Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 33


__ADS_3

Sebelum makanan itu masak dengan sempurna tapi tidak over cook,Sam sesekali bertanya kepada istrinya itu jika ada yang menurutnya janggal dan tidak biasa.


Rencananya tadi di pasar tradisional mereka akan makan di salah satu warung makan yang padat dikunjungi oleh pembeli, tapi Syam tidak mau berlama-lama antri sehingga memutuskan mereka berdua makan di rumah saja.


Kedua pasangan suami istri itu begitu kompaknya masak. Sesekali Syam akan bertanya mengenai bumbunya jika menurutnya aneh dan unik dan tidak seperti yang pernah dilihatnya ketika Mbak asisten rumah tangganya yang masak.


"Dewi kok benda bulat putih itu disangrai terlebih dahulu sebelum diulek, kenapa bisa seperti itu? Bukannya itu ribet dan buang waktu saja," Syam mulai kepo sehingga melancarkan serangannya.


Dewi kembali memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi itu dengan senyuman khasnya.


Dewi terkekeh mendengar perkataan dari mulut suaminya itu padahal sebelumnya Dewi sudah menjelaskan apa nama bumbu dapur yang dikatakan oleh Syam.


"Ohh ini namanya kemiri, untuk mendapatkan hasil rasa gurih dan lezat yang sempurna itu memang sebaiknya kemirinya disangrai digoreng tanpa minyak, karena bau aroma wanginya akan keluar lebih harum dari kemiri yang tidak melalui proses disangrai terlebih dahulu," jelasnya Dewi panjang lebar.


Samuel menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dan mengerti dengan penjelasan dari Dewi tersebut.


"Aku yakin santan kental asli yang bukan instan dari hasil olahan pabrik dengan kemiri sangrai yang membuat masakan Bunda Mariana selalu lezat, nanti deh cicip dan cobain kalau sudah masak, aku harus bertahan untuk menahan rasa lapar ini yang semakin bergejolak ketika menghirup wangi kelezatan masakan Dewi."


Perutnya Sam yang tiba-tiba berbunyi keroncongan membuat Dewi tertawa cekikikan. Ia segera mengambil beberapa piring, sendok, garpu, gelas dan juga mangkuk untuk mengisi ikan tersebut.


Aku memperhatikan suamiku seperti orang yang baru lihat masak, tapi itu hal yang wajar terjadi dan aku maklumi karena Abang Samuel kan hanya tahunya kerja di depan komputer doang apalagi Abang Sam punya istri yang pasti melayani semua kebutuhannya itu.

__ADS_1


Itu dugaan dan prasangkanya saja Dewi padahal kenyataannya pakaian kerja, baju ganti semuanya disiapkan oleh Sam sendiri karena tidak menyukai jika ada orang lain yang masuk ke dalam kamarnya dan menyentuh barang-barang penting yang lebih sensitif dan di daerah privasinya. Sehingga Syam lebih memilih menanganinya sendiri.


Nadia Yulianti mana mau,mana bisa dan sanggup untuk melaksanakannya. Padahal itu sudah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri. Nadia bahkan mengelola keuangan saja tidak becus, pasti akan boros sehingga mau tidak mau Syam yang mengelola keuangan tapi, Nadia selalu mengontrol dan mengecek secara detail gaji dari suaminya itu.


Syam berharap Nadia juga bisa seperti Dewi walaupun itu sangatlah mustahil dan terkadang dia heran dengan dirinya sendiri yang bisa dan sanggup mencintai perempuan yang taunya hanya bersolek berdandan dan melayani suaminya di ranjang saja.


Setiap istri dan manusia itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku hanya berharap kedepannya mereka bisa hidup akur, damai dan saling berdampingan tanpa ada ysng ingin mendominasi dan merasa hak miliknya lebih banyak dan besar.


Ikan masak woku asli khas masyarakat Manado Sulawesi Utara itu sudah terhidang di dalam mangkuk porselen berwarna putih tulang dengan hiasan tomat dan daun bawang serta kemangi semakin mempercantik penampilannya.


Kepala ikan kakap merah itu pun tidak mau ketinggalan dengan aroma santan kental yang khas menyeruak membuat Syam semakin tidak sabaran menunggu untuk mencicipi makanan pertama kali ya dimasak oleh Dewi khusus dan spesial untuknya.


