
Sahnun segera meninggalkan area kampusnya setelah berbicara dengan Pak Hanif,pria yang mengaku adalah ayah biologisnya.
"Ini sangat tidak masuk akal, mana mungkin aku anak dari pria yang suka selingkuh, tapi kenapa wajahku mirip dengan istri simpanannya, apa yang terjadi sebenarnya!?" Teriaknya Shanum Du dalam mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di depan salah satu club yang seringkali didatanginya diam-diam.
Pak Hanif berusaha untuk mengejar kemana perginya gadis cantik yang dianggapnya adalah anak kandungnya. Tapi, apa daya yang dilakukannya tidak berhasil. Pak Hanif kehilangan jejaknya kemana perginya Shanum Inshira.
"Astaauhfirullahaladzim, semoga saja putriku dalam keadaan yang baik-baik saja, tidak melakukan hal-hal bodoh seperti sebelum-sebelumnya, karena anakku itu tipe gadis keras kepala," gumam pak Hanif yang menyerah mencari keberadaannya Shanum.
Pak Hanif memutar setir mobilnya menuju arah jalan XX letak salah satu rumah sakit, dia tidak ingin menunda lebih lama lagi yang ingin diketahuinya itu.
Sedangkan Shanum awalnya ragu untuk kembali menginjakkan kakinya di dalam club yang beroperasi dari sore sampai pagi itu. Bahkan bisa dibilang hampir 24 jam club itu melayani pengunjung.
"Apakah aku harus kembali masuk lagi ke tempat seperti ini, dulu aku bodoh masuk ke sana gara-gara ajakan teman, tapi sekarang aku tidak tahu kenapa aku harus kesini lagi, tapi kalau tidak ke sini kemana lagi aku harus pergi melampiaskan kekesalanku, argh!!!" Jeritnya kembali Shanum seraya memukul setir kemudi mobilnya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, entah kenapa awalnya kakinya sangat berat melangkah masuk ke dalam area club itu, tapi tiba-tiba dia teringat dengan seorang temannya yang sering mengajaknya menemaninya minum yang ingin ditemuinya itu.
Shanum sudah berada di depan meja bartender, ia sudah memesan beberapa gelas minuman non alkohol hingga jam sembilan malam ia masih duduk di tempat tersebut.
Tidak ada yang berani mengusiknya, karena Shanum adalah wanita incaran pemilik club tersebut. Sehingga tidak ada yang berani mengusiknya sedikitpun.
"Malam ini kamu harus menjadi milikku, sudah hampir dua tahun aku memperhatikan kamu dan selama itu pula aku tidak pernah menyentuh perempuan manapun lagi,"
Tatapan matanya bak elang yang siap menerkam mangsanya. Ia sedari tadi hanya duduk diam sambil terus memperhatikan gerak geriknya Shanum. Hingga Shanum mulai gelisah barulah dia bertindak untuk berdiri dari duduknya.
Sedangkan di tempat lain, Dewi Kinanti Mirasih, Samuel Abidzar Al-Ghifari, Abyasa Akhtam, Aidan Akhtar dan Shaira Innira harus menikmati makan malam bersama mereka tanpa Shanum.
"Ya Allah… kemana perginya putriku, apa semarah ini kah pada kami sehingga dia tidak pulang dan mengangkat telpon kami," Dewi tidak tenang setelah kepulangannya dari restoran bersama ketiga anaknya yang lain.
__ADS_1
Dewi semakin gelisah ketika melihat kamarnya Shanum yang masih kosong melompong tanpa jejak kaki dari penghuninya.
Dewi menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, tapi dia berusaha bersikap tenang di depan suaminya karena tidak ingin ketahuan oleh orang lain jika Shanum belum pulang juga.
Dewi berulang kali mengunjungi kamar putri sulungnya itu, tapi masih saja seperti sedia kala Shanum belum pulang juga. Ia merasa sangat sedih dan tidak berdaya karena tidak mampu menguliahkan keempat anaknya dengan biayanya sendiri.
Untungnya ketiga anaknya yang lain terbilang anak yang patut, rajin,ulet sehingga mampu meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga keluar negri. Berbeda dengan Shanum yang sudah berusaha tapi,gagal mendapatkan beasiswa tersebut.
Bi Siti melihat kegelisahan yang dirasakan dan ditunjukkan oleh Dewi nyonya besar tempat dimana ia bekerja. Ia merasa kasihan melihat kegelisahan, ketakutan, kekhwatiran dan kecemasan yang berlebihan dirasakan oleh Dewi.
"Ya Allah… bagaimana caranya aku bisa mengungkapkan kebenaran ini, jika Gina masih saja di luar negeri, kasihan Nyonya Dewi yang harus menanggung akibat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Shanum, apakah ini sudah pertanda jika memang Shanum bukan darah dagingnya Tuan Syam, karena kelakuan Shanum seperti berbeda dari saudaranya yang lain," Bu Siti sedih dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Dewi.
