
Abyaza tersenyum bahagia mendengar perkataan dari papanya pria yang paling bijaksana dan tertua di rumah itu.
"Makasih banyak Pa, aku akan segera menghubungi nomor ponselnya Tanisha untuk mengabarkan padanya jika papa dan yang lainnya besok akan segera datang melamarnya," ucapnya Abyasa
Abiyasa sungguh bahagia karena mendapatkan restu, ijin dan lampu hijau untuk segera meminang Tanisha gadis yang dicintainya.
"Kamu pantas mendapatkan seorang perempuan pendamping hidup yang sholeha, baik hati dan tentunya cantik," ujarnya Syamuel.
Dewi baru saja datang dan tidak langsung berjalan ke arah balkon lantai dua rumahnya dimana suami dan putranya berada. Dia mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki yang paling penting dalam hidupnya tanpa sengaja.
Bukan niatnya untuk menguping hanya saja datang tidak tepat waktu saja. Dewi terus berjalan dan tersenyum sumringah mendengar perkataan keduanya, bahkan dia tidak sabar ingin melihat putranya menikah.
"Hemph!! Sepertinya ada berita gembira nih," tebaknya Dewi yang berpura-pura tidak mengetahui duduk permasalahan pembicaraan mereka.
Abyasa segera memeluk tubuhnya Dewi dengan pelukan hangatnya," mama akan segera mendapatkan menantu yang paling cantik," ujarnya Abiayasa yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.
Dewi menepuk punggung lebarnya Abyaza," Alhamdulillah, amin ya rabbal alamin. Berarti menantunya mama akan bertambah menjadi empat dong kalau seperti ini, tapi ngomong-ngomong katanya adat orang di Sulawesi Selatan itu terutama Makassar pakai segala uang mahar seperti anaknya Om Rudiyatmo Iskandar tetangga kita yang menikah dengan gadis Sulsel," tuturnya Dewi.
Mereka segera duduk di kursi masing-masing sambil menyantap makanan yang tersaji d depannya.
Syamuel menepuk dahinya itu ketika mendengar perkataan dari istrinya," astaughfirullahaladzim, iya apa yang kamu katakan memang benar adanya istriku, adat orang Makassar seperti itu,ada namanya uang panaik kalau disini kita menamakannya mahar, apa memangnya banyak uang maharnya Ma?" Tanyanya Abyasa yang penasaran.
"Insha Allah masalah itu saya sudah siap besok melamarnya,kalau bisa Mama minta tolong kepada tetangga kita tadi untuk menemani mama ke rumahnya Tanisha dan bertanya kepada Om bagaimana persiapannya, apa saja yang diperlukan dalam acara lamaran," imbuhnya Abiyaza.
__ADS_1
"Serahkan pada mama masalah seperti ini, kebetulan ada nomor telponnya istrinya Pak Rudi diponselnya Mama jadi malam ini kita akan memanggil Bu Widiana untuk secepatnya datang ke sini agar kita juga bisa cepat bersiapnya karena seperti yang Mama ingat banyak barang seserahan lamaran yang harus kita bawa, seperti makanan, benda-benda berharga lainnya juga intinya kita mulai persiapannya malam ini juga," jelasnya Dewi panjang lebar yang sangat antusias berbicara bahkan saking bahagianya tidak ada titik komanya ketika berbicara.
Abyasa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya wanita yang paling penting dalam hidupnya dan paling berjasa dalam kehidupannya. Dewi segera menelpon Bu Widi jarra, karena tidak ingin terlambat mempersiapkan segala sesuatunya yang cukup banyak.
"Nak kamu telepon gih sana bapaknya Tanisha dan sampaikan kepadanya jika kita besok siang akan datang melamarnya putrinya untuk kamu," pintanya Sam.
Abyasa menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi nomor ponselnya papanya Tanisha pak Hermansyah.
Dewi segera bergegas menyediakan beberapa barang-barang seserahan lamaran besok siang. Abyasa berjalan ke arah kamarnya untuk menelpon Tanisha sang pujaan hatinya.
Abyasa menghubungi nomor ponselnya Tanisha yang dirumahnya sedang mengerjakan pekerjaan yang terpaksa dibawahnya ke rumahnya karena deadline hari senin harus disetor ke atas mejanya Abyasa sebelum jam delapan pagi.
