
Shanum berteriak kencang dan histeris di dalam kamar mandi yang berukuran 1x2 meter persegi itu, sambil menyalakan kran air sehingga suaranya teredam tidak jelas terdengar ke arah luar.
Shanum meremas kuat perutnya yang ingin sekali mengeluarkan calon bayinya sendiri yang baru berusia dua bulan lebih itu. Ia bahkan memukuli perutnya saking marah, pusing, stres dan tidak habis pikir jika dia akan hamil. Padahal hanya sekali mereka bertemu dan melakukannya berulang kali.
Apalagi Arion kala itu tidak memakai pengaman seperti yang sering kali dilakukannya bersama dengan perempuan lain yang menghangatkan ranjangnya.
"Mama maafkan Shanum, papa Sha sudah banyak salah dan dosa kepada kalian, ini semua jelas-jelas salahku sendiri yang sudah menyebabkan kehidupanku hancur, kalau seperti ini pria mana yang akan menikahiku! Jawabnya tentu saja tidak akan lagi ada."
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu, ia sesegukan tak kuasa menahan kesedihannya akan penyesalan konsekuensi atas perbuatannya sendiri.
Matanya memerah, hidungnya bengkak dan sembab, suaranya sudah serak parau saking lamanya menangis dalam keadaan terduduk di atas kloset kamar mandi umum di salah satu SPBU Pertamina yang didatanginya itu.
"Apa yang dilakukan oleh wanitaku di dalam sana, kenapa dia lama sekali? Apa yang terjadi sebenarnya padanya?"
Sebaiknya aku sendiri yang mengecek langsung kondisinya, karena sudah sejaman lebih di dalam sana, tapi belum keluar juga.
Oh Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Tapi pertama kali aku menyadari jika dia adalah Shanum gadis yang membuatku tergila-gila padanya.
Hingga aku tidak bisa memandangi perempuan lain lagi memakai pakaian tertutup, entah kenapa hatiku sangat adem dan tentram melihatnya berpakaian tertutup.
Apalagi menutupi kepalanya sehingga pria lain tidak mampu melihatnya secara langsung seperti dulu.
Arion hari ini awalnya hanya berencana untuk mencari angin saja, suntuk seharian berada di dalam kantor berkutat dengan laptop,komputer, tumpukan kertas dengan tulisan yang membuat matanya lelah.
Tetapi, tanpa sengaja melihat ada seorang perempuan yang memakai hijab membuatnya tertarik. Hingga sudut bibirnya terangkat ke atas seketika mengetahui siapa wanita berhijab tersebut.
Tok… tookk..
Suara ketukan di pintu membuat Shanum Inshira segera segera menyeka air matanya dan berusaha secepat mungkin menetralkan perasaannya agar tidak ketahuan jika sedang menangis.
Took… tokk…
__ADS_1
"Siapa di dalam! Kenapa lama banget sih!?" Teriak Arion yang ingin memastikan bahwa perempuan yang dicarinya dan dilihatnya itu adalah Shanum.
"Tunggu!! Sabar dikit kenapa, ini kan toilet umum bukan milik kamu!"
Gerutunya Shanum yang segera mengemasi semua barang-barang yang tadi dipakainya ke dalam handbag nya.
Arion baru bisa tersenyum dan bernafas lega karena mendengar suara Shanun yang sangat dikenalnya.
"Syukurlah dia baik-baik saja, padahal tadi saya sudah khawatir dengan kondisinya,"
Arion segera berpindah beberapa langkah dari hadapan pintu. Ia tidak ingin kehadirannya di tempat itu membuat Shanum marah padanya. Arion segera bersembunyi dibalik tembok, agar tidak ketahuan jika sejak awal membuntuti Sahnum.
Shanum berjalan ke arah luar sambil sesekali masih terdengar suara sesegukan dari bibir mungilnya itu. Dia menatap ke sekeliling kamar mandi umum tersebut. Karena tidak ingin ada orang yang mengenalnya dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga saja aku berhasil menggugurkan anak ini tanpa ada orang lain yang mengetahuinya," cicitnya Shanum.
Arion yang posisinya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Apalagi pendengarannya itu cukup tajam sehingga apa yang dikatakan oleh Shanum sekecil apapun suaranya masih sanggup di dengarnya dengan jelas.
"Apa! Menggugurkan kandungan, siapa anak yang ingin digugurkan oleh Shanum? Tapi kalau setahu saya anak itu apa jangan-jangan milikku," tebaknya Arion.
Shanum berjalan terburu-buru ke arah mobilnya dan tanpa ragu segera mengendarai mobilnya menuju salah satu rumah sakit yang dikenalnya bisa membantunya menggugurkan kandungannya.
Seperti dulu beberapa teman kuliahnya yang hamil di luar nikah, sedangkan mereka belum siap untuk hamil atau pria yang menghamili mereka tidak ingin bertanggung jawab.
