
Shaira menolehkan kepalanya ke arah belakang dimana menatap perempuan yang berada di sampingnya pria yang ditabraknya.
"Kenapa perasaanku mengatakan aku pernah bertemu dengan perempuan itu, tapi entah dimana,"
"Ternyata kamu adalah perempuan yang setiap pagi berbicara dengan bunga mataharinya, semoga hari ini bukan pertemuan pertama sekaligus yang terakhir, aku berharap kita masih punya kesempatan untuk dipertemukan kembali,"
Adelio Arsene adalah pria yang menjadi single daddy diusianya yang masih muda yaitu 27 tahun kala itu dan memiliki seorang putri yang sekarang berusia lima tahun.
"Hemph sepertinya, Abang Adelio tertarik dengan dokter magang itu, apa aku perlu mencari tahu siapa perempuan itu, karena aku yakin jika perempuan itu adalah temannya Brianna ponakanku,"
Beberapa orang itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju salah satu kamar VIP perawatan di di rumah sakit tersebut.
"Andien siapa yang berjaga di kamar inap putriku?" Tanyanya Adelio kakak sulungnya itu tanpa mengalihkan pandangannya ke samping.
"Ada Mami dan Celine juga bang yang jaga Bria," jawabnya Andien.
"Ingat setelah Brianna sembuh total dari sakitnya kamu dan Mami pulang ke Indonesia, iklim dan suasana disana lebih cocok untuk perkembangan putriku," imbuhnya Adelio lagi.
Saking bahagianya mendengar perkataan dari kakak sepupunya itu, jika mereka akan kembali ke Jakarta hingga ia menghentikan langkahnya.
"Abang seriusan kita akan balik lagi ke Jakarta setelah lima tahun di London?" Tanyanya lagi Andien penuh semangat.
Adelio mengalihkan pandangannya ke arah adik sepupunya itu yang sudah seperti adik kandungnya. Karena Adelio tiga bersaudara semuanya laki-laki tidak ada satupun saudari perempuannya.
"Apakah Abang terlihat sedang bercanda? Atau kah kamu memang ingin selamanya tinggal dan menetap di UK?"
Andien segera mengangkat tangannya sambil memutar-mutarnya di depan wajahnya.
"Saya pengen balik lah Bang, sudah lima tahun lebih loh hidup di negeri orang, lagian kuliahku juga sudah beres saatnya memulai berkarir di tanah air tercinta," tukasnya Andien.
Adelio hanya tersenyum smirk membalas perkataannya Andien Salmeera Atmadja adik sepupunya yang yatim piatu sejak berusia sepuluh tahun karena kedua orang tuanya dan adiknya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya Adelio.
"Akhirnya aku akan bertemu kembali dengan Aidan Akhtar, lima tahun lebih kami tidak bertemu, gimana kabarnya sekarang,apa masih mengingat aku," Andien menatap langit-langit palpon koridor rumah sakit.
Keesokan harinya…
__ADS_1
Shaira seperti kebiasaannya setiap hari, ia akan menyiram tanaman bunganya dan mengajak bunganya berbincang-bincang. Itu salah satu cara Shaira Innira Samuel Abidzar untuk mengusir penat, jenuh, lelah seharian beraktivitas di luar rumah selama tinggal di London.
Maryam Nurhaliza sahabatnya sudah tidak merasa aneh dengan kondisi dan kebiasaannya Shaira. Maryam merasa itu bukan kebiasaan yang aneh karena dia juga lebih sering berbicara dengan boneka bantalnya.
"Mar, Aira masih di depan?" Tanyanya Vela Asma Broto teman sekamarnya Maryam dan Shaira yang baru balik dari kota sebelah yaitu Manchester dalam rangka magang.
Vela duduk di hadapan Maryam sembari mengoles roti dengan selei kacang kesukaannya.
Maryam terlebih dahulu menatap ke arah jam tangannya sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya, "Iya ini kan baru jam tujuh jadi biasalah bertemu dengan kekasih pujaan hatinya terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit," balasnya Maryam yang bergurau.
"Haha, aneh memang teman kita itu tapi ngomong-ngomong gimana dengan magang kalian apa kh lancar saja?" Tanyanya Vela yang terkekeh mendengar candaannya Maryam.
Vela Asma Broto adalah sahabatnya Shaira sejak mereka masih di Jakarta hingga dipertemukan kembali di asranan tersebut. Walaupun mereka berbeda jurusan, karena Vela mengambil jurusan menajemen ekonomi sedangkan Syaira dokter spesialis anak.
"Hemmph! Sepertinya ada yang gibah pagi-pagi nihe, pantesan saya sedari tadi batuk-batuk mulu ternyata dua wanita cantik yang gosipin saya dengan bunga-bungaku," balasnya canda pula Shaira yang membersihkan seluruh tangannya di westafel terlebih dahulu sebelum ke meja makan.
"Hahaha kamu sepertinya terlalu pede Mbak, siapa juga yang gosipin kamu emangnya kami ini kurang kerjaan apa," sanggahannya Vela sambil terkikik melihat Shaira.
