
Shaira menyembunyikan rasa sedihnya, karena dalam perjalanan ke bandara internasional Soekarno Hatta pagi ini, ia mendapatkan kabar jika suaminya Adelio Arsene Smith tidak jadi pulang.
Ya Allah… aku tidak memungkiri jika hatiku sangat sedih dan kecewa karena suamiku tidak jadi pulang, sejujurnya aku sangat merindukannya dan mengharapkan dia kembali.
Shaira berjalan menaiki undakan anak tangga satu persatu dengan perasaan loyo, lesu, lunglai dan tidak bersemangat. Apa mau dikata suaminya memiliki urusan yang sangat penting dan tidak boleh ditundanya, sehingga kepulangannya ke Jakarta harus segera ditunda.
Dewi yang melihat perubahan raut wajahnya Shaira sangat mengerti apa yang terjadi pada anak bungsunya itu.
Aku yakin putriku sedih karena suaminya batal pulang ke tanah air, padahal jadwalnya ini hari.
Ya Allah sabarkanlah hatinya anakku Shaira Innira, aku tidak suka dan tidak mau jika gara-gara masalah kecil saja, anakku harus menderita dan terbebani.
"Wi, apa kepulangan nak Adelio tidak jadi yah?" Tanyanya Bu Rina Amelia yang melihat cucu kesayangannya itu seperti tidak bergairah dan patah semangat.
Dewi yang ditanyai seperti itu segera menjawab pertanyaan dari Mama mertuanya itu.
"Katanya ada masalah yang sangat urgen di cabang perusahaannya yang ada di Paris Ma, Adelio tidak mungkin meninggalkan masalah genting tersebut tanpa menyelesaikan masalahnya hingga ke akar-akarnya," ucapnya Dewi.
"Pantesan cucuku bersikap seperti itu, pasti dia sangat merindukan suaminya, walau baru sebulan lebih berpisah, tapi rasanya enggak enak banget," sahutnya Bu Rina Amelia.
"Biasalah ma hubungan long distance relationship LDR-an itu sungguh menyiksa, aku pun dulu merasakannya tapi sudahlah ini salah satu konsekuensi yang harus dijalani oleh Shaira putriku menikahi pria bule yang super sibuk," Dewi bangkit dari duduknya dan hendak menemui anaknya Shanum.
"Wi, kamu mau kemana?" tanyanya Bu Rina.
Dewi menolehkan kepalanya ke arah mama mertuanya sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Rina Amelia.
"Aku mau lihat cucuku Ibu, aku kangen banget mau lihat Shahnaz," ujarnya Dewi.
Bu Rina Amelia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf o saja. Sedangkan Dewi melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya Shanun.
Alhamdulillah makasih banyak ya Allah anak-anak, cucuku dan menantuku sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing, semoga saja kehidupan mereka lebih berkah lagi dan bahagia kedepannya.
Satu bulan kemudian…
Pagi itu, Maryam Nurhaliza yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya dan seluruh anggota keluarganya di rumah itu, sibuk memasak di dapur. Sedangkan Shaira dan Dewi membantunya agar pekerjaan memasak mereka lebih cepat selesai.
"Maryam apa kamu sudah campur gula dan garam Nak ke dalam sayur sop yang kamu masak?" Tanyanya Dewi tanpa mengalihkan perhatiannya dari depan wajannnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Ma," balasnya Maryam.
"Kalau gitu kamu taruh satu persatu masakannya yang sudah mateng dan jadi kamu tata ke dalam piring yang Mama sudah siapkan," titahnya Dewi.
Maryam pun tanpa membalas perkataannya Dewi segera mengisi makanan ke atas setiap wadah piring dan mangkuk yang sudah tersedia sebelumnya.
Maryam menaruh mangkuk terakhir yang berisi sup ayam sesuai dengan keinginan request dari Shaira.
"Lezatnya, baru cium wanginya saja sudah kebayang enaknya, aku enggak sabar makan kalau gini," tuturnya Maryam yang sudah ngiler melihat begitu banyak menu makanan yang sudah tersaji di atas meja makan terutama menu daging ayam.
"Hahaha, Mbak Maryam dicicipi saja makanannya kalau ngiler, daripada disimpan dan ditahan ilernya lebih parah nanti ngeces anaknya," candanya Shaira.
"Tapi saya kan belum hamil, jadi bebas dari ngeces," balasnya Maryam sambil tersenyum dengan mengambil sedikit makanan yang sudah tidak bisa ditahannya untuk dicobanya.
"Semoga Mbak segera hamil,biar Shanaz ada temannya," ucap Shaira.
