
"Dokter Andini, bagaimana hasil laboratorium mamaku?" Tanyanya Shaira yang tidak sabaran ingin mendengar perkataan dari dokter yang menangani kesehatannya Dewi.
Dokter Andini menatap satu persatu orang yang ada di depannya itu sebelum menjawab keresahan hatinya Shaira keluarga pasien dan sekaligus temannya itu.
Andini menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan.
"Shaira kondisi kesehatannya Tante Dewi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, tensinya sangat tinggi dan sebenarnya ada masalah dengan jantungnya Tante Dewi," ungkapnya Andini.
"Ini tidak mungkin! Dokter pasti salah diagnosa kan!?" Teriaknya Shaira yang segera mengambil paksa berkas itu.
Shaira reflek merebut berkas hasil pemeriksaan mamanya itu. Dia membuka berkas map itu dengan membuka lebar matanya agar tidak salah baca.
Bibirnya Shaira bergetar hebat dan air matanya sudah beranak sungai di pelupuk matanya. Dia juga tidak ingin mempercayai hasil tes laboratorium yang mengatakan bahwa Dewi Kinantii Mirasih mengidap penyakit jantung koroner stadium akhir dan ada masalah di ususnya yaitu sel kanker yang cukup mematikan.
Shaira tergugu dalam tangisannya itu, hingga berkas yang dipegangnya terlepas dari dalam genggaman tangannya.
"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin terjadi. Aku yakin mamaku tidak sakit parah! Mamaku sama sekali tidak pernah mengeluh di hadapan kami anak-anaknya! Jadi pasti ini hanya keliru dan salah paham saja!" Tampiknya Shaira.
"Sayang, istriku kamu harus tenang dan sabar. Yakinlah kepada Allah SWT jika Mama akan baik-baik saja," bujuknya Adelio yang sedih melihat kondisi dari istrinya itu.
"Abang katakan padaku ini hanya mimpikan atau mungkin berkas ini tertukar dengan milik pasien lain," sanggahnya Shaira.
Adelio tidak bisa berucap sepatah katapun lagi melihat kesedihan istrinya itu. Adelio memeluk tubuhnya Shaira agar istrinya merasa tenang dan nyaman dipeluk seperti itu seolah memberi kekuatan.
"Maafkan kami Dokter Shaira, ini adalah kenyataannya bahwa Tante Dewi mengidap kanker dan juga jantungnya bermasalah, tapi kamu harus sabar insha Allah kami akan melakukan apapun demi keselamatan Tante Dewi," imbuhnya dokter Andini.
"Ya Allah apa yang terjadi pada mamaku, kenapa bisa terjadi seperti ini!" Keluhnya Syaira.
Pintu ruangan kerjanya dokter Adinda terbuka lebar bersamaan dengan deringan ponselnya Shaira. Ia segera mengangkat telponnya yang terus berdering. Hingga handphonenya yang semula dipegangnya terjatuh dan terlepas dari dalam tangannya itu.
"Tidak!"teriak histeris Shaira.
"Dede apa yang terjadi padamu, kenapa dan siapa yang menelponmu?" Tanyanya Adelio
Adelio Arsene Smith mulai panik, takut dan mencemaskan keadaan Shaira setelah mengangkat telponnya. Adelio memegangi kedua tangannya Shaira.
Shaira tanpa berpamitan segera meninggalkan ruangan tempat kerjanya Dokter Andini Wijaya dan ketika berlari tak lupa menjawab pertanyaan dari suaminya itu dengan meninggikan volume suaranya.
Shaira melirik sekilas ke arah suaminya itu sebelum terlalu jauh langkah kakinya melangkah,"Ayo kita cepat pulang Bang ke kamarnya mama. Kondisi Mama kritis tapi katanya ngotot ingin pulang ke rumah," ucapnya Shaira yang gegas berlari cepat ke arah pintu tanpa peduli dengan dokter Andini dan kondisinya sendiri.
Shaira dan Adelio berlari cepat ke arah kamar VVIP di mana Dewi berada. Sedangkan satu persatu anggota keluarganya Dewi yang berada di Jakarta sudah dikabari dan diinfokan mengenai masalah kesehatannya Dewi yang sekarat.