"Ah sudah kalian yah kebiasaan kalau bertemu pasti seperti ini, ngomong-ngomong tidak sampai setahun kita disini loh, apa rencana kalian berdua?" Tanyanya Maryam.
"Kalau saya pasti cari rumah sakit yang mau nampung saya saja, tapi aku usahakan yang dekat rumah saja," ujarnya Aira.
"Kamu itu tidak perlu repot-repot cari rumah sakit,malah rumah sakitnya yang satu persatu datang menawarkan kepadamu untuk bekerja dan rumah sakitnya, beda dengan kami berdua yang meski berjuang sedikit lebih keras," pungkas Vela yang sesekali menikmati roti bakarnya.
"Kalau aku sih katanya Papa sama Mama disuruh buka praktek di Indonesia tempat kelahirannya Papa," jawabnya Maryam gadis keturunan Indonesia Malaysia itu.
Perbincangan mereka berlanjut hingga makanan santap pagi mereka habis tak bersisa. Ketiganya pun bersiap untuk berangkat ke pekerjaan dan rutinitas hari-hari mereka selama di negri Ratu Elizabeth.
"Aku heran banget dengan sebagian orang," keluhnya Maryam.
Vela dan Shaira menatap sahabatnya itu dengan raut wajahnya yang keheranan.
"Ada apae?"
"Kenapa emangnya?"
__ADS_1
Tanggapan dari kedua sahabatnya mendengarkan cerita dari Maryam Nurhaliza yang membuat keduanya menautkan kedua alisnya itu.
"Aku ada ada pasien hari ini, katanya pria itu mau operasi vasektomi," ucapnya Maryam yang kembali berbicara setengah-setengah.
"Terus kenapa emang kalau mau operasi itu emangnya masalahnya apa?" Tanyanya Shaira yang tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Maryam.
"Yang jadi masalah pria itu masih muda usianya baru menginjak 30 tahun, belum menikah tapi katanya karena demi perempuan yang sangat dicintainya setulus hatinya tidak bisa hamil lagi karena mengalami keguguran dan kondisi rahimnya tidak memungkinkan untuk hamil kedua sehingga ia memutuskan untuk melakukan vasektomi," ungkapnya Maryam sambil menghela nafasnya.
"Masalahnya dimana? malahan menurut aku yah pria ini jentel banget, perkasa dan setia dengan kekasihnya. Berarti sang pria sangat peduli dan sayang sama pasangannya melakukan apapun demi kebahagiaan sang perempuan yang dicintainya," tuturnya Vela.
"Kalau desas desus yang aku dengar sang cowok ini anak tunggal dari keluarganya yang cukup terpandang di negaranya, kedua mereka belum menikah sama sekali, terus sang perempuan ini katanya sangat membenci sang pria," jelas Maryam panjang lebar.
"Hemo jangan mudah percaya dengan gosip yang beredar, takutnya jatuhnya gibah atau fitnah juga, kalau aku sih salut dengan si pria karena jarang banget sekarang ini mencari dan menemukan pria sejenisnya," ujar Shaira yang terkekeh sebelum berdiri karena harus bersiap ke rumah sakit.
Hari ini Shaira mendapatkan pasien anak kecil yang katanya sulit diatur untuk minum obat dan diperiksa oleh dokter. Perbincangan mereka pagi itu berakhir karena mereka akan berangkat magang seperti biasanya yang tersisa sebulan lagi sebelum kembali ke kampus untuk menyelesaikan perkuliahannya di semester terakhir.
"Bismillahirrahmanirrahim,semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya," cicitnya Shaira sebelum meninggalkan asramanya seperti biasanya.
Shaira dan ketiga sahabatnya beraktifitas di luar rumah selalu menggunakan fasilitas angkutan umum seperti bus. Shaira kembali menemui rekan-rekan sejawatnya sebelum mengambil sipnya pagi itu.
"Aira kamu hari ini bekerja di kamar rawat xx, ada pasien anak kecil berusia lima tahun menunggumu, ini beberapa hasil pemeriksaannya selama tiga hari di rumah sakit," tutur Angel Pieters sambil menyodorkan rekam medis anak tersebut.
"Oke,kalau gitu aku kerja dulu, oiy nanti siang kita bareng makan yah," pintanya Shaira sebelum berlalu dari hadapannya Angel.
Angel hanya menaikkan jempolnya tanda setuju dengan permintaan dari Shaira itu. Shaira kemudian memakai jas almamater kebesarannya itu ,mencari kamar pasien yang akan ditanganinya khusus hari ini karena kabar yang diperolehnya.
Shaira tersenyum simpul ke e arah seorang perempuan paruh baya yang sedang duduk di atas sofa ruang rawat inap VIP itu.
"Selamat pagi Bu, apa benar disini pasien yang bernama…," ucapannya terpotong dengan suara teriakan dari anak kecil yang berpakaian seragam pasien itu.
"Kakak Shaira!" Jeritnya anak kecil berusia lima tahun itu.
Semua orang yang berjumlah tiga orang terperangah mendengar teriakannya sang anak kecil.
Shaira pun tersenyum melihat anak kecil itu," Brianna Adeline Smith!" Beonya Shaira yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1