Dewi tanpa sengaja melihat bibi Siti dia pun memberikan kode kepada Bu Siti untuk berjalan ke arahnya. Bibi Siti cepat tanggap segera berjalan ke arah Nyonya Dewi.
"Iya Nyonya ada apa?" Tanyanya Bi Siti yang berpura-pura tidak mengerti dan mengetahui apa yang terjadi.
"Baik Nyonya," balasnya singkat Siti yang tidak ingin banyak komentar karena sudah mengetahui apa yang terjadi.
Bi Siti tadi pagi sampainya dari balik ke kampung halamannya,tapi misi yang dilakukannya itu gagal total karena Gina Anelka Mulya tidak ada di kampungnya di Lombok NTB.
Dewi segera berjalan ke arah kamarnya dan sesekali menatap ke arah pintu jika anaknya sudah pulang,tapi apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan harapannya itu.
Pukul sepuluh lewat, Shanum merasakan keanehan pada tubuhnya itu. Dia merasa pusing, sekujur tubuhnya panas dan gelisah.
"Kenapa cuacanya malam ini begitu panas, apa AC ruangan disini bermasalah, kepalaku juga tiba-tiba sakit," cicitnya Shanum sembari memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Shanum segera berdiri dari duduknya itu ia hendak berjalan ke arah luar dengan tubuhnya yang tidak dalam kondisi yang baik. Ia berjalan sempoyongan ke arah pintu,tapi belum sempat mencapai pintu langkah kakinya terhenti tubuhnya pun tumbang untungnya ada orang yang sigap, cepat tanggap menolongnya hingga dia terselamatkan.
__ADS_1
"Ahh!' lirihnya Shanum sebelum tak sadarkan diri.
Seringai licik terbit dari sudut bibirnya seorang pria yang berusia sekitar 29 tahun itu sang pria yang selama ini hanya mampu mengagumi Shanum secara diam-diam karena Shanum termasuk tipe gadis yang tidak mudah ditaklukkan dengan rayuan dan gombalan apalagi dengan bujukan dan iming-iming harta.
Pria itu menggendong tubuhnya Shanum ala bridal style," apa kamar yang aku minta sudah disiapkan?" Tanyanya laki-laki yang menggendong tubuhnya Sahnun.
"Semuanya sudah siap dan beres sesuai dengan yang Tuan Muda inginkan," balasnya pria yang memakai pakaian serba hitam itu.
"Ok kalau gitu ingat terus lah berjaga jangan biarkan siapapun menganggu kesenanganku malam ini, jika tidak nyawamu yang menjadi taruhannya!" Ancam pria yang memakai setelan jas abu-abu itu yang masih menggendong tubuhnya Shanum.
Semua anak buahnya berjaga di depan pintu, mereka tidak ada yang lalai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka semua.
Pria itu menidurkan tubuhnya Shanum dia atas ranjang king size yang sudah dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar merah.
Pria itu membelai dengan penuh kelembutan pipinya Shanum," malam ini kamu harus menjadi milikku seutuhnya, aku akan membuat kamu terus berlutut di kakiku dan menjadi pelampiasan naaaf suuu aku jika aku menginginkan dirimu yang begitu cantik dan menggoda, aku sudah mencintaimu gadis kecil sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki disini di tempat milikku, aku akan membuat kamu tidak bisa melupakan malam ini," lirihnya pria yang sering disapa dengan nama Arion Kheidir Dirgantara.
Pria lajang yang cukup matang usianya tapi belum menikah karena terobsesi dengan gadis remaja yang bernama Shanum Inshira Abidzar Al-Ghifari.
Pukul 23.15 Jakarta…
Dewi sama sekali tidak bisa memejamkan kedua kelopak matanya. Ia terus mengkhawatirkan kondisi putrinya itu.
"Semoga saja putriku sudah pulang dari luar, dia tidak kenapa-kenapa dan Abang Sam tidak mengetahui apa yang sudah terjadi, apalagi besok pagi-pagi ketiga anakku akan bertolak ke London UK Inggris."
Dewi segera berusaha untuk memejamkan matanya menuju alam mimpinya. Sedangkan di tempat lain, Shanum mengalami apa yang seharusnya tidak boleh terjadi. Arion terus menggenjot tubuhnya di atas tubuh Shanum yang tidak berdaya itu. Seringai licik muncul disudut bibirnya Arion.
"Kamu gadis pertama yang mampu menaklukkan aku hingga aku tak berdaya dan jatuh ke dalam pesona kecantikan dan keindahan yang kau miliki," pujinya Arion dengan bulir-bulir peluh keringat membasahi pipinya hingga ke kakinya yang mengkilap diterpa cahaya lampu.
__ADS_1
Sedangkan Shanum hanya sesekali mengerutkan keningnya, dan menahan rasa sakit dan pedihnya serta perih di bagian pusat intinya karena masih dalam keadaan tak sadarkan diri sehingga raut wajahnya lah yang mengisyaratkan bahwa ia mengalami hal tersebut.