Tanisha menyentuh kelopak matanya bagian atas yang berdenyut," katanya mendiang Mama dulu kalau kelopak mata bagian atas yang bergetar akan dapat berita gembira,allahumma amin, semoga saja seperti itu, sama halnya ketika kelopak mataku bagian kiri bawah berdenyut-denyut tiba-tiba dapat kabar, kalau aku akan dinikahkan dengan pria tua bau tanah, bangkotan dan tidak lama lagi meninggal dunia," cicitnya Tanisha yang segera menghentikan kegiatannya sesaat.
Tanisha yang memangku laptopnya ke atas pahanya terkejut mendengar getaran dan suara hpnya yang berdering. Tanisha mengalihkan perhatiannya ke arah permukaan ranjangnya yang berseprei kuning itu sesuai dengan warna favoritnya.
"Pak Abyasa Akhtam," beonya Tanisha yang tergesa-gesa menekan tombol power hijau agar telponnya terhubung.
"Assalamualaikum Cha, maaf saya menganggu istirahat malammu," ucapnya Abiyasa yang grogi berbicara dengan Tanisha.
Tumben banget ini orang berbicara formal dengan pakai saya kau, biasanya nyapanya pakai aku dan kamu.
Abiayasa sudah menghubungi nomor ponsel calon bapak mertuanya itu sebelum menelpon ke nomornya Tanisha. Abyasa mengernyitkan dahinya karena tidak mendengar ucapan balasan dari seberang telpon.
__ADS_1
Telponnya sudah tersambung, tapi kenapa enggak ada suara apapun yang aku dengar, apa jangan-jangan Tanisha mengangkat telponku dalam keadaan tertidur.
Abiyasa memeriksa layar ponselnya itu mengira jika telponnya terputus. Abyasa mulai diselimuti rasa penasaran dan panik, karena takut jika rencananya gagal karena Tanisha menolak lamarannya.
"Kamu masih mendengar suaraku? Apa jangan-jangan kamu sudah tertidur pulas lagi," tebaknya Abiayasa.
"Waalaikum salam, Ehh maaf Pak. Saya tadi memeriksa layar laptopku yang masih menyala," kilahnya Tanisha.
Tanisha menepuk keningnya dan merutuki dirinya sendiri. Dia tidak mengerti karena bisa-bisanya berbicara dengan atasannya di kantor tersebut seperti itu.
"Maaf saya sudah gangguin kamu, tapi aku entah kenapa enggak bisa tidur sebelum mendengar suaramu yang merdu," jelasnya Abyasa seraya menaikkan salah bantal kepalanya ke atas pahanya serta bersandar ke headboard ranjangnya.
"Tidak apa-apa kok Pak, emangnya ada apa Pak atau apa yang bisa aku bantu?" Tanyanya Tanisha yang masih kebingungan kenapa atasannya itu menelponnya.
"Apa kamu bisa bantuin saya agar segera tidur?" Tanyanya Abyasa yang bernada permintaan itu.
"Apa bantu tidur? Ya Allah Pak Abya gimana caranya aku tolongin pak Abyasa untuk tidur sedangkan kita berbeda rumah," jawabnya dengan polosnya Tanisha.
Abyasa tersenyum penuh senyuman arti,"ohh gitu yah, jika kamu seatap denganku kamu akan membantuku tidur gitu," tebaknya Abyaza yang tersenyum dibalik ponselnya.
Tanisha segera mencerna perkataannya sendiri dan menutup mulutnya. Ia kembali menyesali sikapnya yang terlalu lambat loading mencerna perkataannya Abiayasa.
Tanisha menggoyangkan telapak tangannya di depan hpnya seolah Abiyasa ada didepannya sehingga akan melihat apa yang sedang dikatakannya.
__ADS_1
"Hahaha kamu lucu juga yah, aku yakin kamu baru saja memikirkan apa yang aku katakan kan padamu,"
Jangan lupa untuk berikan like setiap babnya, vote sekali setiap minggunya, berikan gift koin, iklannya dan poinnya setiap hari yah... supaya authornya semangat untuk nulis lagi.