Dewi pun ikut menimpali percakapan dua perempuan cantik dan muda itu.
"Amin ya rabbal alamin, bukan hanya kakakmu Maryam saja Nak, tapi kamu juga semoga segera hamil,"
Dewi sangat berharap jika anak dan menantunya segera diberikan keturunan sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.
"Kamu duduk yang tenang yah cantik princesnya Bunda," ucapnya Sahnum sembari mengecup keningnya Sahnaz sebelum duduk di kursinya.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Sahnum dan baby Sahnaz yang memainkan dotnya yang berisi susu formula.
"Nenek bisa minta itu?" Pintanya Adisty yang sangat doyang makan ayam geprek buatannya Shaira.
Bu Rina Amelia segera memenuhi keinginannya cucu paling kecilnya itu tanpa ragu. Sedangkan yang lain mengambil makanan yang sesuai dengan keinginan, karena Adisty cukup jauh dari jangkauan ayam goreng.
Mereka makan penuh suka cita dan sesekali saling bercanda. Beberapa menit kemudian ketika mereka sedang makan, tiba-tiba bel berbunyi.
Bibi Siti segera membukakan pintu tanpa diperintah terlebih dahulu. Semua orang kembali melanjutkan acara makannya pagi itu.
Bu Siti berjalan tergopoh-gopoh ke arah dalam ruangan dapur dimana semua orang sedang bersantap siang.
"Siapa bi?" Tanyanya Shaira.
__ADS_1
"Tamunya Non Shaira, katanya dokter Ade Nugraha ingin bertemu dengan Nona," jawabnya Bi Siti.
Adisty mendongakkan kepalanya ke arah Bu Siti mendengar perkataannya yang menyebut nama Ade Nugraha.
Ade Nugraha, ya Allah semoga saja bukan orang itu.
Adisti kembali melanjutkan acara makannya dengan begitu lahap.
Lagian terakhir kami bertemu dua bulan lalu kurang lebihlah, tapi aku yakin mereka bukan orang yang aku pikirkan. Di dunia ini banyak orang yang namanya sama.
"Suruh masuk ke sini saja bi, Nak Ade dia itu temanku bi, dokter spesialis mata yang cukup terkenal di rumah sakit, baik hati dan bertanggung jawab, bijaksana lagi," Shaira menggantung perkataannya itu sambil melanjutkan menyendok makanannya ke dalam mulutnya.
Dewi pun ikut menimpali perkataan dari anaknya," bukannya Ade itu teman SMA kamu yang sudah menikah tiga tahun lalu tapi sampai sekarang belum dikaruniai momongan kan?" Tebaknya Dewi yang teringat beberapa teman SMA-nya Shaira.
Uhuk… uhuk..
Adisty yang mendengar perkataan dari tantenya yang menjelaskan tentang kehidupan pribadi Ade.
Shanum yang kebetulan duduknya berdampingan dengan adik sepupunya itu segera membantunya menepuk-nepuk punggungnya Adisti.
Puk.. pugh..
"Astaughfirullahaladzim Adisti kamu yah, kebiasaan kalau makan pikirannya kemana-mana! Gini nih jadinya kalau makan tapi otak terbang entah kemana," ketusnya Sahnum.
Adisty segera menenggak habis hingga tandas air putih dalam gelas yang disodorkan oleh Aydan Akhtar untuk adik sepupunya itu.
"Mungkin lagi mikirin pacarnya kali Mbak, sehingga seperti itu," cercanya Fariz adiknya Adisty.
Adisty hanya melototkan matanya saking kesalnya mendengar perkataan dari adik kandungnya itu. Adisty dan adiknya selama kuliah menetap di rumahnya Dewi dan Syam sedangkan kedua orang tuanya tinggal di Bandung.
Suara langkah derap sepatu seseorang yang terdengar semakin jelas, ketika memasuki area ruang makan.
"Assalamualaikum, selamat pagi Om Sam, Tante Dewi dan nenek Rina," sapanya seorang pria yang lebih tua sedikit usianya dibandingkan dengan Shaira.
Adisty kembali mendongakkan wajahnya ke arah laki-laki yang sedang berbicara menyapa semua orang tepatnya ke sumber suara. Hingga matanya melotot, membelalak mulutnya membentuk huruf o besar saking terkejutnya melihat siapa yang berdiri di depan matanya.
Ini tidak mungkin!? Adisti bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
Sedangkan Ade Nugraha tersenyum tipis melihat siapa perempuan muda yang satu-satunya berdiri di depan meja makan. Sedangkan yang lain mengarahkan tatapannya ke arah Ade Nugraha.
Adisti Ulfah Salsabiela kita akhirnya bertemu kembali.