
Tanisha memukuli pria yang disangkanya seorang maling. Tanisha menunjukkan sisi lainnya jika dalam keadaan terdesak apalagi ketakutan.
"Aku akan memukuli kamu hingga babak belur dan ketakutan untuk datang lagi, aku ingin kamu tahu jika aku bukan perempuan yang mudah ditakuti atau pun ditindas oleh maling brengsek sepertimu," cibirnya Tanisha.
Bugh… pok.. puk..
Suara pukulan itu terdengar nyaring di tengah malam buta. Tanisha terus saja memukuli pria itu memakai sapu lidi.
"Stop!! Sanika Tanisha Hermasyah hey ini aku! Aku mohon berhenti jangan lagi memukul!" Teriakannya Abyasa seraya menggenggam erat kedua lengannya Tanisha.
Benar sekali Pria yang dikira pencuri tengah malam itu adalah Abiayasa Akhtam pria yang akan menikahinya kelak.
Mulutnya membulat sempurna bola matanya seolah akan melompat keluar saking terkejutnya melihat orang yang sudah dipukulnya berkali-kali.
"Aku tidak tahu kalau itu bapak, maafkan aku yah Pak," ucapnya Tanisha dengan penuh penyesalan sekaligus kasihan pada Abyaza.
Matanya Tanisha sudah berkaca-kaca saking sedihnya dan juga menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti pria yang berencana melamarnya esok hari.
__ADS_1
Abiayasa yang melihat matanya Tanisha yang berembun dan siap untuk menangis tersenyum smirk.
Aku akan memanfaatkan kejadian ini untuk mengetes sampai sejauh mana rasa sukanya padaku. Aku tidak ingin menikahi perempuan yang juga tidak mencintaiku. Aku ingin kami sama-sama saling suka dan mencintai, sehingga pernikahan kami kedepannya lebih mudah.
Abyasa segera melepas pegangan tangannya di pergelangan tangannya Tanisha.
"Auh sakit," keluhnya Abiyaza yang memegangi keningnya yang memang nampak memar itu.
Tanisha yang melihat dan mendengar Abyasa mengeluh kesakitan reflek memeriksa kondisinya Abyasa dan tanpa sungkan memperlihatkan kepanikan, ketakutan dan rasa khawatirnya.
"Aku tidak baik Cha, sepertinya kepalaku pusing dan jangan-jangan aku mengalami geger otak gara-gara pukulan kamu itu," lirihnya Abyasa yang terus saja berakting berpura-pura sakit kepala.
Tanisha semakin dibuat kalang kabut karena dia tidak sanggup melihat pria yang dicintainya kesakitan. Apalagi terluka karena ulahnya sendiri.
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu," astauhfirullah aladzim… maafkan aku pak Abyasa, aku tidak sengaja melakukannya Pak," sesalnya Tanisha.
Tanisha memeriksa sekujur tubuhnya Abiayasa dengan seksama,dia juga memeriksa kepalanya Abyaza yang terluka.
__ADS_1
Air matanya terus menetes membasahi pipinya itu dan sesekali menyeka air matanya itu dengan gusar. Dia tidak henti-hentinya merutuki kesalahannya sendiri yang karena tangannya itu, Abiyaza terluka cukup serius.
"Aku akan mengobati kepalanya bapak, tunggu yah pak aku akan mengambil kotak p3k, tunggu yah pak," titahnya Tanisha.
"Hey! Apa aku harus menunggu kamu semalaman suntuk diluar sini!? Apa kamu enggak kasihan melihatku berdiri dikerumuni nyamuk dan kepalaku sangat pusing?" Keluh Abyasa.
Tanisha yang hendak berjalan ke arah lemari meja riasnya, tapi segera terhenti karena mendengar perkataan dari Abyasa yang menepuk-nepuk tangan dan kakinya saking banyaknya nyamuk yang bergantian menggigitnya.
Tanisha menolehkan kepalanya ke arah Abyasa yang masih berdiri di luar sana sembari melompat-lompat karena tidak ingin digigit nyamuk.
"Bapak masuklah, aku akan mengambil obatnya untuk mengobatin lukanya pak Abyasa," sahutnya Tanisha yang mempersilahkan Abyasa untuk masuk ke dalam kamarnya.
Abyasa tersenyum penuh arti melihat sikapnya Tanisha yang semakin kelihatan cantik dimatanya jika sudah dalam keadaan mode malu-malu dan tersipu malu.
Abyasa segera mengangkat kakinya hingga berada di dalam kamar itu. Karena dinding jendela kamarnya tidak terlalu tinggi sehingga, memudahkannya untuk melangkahkan kakinya hingga ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut.
Tanisha melirik sekilas ke arah Abyasa," bapak duduk di tepi ranjang saja aku akan segera membantumu untuk mengobati wajah dan tangannya bapak yang terluka," pintanya Tanisha yang secepat kilat meraih kotak berbentuk balok itu berwarna putih dan merah.
__ADS_1