
Pak Hamid Bambang selaku kakak sulung dari bapaknya Dewi Pak Hasan Ishaaq seharusnya dia yang bertindak sebagai wali nikah Dewi dengan Syam,tetapi kondisi kesehatannya sedang terganggu.
"Saya sangat meminta maaf kepada semuanya terutama kepada pak Anwar selaku penghulu, mohon dan harap dimaklumi Pak saya kurang sehat, jadi saya limpahkan kepada bapak saja untuk menggantikan saya sebagai wali nikahnya yang menikahkan mereka," ujarnya Pak Hamid dengan segala kekurangannya.
"Tidak apa-apa kok Pak, itu sudah biasa terjadi kami semua pasti memakluminya," ujarnya Pak Anwari.
"Kalau gitu tolong dipercepat Pak acara ijab kabul pernikahanku saya harus balik ke Jakarta secepatnya," ucapnya Syam.
Semua orang tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Samuel itu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Samuel Abidzar Al-Ghifari dengan Dewi Hasan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni 24 karat seberat 12 gram dibayar tunai," ucap Pak Anwar.
"Saya terima nikah dan kawinnya…," ucapannya Syam terpotong karena hampir saja mengucapkan namanya Nadia.
Ucapannya Syamuel terpotong, karena dia teringat dengan nama calon istrinya yang berada di Jakarta yang bernama Nadia Yulianti Syakieb. Semua orang saling berbisik-bisik dan bertatapan satu dengan yang lainnya.
"Kenapa calon mempelai pengantin prianya berhenti, apa jangan-jangan dia lupa nama pengantin ceweknya," tebaknya seseorang dari sudut paling belakang.
"Iya, apa karena pria itu dipaksa bertanggung jawab menikahi Dewi sehingga ia kelimpungan dan kebingungan disaat proses akadnya," terkanya lagi yang lain.
"Hush jangan terlau ribut, enggak enak kalau Bu Husna dan yang lainnya dengar desas desus kalian, lagian kalian bertiga ini berani banget bergosip dibelakang mereka?" Ketusnya Ridah adik sepupunya ibu Halimah istrinya Pak Hamid.
Irwan yang duduk di belakangnya Syam segera maju dan menyenggol lengannya Sam yang tiba-tiba terdiam. Sedang semua orang yang turut hadir di dalam ruangan tersebut saling melempar pandangan keheranan melihat apa yang dilakukan oleh calon pengantin pria.
__ADS_1
"Syam, Hey apa yang terjadi padamu bro?" Bisiknya Irwansyah yang tidak enak dengan yang lainnya karena Syam tiba-tiba menghentikan perkataannya dalam ijab kabul.
Dewi yang duduk di samping kirinya Syam melirik sekilas ke arah calon suaminya itu," Apa abang baik-baik saja?" Dewi mengecilkan suaranya agar yang lain tidak mendengar perkataannya.
Apa yang dilakukan oleh Ilman dan Dewi mampu menyadarkan Syam yang mengkhayalkan tentang hubungannya dengan Nadia yang esok hari akan melangsungkan pernikahannya juga. Syam selalu khawatir dan takut jika Nadia Yualianti Syakieb mengetahui jika dia sudah menikah dengan perempuan lain yang mengkhianati kepercayaannya.
Syam menolehkan kepalanya ke arah Irwansyah, dia berdehem untuk meredakan kegugupannya dan ia juga salah tingkah karena semua orang menatapnya tajam.
Syam menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras, "Maaf,Pak Penghulu apa ijab kabul nya bisa kita lanjutkan kembali?"
"Baik kalau gitu kita lanjut, "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Samuel Abidzar Al-Ghifari dengan Dewi Kinanti Mirasih Hasan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni 24 karat seberat 12 gram dibayar tunai," ucap Pak Anwar dengan suara yang cukup besar keras dan nyaring agar Syam tidak banyak pikiran dan fokus ke acara akadnya saat itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Kinanti Mirasih dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucapnya Syam dengan sekali tarikan nafas dan penuh keyakinan dan ketegasan di dalamnya.
"Bagaimana para saksi apakah sah?" Tanyanya Pak Anwar dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
Seluruh anggota keluarganya Dewi yang hadir akhirnya bisa bernafas lega, karena ijab kabulnya sudah selesai diucapkan, walaupun awalnya tersendat dan terhenti beberapa saat karena pengantin laki-laki terdiam.
