
Setelah kepergian Dewi dari rumah itu, Narendra Afiq segera menyusul Dewi. Dia berniat untuk mengatakan yang sejujurnya di hadapan Dewi apa sebenarnya yang terjadi.
Afiq tidak ingin menyimpan rahasia itu seterusnya, takutnya dia akan menjadi terbebani dengan rahasia besar dibalik pengusiran terhadap dirinya.
"Semoga saja Mbak Dewi perginya belum jauh dari sini, kalau pun dia sudah pergi aku harus nyusul ke kampungnya sebelum Abang Syam pulang dari luar daerah,"
Afiq sudah bertekad untuk mengatakan yang sejujurnya di hadapan Dewi,ia pun memutuskan untuk menyusul Dewi ke kampungnya. Untungnya Afiq sudah menyelidiki beberapa hal tentang Dewi dan pernikahannya dengan Syam. Sehingga Afiq memutuskan untuk membantu Dewi pergi dari rumah itu.
Dia tidak ingin nasibnya Dewi seperti nasib mamanya yang harus menderita menjadi istri kedua dari papanya. Yang mendapat perlakuan yang tidak adil dan tidak baik dari papa dan istri pertamanya papanya sendiri.
Afiq mengendarai mobilnya menuju kampung halamannya Dewi. Ia memilih untuk memakai transportasi darat dibandingkan pesawat terbang ke kabupaten tempat kelahirannya Dewi yang kebetulan adalah dekat kampung halaman mamanya itu di kota S.
"Aku tahu tipikalnya Nadia, tidak mungkin dia membiarkan Dewi hidup tenang dan nyaman jika sudah mengetahui siapa Mbak Dewi sebenarnya. Cukup mamaku yang mengalami penindasan dan penyiksaan dari maminya Nadia dan jangan sampai hal itu terjadi kembali pada Mbak Dewi."
Sedangkan di rumah sakit, Mang Udin sama sekali tidak diijinkan bersama dengan istrinya Bi Siti untuk menemaninya di rumah sakit. Nadia mendesak dan memaksa mang Udin untuk pulang saja dengan alasan harus berjaga di rumah saja. Cukup bibi Siti yang di rumah sakit.
"Kenapa yah Nyonya Nadia ngotot menyuruh saya pulang ke rumah? Bukannya dia baru saja mengalami kecelakaan dan musibah terjatuh? Tapi saya hanya berharap semoga saja Nyonya Nadia baik-baik saja dan calon anaknya juga selamat, andai ada nomor hpnya Tuan Muda Syamuel pasti saya akan secepatnya menghubungi Tuan besar dan mengabarkan kepadanya bahwa Nyonya masuk rumah sakit, sayangnya saya tidak punya nomor hpnya Tuan Sam," keluhnya Pak Udin Syamsuddin Noor yang harus pulang karena bujukan dari Istrinya itu.
Mang Udin dan bi Siti menuruti perkataan dan perintah dari Nadia selaku majikan mereka berdua tanpa banyak tanya ataupun protes.
Nadia terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit dan menatap langit-langit kamar perawatannya itu dengan tatapan matanya yang mengisyaratkan bahwa dia sedang banyak pikiran.
__ADS_1
Pintu kamarnya berderit, masuklah Bu Siti dengan menenteng beberapa barang bawaannya yang dipesan sebelumnya oleh Nadia.
Nadia otomatis mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan bi Siti," bibi apa mang Udin sudah balik ke rumah?" Tanyanya Nadia sambil memperhatikan sekitarnya yang tidak menemukan keberadaan orang lain termasuk suami dari asisten rumah tangganya itu.
"Iya mang Udin sudah pulang Nyonya, ini semua keperluan Nyonya yang baru saya beli," imbuhnya Bu Siti sembari menyimpan sekantong plastik kresek ke atas meja nakas.
Nadia yang kondisinya masih sangat lemah setelah melewati proses prosedur kesehatan seperti operasi belum sanggup dan mampu untuk bergerak leluasa.
"Bi Siti apa mang Udin tahu jika saya dioperasi tadi?"
Bi Siti menautkan kedua alisnya setelah mendengar pertanyaan dari Nadia Yulianti.
"Tidak sempat saya katakan padanya Nyonya karena tadi segera saya suruh balik pulang ke rumah sesuai dengan apa yang Nyonya katakan," jawabnya Bu Siti yang masih keheranan dengan arti dari pertanyaan itu.
