Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 259


__ADS_3

Shaira selalu dibuat bahagia jika berbincang-bincang santai dengan artnya,"Sukur alhamdulilah kalau seperti itu Bi, nanti malam aku buat lebih banyak lagi tapi kali ini aku mau buat roti isian, hemm, tapi bukan sekarang maksudnya nanti malam saja, bibi bantuin aku yah," pinta Sahira.


"Siap Nona Syaira jangan khawatir, kalau masalah bantu membantu apapun itu kami selalu bersedia, Iya kan bi Siti," timpalnya Bu Ijah dengan antusias dan senang hati.


"Oh tentu saja bahkan kami rela melakukan apapun demi kebahagiaan dari anak-anaknya Bu Dewi."tekadnya bi Ijha.


"Apa kak Aidan menyukainya bi?" Tanyanya Shaira yang memperbaiki letak posisi afron ditubuhnya.


Shaira menatap ke arah kedua artnya rasa saudara itu. Dia mengambil beberapa roti yang masih dalam cetakannya. Shaira memang menyukai membuat roti tawar sendiri, dibandingkan dengan membeli di swalayan ataupun supermarket terdekat.


Alasannya lebih sesuai dengan selera dan tidak pakai tambahan bahan yang berbahaya seperti pengawet dan lainnya.


"Alhamdulillah katanya dia menyukainya Non,bahkan Den Aidan malah minta dibuatkan khusus kepada Nona kalau pagi ini buat roti sendwich," ungkapnya Bi Ijha yang selalu tersenyum selama mengetahui kalau Shanaz anak angkatnya Shanum cucu kandungnya majikannya sendiri.


"Alhamdulillah kalau semua orang menyukai makanan buatanku, Bu Siti bisa minta sayurannya di lemari pendingin," pintanya Shaira yang mulai mengeluarkan beberapa buah roti dari dalam cetakannya.


"Hum… wanginya enak yah Nona. saya berharap suaminya Nona Aira tuan muda Adelio juga slalu menyukai buatan tangannya Non," harapnya Bu Ijha penuh dengan kebahagiaan.


"Memang yah buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya kecuali ada penjual buah yang ngangkut ke luar daerah," pujinya Bu Rina Amelia yang baru saja muncul sambil bergurau.

__ADS_1


"Aits Nenek, itu harus Nek kasihan petaninya kalau buah-buahan hasil kebunnya enggak dipasarkan ke luar daerah," sahutnya Shaira.


"Non Aira memang sangat mirip dengan mamanya Nyonya Besar Dewi, kecantikan hati dan wajah mereka selalu yang terbaik dari semuanya, bahkan banyak yang dibuat iri oleh mereka," cercanya Bu Ijah.


"Sudah ah bicaranya entar roti khusus untuk sarapan dan bekalnya suamiku lambat lagi," tampiknya Shaira yang segera memotong rotinya itu.


"Nenek mau joging bareng kakak iparmu Tanisha, katanya pengen jalan-jalan ke taman," ucapnya Bu Rina Amelia yang menyambar sebotol air mineral yang sudah terisi penuh.


"Bi hari ini aku absen bantuin kalian masak yah, mau joging dulu untuk nurunin berat badan yang sepertinya tiap bulan naik selama aku makan masakan yang selalu enak dan lezat dari kalian," puji Tanisha yang memang bobot tubuhnya bertambah besar dibanding ketika masih gadis.


Bibi Siti tersenyum sumringah mendengar perkataan dari menantu majikannya,"Alhamdulillah kalau Non Tanisha menyukai semua masakan orang rumah, ini benar benar-benar suatu kebanggaan untuk kami,"


Pekerjaan di dapur kembali dilanjutkan setelah Sanika Tanisha dan Bu Rina Amelia pergi ke luar untuk melakukan rutinitas pagi mereka seperti biasa.


"Daun selada, timun, tomat sudah dicuci oleh bi Siti, saya juga sudah mengupas kulit telurnya. Ini dipotong seperti ini kan model telurnya?" Tanyanya Bu irjawanti yang lebih akrab disapa bi Ijah.


"Iya bi sudah benar sekali, kalau seperti ini sudah bisa tinggal di daerah Eropa," imbuhnya Sahira sambil memeluk tubuhnya Bu Ijah dari samping.


Pekerjaan mereka semakin lama semakin banyak dan ramai saja, hingga satu persatu anggota keluarga mereka berkumpul.

__ADS_1


"Roti sendwich buatannya Mbak Shaira Innira Abidzar yang dibuat penuh dengan cinta dan kasih sayang khusus dan spesial buat bang Adelio seorang pasti rasanya sangat nikmat dan enak sudah dijamin itu rasanya tak terkalahkan," cercanya Adisty Ulfa yang menarik salah satu kursi meja makan.


"Adisti selalu seperti ini, tapi ngomong-ngomong apa kamu enggak request hari ini bekal untuk sang pujaan hatimu dek?" Kelakarnya Shaira.


Adisty menyemburkan teh hangat yang baru saja sampai di pangkal tenggorokannya itu.


"Uhuk… uhuuk.." suara batuknya Adisty cukup menggema di dalam ruangan tersebut.


"Hahaha, akhirnya ketahuan juga. Aku kira Adisti ndak sayang dengan calon suaminya," Abyasa menimpali perkataan dari adik bontotnya itu yang ikutan bergabung bersama dengan yang lainnya.


"Hahaha!" Suara gelak tawa terdengar begitu nyaring dari dalam dapur.


Ya Allah… senyuman istriku mampu memenangkan hatiku ini dan membuat aku lebih bisa bersabar menjalani disisa hidupku.


Syukur alhamdulilah, makasih banyak ya Allah Engkau memberikan aku anak-anak yang begitu baik dan saling menyayangi satu sama lainnya.


Aku berharap semoga rasa persaudaraan mereka semakin dekat,akrab dan kompak selalu.


Sial!! Brengsek! Kalian pasti menertawai diriku kan? Ini semua gara-gara Maryam Nurhaliza perempuan kampungan itu.

__ADS_1


Awas saja aku tidak akan tinggal diam saja dan akan membalas dendam atas penghinaan yang aku dapatkan.


__ADS_2