Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 255


__ADS_3

Aidan segera meninggalkan kamar istri pertamanya itu dengan senyuman kecewanya. Dia tidak habis pikir kenapa, sulit sekali untuk bertemu dengan buah hatinya sendiri.


Aidan bersandar di tembok dengan menatap langit-langit plafon gypsum rumahnya itu seraya menghela nafasnya yang cukup panjang.


Ya Allah apakah ini karma dan hukuman yang aku dapatkan karena telah menelantarkan istriku ketika hamil kedua putraku?


Aku terlalu tenggelam dalam kesibukan pekerjaan dan juga bersama dengan Rachel. Entah aku merasa Maryam sengaja menjaga jarak antara aku dengan putra kembarku.


Tapi, aku sadari semua ini terjadi karena aku sendiri yang salah telah berselingkuh di belakangnya.


Aku telah terjerumus dalam cinta dan pesonanya Rachel. Aku hanya berharap padaMu ya Allah. Jangan biarkan aku terpisah dari kedua putraku Archelino dan Archelio.


Aku tidak sanggup jika harus dipisahkan oleh darah dagingku dan mulai detik ini, aku akan bersikap tegas kepada Rachel jika dia melarangku untuk menemui anakku.


Aidan berjalan lunglai ke dalam kamarnya bersama Rachel,ia awalnya ingin beristirahat, tapi tidak jadi melihat wajahnya Rachel yang cemberut dan cemburu membuatnya ingin mencari angin segar di luar sana.


Pintu itu berdecit hingga terdengarlah suara pintu terbuka ketika Aidan masuk ke dalam kamarnya. Aidan melihat istrinya sedang beristirahat siang hari itu.


Masih jam segini sudah molor, entah kenapa aku merasa Rachel tidak peduli dengan apa yang aku rasakan. Seolah dia hanya mementingkan kepentingannya sendiri.


Aydan bangkit dari posisi duduknya dan segera mematikan layar leptopnya yang sedari tadi hanya ditatapnya saja tanpa mengerjakan apapun pekerjaan kantornya.


Rachel segera membuka matanya yang sedari tadi hanya berpura-pura saja tertidur.


Aku harus segera menelpon Amier untuk menanyakan perihal pekerjaannya itu. Apakah dia berhasil mendapatkan informasi tentang anak perempuan luknut itu ataukah tidak.


Rachel Amanda segera menyibak selimut yang dipakaikan oleh Aydan sebelum meninggalkan kamarnya.


Rachel segera menyambar gawainya yang tergeletak di atas tempat tidur dan hendak menelpon nomor ponselnya Amier sahabatnya orang yang selalu diminta informasi selama ini apapun itu.


Semoga saja apa yang aku inginkan tidak menjadi kenyataan. Moga anak haram pemb*wa sial itu mampus atau tidak ditemukan.


Cukup Maryam Nurhaliza perempuan kampungan itu yang menjadi saingan dan penghalang aku untuk menikmati kekayannya Aydan dan kedua orang tuanya ini.


Rachel berjalan mondar mandir menunggu telponnya tersambung. Dia gelisah menunggu kabar dari pria yang dimintai untuk mengikuti kemanapun perginya Shaira dengan suaminya itu.


Aidan berjalan menuruni tangga dengan langkah yang cukup panjang. Ia ingin ke taman belakang rumahnya sambil menikmati indahnya bunga-bunga yang bermekaran hari itu.

__ADS_1


Aidan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan rumahnya dan tidak menemukan siapapun lagi di dalam sana, padahal sekitar sejam lalu rumahnya Dewi dan Syam cukup ramai dikunjungi oleh saudara dan sepupunya itu.


"Kemana semua perginya orang-orang rumah,kok sepoi banget, tidak seperti biasanya seperti ini," Aidan tidak melihat siapapun yang ada di dalam rumahnya.


"Semua orang sudah pergi keluar Tuan Muda," ucapnya Bi Siti yang tiba-tiba muncul dari arah belakang punggungnya Aidan.


Aidan menghentikan langkahnya ketika mendengar seruan dari bi Siti perempuan yang sudah bekerja bersama dengan kedua orang tuanya sebelum mereka dilahirkan ke dunia ini.


"Pergi! Mama Dewi dan papa Syam juga pergikah bi Siti?" Tanyanya lagi Aydan yang awalnya terkejut melihat kedatangan bi Siti yang tiba-tiba itu.


"Kalau nyonya Dewi dan Tuan Syam pergi bersama Tuan Syamil dan bu Dina kataknya mau ngecek tempat lokasi akad nikahnya Ariela Ziudith dengan Bu Dina nantinya untuk hari minggunya," jawabnya bi Siti lagi.


Saya tidak boleh mengatakan kepada den Aidan mengenai masalah ditemukannya anaknya bersama dengan almarhumah non Cindy Clara.


Sesuai peringatan dari Nyonya Dewi sendiri. Katanya sih mereka tidak ingin ketahuan dengan Non Rachel dan tuan muda Aidan demi keamanan bersama.


