
Arion sedih dan kecewa pada dirinya sendiri, ia semakin bersalah saja melihat keterpurukan keadaan dua pasangan suami istri itu.
"Maaf ini semua gara-gara kesalahanku pak, Bu,"
Arion berlutut di depan kakinya Syam dan Dewi dengan menundukkan kepalanya saking merasa tidak enaknya karena sudah melukai hati, perasaan dan kepercayaan orang tua yang begitu mempercayai putri sulungnya.
Semakin terdengarlah suara isak tangisnya Dewi dalam pelukannya bibi Siti. Dia semakin hancur lebur hatinya karena putri yang selalu dibanggakannya itu ternyata mengkhianati kepercayaannya.
"Bi Siti apa mungkin saya telah salah mendidik Shanum putriku hingga seperti ini atau karena saya terlalu memanjakan dirinya sehingga Shanum malah tidak terkontrol dan tidak terkendali dalam bergaul sehingga harus hamil di luar nikah dan hari ini harus mengalami keguguran," ratapnya Dewi seraya meremas ujung hijab yang dipakainya.
"Ya Allah… maafkan saya nyonya ini semua salahku yang sudah memberikan jalan kepada Gina Anelka Mulya adik sepupuku untuk memberikan anaknya untuk diadopsi oleh nyonya Nadia Yulianti sehingga terjadilah masalah besar seperti ini," bi Siti mengelus punggungnya Dewi yang tertutupi hijab berwarna abu-abu itu.
Dewi tidak habis pikir jika firasat jelek yang dirasakannya sejak subuh tadi, ternyata hal semacam ini yang akan menimpa keluarganya.
"Tetapi nyonya maafkanlah saya akui tidak akan berani mengatakan hal ini kepada nyonya Dewi untuk saat ini karena saya tidak sanggup dan tidak berdaya melihat kesedihan dan kehancuran kalian berdua apalagi disaat seperti ini kalian sungguh sangat berduka cita dengan kejadian yang menimpa Shanum," Bu Siti ketakutan dan tidak punya keberanian untuk mengutarakan apa sebenarnya yang terjadi.
"Bibi jadi putri kandungku ada dimana? Yang ada kan hanyalah anak angkat sedangkan Shaira juga hanya anak angkatnya mbak Nadia dulu, bibi anakku dimana kembalikan padaku," Dewi mengangkat kedua tangannya hingga telapak tangannya menghadap ke atas dengan air matanya terus berlinang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Nyonya Dewi saya mohon bersabarlah, saya yakin putrinya nyonya akan segera ditemukan, yakinlah kepada Allah SWT jika dia selalu dalam lindungan Allah SWT yang Maha Penyayang dan Pengasih," ucapnya bi Siti Aminah Laila Sari yang terus berusaha membujuk dan memberikan nasehat sekaligus masukan kepada majikannya itu.
"Dewi ayo ikut Hanif ke ruang perawatannya Shanum, tiga perlu repot-repot mengurusi pemuda yang tidak tahu diri itu! Aku bahkan sama sekali tidak ingin mengenal pria seperti kamu?" Sarkasnya Syamuel.
Syam mengulurkan tangannya ke hadapan istrinya yang masih menangis. Dewi pun tanpa ragu segera menyambut uluran tangan suaminya itu. Dewi segera mengikuti langkah suaminya kemanapun perginya.
Syam segera menghentikan sesaat langkah kakinya itu kemudian berjalan kembali ke arahnya Arion dengan menundukkan sedikit punggungnya itu," tolong jangan pernah dekati putriku lagi! Jika kamu berani sejengkal tanah pun mendekati anakku! Aku tidak akan biarkan kamu bernafas lagi!" Ancamnya Syam yang mengultimatum Arion yang masih dalam posisi berlutut.
Arion dan beberapa anak buahnya cukup terkejut dan kagum dengan sikap dan ketegasan dari Syam yang sama sekali berbeda jauh dengan Hanif Yahya yang lebih mengutamakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
"Sepertinya lebih tertantang untuk menundukkan sifat dan karakternya Pak Syam dibandingkan papa aslinya Shanum," Arion menatap tajam ke arah punggungnya Samuel.
"Abang putri kita dimana?" Tanyanya Dewi sambil mengalungkan tangannya di suaminya.
"Entahlah sayang Abang juga tidak mengetahui dimana anak kita, entah bagaimana caranya menemukan putri kita, tapi Abang akan berusaha untuk mencari keberadaan putri kita itu sesulit apapun, Abang akan berusaha sekuat tenaga,' ucap Syam yang segera membuka kenop pintu kamar perawatan putri angkatnya.
"Abang tapi kenapa sejak kecil saya sudah berasa Shanum memang bukan putri kita, karena karakter, wajahnya dan juga sifatnya sungguh berbeda dengan Abang dan saya sendiri tapi terkadang saya bandingkan dengan Shaira bang, coba perhatikan Shaira wajahnya mirip Abang dan karakternya mirip saya apa jangan-jangan Shaira adalah putri kandung kita bang," tebaknya Dewi.
__ADS_1
Syam yang mendengar perkataan dari istrinya itu segera menghentikan kegiatannya yang berencana untuk memutar kenop pintu kamar perawatan putri angkatnya.
"Abang juga seperti itu terkadang Dewi istriku, karena pernah Abang tidak sengaja mendengar beberapa tetangga dan teman sepermainannya yang selalu membandingkan keduanya, tapi aku marah-marah dengan orang yang mengatakan dengan membandingkan kedua putriku, tapi sejak hari itu terkadang muncul pikiran jeleknya Abang, hingga seiring waktu berjalan aku melupakan hal itu,"
"Apa sebaiknya kita juga melakukan tes DNA seperti yang dilakukan mas Hanif bang," tuturnya Dewi.
"Maksudnya?" Tanyanya Syamuel yang menautkan kedua alisnya itu.
"Saya berencana untuk melakukan tes DNA kepada Shaira Bang, karena entah kenapa saya merasakan kalau Shaira tertukar waktu kecil masih bayi, bagaimana menurut Abang dengan rencana kita," tanyanya Dewi yang berharap dengan apa yang dilakukannya dikabulkan oleh Syam.
Syam kembali terdiam sesaat,ia memikirkan dengan baik bagaimana cara melakukannya itu.
"Tapi sayangnya, anak kita Shaira Innira kan ada di London Inggris UK sayang," tukasnya Syam.
"Masalah urusan itu serahkan kepada saya bang, saya akan menangani segalanya akan membuat Aira balik ke tanah air Indonesia sebelum idul adha," ucapnya Dewi.
Syam menoel hidung mancung nan bangirnya Dewi, "Kalau gitu saya akan serahkan segalanya kepada kamu sayang, ingat jangan sampai Shaira berasa tidak enak hati dengan apa yang akan kita lakukan," tuturnya Syam dengan berusaha tersenyum walau hatinya teriris sembilu hingga menikam seluruh hatinya hingga jantungnya.
__ADS_1
"Kalau gitu kita masuk ke dalam lihat Shanum apa sudah siuman atau belum," imbuhnya Dewi yang berusaha tersenyum walau hatinya sangat tidak dalam keadaan baik-baik saja.