
Shanum seperti orang gila saja yang melampiaskan kekesalannya kepada semua benda yang tidak berdosa dan tidak mengetahui apapun yang terjadi.
"Aku tidak akan ijinkan Abang pergi ke luar negeri tanpa diriku, aku akan melakukan segala cara untuk pergi ke London UK, walau harus menjual kehormataniu sendiri," tekadnya Shanum yang memang tipikal dan memiliki perangai yang egois, keras kepala.
Keesokan harinya, bi Siti yang tanpa sengaja melihat dan mendengarkan percakapan kedua majikannya. Yaitu Dewi dan Syam, hatinya tersentuh dan terpukul karena merasa dirinya ikut andil dan ambil bagian di dalam masalah yang diperbuat oleh Shanum.
"Abang apa saya tidak becus menjaga, mendidik dan membesarkan anak-anak kita yah? Sehingga putri kandungku sendiri sikapnya menjadi tidak terkontrol?" Dewi mengucapkan kata-katanya dengan raut wajahnya yang sendu masih memikirkan semua perkataan Shanum beberapa hari lalu.
Syam yang sedang membuka laptopnya karena memeriksa hasil bukti pengiriman beberapa usaha Dewi yang ada di kampungnya seperti tambak udang, ikan dan juga beberapa sawah dan ladang yang baru saja dikirim oleh adik sepupunya Dewi anaknya Pamannya Pak Hanif dan bibinya Bu Halimah yang bernama Hasriel yang memang diberikan kepercayaan untuk mengelola usahanya Dewi yang semakin besar.
Sam segera menghentikan pekerjaannya sesaat untuk membalas perkataan dari istrinya itu.
"Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu terus, Abang juga ikut bagian dalam masalah ini, Abang tidak pernah sedikitpun menentang apapun yang diinginkan oleh putri kita selama aku mampu, tapi ternyata semua yang Abang lakukan ternyata tidak tepat sehingga membuat putriku jadi manja dan tidak terkendali," ucapnya Sam dengan penuh penyesalan.
Dewi segera berjalan ke arah kursi yang diduduki oleh suamiya itu," Abang tidak salah, kita hanya saja terlalu menyayangi mereka dan mungkin Shanum seperti ini karena masih muda Abang, saya yakin insha Allah Sha putrinya Abang akan berubah dan menyesali perbuatannya itu," ucap Dewi yang berusaha menenangkan suaminya agar tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Ya Allah mungkin ini semua terjadi karena kesalahanku, saya sudah meminta Gina untuk menitipkan anaknya pada Bu Nadia Yulianti dulu, tapi yang menjadi pemikiran ku adalah kenapa Non Sha sifatnya sangat jauh berbeda dengan Non Shaira padahal disini yang jadi anak angkat adalah Non Aira bukan Nona Shanum?
Bi Siti terduduk di ujung ranjangnya memikirkan segala kemungkinan besar yang bisa terjadi. Air matanya menetes membasahi pipinya, karena sudah terlalu sayangnya dan menghormati kedua majikannya yang seperti adik kandungnya sendiri, walau bibi Siti adalah anak tunggal.
Kalau saya perhatikan kedua putrinya Nyonya Dewi memang jelas sekali perbedaan sikap diantara mereka. Sejak mereka masih kecil hingga sekarang perbedaan itu terlalu mencolok, bahkan wajahnya Non Sha itu tidak ada sama sekali kemiripannya dengan Nyonya Dewi ataupun Tuan Sam.
Ya Allah… apakah yang telah terjadi ketika Gina mengantar bayinya, apa jangan-jangan disaat itu terjadi kesalahpahaman sehingga akibatnya seperti sekarang ini.
Kalau seperti ini saya harus segera mencari tahu keberadaan Gina, karena hanya dia satu-satunya kunci dari teka-teki misteri permasalahan Bu Dewi.
Gina kalau kamu berniat jahat ketika itu jangan salahkan Mbak akan bersikap tegas padamu. Saya harus segera meminta ijin kepada Nyonya Dewi untuk pulang kampung ke Lombok besok.
__ADS_1
Rencana ini tidak boleh ditunda-tunda lagi, saya takut jika Non Sha benar-benar anaknya Nyonya Dewi yang mencintai saudara kandungnya sendiri. Tidak boleh dibiarkan berlarut-larut akibatnya akan fatal.
Tanpa sengaja entah kenapa Bi Siti terlalu sering mendengarkan rahasia tanpa sengaja. Seperti contohnya ketika Shanum diam-diam di tengah malam mendatangi kamarnya Abyasa.
Shanum mengungkapkan perasaannya kala itu kepada abangnya. Bibi Siti sangat terkejut mengetuk fakta cukup mencengangkan tersebut. Tapi,ni Siti termasuk tipikal menjaga rahasia dengan baik sehingga rahasia besar itu hingga saat ini tidak terkuak dan terbongkar ke khalayak umum. Tapi, sebenernya tidak ada niatan sedikitpun untuk selalu menguping pembicaraan yang tanpa sengaja di dengarnya.
Kalau ditunda-tunda lagi untuk balik ke NTB, bisa-bisa hal-hal yang tidak seharusnya terjadi akan terjadi juga apalagi Non Sha itu tidak pernah berfikir panjang untuk melakukan hal apapun yang dikehendakinya.
Dia gadis egois yang nekat, ya Allah kalau saya salah maafkanlah kesalahanku ini yang dulu meminta Gina memberikan anaknya untuk Bu Nadia Yulianti.