Pintu itu terbuka lebar dan masuklah Shaira Innira dan betapa terkejutnya melihat semua orang sudah menangis tersedu-sedu mengelilingi ranjangnya Dewi dengan melafalkan kalam ilahi saling bersahut-sahutan.
__ADS_1
"Lailah illallah.. laailaha illallah subhanallah Allahu Akbar,"
Kalimat itu terus didengungkan di telinganya Dewi yang sudah tidak mengenali siapapun orang yang mengelilingi tubuhnya itu.
"Mama!" Jeritnya Shaira yang berhamburan memeluk tubuhnya Dewi yang sudah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Laailaha illallah, Mama… hiks… hiks… laailaha illallah." Ucapnya lirih Shaira.
Dewi seperti menoleh sekilas ke arah ke datangan putrinya itu dan sempat terdengar suara lirihan Dewi mengucap kalimat toyyibah untuk terakhir kalinya itu diakhiri dengan hembusan nafasnya yang terakhir kalinya dengan kedua matanya terpejam dan mulutnya seperti tersenyum tipis.
Tuuuuut…
Suara mesin pendeteksi jantung dan denyut nadinya sudah memperlihatkan tanda-tanda jika Dewi sudah meninggal dunia.
"Tidak!!! Mama!! Jangan pergi Mah!" Teriaknya histeris Shaira, Sahnum, Abyasa Aidan dan yang lainnya.
"Mbak Dewi kenapa kamu begitu cepat pergi meninggalkan kami," ratapnya Dina Anelka Mulya sembari memeluk tubuh yang sudah kaku dan perlahan rasa hangat ditubuh itu menghilang seiring berjalannya waktu.
"Mama!" Semua anak-anaknya memeluk tubuh Dewi.
"Dokter! Tolong cek jangan sampai Mama kami masih bernafas!" Titahnya Adelio.
"Iya dokter, tolong di cek lagi. Aku tidak ingin kalian salah periksa!" Teriak Arion.
"Ini semua gara-gara perempuan ular itu dan ibunya yang membuat Mama jatuh sakit dan akhirnya…," Aydan tidak sanggup menyelesaikan perkataannya dengan wajahnya yang tertunduk lesu sedangkan air matanya tak henti-hentinya menetes.
"Nenek!" Cucu-cucnya mengelilingi tubuhnya Bu Rina Amelia yang pingsan.
"Tolong minggir sedikit kami ingin memeriksa pasien!" Perintahnya dokter Rahayu.
Para tim dokter pun melakukan pertolongan pada tubuhnya Dewi, tapi usaha mereka gagal karena Dewi sudah meninggal dunia.
"Bagaimana dokter, apa mamaku masih hidup?" Tanya Arion.
"Maafkan kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Allah SWT berkehendak lain. Pasien sudah meninggal dunia." Jelasnya dokter Rahayu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, alfatihah selamat jalan Mbak Dewi," cicitnya Syamil.
"Tante Dewi, tadi pagi masih baik-baik saja dan sangat sehat tapi hari ini Tante Dewi meninggalkan kami untuk selamanya," ucapnya sendu Adisty tubuhnya tersandar ke dinding tembok dengan deraian air matanya.
Semua anak-anaknya memeluk tubuh yang sudah mulai dingin itu. Sedangkan Syamuel Abidzar tidak berucap sepatah katapun. Ia hanya menitikkan air matanya melihat istrinya pergi untuk selamanya meninggalkannya dengan tiga anak dan cucu tiga orang.
Tidak ada satupun orang yang tidak menangisi kematian Dewi. Semuanya begitu terkejut melihat kematian langsung di depan mata masing-masing.
__ADS_1
Semua datang membesuk Dewi karena mendapatkan berita, jika Dewi yang mengantar anak menantunya yang terjatuh pingsan dan keguguran. Tapi,saat ini mereka semua turut menyaksikan kepergian orang yang paling mereka sayangi di dalam hidupnya mereka.