"Alhamdulillah," jawab Pak penghulu dan semuanya secara bersamaan.
"Alhamdulillah keponakanku sudah menikah,walau tidak sesuai dengan apa yang kami rencanakan sebelumnya, tapi saya bersyukur karena Dewi sudah menikah dengan seorang pria yang menolongnya," gumaman pak Hamid.
Ibu Husnah tersenyum sumringah karena, keponakan yang paling disayanginya itu sudah sah dan resmi menikah dengan Samuel.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas segalanya ya Allah… Engkau kirimkan seorang pria yang mampu menutupi aib dan masalah yang kami hadapi bener hari belakangan ini, saya hanya berharap mereka bahagia hingga kakek nenek nantinya," gumam Bu Husna.
Pak Anwar membaca beberapa doa pernikahan, memberikan wejangan, nasehat dan masukan kepada kedua pasangan pengantin baru itu. Dewi meraih tangan kanannya Syam untuk segera ia cium punggung tangan pria yang sudah mengikrarkan janji dan sumpah dalam ikatan tali suci pernikahan.
Syam sekilas mengecup keningnya Dewi," perempuan ini sangat cantik setelah dimake up, seolah dia menyembunyikan kecantikan dan pesonanya dibalik hijabnya yang kesehariannya tidak memakai makeup," pujinya Syam yang secara tidak langsung mengagumi kecantikan kekasih halalnya.
Beberapa orang berjalan ke arah Dewi dan Syam, mereka bergantian mengucapkan ucapan selamat dan doa atas pernikahan keduanya.
Bu Halimah memeluk tubuhnya Dewi walau hanya bibi sambungnya saja, tapi kasih sayang yang diberikan oleh Bu Halimah sungguh tulus untuk Dewi dan adiknya Dinar. Bu Halimah menitikkan air matanya itu.
"Dewi bibi sangat bahagia Nak kamu sudah menikah, Bibi berharap kamu selalu jadi istri yang sholehah, hadapi pernikahan ini dengan hati yang ikhlas dan sabar insya Allah surga menantimu Nak," ucap Bu Halima yang memeluk tubuhnya Dewi.
Bu Husnah menangis tersedu-sedu saking bahagianya melihat keponakannya berhasil menikah walau pun banyak drama dan tragedi yang tercipta mewarnai rencana pernikahan mereka.
"Nak ingatlah selalu pesannya Bibi, jadilah istri yang selalu dirindukan oleh suamimu, pesannya Bibi masaklah makanan yang enak agar suamimu selalu mengingatmu, karena dari lidah turun ke perut dan dari perut mengalir ke hati, jika kamu pandai melayani suamimu, insya Allah lambat laun akan mencintaimu setulus hatinya,tapi kamu sudah tahu bagaimana hubungan kalian bibi harap jangan sekali-kali egois dan mementingkan kepentinganmu sendiri dan selalu lah mengalah untuk kebaikan rumah tangga kalian," nasehatnya Bu Husnah.
Bu Husnah menangis di dalam pelukan keponakannya itu. Dewi pun mau tidak mau ikut terharu dan menangis. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya mendengar semua nasehatnya dari keluarganya. Saking tidak sanggupnya berkata-kata, karena ia juga terlalu bahagia dengan di hari pentingnya itu. Sampai-sampai ia tidak mampu berucap hanya senyuman dan air mata sebagai tanda dari apa yang dirasakannya.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh bibi-bibimu Nak, paman hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kalian berdua, semoga sakinah mawadah warahmah hingga maut memisahkan cinta kalian berdua," nasehat Pak Hamid.
"Amin ya rabbal alamin," ucapnya dokter Irwansyah.
Samuel hanya menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan oleh siapa pun yang melihatnya.
__ADS_1
Irwansyah memeluk tubuhnya Samuel sambil sesekali menepuk punggung lebarnya Syam dengan perlahan,"Selamat bro akhirnya kamu jadi seorang suami, Ingat kamu bukan pria single lagi, tapi sudah punya tanggung jawab yang cukup besar, tanggung jawab seorang suami itu bukan hanya di dunia, tapi hingga akhirat di kemudian hari," Irwan berbicara seperti itu karena mengingat Syam tidak mencintai Dewi sedikitpun.
Syam hanya menyunggingkan senyumnya itu tanpa berniat untuk berbicara. Pikirannya masih tertuju pada Nadia yang berada di Jakarta.