.
"Katanya mau ngecek undangan pernikahannya, sudah seminggu dipesannya, tapi belum kelar juga," jawabnya Shaira.
"Sayang aku temui Andrew dulu di ruang tengah ada yang penting soalnya aku ingin bicarakan,kamu enggak apa-apa bersama dengan nenek atau bermain dengan Shanum eh anaknya maksudnya abangr," Adelio berucap sambil bercanda.
__ADS_1
Shaira melerai pelukannya pada tubuh suaminya itu dan berjalan menuju Shanum dan baby Shahnaz berada. Rina Amelia melihat cucu kesayangannya tersenyum gembira ketika Adelio sepintas mengecup keningnya itu.
Kamu cucuku yang paling Nenek sayangi, kamu pantas berbahagia nak, meskipun hanya kamu yang belum hamil seperti saudari kalian yang lainnya, tapi Nenek selalu berdoa untuk kebahagiaan rumah tanggamu.
Shaira berlari-lari kecil ke arah Shanun kakaknya yang sedang bermain dengan Shanaz yang sudah berusia sepuluh bulan itu yang sedang duduk di atas karpet bulu berwarna cokelat sambil bermain mobil-mobilan.
Shaira langsung menggendong tubuhnya Shanaz yang semakin gembul dari hari ke hari saja.
"Ponakannya Aunty Aira cantik banget, Hem! udah mam sayang?" Tanyanya Shaira seraya mengangkat tubuhnya Shanaz yang berputar-putar itu.
"Dah… dah," balasnya Shanaz yang memang sudah bisa membalas perkataan dari orang-orang walau masih belum jelas atau cadel.
"Hemph gemasnya, ponakan cantiknya aunty makin pintar saja,sini aunty cubit pipi chubby nya," Shaira games melihat anak kecil satu-satunya itu di dalam keluarganya.
"Dede kamu enggak ke rumah sakit?" Tanyanya Shanum.
"Hari ini libur soalnya, Ndak mood ke rumah sakit," balasnya Shaira yang mendudukkan dirinya ke atas lantai keramik yang beralaskan karpet bulu.
"Biasa emang gitu kak, kalau masalah terlambat atau cepat kelahiran dari hari taksiran itu masih biasa saja, tapi malah ada yang lebih parah yaitu tidak mengetahui jika dirinya hamil,pas bulan kelahiran anaknya baru sadar," ungkapnya Shaira.
Sahnum baru saja ingin membalas perkataan dari adik angkatnya itu, terdengar suara teriakan dari dalam dapur.
"Aahh tolong!" Teriak seseorang dari arah dalam dapur.
Shanum dan Shaira saling bertatapan satu sama lainnya," sepertinya dari dapur," ucap Syaira.
"Jangan-jangan itu suara dari Mbak Maryam lagi yang baru saja berjalan ke sana katanya mau ambil air dingin," tuturnya Shanum yang asal menebak saja.
"Kakak jagain Shanaz, aku saja yang ke sana lihat apa yang terjadi," cegahnya Shaira mencegah kakaknya untuk berdiri dari duduknya itu.
"Bi Siti sepertinya nyonya muda Maryam akan melahirkan anaknya," bi irjawanti membantu Maryam untuk duduk di salah satu kursi meja dapur.
"Nyonya muda bertahanlah Nyonya akan baik-baik saja," bujuknya Bu Siti yang berusaha untuk membuat Maryam nyaman dan tenang.
__ADS_1
"Bibi tolong hubungi cepat nomor ponselnya bang Aidan suamiku, katakan padanya aku akan melahirkan," pintanya Maryam seraya meringis kesakitan dengan memegangi ujung perut buncitnya itu.
Bi Ijah segera menelpon nomor ponselnya Aydan Akhtar, bersamaan dengan kedatangan Shaira.
"Apa yang terjadi pada Maryam?" Tanyanya Shaira.
"Kayaknya dia mau melahirkan Non Shaira," jawab bi Siti yang membantu Maryam.
"Cepat panggil suamiku dan Andrew untuk membantu Mbak Maryam,dia harus segera mendapat pertolongan dari dokter," titahnya Shaira.
Maryam sama sekali tidak merasakan panik, ketakutan atau apapun itu padahal perempuan lainnya yang berada diposisinya pasti akan mengalami banyak hal. seperti takut, panik, khawatir dan cemas berlebihan.
Maryam sangat sabar dan terus beristighfar dan berdzikir mengagungkan asma Allah SWT disela dia meringis kesakitan menahan rasa mules yang datang dari dalam rahimnya.
Bu Ijha segera berjalan tergopoh-gopoh mencari keberadaan Adelio dan Andrew untuk membantu mengangkat Maryam. tapi, segera dicegah oleh Maryam.
"Bibi Ijha tidak perlu memanggil mereka, aku masih sanggup berjalan ke depan, persiapkan saja perlengkapan bayiku," titahnya Maryam yang berusaha nampak tenang berjalan dengan dipapah oleh Shaira.
"Baik Nyonya Muda," Ijah berjalan cepat ke arah kamarnya Maryam untuk mengambil perlengkapan bayinya.
Bi Siti segera menemui mang Kadir Halid untuk persiapkan mobil. Adelio yang mendengar keributan segera mengakhiri perbincangannya dengan adiknya sendiri.
"Istriku apa yang terjadi pada Maryam?" tanyanya Adelio yang lebih panik dari perempuan yang akan melahirkan.
"Abang tolong segera persiapkan mobil kita harus segera ke rumah sakit, Mbak Maryam mau melahirkan," perintahnya Shaira.
Andre segera membantu mereka agar lebih memudahkan mereka berangkat ke rumah sakit.
BI Siti tanpa diperintah segera mengirimkan pesan chat ke grub keluarga besar Abidzar Al-Ghifari. Sehingga semua orang sudah membaca kabar baik itu.
Bu Siti tersenyum simpul ketika Fariz membalas pesan singkat digrub keluarganya dan mengabarkan jika, Sheila Alona calon istrinya pun sudah melahirkan baru sepersekian menit yang lalu.
"Syukur alhamdulilah, Non Sheila juga sudah melahirkan anak cowok di rumah sakit kasih bunda," terangnya Bi Siti.
__ADS_1