
Amar Alfarizi yang berdiri di depan pintu hendak pergi meninggalkan istrinya karena masih tidak menerima, jika Vela menemui mantan kekasihnya itu diam-diam di belakangnya.
Dia dikejutkan dengan suara teriakan seseorang dari dalam ruangan perawatan istrinya.
"Astaughfirullahaladzim itu suara apa?" Teriaknya Amar yang menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Tapi,dia tidak mendengar melihat hal aneh semacamnya. Amar kembali berjalan ke arah lain. Tapi, pikirannya tertuju pada kondisi istrinya. Amar pun berbalik arah dan bergerak cepat ke arah pintu.
Amar memutar kenop pintu kamar perawatan istrinya itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa sedih, kecewa,benci, marah dan khawatir serta takut terhadap kesehatan Vela Angelina.
Amar mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan menemukan Vela yang sudah terkapar di atas lantai keramik.
"Vela Angelina, istriku!" Teriaknya Amar dengan suara yang cukup melengking tinggi setelah tersadar dan melihat jelas kondisi dari istrinya itu.
Amar berjalan cepat ke arah istrinya yang sudah tidak sadarkan diri, dia menggendong tubuhnya Vela dan menaruhnya ke atas ranjang.
"Astauhfirullah aladzim apa yang terjadi padamu sayang, kenapa bisa terjadi seperti ini?" Tanyanya Amar yang sungguh miris dan kasihan melihat kondisinya Vela.
Amar memperbaiki letak tiang infusnya dan memeriksa sekujur tubuhnya Vela sebelum memanggil tim dokter dan perawat.
"Maafkan mas sayang ini semua kesalahanku dan keegoisanku, aku terlalu cemburu dan marah melihatmu bertemu dengan pria brengsek dan lucknut itu!" Segala perkataan umpatan meluncur di bibir nya Amar.
Amar kemudian menekan tombol darurat di dinding setelah memeriksa dengan detail kondisinya Vela yang sudah pingsan.
Kekhwatiran, kepanikan, ketakutan dan kecemasan dan ketidakberdayaan seorang pria melihat wanita yang sangat dicintainya itu telah terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit.
"Ya Allah selamatkan lah Istriku, ini semua kesalahanku sehingga Vela terjatuh, aku yang terlalu egois dan rasa cemburuku membutakan mata hatiku," ratapnya Amar yang penuh penyesalan.
Amar menggosok lembut punggung tangannya Vela, ia berharap agar mampu membuat Vela segera siuman seraya menunggu kedatangan dokter untuk segera menangani istrinya.
Berselang beberapa menit kemudian beberapa perawat dan dokter mendatangi kamar perawatannya Vela. Amar baru bisa tenang setelah kedatangan dokter.
"Dokter tolong cepat periksa kondisi istriku, saya tidak ingin terjadi sesuatu padanya," pintanya Amar yang menatap intens ke arah dokter.
__ADS_1
"Anda tenang pak, kami akan segera menangani pasien, tapi ngomong-ngomong kenapa kondisi pasien bisa drop seperti? Sedangkan tadi sudah stabil?" Tanyanya dokter perempuan itu yang sudah memeriksa kondisi kesehatannya Vela.
Amar menjadi salah tingkah dan kebingungan,dia tidak mungkin berbohong menutupi apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi, dia juga malu dan bingung untuk mengatakan yang sesungguhnya terjadi kepada istrinya wanita yang sungguh disayanginya itu.
"Tadi saya keluar dokter karena ada keperluan mendadak,pas balik ke sini istriku terjatuh di atas lantai," jawabnya Amar yang tidak berkata jujur jika istrinya terjatuh salah satu penyebabnya adalah dia sendiri.
Dokter itu segera memeriksa luar dalamnya Vela," perawat kita harus melakukan pemeriksaan USG kepada pasien, takutnya terjadi komplikasi dan masalah yang tidak diharapkan terjadi di dalam rahimnya pasien, apalagi baru sekitar beberapa jam yang lalu menjalani operasi," titahnya dokter.
"Baik Dok!" Jawab perawat yang berjumlah tiga orang itu.
Tubuhnya Vela pun dipindahkan ke atas bangkar untuk segera dilarikan keruangan pemeriksaan intensif uuntuk melakukan tes selanjutnya.
"Dokter apa yang terjadi pada istriku?" Tanyanya Amar yang semakin panik dan ketakutan.
"Kami belum bisa mengatakan apapun,tapi intinya kondisi pasien tidak dalam keadaan yang baik-baik saja,"
Tubuhnya Amar terhuyung ke belakang beberapa langkah saking terkejutnya mendengar perkataan dari dokter. Dia mengusap wajahnya dengan gusar dan membuang nafasnya dengan cukup keras.
Sesampainya di rumah kediaman Syamuel Abidzar Al-Ghifari semua orang kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Sanika Tanisha belum beranjak dari sofa di ruang tengah rumah besar itu.
Pikirannya terbang kemana-mana, dia masih penasaran dan bingung dengan perasaan pria yang telah menolongnya. Kalau masalah hatinya sendiri, sudah terlihat sangat jelas apabila dia mencintai dan menyayangi Abyasa Akhtam sedangkan pria itu entah semua yang dikatakannya benar adanya, ataukah hanya dalam keadaan terdesak dan terpaksa saja karena ingin menolongnya saja dari pak Kirmanto saudagar juragan kaya raya dari kampung halamannya.