"Ohh gitu yah bi, kalau gitu aku ke belakang yah kalau istriku Rachel yang nyari bilang saja aku keluar," pintanya Aidan.


"Siap Tuan Muda," balasnya wanita paruh baya yang masih kuat bekerja diusianya yang sudah kepala lima itu.


Kasihan den Aidan, coba dia tidak menikahi Non Rachel pasti hidupnya bakal tidak seperti ini.


Saya cukup prihatin dengan semua ini, tapi mau diapa ini sudah menjadi kehendak dan pilihan jalan hidupnya tuan muda Aydan.


Saya hanya berharap semoga saja mereka menemukan jalan keluar yang terbaik, kalau bisa mereka bercerai saja karena entah kenapa aku melihat non Rachel tidak seperti Nyonya Muda Maryam.


Bu Siti kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur. Hari ini Dewi memintanya membuat beberapa jenis kue kering.


Sedangkan di tempat lain, Shaira dengan suaminya Adelio bersantap siang bersama dengan pak Doni detektif sewaannya itu.


"Jadi apa Pak Doni sudah menemukan informasi dimana keberadaan keponakanku dan juga siapa yang telah menculiknya?" Tanya Shaira Innira yang tidak sabar sudah ingin mengetahui hasil temuannya pak Doni.


Pak Doni menyimpan sendok dan garpu nya itu sebelum menjawab pertanyaan dari kliennya.


"Alhamdulillah sudah Bu Shaira dan penculiknya pasti Anda sudah mengenalinya dengan baik," ujarnya Pak Doni dengan santainya seraya segera mengambil beberapa dokumen penting seperti beberapa lembar foto.


Foto hasil temuannya itu segera dia taruh ke atas meja satu persatu hingga foto terakhir memperlihatkan seorang perempuan yang kira-kira seumuran dengan mamanya Dewi Kinantii mengendong seorang bayi.

__ADS_1


Shaira segera mengambil foto yang cukup menarik perhatiannya itu,dia melihat dengan seksama foto itu.


"Ini kan Tante Nadia Yulianti mantan istrinya papa bang," tuturnya Shaira yang sangat mengenal jelas wajahnya Nadia.


"Iya benar sekali, ini ketika Bu Nadia membawa Nafesa Samara ke dalam mobilnya, iya kan?" Tanya Adelio yang juga masih mengenali wajah perempuan yang dia jobloskan ke dalam penjara.


"Tepat sekali,dia adalah wanita yang menculik bayinya Non Cindy Clara ketika baru beberapa jam dilahirkan ke dunia ini," sahutnya Pak Doni.


"Astaughfirullahaladzim, yah Allah benar-benar Tante Nadia sudah gila yah.. aku sungguh heran kenapa papa dulu sempat menikahi perempuan gila dan psikopat seperti dia!" Geramnya Shaira.


"Dendam dan kebencian terhadap seseorang bisa menimbulkan berbagai cara ditempuhnya untuk melampiaskan dendamnya, contohnya Bu Nadia ini," jelas pak Doni.


"Jadi dimana keponakan cantikku Pak, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya," pintanya Shaira.


Doni tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Shaira.


"Keponakan Nyonya Muda tidak jauh kok,malah sejak awal sudah bersama kalian sampai detik ini," ungkapnya Pak Doni.


Shaira saling bertatapan dengan suaminya Adelio sembari keduanya mengangkat alisnya karena tidak paham dengan maksud dari perkataannya pak Doni.


"Pasti Anda berdua mengenali alamat, tempat dan rumah ini," imbuh pak Doni seraya memperlihatkan sebuah foto yang membuat Shaira dan Adelio Arsene melototkan matanya dan menganga lebar.


"I-ni kan rumah kami, maksudnya apa ini Pak Doni tolong jelaskan pada kami yang sebenarnya, tidak perlu bertele-tele aku tidak suka," kesalnya Shaira yang tidak sabaran ingin mengetahui keberadaan dari putri kecilnya Aidan kakaknya.


"Dia adalah anak angkatnya Shanum Inshira dengan Arion Sneider Oesman yang mereka temukan tengah malam ketika baru balik dari menghadiri pesta pernikahan kolega bisnisnya pak Arion." Jelasnya pak Doni.


Shaira dan Adelio yang mendengar perkataan dari Pak Doni menitikkan air mata bahagianya dan saking bahagianya mereka berdua menangis terharu.


"Syukur alhamdulilah berarti Nafesa adalah Shanaz putri angkatnya Sahnun bang," ucapnya Shaira dengan bibirnya bergetar hebat saking bahagianya dengan fakta baru terungkap itu.


Berselang beberapa menit kemudian…


Maryam bangun dari tidur siangnya dan mencari keberadaan bi Ijah. Dia ingin meminta bantuan kepada Bu Ijah untuk menjaga kedua buah hatinya itu.


Maryam menuruni tangga bersamaan dengan kedatangan Shaira dan Adelio yang baru saja menemui detektif swasta yang disewanya.


Makasih banyak atas dukungannya kakak readers all.

__ADS_1


__ADS_2