Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 191


__ADS_3

"Augh sakit!" Keluhnya Tanisha sambil mengelus jidatnya yang terantuk ke dasboard mobil.


"Makanya kalau duduk itu jangan semborono seperti itu!" Ketusnya Abiayasa.


Abiyasa sama sekali tidak menghentikan laju kendaraannya itu malahan semakin menambah kecepatan laju mobilnya membelah jalan ibu kota Jakarta.


Tanisha memanyunkan bibirnya itu saking jengkelnya mendengar perkataan dari pria yang berhasil menolongnya dan pergi dari rumahnya, karena dia tidak ingin menjadi istri kelima pria yang seumuran dengan bapaknya itu.


Tanisha segera memperbaiki posisi duduknya dan memeriksa sabuk pengamannya itu yang belum terpasang dengan baik. Hingga suara Isak tangisannya terdengar yang membuat Abiyasa keheranan.


Ini anak baru saja marah-marah sekarang menangis. Cepat banget perubahan raut wajah dan emosinya itu.


Apa jangan-jangan dia memiliki kepribadian ganda yah, tapi selama tiga bulan bekerja di perusahaan Smith Company saya sama sekali tidak pernah melihatnya berperilaku seperti saat ini.


Abiyasa menautkan kedua alisnya melihat Tanisha semakin mengeraskan suara tangisannya itu.


"Makasih banyak sudah membantuku, untung ada Pak Abya yang membantuku, jika tidak besok saya akan menikah dengan pria tua beristri lima itu," jelasnya Tanisha.


Abyasa segera memelankan laju kendaraannya, karena ia ingin mendengarkan dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh Tanisha sekretarisnya.


"Hikss… sebenarnya besok saya akan dinikahkan oleh mama dengan saudagar kaya di kampung ku dan memintaku seminggu lalu balik ke kampung, tetapi aku tidak menerima perjodohan paksa itu karena mengingat pria itu sudah memiliki lima orang istri dan anak lebih sepuluh orang," ungkapnya Tanisha yang sesekali menyeka air matanya itu.


"Terus?" Tanyanya Abyasa singkat.


"Astaughfirullahaladzim kenapa hanya bertanya doang, seharusnya memberikan tissue kek, daripada hanya sekedar bertanya saja!" Ketusnya Tanisha.


"Ya Allah ini cewek aneh banget hanya gara-gara tissue saja marahnya gimana! Kamu kan bisa mengambilnya langsung tanpa bantuanku juga!" Cibirnya Abyasa.


"Kamu lihatlah apa yang aku kerjakan sekarang,apa aku hanya duduk santai saja! Aku lagi fokus nyetir mobil, lagian aku enggak mampu menggapai kotak tissue nya," balasannya Abyasa.

__ADS_1


Tanisha tidak enak hati dan malu-malu dengan sikapnya sendiri. Dia saking sedihnya, kalut dan pusing sehingga tak mampu berfikir jernih.


"Maafkan saya pak Abyaza, saya tidak bermaksud seperti itu," sesalnya Tanisha yang kembali ke mode cara berbicara formal sama halnya ketika bekerja di lingkungan kantor.


Abiyasa hanya fokus mengemudikan mobilnya saja tanpa menimpali percakapan dari Tanisha. Perempuan muda yang cukup cantik itu, memperbaiki ikatan rambutnya yang sempat berantakan. Dia hanya mengikat satu rambutnya seperti ekor kuda lumping.


Hingga leher jenjangnya nampak kelihatan jelas disudut netra hitamnya Abiyasa. Pria normal itu kesusahan menelan air liurnya sendiri saking terkejutnya melihat penampilan dan gayanya Tanisha yang kesehariannya memakai pakaian yang sangat sopan dan tertutup.


"Sangat cantik!" Beonya Abyaza.


"Cantik! Maksudnya bapak apa?" Tanisha mengerutkan keningnya mendengar perkataan sepintas lalu dari Abiyasa.


Abyasa salah tingkah karena tidak ingin ketahuan oleh perempuan cantik yang duduk di sebelahnya, "Nggak apa-apa kok, saya tidak bicara apapun tadi mungkin kamu hanya salah dengar saja," elaknya Abyasa yang harus terpaksa berbohong untuk menutupi kenyataan yang ada.


"Aneh!" Cicitnya Sanika Tanisha.


Sesuai aturan berpakaian di lingkungannya perusahaannya Adelio Arsene Smith yang melarang keras bagi perempuan manapun dan siapapun yang bekerja di bawah naungan perusahaannya, harus memakai pakaian sopan dan tidak mengumbar auratnya di depan karyawan pria lainnya.