Shanum memeluk tubuhnya Syam papanya yang tidak berkata-kata hanya air matanya saja yang memperlihatkan kehancuran dan kesedihannya ditinggal mati oleh wanita yang sudah hampir tiga puluh tahun menemaninya dan mendampinginya dalam suka maupun duka.
"Papa, mamah sudah pergi meninggalkan kita. Bagaimana denganku pah? A-ku tidak sanggup melihat mama," ratapnya Shanun yang langsung pingsan setelah berkata seperti itu.
"Sha istriku!" Jerit Arion.
Arion tanpa berfikir panjang reflek berlari cepatnya ke arah istrinya yang untungnya masih sanggup ditolong oleh Ariela Ziudith.
"Mbak Shanum, sadarlah jangan seperti ini kasihan dengan Tante Dewi. Kepergiannya tidak tenang jika kita semua tidak mengikhlaskan kepergiannya." Bujuk Arabella.
"Mas Ade, aku tidak ingin Tante Dewi pergi. Beliau bukan Mama kandungku. Tapi kasih sayangnya melebihi mamaku sendiri. A-nu a-ku tidak percaya ini," rengeknya Adisti Ulfah Salsabiela yang berusaha ditenangkan oleh Ade Nugraha calon suaminya itu.
"Dokter, tolong cepat persiapkan kepulangan jenazah Mama kami. Jangan menunda lebih lama lagi," perintahnya Aidan.
Semua persiapan telah dilakukan segera untuk membawa pulang mayat Dewi, mengingat tidak baik mengurus jenazah umat muslim jika memperlambat prosesi pemakamannya.
"Pantesan mamaku meminta untuk pulang ke rumah dan tidak ingin diopname. Tapi ternyata bakal seperti ini kejadiannya." Tuturnya Sanika Tanisha.
"Pantesan tadi pagi, Mama katanya malas makan, apakah semua itu pertanda yang Engkau berikan kepada kami sebagai anggota keluarganya yang masih hidup?" Maryam Nurhaliza yang baru juga datang setelah kedatangan Shaira dan suaminya.
Duka mendalam dirasakan oleh semua orang anggota keluarganya. Air mata duka cita terlihat begitu jelas dari pelupuk mata mereka yang turut hadir melihat Dewi menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.
Shaira terus berpelukan dengan suaminya dan tidak ingin menangis meratapi kepergian mamanya.
"Tolong saya minta kepada kalian jangan ada yang menangis meratap, tidak baik untuk kepergiannya Tante Dewi. Kasihan Tante Dewi gara-gara kita tidak ikhlas melepas kepergian Tante dan beliau mendapatkan siksaan," nasehatnya Fariz al-Fatih.
Adelio mengelus punggungnya Shaira yang bergetar hebat melihat Dewi segera diurus kepulangannya.
Sedang Arion sedih melihat istrinya yang jatuh pingsan tak sadarkan diri lagi, karena tidak sanggup menerima tekanan yang begitu tiba-tiba datangnya.
Semua yang bernyawa akan kembali kepada Sang Maha Pencipta. Itulah esensi kehidupan, intinya tidak ada yang kekal abadi di dunia ini.
Bu Rina Amelia pun masih pingsan dan belum sadar hingga semua orang pulang ke rumah. Ibu Rina Amelia dan Shanum mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU. Arion dan Ariela membantu menjaga Bu Rina dan Sahnun di rumah sakit.
Sedangkan yang lain pulang ke rumah untuk mengurus semua tahapan prosesi pemakaman mulai dari pemandian jenazah hingga penyalatan dishalatkan di salah satu mesjid terdekat dari tempat pemakaman umum tpu setempat.
Syam menatap ke arah langit sebelum masuk ke dalam mobil ambulance dengan dipapah oleh Ade Nugraha dan Fariz.
Anggaplah ringan kematian itu, karena letak kesaktiannya adalah engkau merasa takut padanya.
Aku sungguh heran terhadap orang-orang yang lupa akan kematian, padahal hampir setiap hari melihat orang yang telah meninggal dunia.
__ADS_1