Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 99


__ADS_3

Bria menggoyang tangannya Shaira yang masih berdiri melepas kepergian Hanzal Abdul Djailani bersama dengan adik sepupunya itu yaitu Ariella Ziudith Irwansyah.


"Kakak cantik apa itu accalamu alitum?" Tanyanya Bria karena memang baru kali dalam hidupnya mendengar orang yang mengucapkan salam.


Shaira segera tersadar dari lamunannya itu kemudian segera tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Brianna Adeline Smith. Shaira segera duduk kembali ke kursinya es krim yang masih tersisa sedikit itu sudah meleleh di dalam mangkuknya.


"Al-salamu Alaykum itu adalah bahasa arab yang sering kali digunakan oleh orang muslim ketika bertegur sapa dek, yang artinya adalah selamat sejahtera ke atas semua kamu, jadi kalau dedek Bria ketemu dengan kakak perempuan seperti pakaiannya kakak Aira kamu bisa mengucapkan kata assalamualaikum kepada beliau," tuturnya Shaira.


Bria dengan seksama mendengarkan perkataannya dan penjelasannya Shaira tersebut.


"Oh gitu yah kakak cantik," ucapnya Bria.


Bria hanya manggut-manggut saja entah apa dia paham dengan penjelasan dari Shaira.


"Kakak apa cudah hubungi daddy?" Tanyanya Bria.


"Alhamdulillah sudah dek,kalau gitu sambil nungguin daddynya Bria datang gimana, kalau kita nunggunya di asramanya kakak saja," usulnya Shaira seraya menyeka sudut bibirnya Brianna Adeline yang terdapat sisa-sisa bekas es krim.


"Bria bica bobo kan di cana kakak cantik, Bria ngantuk coalnya," ucapnya Bria sambil menguap karena sudah mengantuk.


Keduanya segera membayar biaya ice cream yang mereka makan sore itu. Keduanya bergandengan tangan hingga menuju halte busway. Tetapi, baru saja mereka akan menyeberangi sebuah mobil sport dengan merek kuda jingkrak yang sering disebut pakai di dunia balapan formula one itu berhenti tepat di depannya Shaira.


Seorang gadis cantik berpakaian modis itu segera turun dari atas mobilnya. Perempuan itu segera membuka kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger di atas hidung mancungnya. Perempuan yang lebih perawakan orang Asia itu tersenyum ramah ke arah Shaira.


"Aunty Arabela!" Teriak Brianna Adeline.

__ADS_1


Perempuan yang disapa Arabela itu segera menyambut hangat kedatangan keponakan satu-satunya itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Apa princess Briana baik-baik saja sayang? Aunty Daddy sama Uncle serta nenek sangat khawatir banget dengan keadaannya Brianna," imbuhnya Ara.


"Hehe Brian baik-baik caja Aunty untung ada kakak cantik yang tolongin Bria jadi baik-baik saja aunty cantik," ucapnya Bria yang masih sering berbicara cadel padahal usianya sudah hampir lima tahun seperti anaknya othor yang masih belum fasih berbicara dan menyebut huruf s, r dan l.


Ara segera berjalan ke arah Shaira sambil menggandeng tangan anak dari kakak sulungnya itu, "Sore, apa benar Anda yang bernama Shaira Innira Samuel Abidzar?" Tanyanya sambil tersenyum lebar.


"Iya benar sekali Mbak, saya yang bernama Shaira," balasnya Shaira.


Anggap saja mereka berbicara dalam bahasa Inggris seperti penduduk asli pribumi UK Inggris London.


"Makasih banyak atas bantuannya sudah menjaga keponakannku dengan sangat baik, tanpa bantuannya Mbak pasti keponakanku ini akan menghilang gara-gara kakakku yang kedua melupakan keponakan tercantik kami ini, saya mewakili papanya dan juga seluruh anggota keluarga kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuannya," tuturnya Arabela Aila Smith.


Mereka berbincang-bincang beberapa menit, karena Shaira harus pulang lebih awal agar pintu asrama tidak tertutup sehingga dengan terpaksa harus pulang lebih cepat.


Bria dan Ara pun segera balik ke rumahnya karena tidak ingin Mama dan kakaknya khawatir terhadap keadaan anak dan dirinya.