"Abang Syam sini kita makan bareng katanya tadi sudah lapar,kok hanya melototin makannya saja," candanya Dewi yang sudah menarik kursi meja makan untuk suaminya.


Dengan gesit langkah kakinya yang panjang membuatnya Syam hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk sampai di depan Dewi yang menyambut kedatangannya dengan senyuman termanisnya.


"Abang buka dulu celemeknya," pintanya Dewi.


Syam tidak mengindahkan perkataannya Dewi ia langsung saja mengambil beberapa sendok ikan ke dalam mangkuk kecil yang sudah disediakan oleh Dewi istrinya. Dua mangkuk sudah terisi ikan kesukaannya.


"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Syam yang langsung mulai menikmati santapan makan siang sekaligus sarapan dan sarapan paginya yang sudah terlambat beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Dewi tertawa cekikikan melihat tingkahnya Syam," semoga saja Abang menyukai hidangan sederhana yang aku masak khusus untuknya, moga sesuai dengan perutnya sehingga Abang makan dengan lahapnya."


Dewi pun ikut duduk di depannya Syam yang seolah-olah tidak menghiraukan dan peduli dengan tatapan matanya Dewi yang memujanya itu. Syam mencicipi satu persatu masakan hasil kreasi tangan terampil Dewi Kinanti Mirasih pagi menjelang siang itu.


"Woo ini lezat binggo, rasanya begitu nikmat, wanginya semakin enak tercium hingga kedalam rongga hidung, kalau boleh jujur ini masakan yang begitu mirip dengan masakan Bunda, Dewi kamu berhasil memasak makanan untukku yang mampu mengobati rasa rinduku pada bunda Mariana," pujinya Syam yang tidak henti-hentinya memuji masakannya Dewi di depan Dewi langsung.


Hal itu yang membuat Dewi bersyukur,bangga pada dirinya sendiri atas pencapaiannya, bahagia melihat senyuman sumringah yang tidak pudar diwajahnya Syam hingga Sam yang makan dengan begitu lahapnya sampai-sampai beberapa kali menambah porsi nasi dan lauknya ke dalam piringnya itu.


Syam yang mulutnya penuh dengan makanan melihat Dewi yang hanya terdiam saja melihat dan mengamati dengan seksama apa yang dilakukan oleh suaminya itu yang membuatnya sangat bahagia bahkan over happy karena berhasil membuat masakan yang direquest oleh suaminya yang sebenarnya seperti memberikan tantangan kepadanya.


Syam segera menghabiskan makanan yang kebetulan masih berada di dalam mulutnya sementara dikunyahnya.


"Kamu kok enggak makan, apa kamu terlalu sayang dan kasihan sama makanannya sampai-sampai enggan untuk memakan ikannya dan menemaniku?" Tanyanya Syam yang bernada bercanda.


Dewi segera spontan mengambil piring dan mengisi nasi putih yang begitu pulemnya,ia juga mengambil beberapa potong ikan kedalam mangkuknya.


"Dewi jujur masakan kita ini mampu mengalahkan rasa nikmatnya masakan di warung makan bahkan melebihi di resto mahal bintang lima sekalipun, kalau setiap hari aku makan yang enak seperti ini bisa-bisa bobot berat badanku naik dan akan bertambah terus," ucapnya Syam yang tak berhenti memuji Dewi dan mengunyah makanannya dalam waktu yang bersamaan pula.


"Saya sangat senang dan bersyukur banget jika ternyata masakan sederhana yang saya masak mampu membuat Abang kenyang dan perutnya tidak berbunyi kriuk-kriuk lagi," guraunya Dewi yang mulai menikmati masakannya sendiri dengan bantuan suaminya itu.


"Saya tidak sia-sia menitikkan air mata gara-gara ulah si bawang merah dengan gelarnya yang katanya orang nih super jahat karena bisa buat para emak-emak menangis tanpa sebab," kelakarnya lagi Syam.

__ADS_1


Syamuel begitu hebohnya dalam mencicipi makanan yang bisa buat dia melupakan jika dia harus balik ke Jakarta siang harinya atas permintaan dari atasannya di kantor.


__ADS_2