Air matanya Bu Siti menetes membasahi pipinya, dia tidak menyangka jika kemelut rumah tangga majikannya orang yang selalu menganggapnya sebagai anggota keluarganya sendiri menghadapi masalah karena ulahnya yang tidak ada unsur kesengajaan didalamnya. hanya berniat baik untuk menolong Nadia kala itu yang tidak punya anak dan tidak bisa hamil lagi seumur hidupnya.
Abyasa Akhtam, Aidan Akhtar, Shanum Inshira, Shaira Innira Samuel adalah keempat anaknya Dewi dan Syam yang sudah memasuki usia ke 20 tahun bulan ini.
Malam harinya Bi Siti segera membicarakan niatnya untuk pulang kampung kepada Dewi yang kebetulan Dewi sedang membuat beberapa jenis kue kering. Ketiga anaknya tersisa menunggu keberangkatan ke luar negeri setelah beberapa berkas kepergian mereka sementara dalam pengurusan, seperti visa dan paspornya.
Dewi segera menutup oven microwave nya setelah mendengar penuturan Bu Siti. Asisten rumah tangga yang sudah lebih dua puluh tahun menemani kisah suka duka rumah tangganya itu.
"Emangnya acaranya kapan bi? Kok pamitnya terburu-buru seperti ini, kan saya tidak punya banyak waktu untuk beliin dan carikan oleh-oleh untuk keluarga bibi di kampung kalau seperti ini," tukasnya Dewi yang tidak menduga jika bi Siti akan balik besok.
Dewi menyelesaikan segera adonan kuenya yang sudah dicampur menggunakan mixer itu. Ia berjalan ke westafel untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Astaauhfirullah aladzim Nyonya Dewi, Anda sudah berjasa besar pada keluargaku di kampung,kami sungguh tertolong dengan kebaikan nyonya dan Pak Syam, jadi kenapa meski ada oleh-oleh segala lagian memang saya juga pulangnya dadakan jadi pasti mereka memakluminya nyonya," pungkas Bi Siti yang kembali tidak ingin membuat Dewi kerepotan.
"Bibi pantas mendapatkan segala yang sudah kami berikan yang tidak seberapa itu dan dibandingkan kebaikan bibi Siti untuk anak-anak serta keluarga kecilku," tuturnya Dewi yang masih sibuk mencampur adonan kue basannya.
"Apa yang terjadi ma? Sepertinya Mama sibuk nih dengan Bu Siti," ucapnya sekedar berbasa-basi sebentar dengan mamanya yang kebetulan ke dapur untuk ambil kue yang sudah matang untuk temannya yang kebetulan datang berkunjung ke rumahnya siang itu.
__ADS_1
Dewi dan Bi Siti mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan Shaira anak bungsunya Dewi.
"Ini bi Siti katanya mau pulang kampung besok," jawab Dewi seraya membantu putrinya memotong beberapa kue hasil masakannya sendiri.
"Bi titip salam yah dengan cucunya bibi Aimah, katakan padanya sekali-kali berkunjung ke Jakarta lagi, Abang Abyaza pasti suka kalau dia datang," imbuhnya Aira sebelum mengangkat nampang yang sudah berisi makanan dan minuman dingin untuk beberapa sahabatnya.
"Waalaikum salam Non cantik, insya Allah bibi akan sampaikan salamnya untuk Aimah Khadijah," balasnya Siti.
Percakapan mereka berlanjut hingga sore hari, Dewi membuat beberapa kue kering untuk oleh-oleh bi Siti bersama dengan Bi Minah Subaedah yang ikut membantu mereka di dapur agar pekerjaan mereka cepat selesai.
Keesokan harinya…
Seorang pria yang kesehariannya setelah pensiun dari pekerjaan rutinitasnya sehari-hari hanya membaca beberapa surat kabar atau majalah jika tidak memiliki pekerjaan lain. Beliau sedang menikmati secangkir kopi pagi itu dengan asap yang masih mengepul bebas di udara.
Keasyikannya tengganggu ketika melihat seorang gadis belia berteriak keras ke arah saudarinya sendiri.
"Shaira Mbak ke kampus yah, kalau Mama bertanya katakan padanya Mbak ada mata kuliah hari ini!" Teriak Shanum sambil masuk ke dalam mobil berwarna merah kesukaannya itu.
Shaira yang mendengar teriakannya Shanum hanya menaikkan jempolnya saja. Shaira menggeleng melihat sikap kakaknya.
"Mbak Sha belum berubah juga masih keseringan berteriak-teriak," gerutu Aira yang tersenyum tipis.
Sedangkan pria dewasa yang memang jika orang duduk di balkon kamarnya pasti keadaan di depan rumahnya Dewi akan nampak begitu jelas dipandang matanya.
"Ya Allah kenapa wajahnya Shanum mengingatkan aku dengan Gina Mulia istri siriku, masa sih ada orang yang tidak ada hubungan darah dengannya Gina memiliki kemiripan, aku sudah perhatikan sejak dulu tapi aku tidak pernah yakin dengan ini semua, apa aku perlu menyelidikinya apa benar jangan-jangan ada hubungannya dengan Gina karena setahuku Dewi dan Syam hanya memiliki anak tiga orang ada salah satu dari mereka yang hanya anak angkat saja, tapi andaikan Gina ada semuanya akan terungkap,"
Pak Hanif segera bertindak untuk mencari tahu kebenaran yang selama beberapa hari belakangan ini menjadi pemikirannya dan menghantuinya.
__ADS_1
Hanif diam-diam mengikuti kemana perginya Shanum. ia berencana akan mendekati Shanum seperti layaknya seorang sahabat. dia segera menyimpan surat kabar dan secangkir kopinya. Tapi, tanpa sepengetahuannya apa yang dilakukannya diperhatikan dan dilihat langsung oleh Citra Larasati istrinya.