"Gadis tadi tidak seperti orang Asia apalagi orang Indonesia, lebih mirip orang Timur Tengah apalagi memakai penutup kepala, tapi wajahnya kok rada-rada mirip dengan almarhumah Mbak Zulaikha yah," Ara masih memandangi wajahnya Shaira dengan lekat seiring laju mobilnya meninggalkan halte bis.


"Alhamdulillah hari ini cukup melelahkan tapi cukup membuatku bahagia, walau ada sedikit pikiranku yang membebaniku, tapi kehadiran Bria sangat membantu untuk menghilangkan prasangka jelek itu, semoga saja semuanya baik-baik saja dan apa yang aku pikirkan tidak menjadi kenyataan,"


Shaira tersenyum dikala ada sesuatu hal yang membuatnya menarik perhatiannya untuk dilihatnya selama dalam perjalanan.


"Sesampai di asrama saya akan segera menelpon Mama untuk menyampaikan berita kedatangan Ariela di Inggris, entah kenapa saya merasa aneh dan sering bertanya-tanya kenapa Ariela begitu dekat dengan Abang Hans, kalau hanya sekedar tetangga tidak seperti ini juga kedekatan mereka dan satu hal lagi, kenapa Ariela kebetulan sekali memilih kuliah di universitas yang sama dengan Abang,"

__ADS_1


Shaira menatap ke arah luar jendela bus yang dinaikinya. Ia masih kepikiran dengan kedatangan Ariela anak dari adik mamanya.


"Selama di Jakarta saya sama sekali tidak pernah mendengar jika Ariella Ziudith akan kuliah dan luar negeri, saya sudah setahun lebih tapi Mama, papa atau siapapun tidak pernah mengatakan jika salah satu anaknya Paman Irwan akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, memang sih kekayaan mereka melebihi dari kehidupan ekonominya papa Syam, tapi ngomong masalah mereka kok saya teringat dengan Mbak Sahnun gimana kabarnya anak itu yah?"


Dua bulan kemudian…


Sahnum yang sedang menyantap sarapan paginya tiba-tiba merasa mual ketika mencium aroma bumbu dapur yang sedang ditumis oleh bibi Siti Aminah.


Oek… owek…


Shanum mual-mual mencium wangi aroma bumbu tersebut," astaughfirullahaladzim, bi Siti masak apa sih? Kok baunya nyengat banget yah! Aku tidak bisa makan lagi nih Bi," gerutunya Shanum yang memang tipikal gadis yang ceplas-ceplos jika ada sesuatu hal yang tidak disukainya di depan orang yang bersangkutan.


Shanum tidak pintar bersilat lidah di depan orang lain. Dia akan langsung mengatakan apa yang dirasakannya jika memang mengganggunya.


"Bau! Tidak kok None,malahan wangi bumbunya ini membuat perutku keroncongan loh Non Sha, sepertinya ada masalah dengan hidungnya Non Sha deh," sanggahannya Bi Siti yang tidak terima jika mengatakan bumbu dapur yang diraciknya yang siap dicampur dengan daging sapi itu.


"Tapi Bi!" Teriaknya Sha yang segera berlari cepat ke arah wastafel yang ada di sekitar meja makan.


"Ya Allah apa yang terjadi pada Non Sha yah? Biasanya sangat doyang mencium wangi bumbu masakan yang saya buat tapi, kali ini… seperti ada yang aneh dengan tubuhnya Non Sha, sejak dua bulan lalu saya perhatikan bentuk tubuhnya Non Sha kok semakin berisi saja seperti orang yang sedang berbadan dua saja, astaughfirullah aladzim semoga saja dugaanku ini salah besar."


Shanum Inshira mengeluarkan semua isi perutnya ketika muntah-muntah. bi Siti dan bi Minah saling bertatapan satu sama lainnya sambil mempertahankan apa yang dilakukan oleh Shanum anak majikannya.


"kenapa aku berasa Non Sha seperti ibu hamil saja yah, ya Allah semoga prasangka aku ini salah, tapi kalau seperti prasangka aku, entah apa yang akan terjadi pada nyonya Dewi dan tuan besar Sam," Bu Mina terus memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Shanum.


Sedangkan Shanum memegangi perutnya," ya Allah apa jangan-jangan aku hamil, karena sudah lebih dua bulan saya belum datang tamu bulanan,"

__ADS_1


__ADS_2