
Aku akan mendisiplinkan kamu setelah semua orang pergi dari sini. Kamu sudah mulai berani menentang keputusanku dengan terang-terangan di hadapan para tamuku.
Irwansyah menggenggam erat kepalan tangannya itu, ia tidak akan menghukum istrinya Dina Anelka atas kekacauan yang sudah ditimbulkannya.
Mereka tidak mengetahui jika Shanum mendapatkan calon suami yang lebih jauh baiknya dari Arion Sneider Oesman dibandingkan dengan Desta dalam segala hal. Arion lebih unggul dari semua kriteria yang dimiliki oleh Desta dan juga keluarganya.
Sehingga Irwansyah dengan jumawa sangat bahagia karena merasa dan menganggap dirinya sudah menang dan diatas angin.
"Aku yakin kalian disana sudah menangis tersedu-sedu meratapi kekalahan dan nasib malang putri kalian yang kembali gagal total untuk menikah dengan calon suaminya, untungnya perempuan itu melahirkan anak kembar untukku sehingga aku bisa menggunakannya sebagai dua mata pisau untuk menghancurkan kesombongan, keangkuhan dan harga dirinya Samuel Abidzar Al-Ghifari."
Dengan pongah dan jumawanya yang menganggap keluarga Samuel Abidzar Al-Ghifari itu dalam kesedihannya dan kehancuran. Padahal ia saja yang tidak mengetahui jika keluarga kakak iparnya itu sungguh dalam kebahagiaan yang tidak terkira.
Rombongan iringan lamaran dari pak Gilang dan ibu Kharisma sudah pulang ke rumah masing-masing. Tersisa lah Dina, suaminya Irwansyah dan putri bungsunya Arabela Aqila yang sedari tadi senyuman selalu terukir disudut bibirnya itu.
Dina berjalan ke arah suaminya yang hendak berdiri dari duduknya, "Mas kenapa memutuskan pernikahannya Ara tanpa meminta persetujuan dariku terlebih dahulu! Bukannya Arabela itu masih sangat muda, kecil dan belum tahu apa-apa mengenai pernikahan dan menjadi istri yang baik," ujarnya Dina yang tidak tahan lagi untuk menyimpan unek-unek di dalam benaknya.
Irwansyah segera mendudukkan tubuhnya kembali setelah mendengar perkataan dari istrinya itu.
"Apa alasannya saya harus mendengarkan perkataanmu bukannya Ara itu adalah putriku, jadi sah-sah saja dan wajarlah kalau aku nikahkan anak-anakku dengan jodoh yang terbaik untuk mereka," tampiknya Irwansyah.
"Arabela bukan hanya putri mas tapi anakku juga, anak kita bersama. Mas cukup Ariella yang harus menjadi perebut dan menggangu hubungan dari saudara-saudarinya, kenapa harus Ara juga mengikuti jejak kakaknya!?" Teriak Dina yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Arabela hanya terdiam saja dan menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya yang sudah biasa ia saksikan bahkan masih sejak dalam kandungan bahasa kasarnya.
"Ada apa dengan Ariela putriku!? Dia itu sudah bahagia dengan pria yang sangat dicintainya, aku pasti mendukung apapun yang diinginkan dan dilakukan oleh kedua putri kembarku yang paling penting mereka bahagia. Termasuk merebut apa yang seharusnya menjadi milik kakak sepupunya sendiri!" Balasnya Irwansyah yang tidak mau kalah dengan ucapan istrinya.
"Termasuk merendahkkan harga dirinya sebagai seorang perempuan dengan menyerahkan ehormatannya kepada pria yang sudah menjadi tunangan sepupunya maksudnya Mas gitu?!" Balasnya lagi Dina yang semakin esmosi.
__ADS_1
Balasan dari perkataannya dokter Irwansyah sungguh diluar dugaan dan Dina tidak menyangka bakal terjadi seperti itu.
"Bahkan lebih licik dari semua itu akan saya tempuh dan selalu mendukung apapun itu yang diperbuat kedua anakku asalkan saya bisa menghancurkan kesombongan, keserakahan dan keangkuhan dari Samuel Abidzar Al-Ghifari dan istrinya saya akan membuat mereka menyesali kesombongannya itu!" Tegasnya Irwansyah yang sudah semakin melupakan apa penyebab awal dari kemarahannya itu.
Dina semakin dibuat shock dengan mendengar kejujuran dan penuturan dari suaminya itu.
"Astaughfirullahaladzim, mas Irawan saya mohon sadarlah dan istighfar apa yang sudah mas perbuat ini sungguh sangat salah dan keliru, Mbak Dewi dan mas Syam sama sekali tidak bersalah sedikitpun, mas Irwan saja yang terlalu terobsesi terhadap Mbak Dewi!" Teriaknya Dina dengan suara yang cukup kencang, tinggi dan melengking hingga memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Arabela yang melihat kedua orang tuanya kembali berdebat dan bertengkar, ia segera meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Capek melihat mereka seperti ini mulu, aku sungguh bahagia hari ini karena seminggu lagi aku akan menikah dengan bang Desta, untungnya papa sangat mengerti dengan keinginanku dan mengetahui jika aku sangat mencintai bang Desta, persetan dengan kandasnya pertunangan Shanum, emangnya kenapa kalau dia adalah kakak sepupuku. Kalau aku menyukai bang Desta siapa yang mau melarang dan marah. Jika ada yang menentang hubunganku dengan Abang Desta mereka akan berhadapan denganku!"