Hatinya Abiayasa terenyuh dan terharu mendengarkan perkataannya Tanisha setelah mendengar dengan seksama penuturan dari sekretarisnya tersebut. yang menjelaskan duduk permasalahannya kenapa sampai dia memutuskan untuk minggat dari rumahnya itu.


Tapi,ia menyembunyikan perasaannya itu sehingga nampak seperti orang yang sama sekali tidak peduli terhadap nasib orang lain.


Sungguh kasihan, di era jaman modern seperti sekarang ini masih saja ada perjodohan semacam ini, tapi apa mereka tidak berfikir baik-baik jika melakukan pernikahan paksa tidak bakalan ada yang bahagia menjalankannya.


"Tapi ngomong-ngomong kenapa Mama kamu ngotot banget untuk menikahkan kamu dengan saudagar kaya itu, apa karena mamamu diimingi uang atau harta yang banyak mungkin!? Sehingga keluargamu menginginkan kamu menikah dengan pria itu," Abyasa menatap intens ke Tanisha.


"Ka-re-na mamaku berhutang uang yang cukup banyak, sehingga sebagai jaminannya agar hutang mamaku lunas dengan cara menikah dengan pria tua bangka itu!" Ucapnya Tanisha yang sangat jijik sekaligus marah jika harus mengingat wajah pria tua bangka itu.


"Hutang! Emangnya mamu berhutang berapa? Kamu kan sudah lama kerja di perusahaan apa uang dari gaji kamu itu enggak cukup untuk membayarnya setiap bulan?" Tanyanya Abyasa yang semakin penasaran dengan penjelasannya Tanisha.

__ADS_1


"Aku juga heran pak karena setiap bulannya 50 persen gaji yang aku dapatkan aku transfer ke rekeningnya mamaku, tapi katanya belum lunas juga bahkan malah semakin bertambah banyak," ungkapnya Tanisha.


"50 persen itu sama saja dengan delapan jutaan, astaughfirullahaladzim betapa banyak hutang piutang mamamu itu!? Apa hanya kamu yang bekerja di rumahmu itu, maaf jangan tersinggung tapi maksudnya kamu bekerja hampir dua tahun tapi kok belum lunas juga, apa jangan-jangan pinjamnya kedua orang tuamu itu 10 miliar," tebaknya Abyasa.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di dalam garasi rumahnya.


Tanisha segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan cukup terkejut melihat tempat yang didatanginya, karena tadi ia sempat tidur di dalam mobil.


"Kita sekarang ada dimana pak?" Tanyanya Tanisha sambil mengucek matanya itu.


Abyasa membuka sabuk pengamannya itu dari tubuhnya, "Kita sudah sampai di rumahku, ayo kita turun kamu butuh istirahat sedari tadi kamu melakukan perjalanan yang cukup panjang," ajakannya Abiyasa.


Tanisha menurut dengan apa yang dikatakan oleh Abiyasa sembari melepas seatbelnya tanpa membuang waktu lagi. Karena ia sangat lelah sudah tiga hari melakukan perjalanan.


Mulai terbebas dari kampungnya dengan menaiki bis hingga ke kota propinsi kemudian naik motor pesawat dan hari ini pergi bersama dengan Abiayasa atasannya itu.


Keduanya berjalan beriringan ke arah dalam rumahnya itu, Tanisha mengikuti kemanapun perginya Abyasa.


"Apa ini rumahnya Pak Abyasa?" Tanyanya Tanisha dengan mendengarkan penglihatannya.


"Benar sekali, kamu masuklah ke kamar itu, jangan lupa kamu bersihkan sekujur tubuhmu sebelum beristirahat, baumu cukup asem jadi cepatlah masuk ke dalam kamarmu untuk mandi," guraunya Abyasa yang tersenyum tipis.


"Baiklah Pak Abiayasa Akhtam Abidzar Al-Ghifari saya akan mematuhi apapun yang kamu katakan, aku masuk dulu kalau begitu pak, selamat malam," ucapnya Tanisha yang segera ngacir meninggalkan Abyasa dengan menarik kopernya itu.


Abyasa hanya tersenyum simpul melihat sikapnya Tanisha yang sangat lucu dan matanya.


"Kamu gadis yang sangat unik, tapi memiliki kisah hidup yang sungguh rumit,* cicitnya Abyasa yang juga segera pergi dari depan kamarnya Tanisha.


Keesokan harinya, bibi Siti baru saja selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid. Tapi, sungguh terkejut melihat seorang punggung perempuan yang baru saja masuk ke dalam kamar yang tidak pernah diisi kecuali tamu datang menginap ke sana.

__ADS_1


"Si-apa di sana!?" Teriaknya Bu Siti.


__ADS_2