Ya Allah apakah benar yang dikatakan oleh Pak Abyasa tentang perasaannya padaku? Jika itu memang benar adanya betapa bahagianya hatiku ini mendapatkan cintanya.
Semoga saja apa yang diungkapkan oleh Pak Abyaza benar adanya sesuai dengan apa yang sesungguhnya dirasakannya untukku seorang.
Aku memang mencintainya ya Allah, tapi rasa cintaku tidak boleh lebih besar dari rasa cintaku kepadaMu sang maha pencipta langit dan bumi ini dimana aku berpijak.
Aku tidak boleh cinta dan rasa sayang ini membuatku egois dan lupa daratan, cintaku pada Alloh SWT harus lebih besar dari cintaku pada pria yang bernama Abiayasa Akhtam Abidzar Al-Ghifari.
Televisi tetap stand by menayangkan beberapa acara televisi, tetapi pikirannya terbang melayang kemana-mana. Dia tidak fokus menyaksikan acara malam ini.
Sedangkan Abyasa yang baru saja selesai menenggak habis minumannya di dalam dapur segera berjalan ke arah luar. Tanpa sengaja melihat perempuan yang mulai menyita waktu dan perhatiannya. Perempuan yang tanpa disadarinya sudah singgah dan mengisi relung hatinya yang paling terdalam.
__ADS_1
Entah apa yang dirasakannya sekarang padaku? Aku sangat ingin langsung menyampaikan padanya niat baikku ini,tapi entah apa dia akan setuju? Aku sangat takut jika dia menolak keinginan baikku.
Abiyasa segera berjalan menaiki undakan anak tangga satu persatu. Kejadian dan insiden yang terjadi di lobi parkiran rumah sakit swasta milik Adelio Arsene Smith itu, tidak disampaikan kepada pihak anggota keluarganya yang lebih duluan pulang ke rumah.
Abiyasa, Arion Sneider dan Adelio tidak ingin memberikan beban pikiran kepada Papa dan Mamanya. Abiyasa akan menemui mamanya malam ini dan berniat meminta saran pada wanita pertama yang disayanginya di dunia ini.
Aku yakin Mama akan memberikan solusi yang paling tepat dan terbaik dengan apa yang aku alami ini. Aku tidak ingin terlambat lagi sehingga Tanisha dilamar oleh pria lain.
Apalagi kebetulan besok bapaknya Tanisha dan kedua adiknya datang dari kampung halamannya. Arion segera mencarikan rumah sederhana untuk ditempati oleh Pak Harun Yahya bersama dengan kedua adiknya yaitu Salsabila dan Satrio Utomo.
Abyasa mempercepat langkahnya menuju ke kamar mamanya, dia hanya menolehkan kepalanya sekilas ke arah Tanisha yang masih menatap ke arah layar televisi.
Abiayasa hendak memutar handle pintu kamar mamanya, tapi belum kesampaian niatnya untuk memutar knop pintu itu, tapi sudah dibuka oleh sang pemilik kamar.
Dewi yang hendak mengisi air putih ke dalam cerek berencana mengambil air di dapur lantai dua. Karena biasanya Syam jika tengah malam pasti akan kehausan, tapi kebetulan dia belum sempat untuk mengisi cereknya dengan air dingin dari lemari pendingin.
Dewi baru saja berganti pakaian setelah balik dari rumah sakit dari menjenguk Vela istri dari keponakannya itu. Barulah memiliki waktu sehingga dia ingin ke lantai bawah rumahnya.
Keningnya Dewi mengerut melihat putranya berdiri langsung di depannya, "kakak kenapa belum tidur Nak, sudah larut malam loh apa kamu enggak ngantuk? besok kan kamu kerja," Tanyanya Dewi yang memberondong pertanyaan kepada anak sulungnya itu.
Seperti biasanya Dewi selalu melayangkan banyak pertanyaan kepada anak-anaknya jika sudah lewat jam sebelas malam, tapi masih ada yang belum tidur dan beristirahat.
Abiyasa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum cengengesan," enggak apa-apa kok ma, sebenarnya ada yang ingin kakak sampaikan, tapi sudah lupa gara-gara mendengar pertanyaan Mama yang cukup banyak," candanya Aby yang menutupi kenyataan yang ada.
Besok saja ngomongnya sama Mama, malam ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara.
"Ya Allah putraku yang paling ganteng dan baik hati tumbenan punya penyakit tulalit, apa penyakitnya adikmu Sahnum pindah sama kamu Nak," guraunya Dewi sembari mengelus rambut hitam kecokelatan milik salah satu putra kembarnya itu.
"Kalau gitu aku pamit yah Ma, assalamualaikum alaikum, selamat malam," ucapnya Abyasa yang tidak lupa mengecup sekilas pipi mamanya seperti yang sering kali dilakukannya itu.
Dewi hanya mengulas senyumannya melihat punggung lebar putranya yang bergegas pergi meninggalkannya.
Aku yakin ada hal penting yang ingin disampaikan padaku,tapi dia masih ragu dan bimbang dengan apa yang akan dipilihnya.
__ADS_1