"Untungnya dulu sering temani teman ke sini untuk aaa boor sii sehingga dapat pengalaman untuk memudahkan langkahku, dulu aku sangat menentang keputusan dari teman-teman yang memilih jalan pintas seperti ini, tapi hari ini aku baru tersadar seperti ini lah yang mereka alami dulu, frustasi karena hamil tanpa suami sedangkan sang pria sama sekali tidak mengharapkan janin calon bayi mereka sendiri,"
Laju kendaraannya semakin cepat saja, Shanum takut jika dia terlambat melaksanakannya sehingga kedua orang tuanya mengetahui kejelekannya itu.
"Astaghfirullahaladzim, aku mungkin sudah berdosa besar akan menggugurkan calon anakku ini, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi ya Allah.. aku masih ingin kuliah, aku belum membalas kebaikan yang diberikan kedua orang tuaku kepadaku semasa hidupku, jadi maafin Mama nak mungkin seperti ini sudah jalan takdir yang harus Mama jalani," Shanum mengelus perutnya yang masih datar itu.
"Aku harus memastikan siapa ayah biologisnya anak yang di dalam rahimnya, jika anakku aku tidak akan mengizinkan dia melakukan tindakan ilegal yang akan merugikan dirinya sendiri, kasihan anak itu belum lahir ke dunia ini sudah harus menghadapi ancaman pembunuhan dari ibu kandungnya sendiri,"
__ADS_1
Arion semakin menambah kecepatan laju mobilnya, ia takut kehilangan jejaknya Shanum. Arion tidak ingin gara-gara dia terlambat sedetik saja nyawa dari anak itu akan terancam termasuk nyawa sang ibu.
Hingga mobil Shanum berhenti di depan salah satu klinik bersalin yang ternyata sering kali melakukan tindakan yang ilegal yang dilarang keras oleh hukum negara. Tatapan mata menelisik ke arahnya Sahnun yang mengamati Shanum dari atas kepala hingga ujung kakinya.
"Astaughfirullahaladzim kenapa perempuan muda yang memakai pakaian tertutup hijab seperti dia harus berada di tempat seperti ini, apa jangan-jangan dia akan," dugaan beberapa orang yang melihat Shanum yang cepat ketahuan akan melakukan hal-hal aneh.
"Aku harus cepat, dasar wanita bodoh kenapa tega sekali membunuh calon anaknya darah dagingnya sendiri. Padahal diluar sana banyak kok yang melahirkan dan membesarkan anaknya dengan status single parent," gumamnya Arion yang memarkirkan mobilnya dengan asal saja.
Arion tersenyum melihat Shanum yang duduk di salah satu kursi panjang berwarna putih itu.
"Untung saja aku tidak terlambat, ini tidak boleh dibiarkan begitu saja! Jika tidak Shanum akan menemui masalah besar,"
Arion awalnya hanya berjalan pelan saja tapi, perlahan semakin mempercepat langkahnya. Sesekali tersenyum tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang kebetulan berjalan beriringan dan berpapasan dengannya.
"Maaf pak saya tidak sengaja," ucapnya Arion.
Arion tidak peduli dengan tatapan mata dari orang-orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi klinik. Hingga dia sudah berdiri di depannya Shanum. Nafasnya ngos-ngosan dan memburu karena sedari mesin mobilnya berhenti,ia terus berlari.
Shanum yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena melihat sepasang sepatu yang cukup mengkilap di depannya. Sehingga ia mendongakkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke arah atas tepat di tubuh tinggi dan tegap yang tersenyum menatapnya.
Shanum spontan bergerak ke arah belakang hingga punggungnya terantuk ke sandaran kursi besi panjang tersebut. Kedua pasang matanya membelalak sempurna saking terkejutnya melihat wajah dari pria itu.
"Ya Allah… ka-mu kan pria yang malam itu?" Tunjuknya Shanum yang terkejut bukan main melihat Arion.
Shanum yang mulai ketakutan, tubuhnya gemetar saking takutnya melihat pria yang telah merenggut segalanya dari dirinya. Laki-laki yang telah merenggut mahkotanya itu.
Orang yang telah menghancurkan kehidupannya yang hampir saja putus asa. Pernah sekali terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya.
"Benar sekali saya adalah pria sekaligus calon bayi yang kamu kandung," ujarnya Arion yang langsung saja tanpa basa-basi.
Shanum semakin ketakutan karena Arion sendiri jelas-jelas mengatakan jika dia adalah pria yang telah menghamilinya itu.
__ADS_1
"Pergi!! Aku mohon jangan dekati aku lagi!! Aku tidak mau bertemu kamu lagi?!" Jeritnya Shanum.
Ponselnya Shanum yang sejak tadi bergetar dan berdering sama sekali tidak dipedulikan olehnya. Yang ada dalam pikiran dan benaknya adalah kenapa pria jahat itu berdiri di hadapannya.