"Astaughfirullahaladzim ya Allah apa yang terjadi padamu mas, apakah memang seperti dugaan dan sangkaan orang-orang di luar sana jika mas menikahiku karena hanya ingin mendekati mbak Dewi dan membalas dendam terhadap Abang Sam yang sama sekali tidak bersalah sedikitpun itu!" Jeritnya Dina yang terduduk kembali setelah berteriak lantang.
"Hahaha!" Suara tawa dari Irwansyah menggema memenuhi seluruh pelosok rumah berlantai dua itu.
Dina semakin marah dan tidak menerima sikap dari suaminya itu yang ternyata hanya memperalat dan tertipu dengan ucapan janji suci dan janji manisnya sebelum mereka menikah.
"Auhh sakit mas!" Keluhnya Dina ketika kuku tajamnya Irwansyah menusuk kulit wajahnya.
"Ingat baik-baik, sampai kapanpun hatiku hanya untuk Dewi Kinanti Mirasih hingga saya tua nanti pun hanya Dewi wanita yang aku puja-puji dan aku sayangi hingga kapan pun, dan kamu Dina Anelka Mulya kamu hanya bidak catur aku untuk menghancurkan Syamuel!" Hardiknya Irwansyah.
"Ah sakit mas, lepaskan!" Ratapnya Dina yang berusaha melepaskan tangannya Irwan dari dagunya itu.
Air matanya semakin mengalir deras saja dengan perlakuan kasar suaminya yang dia dapatkan. Irwansyah segera melepaskan pegangan tangannya itu sambil menghempas tubuhnya Dina.
"Aahh!" Jeritnya Dina yang didorong keras oleh Irwansyah hingga tersungkur ke atas lantai.
__ADS_1
Irwansyah hendak berjalan ke arah dalam kamarnya tetapi segera terhenti," kamu urus anakmu yang tidak berguna itu! Terserah kamu mau nikahkan dengan gadis yang telah dihamilinya atau tidak bukan urusanku! Karena aku tidak menganggap Akhsan adalah putraku! Bagiku anak itu tidak berguna sama sekali tau-taunya hanya membuat malu dan merugikan saja!" Sarkasnya Irwan yang segera pergi meninggalkan ruang tamu tanpa peduli dengan kondisinya Dina yang dagunya meneteskan darah.
Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam kediaman Syamuel Abidzar Al-Ghifari yang tak henti-hentinya orang bersyukur dengan kebahagiaan putra putrinya.
Karena Syam akan menikahkan langsung dua pasangan anak-anaknya dalam waktu yang bersamaan. Arion dan neneknya Bu Natalia Shinta sudah berjanji akan memberikan pesta pernikahan yang sangat meriah untuk Shanum dan Arion pewaris tunggal tahta kerajaan perusahaan Oesman.
Bahkan mereka tidak mempermasalahkan mengenai penyakit dan kekurangan besar yang diderita oleh Shanum Insyira, yang tidak bisa memiliki seorang keturunan. Bagi mereka yang paling utama adalah kebahagiaan anak-anak mereka yang paling utama diatas segala-galanya.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah akhirnya kakakku akan menikah dengan pria yang dicintainya itu, semoga kalian bahagia.
Tapi entah kenapa di lubuk hatiku terdalam, aku merasa sedih karena kehidupan asmara kakak-kakakku yang lainnya berjalan mulus. Sedangkan saya ya Allah apakah aku akan hidup seperti ini terus.
Astaughfirullahaladzim aku sudah salah, jika selalu berduka dan menyesali semua yang sudah terjadi.
Insha Allah aku harus bangkit dan kuat. Mungkin abang Hans bukan jodohku di dunia ini hingga diakhirat.
Semoga kelak aku dipertemukan kembali dengan pria lain yang lebih baik dari abang Hanz.
Shaira menghela nafasnya dengan perlahan, ia segera tersenyum di hadapan anggota keluarganya. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kesedihannya jika harus kembali mengingat kejadian masa lalu percintaannya dan kisah cintanya yang harus kandas di tengah jalan bersama Hanzal Abdul Djailani.
Sisa-sisa dari acara lamaran itu masih terlihat di setiap sudut rumahnya Dewi. Beberapa orang saling bahu membahu membantu untuk mengerjakan dan membersihkan kembali perabot maupun peralatan dapur dan makan yang terpakai.
Maaf khusus untuk readers atau pembaca yang tidak suka dengan novel recehanku ini tolong tidak perlu berkomentar untuk tinggalkan jejak yang tidak perlu.
Daripada menurunkan semangat nulis lebih baik skip dan tinggalkan saja. karena novelku selow alurnya. Tidak seperti alur novel lain yang sat set sudah kelar.
Kalau alurnya cepat itu tidak cocok untuk novel yang kejar kata perbulan. alur cepat pasti novelnya Tidak sampai sebulan sudah tamat. hehehe.
__ADS_1
Pembaca sedikit tidak jadi masalah yang paling penting pembaca bisa hargai tulisan orang lain itu lebih bermakna daripada datang dengan komentar pedas dan menjatuhkan.
Bijaklah membaca dan berkomentar.