"Saya tidak menelpon atau apapun itu sesuai dengan perintahnya Nyonya sendiri yang melarang saya menelpon nomor ponsel mereka, jadi maaf Nyonya saya belum menelpon untuk mengabarkan kondisinya Nyonya," ucapnya sesal Bu Siti.
"Ingat jangan sekali-kali kamu menghubungi nomor mereka dan mengatakan kepada siapapun apa yang terjadi padaku terutama pada calon bayiku ini, mulai detik ini aku meminta padamu akan merahasiakan semua yang kamu ketahui hari ini tentang kandunganku, jika ada yang bertanya siapapun itu katakan kepada mereka jika bayiku selamat, kamu tidak akan rugi menbantuku untuk menutupi semua kenyataan ini, aku akan membayar gaji kamu dua kali lipat dari gajimu sebelumnya asalkan kamu bisa tutup mulut untuk selamanya dan mulai detik ini bekerjasama lah denganku," pintanya Nadia dengan serius.
"Tapi, Nyonya saya takut gimana kalau ada yang mengetahui jika saya telah berbohong dan membantu Nyonya, kalau mereka melaporkan saya ke pihak kepolisian gimana jadinya," ucapnya Bi Siti yang ketakutan dengan konsekuensi kedepannya itu.
"Tidak mungkin mereka mengetahui apa yang terjadi jika aku atau kamu tidak buka mulut, aku tidak akan biarkan itu terjadi jadi kamu dengarkan semua perkataanku ini, mulai detik ini apapun yang aku katakan dan perintahkan kamu cukup menuruti semua keinginanku dan perintahku tanpa banyak tanya atau komentar dan bonus dan uang sebagai gantinya yang terpenting kamu mengikuti semua yang aku katakan dan sampaikan,"
__ADS_1
Bi Siti terdiam mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Nadia. Ia tidak mungkin punya alasan lain untuk menolak lagi, daripada dipecat dan akibatnya kemungkinan besarnya akan berdampak pada nasib keluarga terutama keempat anaknya, sebaiknya ia manut dan menuruti permintaan dari Nadia.
"Baiklah nyonya saya akan diam dan menyimpan rapat-rapat bahkan mengubur dalam-dalam semua yang saya ketahui hari ini dan saya berjanji akan membawa rahasia ini sampai saya mati," ucap janjinya Bibi Siti Aminah dengan penuh keyakinan.
Sedangkan di tempat lain, kepergian kedua sahabat terbaiknya itu dari dalam rumahnya karena sudah larut malam. Bel rumahnya kembali berbunyi, Dewi yang sedang melaksanakan shalat isya segera menyelesaikan shalatnya itu lalu berjalan ke arah pintu depan rumahnya.
"Siapa yah, apa itu Mbak Dian dan Haya yang kembali lagi?"
Pintu rumah berdaun dua itu terbuka lebar, Dewi terperangah dan terkejut melihat seorang pria yang sangat dikenalnya berdiri di ambang pintu dengan senyuman termanisnya sehingga memperlihatkan deretan gigi dan lesung pipinya itu yang menjadi ciri khas Pria yang baru berusia 23 tahun.
"Narendra Afiq Lukman," beonya Dewi.
Afiq hanya terkekeh melihat keterkejutannya Dewi," yes benar sekali tebakan Anda Mbak Dewi Kinanti Mirasih," balasnya Afiq.
Dewi mulai ketakutan jika hubungannya sudah terendus dan ketahuan oleh Nadia Yualianti dimana Afiq sendiri adalah adik kandungnya Nadia sepengetahuan dari Dewi sendiri. Raut wajahnya Dewi spontan berubah yaitu, cemas, panik, takut dan khawatir.
"Ya Allah kenapa Afiq bisa mengetahui alamat rumahku, apa jangan-jangan dia sudah mengetahui apa yang terjadi dengan saya dan Abang Syam kalau kami suami istri,"
"Assalamualaikum Mbak Dewi," salam sapanya Afiq.
"Ke-na-pa ka-mu datang, dari mana kamu bisa tahu tempat tinggalku?" Tanyanya Dewi dengan tergagap dan gugup dalam berbicara sehingga suaranya nampak jelas ketakutannya itu.
__ADS_1
Mampir baca novel aku yang berjudul, Belum Berakhir dan Pamanmu adalah jodohku.